Menunda-Nunda Mati

Karya . Dikliping tanggal 6 Agustus 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
KUTIRAN telentang di ranjang, menggenggam jemari istri yang duduk duka di tepi dipan. ”Boleh bersedih, tapi jangan menangis!” pintanya sembari merapatkan jari-jemari itu di atas dadanya yang berdetak lemah, dengan jantung nyaris tak berdegup.
Lepas remang petang Kutiran meminta istri menemani berbaring di bale dangin yang terbuka. Sejak muda ia bercita-cita menikmati napas terakhir di bale adat itu, tempat berbaring terakhir sebelum diantar ke kuburan. ”Kalau aku bisa mati di bale dangin, orang tak repot menggotong jasadku ke bale ini,” ujar Kutiran berulang-ulang kepada kerabat dan sanak saudara.
Kematian bisa menjemput Kutiran setiap saat. Ia meminta istri terus menatap matanya yang lemah, dengan kelopak berkedip perlahan. ”Jika kelopak mataku tertutup tapi terus bergerak, itu pertanda aku masih hidup, belum sepenuhnya terkalahkan,” jelas Kutiran.
Rupini cuma bisa mengangguk berkali-kali meyakinkan suaminya. Batinnya terus-menerus menyesali niat Kutiran sok jadi pahlawan menggelar perang tanding melawan Gradug, lelaki sakti ditakuti seisi desa yang sedang memburu ilmu tertinggi pencabut nyawa.
Lebih seabad silam di desa itu hidup Ki Tampias, manusia sakti yang menguasai aji Tuwah Aukud, ilmu yang tak bisa digandakan, hanya dikuasai satu orang. Pemiliknya pun menjadi satu-satunya, manusia esa. Ki Tampias menggenggam erat ilmu itu setelah mencabut tujuh jiwa dalam perang tanding sukma di Gelagah Puun, tegal alang-alang tepi desa yang dikitari parit berair jernih.
Ia ditakuti karena dua bola matanya seperti bisa menjulurkan batang api, membuat petani yang ditatap lama menjadi gemetar, sakit kebingungan, lalu linglung sebelum mati pelan-pelan. Warga desa yang bersua manusia sakti itu di jalan, di warung, di rumah warga yang sedang melangsungkan upacara adat, atau jika ada persembahyangan di tempat suci, akan merunduk terus. Petani-petani yang tak ingin menjadi korban menyerahkan sebagian hasil panen, dan lambat laun menjadi hamba sahaya Ki Tampias.
Gradug ingin menguasai Tuwah Aukud. Ia butuh mencabut satu nyawa lagi, tapi Kutiran menghadang. Ketika tilem, bulan mati, bertepatan dengan hari kajeng kliwon, malam pekat padat gelap gulita, Gradug menyambut tantangan Kutiran. Roh mereka bertarung di tegal Gelagah Puun tepat tengah malam, sementara raga mereka terbujur pulas di rumah masing-masing. Beberapa orang desa memberanikan diri ke tegal itu, menonton dua bola api terkam-menerkam.
Angin sekencang badai melingkar merobohkan alang-alang, disertai gemuruh seperti puluhan ekor kuda berlari kencang, ketika bola api Kutiran melesat berputar-putar, terpelanting melabrak deretan pohon turi, sebelum terjerembab di bibir parit. Di rumahnya, Kutiran terbangun menahan dada perih dan tenggorokan kering tercekik. Gradug terjaga dengan enteng, langsung duduk, telapak tangan mengusap-usap wajahnya yang berseri-seri. Sebagai pemenang, Gradug bergegas menemui Kutiran di gubuk sawah selepas siang.
”Kapan aku bisa merayakan kemenangan, Ran?”
Kutiran merunduk, lama sekali ia bisu, bingung memilih waktu. Terbayang istri dan putri satu-satunya yang sedang ranum dan siap dipetik taruna desa. Bagaimana mungkin ia meninggalkan mereka setelah menjadi pecundang dalam perang jiwa tadi malam?
”Pekan depan saat baik dan nyaman untuk mati. Kamu bisa memilih salah satu hari.”
”Beri aku waktu,” pinta Kutiran memelas.
”Sampai kapan?”
”Kamu bisa menagih setelah anakku menikah.”
