Menjelang Panen

Karya . Dikliping tanggal 30 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

DI pagi yang masih kelewat dini, orang-orang berduyun ke tonsaoh dengan wajah penuh amarah. Mereka tidak lagi memedulikan udara yang gigil, atau perut keroncongan karena sama sekali belum diisi. Mereka tidak takut masuk angin. Tidak. Tidak ada yang mereka pedulikan selain aliran air yang kecil dan sawah yang gagal panen.

Kemarau panjang masih belum berak­ hir. Tanah mulai kerontang dan air malah diselewengkan beberapa warga. Belum lagihama terus menerjang ladang padi. Mereka harus mempertahankan sawah­ nya agar masih bisa memanen meski dengan hasil sedikit Ya. Daripada nol sama sekali.

Hampir setiap pagi dan petang orang­ orang bergantian ke tonsgoh. Tempat di mana aliran air menjadi pusat itigasi sawah landeuh. Kadang seorang, kadang dua, atau tiga. Mereka membuka penyumbat aliran air ke sawah landeuh yang disumbat warga tonggoh untuk keperluan sawah mereka, sehingga sawah landeuh hanya teraliri air seadanya dari susukan. Terkadang, hal inilah yang mengundang perselisihan besar antar kampung. Barangkali hal itu pula yang membawa para warga landeuh kompak mendatangi irigasi ditonggoh dengan raut wajah penuh amarah.

Hanya Mujib yang tidak ikut membe­narkan saluran air. la pun seorang petani padi tetapi tak pernah terlihat sekali saja berada di batisan orang-orang itu. la seperti tidak peduli pada sawahnya, mes­ki istrinya terus menceramahi ia untuk merawat sawah dengan baik sebelum panen.

“Kang, sawah sudah dilongok?” Marni, istrinya tiba-tiba ke luar menemui Mujib yang sedang mencabuti rumput di sekitar kebun singkong, di belakang rumahnya. Perempuan itu kesal melihat orang-orang yang sedang berjalan ke utara, ke pusat pengaliran air, sementara suaminya masih berkutat dengan kebun singkong yang tidak begitu banyak membeti keuntungan.

“Sudah,”jawabnya sembati terus me­mangkas rumput di sekitar tanaman. Ia tidak ingin ada eutih yang merusak kuali­ tas singkong.

“Kebagian air?”

“lya.”

“Jangan bohong, Kang. Orang-orang ke tonggohjang neang cai. Sawah mereka kekeringan. Sawahmu juga mustahilke­ bagian air.”

Mujib diam saja. la memang sudah memeriksa sawahnya tadi malam. Urusan kebagian air banyak atau tidak ia tidak peduli. Toh padinya akan tetap panen meski dengan sedikit air.

Semut-semut mulai berdatangan dari segala arah. Berkerumun di mana saja, hampir di setiap tempat Sebuah pertanda bahwa beras akan mahal. Dan sebab itulah Marni terus menceramahinya untuk mengurus sawah dengan benar. Agar panennya lebih banyak dan tentu akan menuai banyak pundi-pundi rupiah. Keinginan Marni membeli perhiasan seperti para tetangga bisa segera terwujud.

Meski beras bakal mahal, harga jual padi tidak akan berubah. Tetap murah dan mutlak harga dari tengkulak. Mujib tidak berencana menjual hasil panen padinya pada tengkulak.

Ia akan menyimpan padi untuk keperluan makannya sehari-hari. Jika ia menjual padi dan dibayar murah, sementara harga beras naik, tentu akan membuat­ nya rugi besar. Dari mana ia akan mem­ beli beras untuk sehari-hari? la bisa men­ jual singkong untuk membeli keperluan lainnya. Yang jelas ia tidak akan menjual padinya.

“Kang, malah diam. Ayo ikut benerin saluran air yang disumbat orang tonggoh. Akang kenapa sih enggak pernah den­gerin nasihat istri.”

Mujib tidak benar-benar mendengarkan ocehan Marni. la lebih memilih fokus pada rumput yang sedang dikored-nya. Percuma bicara pada orang yang mudah terpengaruh tetapi tidak tahu apa-apa.

“Berdebat dengan orang yang tidak tahu apa-apa jauh lebih menjengkelkan daripada dengan orang serba tahu,” pikir Mujib.

“Akang! Cepat ikuti mereka. Betulkan saluran irigasi ke sawah kita.” Marni bersuara dengan nada tinggi, penuh kekesalan.

Menjelang Panen“Kita tidak perlu ikut-ikutan, Mar. Urusan air, kita sudah kebagian. Walau sedikit tetap harus disyukuri. Daripada ingin banyak dan rela bertengkar untuk satu hal yang belum tentu didapat,” jawab Mujib.

”Tetapi….”

“Mar, ayo ikuti aku,” katanya seraya berjalan ke arah landeuh, ke tempat di­ mana ia menanam padi. Ada yang ingin ia perlihatkan pada Marni, sebagai cara agar perempuan berusia kepala tiga itu diam.

“Lihatlah Mar!” Mujib menunjuk ke be­ berapa kotak tanah berlumpur yang baru ditanami padi. Belum berbuah sama sekali. la menunjuk setiap sawah-sawah yang baru ditanami padi itu yang hampir seluruhnya baru ditandur dan menyebut pemiliknya satu per satu.

Terakhir, Mujib membawa Marni ke sawah paling landeuh. Di sanalah sawah Mujib. Hamparan padi terlihat kuning dan buahnya merunduk. Beberapa hari lagi siap di panen. Hanya sawah itu yang siap panen. Sementara yang lain masih jauh.

Seharusnya mereka panen serempak. Perselisihan antara warga landeuh dan tonggoh mengakibatkan orang-orang saling merusak sawah. Semua karena perebutan irigasi sawah masing-masing.

Mereka berebut air agar tidak gagal panen sebab kemarau. Padahal kegagalan panen tidak melulu akibat kurang air. Per­cuma saja sawah teraliri air, tetapi ta­naman habis diserang hama. Apalagi jika hamanya manusia. Seperti mereka yang saling merusak sawah dan tanaman, alhasil mereka harus mengulang lagi dari awal.

ltulah sebabnya Mujib tak ingin ikut­ ikutan seperti mereka. la masih bisa mensyukuri aliran air yang kecil. Ia tidak ingin terlibat dalam perselisihan tak berujung itu. Memperebutkan air demi sawah yang tak begitu luas. Sementara itu, tali silaturahmi semakin renggang bahkan ber­ujung permusuhan hingga terancamnya keselamatan nyawa.

Hal itu tidak disadari oleh sejumlah orang. Mereka hanya menyalurkan hawa nafsu saja. Tidak memikirkan apa yang di­ hasilkan dari perbuatan mereka. Semen­ tara itu, Mujib berpikir tenang. Dan kini dia akan memetik hasilnya.

Marni terdiam setibu bahasa. la tidak mengatakan apa pun. Untuk ketidak­ tahuannya, dan omelannya pada Mujib pun ia tidak meminta maaf. Tidak ada reaksi kagum atau apa pun dari Marni se­lain diam.”**


[1]Disalin dari karya Bia R
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 28 Oktober 2018