Menggugat Dewi Sri

Karya . Dikliping tanggal 1 April 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

ALI bangun suatu pagi dengan pencerahan yang menyala-nyala di batok kepalanya. Ia buru-buru mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki: kemeja putih lengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Untuk menyempurnakan penampilannya, ia memakai sepatu basket yang ia beli awal Agustus tahun kemarin sebagai persiapan untuk gerak jalan tradisional tujuh kilometer Pandan Pacet.

Ali menyisir rambutnya perlahan, mengoleskan tancho yang bakal membuat rambutnya bergeming meski badai menerpa, dan menyemprotkan bibit minyak wangi yang ia beli di pasar. Dengan penampilan seperti itu, ia lebih terlihat seperti pegawai magang tanpa gaji, tentu saja bila mengabaikan fakta tangan-tangannya yang kasar serta mukanya legamnya yang terbakar sinar Matahari.

Dengan motor bebek butut tahun 1993-nya, ia menerabas 35 kilometer menuju Jalan Majapahit. Di sana, ia pernah melihat kantor pengacara–satu-satunya yang pernah ia saksikan langsung–sewaktu mengantar Mak Yem menjual gelang emas empat bulan lalu.

Di depan kantor dua lantai bercat krem itu, Ali gemetar. Ratusan butir keringat terbit di keningnya yang lebar. Kemeja lengket dan kombinasi bibit minyak wangi serta keringat mulai membuatnya pening.

Ia memarkir motornya begitu saja di depan kantor itu. Tepat pada saat itu, seorang satpam mendekatinya. Satpam itu tersenyum, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi, dan mengatakan Ali tidak boleh parkir di situ. Ali gelagapan, namun ia akhirnya bisa menjelaskan maksud kedatangannya. Satpam itu membuktikan kapasitasnya sebagai pegawai teladan. Ia mengarahkan ke mana Ali mesti parkir, lalu mengantarnya ke dalam gedung dan mempertemukannya dengan seorang perempuan yang bibir, baju, dan roknya merah, rambutnya agak kemerah-merahan, dan baunya jauh lebih segar ketimbang si satpam. Begitu segar hingga Ali mengira tengah berada di taman bunga.

“Kebetulan sekali,” kata perempuan itu, “Bapak sedang tidak sibuk dan beliau bisa menemui Anda setengah jam lagi.”

Ali duduk di sofa kulit hitam. Jari-jari tangannya menyusuri permukaan sofa dan ia bersumpah dalam hati tidak pernah menyentuh sofa sehalus itu. Tak lama berselang, seorang perempuan dengan kemeja dan celana biru menyuguhinya sebotol air mineral. Ali mengucapkan terima kasih. Ia yakin, segala kemudahan yang ia dapatkan hari ini ialah pertanda bahwa semesta bersepakat membantunya.

Namun, ternyata tidak. Segala kegembiraan dan harapan Ali runtuh sewaktu berhadapan dengan pengacara lima puluhan tahun dengan kumis melintang itu. “Susah, Pak. Bukan, bukan susah, tapi tidak mungkin. Tidak mungkin kita bisa menuntut sesuatu yang hanya ada dalam dongeng seperti Dewi Sri,” kata pengacara itu dengan suaranya yang besar dan bergema seusai Ali mengutarakan maksud kedatangannya.

“Tapi, beliau benar-benar ada, Pak,” Ali mencoba bersikeras.

Setengah jam kemudian, pengacara itu meraih telepon dan tidak sampai dua menit, satpam muda yang ramah tadi telah berada dalam ruangan untuk membawa Ali pergi. Si pengacara sempat berbisik ke satpam itu, “Kau harusnya bawa dia ke rumah sakit jiwa.”

Ali pulang dengan jiwa remuk redam. Dengan motor butut yang kenalpotnya menyemburkan gumpalan asap hitam dan letusan-letusan periodik, Ali melintasi area persawahan padi yang gagal panen. Ia menyaksikan para tetangga yang lesu dan kurus. Anak-anak yang kurang gesit. Udara seperti dipenuhi hal-hal murung. Kegembiraan seolah telah diusir dari kampungnya.

Semua bermula dari empat puluh hektare lahan di kampung itu, yang dikelola lebih dari seratus kepala keluarga, dan gagal panen dalam tiga kali musim tanam padi terakhir. Tak satu pun petani yang lepas dari musibah itu. Bahkan, Bah Yit, petani yang dianggap paling jago. Padi-padi berhenti tumbuh pada usia satu setengah bulan, lantas menguning dan mati.

Segala daya upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Penyuluh pertanian dari kecamatan datang, lantas mengambil contoh padi yang mati, dan beberapa hari kemudian kembali lagi dengan ceramah panjang dan membingungkan. Ketika selesai, ia membagikan obat semprot.

Tidak manjur. Orang-orang mencoba menanam padi kembali. Saat gejala awal padi berhenti tumbuh terdeteksi, mereka menyemprotkan obat itu. Padi tetap enggan tumbuh. Orang-orang dari dinas penyuluhan pertanian datang dan mengambil contoh lagi. Tapi, kali itu mereka tak kembali.

Warga kampung akhirnya berusaha sendiri. Mereka mengingat-ingat ajaran leluhur mereka dalam menanam padi, juga ritual yang mesti mereka lakukan. Pertunjukan wayang kulit semalam suntuk, tumpeng-tumpeng besar berisi aneka macam polo, panggang ayam jawa utuh, aneka sayur mayur, dan tentu saja tujuh jenis bunga serta air dari tujuh mata air berbeda. Ritual seperti itu selalu mereka lakukan menjelang musim tanam dan sesudah musim panen. Mereka tak pernah meninggalkannya. Jadi, mereka pikir telah cukup membahagiakan Dewi Sri seperti dulu dilakukan para leluhur. Dan kenyataan itu semakin membikin warga bingung.

