Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta

Karya . Dikliping tanggal 24 November 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
TETAPI, 48 tahun kemudian dia berkata di pemakaman:
“Ketika
itu, aku pulang dari medan perang. Menyusur hutan. Terantuk akar.
Menahan jirat kain di kaki yang tertembak. Tapi, itu tidak lebih sakit.
Tidak lebih sakit dari melihat meja rumah kita telah ditata dengan dua
piring di sisinya. Seseorang yang lain, sudah menggantikanku. Aku pun
menjauh. Kembali ke markas. Melarat-larat sakit di kaki. Sakit di kaki.
Memburu sisa tentara Jepang. Memutuskan untuk tidak pernah pulang.”
Perempuan
itu, sebagaimana perempuan lain, yang selalu tahu bagaimana cara
mengabadikan cinta dan kenangan, memejam kuat-kuat. Memeras, entah
penyesalan. Menahan, mungkin arus kesedihan. Punggungnya gemetar. Dan di
pemakaman yang lengang, isak kecil selalu saja menjelma gema yang baru.
“Empat
puluh  delapan tahun, empat bulan, 11 hari.” Dia memutar cincin di jari
manis yang mengerut seperti akar akasia. “Sejak pernikahan kita yang
tergesa-gesa.”
Dia
bercerita bagaimana pernikahan tersebut terjadi seolah takut perempuan
itu telah lupa, atau melupakan. Keadaan darurat. Kemerdekaan telah
dikabarkan ke segenap pelosok. Lewat radio. Selebaran. Coretan di
dinding dan kereta. Lewat pertemuan. Talu dan pekik yang menggetarkan.
Namun,
sebagaimana pernikahan, usai ijab, bukan berarti masalah lenyap.
Justru, segalanya baru saja dimulai. Kemerdekaan yang telah diikrarkan
harus diperjuangkan dan dipertahankan.
“Aku bukan pemuda pengecut.” Dia menatap wajah muda perempuan tercintanya itu, “aku harus ikut berperang.”
“Apa Kangmas tidaka mencitaiku?”
“Justru karena aku mencintaimu. Aku ingin kamu dan anak-cucu kelak hidup dalam keadaan yang merdeka dan aman.”
Perempuan
itu diam. Ia membayangkan perutnya yang tidak lama lagi akan isi buah
cinta. Ia menunduk. Mengusap. “Kangmas tidak mau apabila dia nanti..,”
ujar lelaki itu menyatukan tatapan, “Harus hidup dijajah bangsa lain.
Merunduk-runduk. Menghamba. Ditindas. Dinista. Sehela napas pun Kangmas
tidak rela untuk itu semua.”
Perpisahan
itu tak bisa dielak. Tangan takdir yang membuat keduanya harus slaing
memandang di stasiun, tempat laskar pejuang kemerdekaan akan
diberangkatkan di garis depan pertempuran.
Perempuan
itu tak kuasa. Atau, adakah perempuan yang kuasa melepas suaminya
terjun ke tempat dimana nyawa di dalam mara. Peluru. Ledakan. Kematian.
Kehilangan. Hati perempuan mana yang tahan ?
Ia
berlari. Kereta hampir berangkat. Ia mendekap erat seakan ingin
menyatukan hatinya, jantungnya, napasnya, ke dalam hati, jantung, dan
napas lelaki yang dicintainya. Dan pada masa itu, pemandangan yang
demikian: pelukan perpisahan, kekasih, orangtua dan anak, adalah hal
yang kerap, di stasiun, di sisi kereta, di dekat truk perang, di batas
desa, di dalam kegelapan malam. Bahkan ada yang pergi diam-diam dengan
meninggalkan sepucuk surat di tempat tidur, saat keluarga, atau istrinya
sedang tertidur, sebab takut pada sedihnya perpisahan.
“Bawa ini, Kangmas, ingat aku selalu.”
“Tanpa ini pun aku akan mengingatmu. Jaga dirimu baik-baik. Tunggu surat-suratku dari garis depan, ya.”
Jerit
kereta menjadi jerit batin mereka di dalam perpisahan. Hari-hari
berjalan lambat dan cemas di hati. Minggu-minggu merambat dalam waktu
tunggu. Satu kabar, cepucuk surat yang terus dibaca berulang-ulang.
Penuh cinta. Penuh rindu. Mereka sedang memukul mundur pasukan Jepang.
Kabar
kedua, lebih pendek. Namun, dengan kalimat cinta dan kangen yang lebih
panjang. Kabar hamil sudah ia terima, saat ia bersiap menghadapi
kedatangan pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda.
Tidak, sama sekali tidak diberitahukan kapan pulang ke kampung halaman.
