Mendung – Angin – Hujan – Banjir

Karya . Dikliping tanggal 26 April 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Mendung

jangan takut melihat mendung
Karena belum tentu mendung
Ada saatnya mendung bukan mendung
Tapi angin puting beliung
Bikin banyak rakyat makin linglung
Kehilangan rumahnya’Kehilangan keluarga
Tanpa ada yang menolongnya
Karena mendung menutup banyak mata
Jangan membenci mendung
Karena berjuta petani merindukan hujan
Meski hujan akan menikam lambung
Dan menghapus harapan-harapan.
Pondok Kreatif, 2015

Angin

Jangan bertanya kepada angin
Tentang musim atau harga gabah
Karena angin hanyalah angin
yang kebingungan emmilih arah
Biarlah angin selalu merdeka
Bertiup ke mana saja
Dan biarlah orang-orang menduganya
Sebagai napas sang pencipta
Yang berhak memporakporandakan semesta
Atau memperpanjang derita manusia
Setelah lama melupakannya.
Pondok Kreatif, 2015

Hujan

Hujan hari ini tidak seperti kemarin
Baunya seperti gunung sampah
Ooo, alangkah sangat bacin
Aku jadi mau muntah-muntah
Hujan kemarin bukan seperti hari ini
Baunya seperti berjuta ikan mati
Mungkinkah asalnya dari lautan
Yang telah menelan kaum nelayan
Hujan esok mungkin akan tiba
Meski tak seperti kemarin dan hari ini
Entah bagaimana baunya
Kita tak perlu berkecil hati
Jika hujan semakin busuk
Marilah kita menanam bunga-bunga
Biar semesta tak juga membusuk
Dan kita masih tetap menjadi manusia.
Pondok Kreatif, 2015

Banjir

Siapa bilang banjir akann tiba
Bukankah kita tinggal di kota
Banjir hanya ada di sungai-sungai
Yang telah menjelma kampung ramai
Jangan salahkan banjir
Jika tiba-tiba bertamu di rumahmu
Karena banjir adalah banjir
Tak pernah peduli ke mana menuju
Kecuali selalu mengikuti arus
Yang menurun terus-menerus.
Pondok Kreatif, 2015


*) Manaf Maulana, penekun traveling dan antropologi


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Manaf Maulana
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran rakyat” pada 26 April 2015