Menikmati Secangkir Kopi – Asmarandana

Karya . Dikliping tanggal 27 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Menikmati Secangkir Kopi

                   -suatu sore bersama Pramoedya

Pram, kenapa setiap pertanyaanku selalu kau tenggelamkan
atau kau jawab dengan nada keras dan membingungkan
meskipun tanpa sepengetahuanmu aku diam-diam
mencuri waktu untuk menemukan jawaban pada
bacaanmu, namun yang kutemukan hanya samudra
pertanyaan yang dibendel sebentuk buku
bukankah ini konyol, pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan
: seperti murid yang diplintir dan dibancikan oleh dadanya sendiri
Pram, aku kini tak kuasa, bahkan pada kuasaku sendiri
seperti mereka yang dituntun dan dibariskan menuju
altar penantian menjadi santrinya. menjadi bagian darinya.
sebab aku sudah dipastikan tak mampu menanam dan memetik takzim atas rasa ngilu
seperti pertemuan-[ertemuan sebelumya dengan orang serupa
Pram
ia beranjak dan berlalu tanpa menoleh sekalipun dan secangkir teh
yang kubuatkan untuknya telah habis, nampaknya ia begitu haus
sembari mengantar punggung yang terus menjauh
aku titipkan pesan pada tatap pandangku 
“datanglah kembali Pram. lusa, sebelum aku terlelap”
Yogyakarta-Purwokerto, Februari 2015

Asmarandana

                Enggar Jiwanto

malam kali ini menggulung pesta cahaya dengan kesunyiannya
embun tak kalah khususk turun dengan sahaja
juga seekor anak kelalawar mulai kikuk meringkuk di himpitan
              kuncup daun pisang Raja.
di seberang terlihat lebah lebih sibuk dari biasanya
melindungi sarang yang terlihat makin lapuk, sebab
gerhana dan rembulan belum usai juga bercinta
mungkin mereka sudah tak kuasa menahan dahaga
              pertemuan
lantaran yang disebut waktu selalu memisahkannya
Palasara masih saja mengembara di rerimba batin
memilih belantara ketimbang Hastina
rupanya ia belum juga bertemu akan pencarian diriNya.
Hingga negeri raya melukir zamannya
diiringi lantun sahaja pamannya
Duryudana lantun sahaja pamannya
Duryudana mengurai segala yang kasih menjadi kisah:
runtuh dan layu atas dua bunga!
Banjarnegara, 2014

Hendrik Efriadi, saat ini tengah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UmP) Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergiat di Komunitas Penyair Intitut (KPI). 

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Hendrik Efriadi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 27 September 2015