“Satu
tahun, delapan bulan, delapan hari kemmudian,” katanya, “aku pulang dan
mendapati itu semua. Ada lelaki lain di rumah kita.”
Perempuan itu baru saja mau membuka mulut, ketika lelaki itu langsung menyela:
“Ya,”
katanya, “aku mengerti. Namun, terlambat. Aku mengerti semuanya saat
aku berada dalam pendampingan perundingan di luar negeri. Rasa bersalah
tumbuh, tapi aku tidak bisa menyalahkan takdir. Aku merelakannya, untuk
itulah, 48 tahun, empat bulan, dan 11 hari sejak pernikahan kita yang
tergesa-gesa, aku datang. Aku ingin berterima kasih, dan juga minta
maaf, pada yang sekarang terkubur di depan kita. Dia telah menjagamu,
seperti pesanku. Dia tidak salah, hanya takdir, sedang menginginkan
sesuatu yang lain. Bahkan, sampai aku menjadi orang buangan di luar
negeri akibat konflik politik.”
“Aku….” perempuan tua itu mencoba setelah hening terlalu lama, “aku masih tidak tahu harus berkata apa.”
“Ya sudah, kadang memang tak cukup kata.”
“Tapi mengapa harus sekarang. Harus sekarang kamu datang?” Isak mulai tak bisa lagi dikenali.
Perempuan
itu menatap cincin. Cincin yang mengikatnya dengan dua lelaki berbeda.
Yang satu kini ada di sampingnya. Yang satu, terbaring di pusara, yang
meninggal sepekan silam, namun di hari kemerdekaan, perempuan itu datang
menyapa pahlawan. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi bangsanya. Veteran
yang tetap sederhana, bahkan sering menderita sampai akhir hayatnya.
“Kamu
sendiri tahu, menjadi buangan, sulit untuk kembali pulang. Lebih dari
itu, aku tidak ingin membuat kegaduhan. Ketika aku tahu,  sahabatku
benar: memenuhi janji menikahimu, aku sadar. Itulah yang terbaik. Aku
pernah berpesan, saat kakiku tertembak, sementara tentara Jepang kian
dekat, kuberikan padanya sapu tangan merahmu, yang kauberikan di stasiun
waktu kita berpisah. Kukatakan padanya, kalau aku tidak pulang lebih
dari setahun, itu artinya aku mati dalam tawanan Jepang, maka nikahilah
istriku setelah masa tunggunya selesai. Kutitipkan anakku yang belum
lama lahir.”
“Dia
menolak dan menyeretku, namun segalanya kemudian menjadi gelap setelah
sebuah ledakan. Aku mendapati diriku dalam ruangan, tersekap, disiksa.
Dan satu tahun, delapan bulan,  delapan hari kemudian, aku mampu
melarikan diri bersama tawanan lain, meski terkena ranjau di hutan
batas.”
“Dan anakmu lebih tahu kalau dialah Ayahnya.”
“Itu
lebih baik daripada mereka menunggu di dalam ketidakpastian. Dia telah
memberikan hidupnya untukku, menjagamu, menjaga anak kita. Aku berutang
budi dan belum bisa membalasnya. Malah seolah, aku melarikan diri dari
tanggung jawab, tinggal di luar negeri dan tidak pernah berkeluarga sampai
kini.”
Dua ekor burung berkejaran di dahan kamboja. Menggoyang ranting. Menjatuhkan sehelai daun kering.
Dengan
agak ragu, dan malu-malu, perempuan tua itu berkata, “Dia kini pergi
meninggalkanku. Dan anak-anak yang sudah berkeluarga dengan cinta mereka
masing-masing. Dan aku tidak ingin menjalani lagi kemerdekaan tanpa cinta.”
Lelaki tua itu menyentuh pundaknya, sehingga angin pun bergetar.
“Buat apa cinta bagi manula seperti kita. yang sebentar lagi juga akan menyusul dia di sana?”
Perempuan itu melirik sejenak, kemudian, “Bukankah kamu dulu pernah bilang kalau, cinta tak pernah tua?” (k) ❑ 2015
Catatan:
Judul
“Menghadapi Kemerdekaan Tanpa Cinta” diambil dari baris sajak Rendra
‘Kangen’: Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku / menghadapi 
kemerdekaan tanpa cinta.

Baca juga:  Segelas Kopi dan Cokelat Panas - Kehilangan - Sajak Tengah Malam

Eko Triono:
lahir di Cilacap 11 Juni 1989, peraih penghargaan cerita pendek dari
Kementrian Pemuda dan Olahraga RI (2013), mahasiswa pascasarjana PBI UNS
Surakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 22 November 2015