Mengubur Kenangan – Mimpi – Kita – Malam…- Di bawah senja – Jari-Jari Tangan – Tangan – Kuku-Kuku

Karya . Dikliping tanggal 30 Mei 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Suara Merdeka

Mengubur Kenangan

Sebuah jeda di malam hari
telah membawa diriku tuk mencari dan memintal
benang-benang kenangan
terhempas oleh usia.
Namun, kenanganku telah merabun
ia tak bisa mencerna lagi lewat kata
dan aku tak bisa mengubah apa-apa
kecuali hanya mengubur kenangan itu sendiri

Mimpi

Pada jam, yang telah menandakan malam
kau menukil mimpi-mimpi yang tersesat di padang, hutan,
dan lembah-lembah bersemak
tapi, mimpi-mimpi apa yang tersesat di situ?

Kau hanya mengirim jawab lewat sebuah puisi:
“mimpi yang tak bermakna; mimpi yang bermimpi;
dan mimpi yang telah usang

Kita

Kita ini pagi yang menyelusup ke buku-buku kehidupan.
Mencari keriuhan di antara kesunyian yang terasing. Kita
memang sosok asing, tinggal sendirian di rumah yang tak ada
diri kita. Kita ingin menemui mereka yang bertempat tinggal
dalam mitos-terurai lewat buku-buku: novel, puisi, cerpen, dan
buku sosio-kultur-historis, tak terkecuali buku antropologi.

Kita berburu imajinasi. Imajinasi yang masih asing, dan belum
diulang-ulang kembali oleh mereka: televisi, iklan, internet, dan
orang-orang birokratis. Mereka membentuk buku-buku
kehidupan tanpa makna sehingga kita hanya menjadi anak
autis.

Pada pagi tak berimprovisasi, ada kita yang terjebak dalam
sebuah ensiklopedi perkotaan. Seorang anak kota, atau bebe
rapa, mulai melakukan pencarian makna kehidupan-tanpa
membawa pengalaman.

Malam…

Aku menahan malam yang masih tersimpan di bola mata-ter
panggang nyala pagi, tak membawa sensasi. Dengan
memaksa tuk tegang, aku membaca ragam prosa terselip di
tubuh buku, tubuh pohon, tubuh laptop, dan tubuhmu. Di
sana, ada yang berubah, terkikis, dan hilang. Tak tahu persis,
apa sebab itu… hanya malam yang tetap menyimpan dengan
rapat-rapat.


Di bawah senja

Di bawah senja, aku menyiangi rumput di jalanan penuh
patah-patah: sepeda motor, bus, mobil, truk. Mereka sampah
sampah berjalan, yang kadang aku sendiri menggunakan
untuk menjabarkan keterasingan, kesepian, dan kegilaanku
pada hidup ini.-
Alam masih enggan bersama, meskipun berada di antara kita

Jari-Jari Tangan

Kamu yang telah berumur seperempat abad lebih, menangisi
huruf-huruf, yang dulu pernah kau susun; huruf-huruf yang
pernah kau pelajari, sehingga mereka pun mengajari tentang
eksistensi dirimu. Kamu yang mengacung atas perintah ibu
dan bapak guru; kamu yang menari di atas huruf-huruf; dan
kamu yang menyumbang-memainkan hidup-nya, hanya men
jadi diri-diri yang pucat dan kering-meski, di sela-selanya
berharap pada Hujan untuk membasahi.

Tangan

Bekas-bekas luka masih melekat dalam diriku. Debu-debu pun
masih saja menempel pada diriku-tak mudah terhapus, terbang,
ataupun hilang. Aku yang bermain api dan bergulat dengan
mereka; aku yang tersengat dan bergesekan dengan jalan
hidup-menjadi aku yang kecil, tak bertumbuh, dan merapuh.

Kuku-Kuku

Dua puluh yang selalu bertumbuh dan terpotong; bertumbuh
lagi dan terpotong lagi. Dua puluh yang selalu melekat
bersama daging; melekat bersama juga dengan darah, yang
tak selalu bersih. Dua puluh yang menari bersama dengan
pendampingnya; selalu merekam peristiwa-meskipun selalu
saja terpotong.

Budiawan Dwi Santoso, lahir di Sukoharjo, 04 Januari 1986. Ia menulis esai, puisi, cerpen, dan resensi. Karya-karyanya pernah dimuat di media nasional. Ia mendirikan Komunitas Tanda Tanya. Puisi-puisinya termaktub dalam antologi Menguntum (2011) dan Pendhapa13 (2012). Esainya termaktub dalam buku Manusia=Puisi (2011); Aku dan Buku (2012). Cerpennya termaktub dalam buku Berbeda (2012). (92)


Rujukan:

[1] Disalin dari karya Budiawan Dwi Santoso
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” edisi Minggu, 29 Mei 2016