Mengaji ke Hari Lalu – Pada Sajak, Segala Retak

Karya . Dikliping tanggal 30 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Mengaji ke Hari Lalu

Aku mengaji ke hari lalu, 
menjemput garis darah pada kisah paling hulu 
Terus mengaji hingga segala yang terserak 
segala yang retak, terhimpun jadi sajak, bakal 
penutup alpa dan rumpang nasib hari depan 
“Tuanku Indra Jati, salamku atas kisah ini hari 
Oh, ini langkah, entah terlanjur jauh menyebut 
entah terlampau resah menyulut rahasia keruntuhan 
kaum di kampung bernama Indrapura!“ 
Seribu dendang, seribu ratap para tukang kabar 
telah kusahut satu-satu, kutandai selaku nasib 
yang tak kunjung jadi karib 
emakin jauh kuhitung hari lalu, kian terang, 
betapa aku sesak dendang kelahiran, garis tangan 
yang terbuhul pada peluk-kecup ibuku 
Betapa setengah tubuhku membenam 
di pangkal kaba, 
di kawah panas Gunung Marapi 
Di muaro sakai, telah aku santap randang lokan 
sambil terkenang kota yang terus membakar hikayat, 
mal-mal memberat, dan taman-taman penuh 
jejak kaki sepasang kekasih 
Di kota, barangkali segala yang diucap 
hanyalah angin, 
sebelum seseorang datang dan membaca hari depan 
dengan puncak getar di badan 
“Muaro sakai airnya tenang, 
adakah dalamnya sekelam 
silsilah para raja? Pagaruyuang, Pasai, entah Turki.
Pada siapa engkau berhadap muka kini?
Ke hari lalu segala hendak kukaji, 
agar tenteram ini hati, agar paham akan segala 
yang membengkak d
alam diri, pembikin malam-malam tak lebih 
dari tumpukan nyeri 
Sebelum bulan hilang dan kenangan habis tertutup 
tiang-tiang plaza 
yang menjual segala macam doa, 
juga ramuan pengobat hati 
Agustus, 2015 

Pada Sajak, Segala Retak 

Aku tulis sajak untuk mengabarkan segala 
yang retak dalam diriku.
Semoga kau paham, tak ada kisah percintaan 
yang membikin penyair 
lupa cara menyebut rasa sakit: 
sakit pada hulu jantung yang rindu, 
getar kasmaran pembikin lambung kian biru, 
retak pada setengah paru 
terhimpit sesak percintaan hari lalu! 
Sepanjang malam-malam berkabut, 
senantiasa kugenapkan rindu.
Kisah pertapaan poyang yang menggeletar 
dalam tiap alir darah 
telah menambatkan garis nasib pada 
pangkal janjang rumah, hingga 
ke mana pun bandar besar dicari, 
selalu saja serasa lapang jalan 
menuju pulang. Maka apa yang bisa kujanjikan 
dari rantau langkah 
yang tak berguru pada jalan di depan, 
rantau badan yang jauh 
namun meninggalkan hati 
di antara kusut kuluk ibu?
Kusebut perihal pecah kapal 
diamuk gelombang, 
tentang jalan-jalan 
panjang menimbun debu musim-musim, 
pelabuhan-pelabuhan dingin 
memutus laju nasib setiap pejalan.
Dan dalam hiruk kota, hari depan 
dan segala kenangan silam tenggelam 
dalam deru mobil, cericit ban 
dan klakson tengah malam.
Sebelum segalanya bergerak 
menuju ketiadaan sejenak, menunggu pagi lain, 
tempat segalanya 
akan diulang dan terus diregang-pilin.
Sementara rindu, tak lain adalah insomnia 
bagi siapa pun yang hendak keluar dari laju waktu 
Maka aku tulis sajak untuk mengabarkan segala 
yang terus berderak 
dalam diriku. Semoga kau mengerti, 
segala yang dikabarkan musim, 
angin dan gelombang laut, bandar-bandar besar, 
juga simpang-simpang 
jalan yang gemar memuat poster senyum 
presiden, adalah 
semisal obat pembius, peredam sakit dari 
legam-busuknya luka badan.
Agustus, 2015 
Andesta HW, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Lahir di Pesisir Selatan, 1994. Menulis puisi, cerpen, dan esai. 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Andesta HW
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 28 Agustus 2015