Menginap di Wonocolo – Atom – Wingko dari Lina-Olii – Jalan Pabean, Ampenan

Karya . Dikliping tanggal 2 April 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Menginap di Wonocolo

kami percaya bahwa Surabaya masih pagi
meski matahari sudah tinggi dan anak-anak kuliahan
bertemu kuli-kuli rendahan di jalanan yang susah
dibaca tanpa petunjuk arah
Lubet membaca buku teater,
aku mendengar Gombloh
dari mesin pemutar dan merogoh pikiranku sendiri
yang tiba-tiba membayangkan
monster-monster industri
memasuki kos-kosan ini
tapi sepi, sungguh sepi
seperti merayap di atap-atap rumah tetangga
semua yang terlambat bangun adalah yang terlambat
membangunkan
para ahli-hisap masih terlelap di kamar-kamar pengap
setelah semalaman dimabukkan asap dari tembakau
pribumi
berkilo-kilo meter dari sini, yang dikemas dengan
lisensi luarnegeri
dan ancaman pengangguran yang meremas-cemas
petani
kami percaya bahwa Surabaya adalah kawan sebaya
karenanya kami semalam saja disini, supaya nanti
bisa berkunjung lagi, membawa langit di junjungan
membawa bumi di pijakan

Atom

ia sebut:
aku, semata Aku
ia ingin mundur dan melihat bagaimana segalanya
disusun dengan teratur, tapi tulang punggungnya
bungkuk dan matanya tertumbuk pada yang Satu
maka disebutnya lagi:
Aku, semata aku
saat itu sebuah lubang mengisap unsur dasar:
proton, elektron, neutron
ibunya menyediakan liang elips bagi genesis
putra ketiga, jauh setelah ruh putra pertama
berkelip di angkasa yang pada malam-malam
di masa datang ditatapnya dengan curiga
itu bintang atau mata binatang?
setelah itu diganjilkan selalu rukun-rukun
bagi perbuatan dan pekerjaan,
inti puisi, darimana sinyal
terpancar sampai Bakarti, tempatnya kini
berhadapan dengan kata-kata ini
berhadapan dengan Aku, semata Aku
atom yang apabila dilepas satu bagian saja
musnahlah segalanya

Wingko dari Lina-Olii

kami naik becak di abad layar sentuh ini
kami meringankan tubuh supaya tukang becak
tak lelah mengayuh, tapi tubuh kami semakin berat
seakan setiap meter, beban kian beban
kami masuki jalan, arah dari ingatan
kami mau bertemu Lina-Olii sebab pada mereka
ada yang terasa hangat, terasa dekat
“ini Babat, kan. Babat di sebentang abad
setelah tanah Jawa jadi jiwa yang pecah.”
tapi lupakan. lupakan becak dan bercak siang
di batang-batang pohonan. kita jalan, kita akan
membeli jajanan. langsung dari pabrik di suatu
jalan sempit tak jauh dari sini. “halo, wingko
kau harum seperti gadis baru ranum, legit digigit
dan manis bagai kekasih tak pernah sedih.”
sampai kami berpisah dengan Lina-Olii,
harumnya tak lekang di jalan pulang,
di dalam bus yang melaju kencang.

Jalan Pabean, Ampenan

berhenti. di depan toko roti. aku lihat. aku yang dulu.
kecil
dan abai. menatap kaca. menatap tepung.
mengembang
dalam lempung adonan. aku lihat koki. kulitnya
lembek
seperti kulit roti. yang mudah sobek
berhenti. bau waktu. dari rumah-rumah kayu. kuyu
dan abai. aku lihat. kota ini. berhenti. tak mau
berjalan lagi.
Kiki Sulistyo, lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku- buku puisinya berjudul Hikayat Lintah (2014), Rencana Berciuman (2015), dan Penangkar Bekisar (2015). Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 2 April 2017