Mengundurkan diri

Karya . Dikliping tanggal 17 Maret 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
JAM kosong. Waktu yang benar-benar tepat untuk nongkrong di luar kelas. Bergerombol, duduk lesehan, membicarakan gosip-gosip terhangat seputar sekolah, dan bercanda hingga tertawa lebar. Sebenarnya jika mereka sedang membicarakan orang lain, aku lebih banyak diam. Aku hanya ikut-ikutan ketika mereka mulai membicarakan hal konyol.
“Eh, pinjam HP-mu dong, Sis,” pinta Lavina pada Siska.
Siska memberikan ponsel pada Lavina, sementara Siska sendiri kini sedang sibuk melihat-lihat gambar personal girl band Korea yang sedang populer, di laptop Kaila. Ya, bisa dibilang kami sudah cukup teracuni virus luar negeri itu. Dan di antara kami, Kaila yang paling tahu dan paling update seputar K-Pop.
Aku mulai mengamati sekelilingku. Suasana luar kelas tidak bisa dibilang sepi untuk ukuran jam non istorahat. Banyak siswa yang berseliweran di hadapanku. Ada yang ke kantin, ada yang ke ruang BK, dan ada juga yang sekadar jalan-jalan. Sempat membuatku berpikir, kalau guru sering membiarkan jam kosong begini apa namanya tidak korupsi waktu?
Tiba-tiba suara sedikit ribut mengalihkan perhatian kami berempat. Lavina berhenti mengutak-atik HP. Siska dan Kaila berhenti menonton Korea. Perhatian kami tertuju pada suara rengekan yang berasal dari arah lab komputer. Tak lama kemudian kami melihat Herin bersama beberapa temannya keluar lab dan lewat di depan kami. Herin setengah menangis dengan muka sembab, sementara teman-temannya terlihat seperti sibuk menghiburnya, entah hiburan itu manjur atau idak.
“Eh, Herin, kamu kenapa?” teiak Lavina ingin tahu.
Herin tidak begitu menghiraukan. Sementara teman yang mengawalnya hanya menjawab singkat, “Biasa… gara-gara Pak Bagus.”
Lavina yang penasaran akhirnya berdiri dan mengikuti mereka. AKu tahu, gadis itu memang paling penasaran soal gosip-gosip sekolah. Setelah tahu apa yang terjadi ia segera berbalik dan menceritakan pada kami.
“Sepele. Cuma gara-gara nggak bawa sabuk, Herin disuruh makai tali rafia sebagai penggantinya,” kata Lavina yang seketika membuat kami bengong.
Pikiranku langsung teringat sosok Pak Bagus. Guru komputer di SMA-ku itu memang terkenal paling sering membuat murid-muridnya jengkel. Kemarin saja Yeyen habis dibuat nangis oleh guru muda itu, hanya karena masalah remidi. Seharusnya Yeyen tidak remidi komputer, tapi Pak Bagus bilang Yeyen harus ikut remidi tanpa alasan jelas. Akhirnya gadis itu mengerjakan soal remidi sambil menangis. Aku sendiri tidak habis pikir, apa sebenarnya maksud Pak Bagus dengan melakukan ‘penganiayaan’ seperti itu.
***
AKU berjalan dari kamar mandi dekat musala. Sekarang jam pulang sekolah, tapi aku masih di sini karena harus ikut les wajib. Aku kan kelas 12.
Kulangkahkan kaki melewati koridor lab komputer, menuju kelasku. Mendadak kakiku terhenti ketika ada suara memanggil.
“Rere!” Pak Bagus memanggilku. Dengan ragu aku pun masuk dan mendapati Pak Bagus bersama Pak Peno sedang makan soto di ruangannya.
“Sini! Ikut makan soto sini. Masih sisa satu,” ucap guru yang masih berumur 30-an itu.
Aku menatap heran beberapa saat. Kenapa aku malah disuruh ikut makan siang? Tapi kuakui sikap Pak Bagus  memang hampir selalu baik padaku, meski kadang tetap menyebalkan. Aku rasa aku termasuk murid yang dihafalinya. Mungkin saat ulangan Pak Bagus tahu bahwa aku tidak pernah mencontek.