Jadi begitulah. Ketika pada percobaan ketiga dan lagi-lagi padi tetap gagal tumbuh setelah satu setengah bulan, Ali terbangun pada suatu pagi dengan sebuah pencerahan. Ia yakin, seyakin-yakinnya, bahwa Dewi Sri sebagai Dewi Padi telah teledor dengan memberi petaka pada mereka. Petaka itu seharusnya jatuh ke kampung lain yang abai memberikan sesaji. Dewi Sri mesti diingatkan, pikirnya. Tidak sekadar diingatkan, Dewi Sri kudu mengganti kerugian para penduduk yang tidak berdosa.

Meski gagal meyakinkan pengacara untuk membantunya, kemampuan bersilat lidah Ali cukup efektif untuk memengaruhi penduduk. Tidak susah juga, karena mereka yang sudah lesu nyaris serupa mayat hidup, mengiyakan saja semua perkataan Ali, juga ajakan untuk pergi ke kantor kejaksaan.

Keesokannya, Kantor kejaksaan Mojokerto hiruk pikuk pukul sembilan pagi. Ali dan massa yang menyertainya–lebih dari seratus orang–memaksa agar kejaksaan membantu mereka menyeret Dewi Sri ke pengadilan.

Pihak kejaksaan, mempertimbangkan jumlah massa yang sedemikian banyak, terpaksa menjadikan mereka prioritas dan bersedia berdialog. Walau tak mampu membuang pikiran serupa yang ada di kepala sang pengacara sehari sebelumnya, mereka cukup bijak untuk tidak langsung menolak.

Kantor kejaksaan akhirnya menulis sebuah surat yang menerangkan bahwa satu-satunya kesalahan memang terletak pada Dewi Sri. Tidak perlu pengadilan untuk menyatakan Dewi Sri bersalah dan mesti menanggung semua kerugian warga. Pihak kejaksaan menyerahkan surat itu kepada Ali.

“Berikan surat ini kepada Dewi Sri,” kata mereka.

“Tapi, di mana saya bisa menemukan beliau?” Ali terperangah. Ini benar-benar respons yang tidak ia sangka-sangka. Dalam bayangan Ali, pihak kejaksaan yang akan mencari Dewi Sri dan menghadirkannya ke pengadilan.

“Anda yang lebih tahu.”

Ali mencoba mengulur agar pihak kejaksaanlah yang berkewajiban mendatangkan Dewi Sri. “Tapi, ini kan bukan keputusan dari hakim. Surat ini tidak memiliki kekuatan hukum.”

“Dalam hal ini, kami lebih paham ketimbang Anda. Untuk menghemat waktu, silakan Anda meninggalkan tempat ini.”

warga kampungnya pulang dengan kondisi yang lebih hancur ketimbang semula. Harapan kembali memudar, wajah-wajah lesu kembali terpancar. Ali lalu meletakkan surat dari kejaksaan di pematang sawah. Embun dan angin kemudian melenyapkan surat itu entah ke mana.

Yang paling gembira dari kejadian di kantor kejaksaan ialah para wartawan. Dengan segera, berita-berita panjang diturunkan. Beberapa koran malah menelisik riwayat Dewi Sri. Beberapa media lain menunjukkan bukti-bukti akurat bahwa Dewi Sri sesungguhnya bermastautin di Gunung Arjuna.

Sekitar dua minggu setelah peristiwa di kantor kejaksaan, sepuluh truk menderu memasuki kampung Ali dan berhenti tepat di depan balai desa. Beberapa orang turun dari truk dan membongkar muatan: berton-ton beras.

Ali yang pertama mendekati orang-orang asing yang sedang bekerja itu dan bertanya siapa pemilik beras-beras tersebut. Seorang dari mereka menjawab singkat: beras-beras ini ganti rugi dari Dewi Sri untuk penduduk kampung.

Tentu saja kita tak percaya bahwa beras-beras itu berasal dari Dewi Sri. Kenyataannya, ada seorang pengusaha cat di Mojokerto sekaligus penggemar cerita rakyat, tertawa terpingkal-pingkal saban membaca berita tentang kejadian di kantor kejaksaan.

Yasien, nama pengusaha cat itu, memutuskan mengkliping semua berita tentang tuntutan terhadap Dewi Sri tersebut. Berita-berita tersebut akan menjadi koleksi berharga bagi museum.

Suatu hari pencerahan hinggap di kepalanya. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mengirim sejumlah truk penuh beras ke kampung tersebut dan mengatakan kepada penduduk kampung bahwa beras-beras itu berasal dari Dewi Sri. Yasien tersenyum membayangkan respons penduduk kampung tersebut, juga respons wartawan begitu mengetahuinya.

Yasien, si pengusaha cat sekaligus pemilik museum folklore di Jalan Pejatilan tidak pernah menyangka bahwa ketika semua beras telah diturunkan di balai desa, Ali akan bertanya soal beras itu dan berteriak murka saat mendengar jawabannya. “Bagaimana bisa? Ini hanya untuk kerugian satu kali masa panen. Tolong sampaikan ke Dewi Sri, beliau masih berutang dua kali kerugian masa panen kepada kami!” (M-2)

Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016) dan Samaran (novel, 2018). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.


[1] Disalin dari karya Dadang Ari Murtono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 31 Maret 2019