Gradug tersenyum dan mengangguk-angguk. Ia gembira tak terperi karena ia akan menjadi legenda pemilik ilmu Tuwah Aukud. Tak apa ia harus bersabar, toh kemegahan sudah dalam genggaman. Tak lama lagi Ki Tampias akan lahir kembali.
Tiga bulan berlalu, Gradug datang menagih janji, Kutiran menunda dengan alasan putrinya belum menikah. Setahun, dua tahun, tiga, empat, Gradug terus-menerus menagih karena ia berhasrat segera menjadi legenda tokoh sakti, sosok yang esa. Tapi, Kutiran selalu mengulur waktu, sampai ia sadar semua penundaan itu kehabisan batas tatkala putrinya berulang-ulang mengutarakan niat menikah. Kutiran menghadapi dua desakan: dari Gradug dengan nafsu besar mencabut nyawa, dan dari putri yang ia kasihi, siap membangun kebahagiaan rumah tangga. Dua permintaan tertinggi yang berujung pada satu impitan: betapa ia tak lagi punya banyak waktu untuk menunda-nunda mati.
Dan inilah malam janji itu harus dipenuhi, empat puluh dua hari setelah Kutiran menikahkan putrinya. Disaksikan Rupini, istri yang dibungkus duka, Kutiran akan melepas jiwa. Sukmanya pergi ke tegal Gelagah Puun, lunglai melewati dua pohon enau, menelusuri jalan setapak, sebelum mendaki ke rimbunan alang-alang. Dari ketinggian ini Kutiran bisa menyaksikan kelap-kelip lampu sunyi di desanya. Duduk bersila di atas rumput, ia menajamkan pendengaran untuk menangkap gemerisik bunyi melintas, pertanda sukma Gradug hadir sebagai jagal.
Di pembaringan bale dangin, Rupini menatap kelopak mata Kutiran yang terus bergerak-gerak. Ketika kelopak itu berkerjap-kerjap teratur, Rupini beranjak mengganti pakaian dengan kebaya dan kain hitam, mengacak-acak rambutnya yang sepinggang agar tergerai.
Ia turun ke tengah pekarangan, berdiri tegak, mencakupkan tangan, mengangkat tegak lurus kencang ke atas ubun-ubun menuding langit. Ia hirup lengkap zat malam, mengalirkannya ke seluruh raga dan jiwa menjadi kesejukan, penyerahan dan keberanian, untuk membangun aji Lanus Iying yang ia warisi dari neneknya. Dengan ilmu itu tubuh Rupini akan melenggang seringan selembar daun waru kering, tak berisik, tanpa aroma, sehingga anjing tak kuasa mengendus, unggas tak menyadari kehadirannya.
Sekuat perasaan disertai keyakinan penuh, Rupini meninggalkan Kutiran terbaring sendiri. Ia butuh tak lebih sepuluh menit menuju rumah Gradug dengan pagar tak berpintu di timur desa. Kendati jalan ke rumah Gradug berkelok-kelok menanjak, dengan aji Lanus Iying, Rupini melangkah seperti lurus-lurus saja, dan cepat sampai.
Sepasang angsa peliharaan Gradug tetap pulas di kandangnya, dan seekor anjing mendengkur di bawah jendela ketika Rupini menuju bangunan di barat laut pekarangan. Ia tahu, orang-orang yang gemar bertarung jiwa punya bangunan suci khusus buat melepas roh. Di malam berangkat perang mereka merasa seperti prajurit sejati, tidur telentang dengan jendela dan pintu kamar terbuka, agar dalam tepekur, sebelum kelopak mata mengatup, bisa menatap angkasa raya.
Para petarung itu berbaring dengan kepala tanpa alas. Bantal untuk alas lengan di samping kiri, bagai memegang tameng. Tangan kanan terkepal seperti memegang tombak atau pedang. Kadang jemari mengepal-ngepal halus bagai sedang meninju-ninju sesuatu. Mereka merapal mantra aji Ninggal Gumi, agar sukma bisa berkelana ke tempat keramat, menjadi saksi perang tanding dalam balutan bola api. Jika pesohor berlaga, tempat angker itu riuh oleh banyak bola api yang terayun-ayun. Orang-orang desa menyebut pertempuran itu siat peteng, perang tengah malam yang seru, indah, dan menyeramkan.
