Mengawetkan Dendam – Niatan Menghitung Uban – Kidung tak Bergema

Karya . Dikliping tanggal 10 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Niatan Menghitung Uban 

ketika terbit awal kerlip putih di kepalamu,
di depan cermin lemari kayu, engkau bilang akan
menghitung ubanmu,
menandai kebaruan dalam warna usiamu.
tetapi apakah engkau lupa, atau engkau merasa
melewati keasingan cuaca setelah kauteguk banyak
bahasa dengan keasinan kata kata.

malam yang tiba kaupandang membawa mimik
hambar dan sapaan datar.
engkau pun mulai menduga bahwa gelap telah
bersekutu dengan cemas memasuki pori kepalamu.
mereka menuju akar rambut dan mulai mengerjakan
proyek mengubah warna rambutmu menjadi makin
terang.
mungkin mereka bekerja tanpa terburu dan memang
tak hendak menjejakkan deru.

di hari minggu pagi, engkau berlari lari.
kau berkata padaku bahwa kau akan bermain
layang layang, kelereng, dan segala jenis permainan yang
akan memudakan usiamu.
engkau bilang mengapa uban terburu datang
sedangkan hari masih siang.
mengapa tidak pada senja yang matang, yang bisa
menjadi sulur suluh saat merasuk kubang petang.

Jakarta, 2015


Mengawetkan Dendam 

kauasah bilah bilah sumpah pada kekerasan
ruang dan waktu yang menyimpan pernik runcing
peristiwa.
lalu kaupetik petir yang berkeliaran di langit koyak
untuk kautangkarkan dalam nadi darahmu. mereka
yang nanti akan kauledakkan pada musim musim
terik, biar terhambur dan menyubur sehimpunan
waswas pada sosok yang kerap kausebut terlumur
bau tengik.

ia yang bermata rabun, melewati tepian jalan dan
terhisap ke lajur remang.
lalu di matanya berbiak kelam hingga ia sulutkan
percik kata kata terikut debu abu abu alpa.
hendak menawar terang darimu, namun malah
gelegak api bertaring gemeretak menyambar ruang
putih dalam diammu.
bermunculan jelaga yang mempergelap bahasa, juga
kejaran panas menggetaskan tiang beranda.

hari harimu adalah unggunan bara yang menyala
dari uluran dendam, tak padam bahkan oleh ribuan
hujan. jalanan setapak di depan telah hangus,
retak retak menuju lantak.
kota impian pun tinggal serpih hitam dan porak
poranda.

Jakarta, 2015



Kidung tak Bergema 

aku nyanyikan lagu lagu yang kupetik dari
pucuk pucuk rasa, dari sulur kegelisahan usia. nada nada
yang terbit mengajukan pertanyaan: mengapa masih
saja ada yang kelaparan, di bawah gerlap
menara menara zaman. sementara tahun tahun berkelebat
cepat, meninggalkan onggokan isak di sudut ruang
tak tercatat.

ah, siapa yang mau memanjangkan irama yang
kusampaikan. sedangkan nyanyianku teramat
sederhana, tak semerdu lagu rindu. atau senandung
renjana dari para pemuja cinta yang nujumkan
kekekalan dari nyala asmara. bisa jadi ini hanya
tembang lama, yang tak lagi menarik didengar,
tertimbun tumpukan ramalan peristiwa.

akan tetapi tetap kuledakkan kidung yang berat itu,
walau tak terbit gema. biarlah keluar begitu saja,
asal dapat kulontarkan batu batu, yang telah
memenuhi kamar di dada dan kepalaku.

Bekasi, 2015









Budhi Setyawan dilahirkan di Purworejo, Jawa Tengah, 9 Agustus 1969. Sehari-hari bekerja di Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan di Jakarta. Puisinya dimuat berbagai media massa dan antologi bersama.Saat ini sebagai Ketua Forum Sastra Bekasi. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.



Rujukan:
[1] Disalin dari karya Budhi Setyawam
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 10 April 2016
Beri Nilai-Bintang!