“Enggak ah, Pak. Bentar lagi masuk,” alibiku.
“Halah, wong masih setengah jam lagi kok. kamu makan berapa lama ta? Daripada sisa, malah mubazir,” timpal Pak Bagus. “Ayo sini!”
Bukan tidak mau, sebenarnya aku cuma sedikit sungkan. Masa makan bertiga bersama guru-guru? Ah, tapi karena Pak Bagus memaksa, apa boleh buat?   Lumayan, bisa mengurangi biaya jajan, batinku.
Sesaat kudengar obrolan Pak Bagus dengan Pak Peno. Masalh sekolah. Katanya tahun ini akan ada bus sekolah di SMA-ku. Pak Peno bilang, biayanya berasal dari sumbangan murid baru yang masuk tahun ini. Cukup besar, katanya. Kulihat airmuka Pak Bagus sedikit berubah. Guru berperawakan ceking itu seperti tidak setuju. Dan benar saja, ia mengungkapkan ketidaksetujuannya kepada Pak Peno. Sambil memakan soto, diam-diam aku memeprhatikan. Ada satu hal yang aku tangkap dari Pak Bagus, benar-benar mengutamakan kejujuran.
***
HARI ini heboh! Kelas gempar! Kabar soal pengunduran diir Pak Bagus mulai tersebar, termasuk di telingaku. Lavina yang pertama kali memberitahu kami. Aku sedikit shock mendengarnya. Kenapa harus keluar? Bukannya baru beberapa tahun di sini?
“Katanya sih karena masalah bus sekolah itu,” ujar Lavina.
Aku setengah merinding mendengarnya. Berita kalau Pak Bagus termasuk yang paling menentang keberadaan bus sekolah memang sedang jadi pembicaraan hangat di sekolah. Katanya, saat rapat Pak Bagus menentang karena uang untuk membeli bus itu sumbangan dari orangtua murid yang diterima tahun ini. Semua tahu, secara kasar bisa dikatakan uang itu “sogokan” untuk masuk. “Yang bisa bayar lebih, dialah yang bisa masuk.” Dengar-dengar, dari awal Pak Bagus sudah tidak setuju dengan ide ini. Bagaimanapun, menurutnya ini termasuk sistem yang tidak adil untuk siswa lain, dan jelas sangat buruk untuk dipertahankan. Meski tidak sedikit sekolah di DIY, yang saat ini secara “tidak kasat mata” menerapkan sistem itu, tapi Pak Bagus tetap menginginkan kejujuran dan keterbukaan. Apalagi jika orang luar tahu, sekolah ini justru akan dipandang tidak baik.
“Kapan ngundurin dirinya, Vina?” tanyaku cemas.
“Katanya sih hari ini,” jawab Lavina yang seketika membuatku tergerak untuk keluar dan berlari menuju ruang Pak Bagus di lab komputer.
***
AKU berdiri mematung begitu melihat ruang Pak Bagus masih rapi, tidak seperti sedang beres-beres atau ingin mengundurkan diri.
“Bapak nggak jadi mengundurkan diri?”
Pak Bagus mendongak melihatku berdiri di depan pintu, lantas tersenyum tanggung.
“Jadi. Tapi perginya nggak harus hari ini, kan?”
“Kenapa Bapak mengundurkan diri?”
“Bapak nggak nyaman dengan sistem di sini. Sekolah itu tempat pendidikan. Tapi kalau sistemnya saja tidka mendidik, bagaimana mau memberikan pendidikan pada orang lain?”
Kata-kata itu seketika membuatku tercenung memikirkannya. Sementara Pak Bagus terlihat membereskan beberapa kertas, lalu berdiri dan berjalan ke arahku.
“Kamu belajar saja yang rajin, Re. Tetap pertahankan kejujuranmu. Bapak yakin, kamu akan menjadi orang hebat,” katanya smebari berjalan meninggalkanku di lab.
Aku terdiam di tempat. Menyadari satu kenyataan menyedihkan. Guru jahil, aneh, tapi teguh pendirian itu tidak akan mengajarku lagi. []


Eki Arum Khasanah. Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eki Arum Khasanah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” pada 15 Maret 2015