Sulit dan rumit untuk menguasai aji Ninggal Gumi. Mereka yang berbakat dan berpengalaman cuma butuh beberapa menit untuk meninggalkan raga. Tapi, para pemula yang belum lengkap menguasai mantra itu harus waspada karena usai asyik berkelana bisa tersesat kesiangan tak menemukan jalan pulang. Jiwanya tak pernah kembali, ia akan terbujur meninggal dalam tidur di kamar suci.
Tatkala Rupini masuk kamar suci Gradug, tengkuknya berdesir. Ia menatap sebilah keris tergantung di atas pintu, bersarung kulit macan, untuk menyerang penelusup. Tapi keris itu kini cuma seonggok metal, tuahnya lenyap, takluk pada aji Lanus Iying.
Gradug terbaring tengadah tanpa baju. Bagi petarung sukma, kulit adalah perisai, seperti baju besi. Pakaian justru menghalangi kekuatan yang bisa diserap dari alam. Kelopak mata Gradug terus berkedip, napas tipis, degup jantung teratur perlahan. Sukmanya riang gembira ke tegal Gelagah Puun hendak mencabut nyawa Kutiran.
Rupini menggeser lengan Gradug, mengambil bantal, mengangkatnya ke depan dada. Setenang mungkin ia membekap wajah Gradug dengan bantal bersarung putih itu. Kurang dari lima menit Gradug meregang, hanya sesaat menggelinjang, otot pinggul dan betisnya tegang, tangannya menggapai-gapai, kemudian terbenam dalam diam.
Perempuan berbusana hitam itu meraba leher Gradug, tak terasa denyut sedikit pun. Betapa mudah menghabisi orang yang sukmanya sedang pergi berperang. Di medan pertarungan roh itu luar biasa tangguh, berpendar menjadi bola api membangkitkan gemuruh, berkelebat ke segenap penjuru. Tapi di pembaringan, raga yang ditinggalkan amat rapuh, cuma dijaga oleh jimat di dinding atau diselipkan di bawah tikar. Raga bisa terbunuh hanya dengan beberapa sentuhan dan goyangan, setelah kekuatan jimat dibekukan.
Rupini bergegas pulang setelah meletakkan bantal ke tempat semula. Tak akan ada jejak mencurigakan di kamar suci itu telah terjadi pembunuhan. Dokter yang memeriksa jasad akan menjelaskan, Gradug meninggal karena serangan jantung. Tapi orang-orang desa sangat yakin Gradug tewas dalam siat peteng.
Di tegal Gelagah Puun, sukma Kutiran berdebar-debar menunggu Gradug tak kunjung datang. Waktu terus berpacu, malam akan berlalu, dan sebentar lagi dini hari. Kutiran menebak-nebak, apakah Gradug lupa janji? Dalam kebingungan, Kutiran memutuskan beranjak pulang. Jika dini hari semakin dekat, sukma itu akan tersesat, tak bersua jalan untuk kembali. Ia akan lenyap redup perlahan karena melewati batas waktu yang direstui bumi.
Beberapa orang desa yang berani datang ke tegal alang-alang itu sangat kecewa. Dengan hati tetap dag-dig-dug, mereka urung menyaksikan tontonan bola api jiwa yang dicabut melesat ke angkasa, pecah berpendar tercerai berai indah seperti kembang api melukis langit malam.
Tiba di bale dangin, Rupini bergegas duduk di tepi dipan, menggenggam erat jemari suami. Ia menatap kelopak mata Kutiran yang berkerjap-kerjap cepat, semakin cepat ketika kokok ayam menyambut dini hari mulai terdengar dari belakang rumah.
Tiba-tiba mata Kutiran terbuka, terbelalak, pupilnya benderang, tercengang terheran-heran, seakan ia berada di tempat yang sama sekali tidak dikenalnya.
”Dia tidak datang, Pin! Mengapa Gradug tidak datang?”
Rupini memeluk ketat Kutiran, meremas-remas rambutnya, mencium pipi dan lehernya berulang-ulang, mengulum bibirnya berkali-kali. Duka yang tadi mendesak-desak kini menjadi letupan-letupan gairah. Kutiran menyambut gelegak berahi dini hari itu dengan menepuk-nepuk pinggul Rupini, seperti yang biasa ia lakukan sebelum mereka bercinta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Gde Aryantha Soethama
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas”