Menjelang Ku Terlelap

Karya . Dikliping tanggal 17 April 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat
Tuan, kau bilang kau wakilku.
Merasakan apa yang kurasa.
Mengerti setiap pikirku.
Mendengar setiap keluhku.
Menghapus setiap air dari mataku.
Tuan, kau bilang kau pelindungku.
Aada di saat ku butuhkanmu.
Akan berpihak padaku.
Menyampaikan pendapatku.
Berjuang dmei bahagiaku juga anak-anakku.
Tapi, Tuan, di manakah kau sekarang?
Aku yang dulu rela celupkan kelingking,
mencarimu sambil merintih.
Rumahku ambruk
karena bilik tua tak lagi mampu menopang.
Airku kosong
Jikapun ada, kotor dan bau.
Kukira sampah serampah lebih sering mengapung di sana.
Perutku lapar.
Begitu pun anakku.
Aku yang diupah sebesar ini, kebingungan.
Mengapa semua yang kubutuhkan begitu mahal, Tuan?
Mereka bilang tak apa, masih ada uang di saku juga lemari.
Bagaimana denganku?
Jangankan uang, lemari pun aku tak punya.
Tuan, senangkah hidupmu?
Kenyangkah perut istri dan anak-anakmu?
Masih banyakkah yang menjadi sibukmu?
Jika di waktu luangmu kau mengingatku,
bahagia benar aku ini.
Meski hanya sekali.
Tolong, Tuan.
Kau adalah harapan yang selalu aku harapkan.
Beralas tanah, berbantal batu dan
beratap langit.
Di sini aku dan keluargaku harus merebah menyambut mimpi.
Aku maish ingin melihatmu sekali lagi.
Dengan senyum manis dan
sapa hangatmu macam kala itu.
Semoga pilihku wkatu itu bukan salah.
Meski berkali-kali pikirku bilang, “barangkali kamu salah.”
Semoga Tuhan indahkan setiap harap dalam benakku.
Melalui kamu, Tuan.
Orang yang dulu berjanji dan dapatkan percayaku.
Juga percaya setiap orang sepertiku.
Siti Hasanah, mahasiswi Universitas Padjajaran
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Siti Hasanah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 17 April 2016