Merawat Peti Ingatan

Karya . Dikliping tanggal 26 September 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
SUATU hari saya menerima e-mail
dari seorang kandidat doktor
sebuah universitas di ‘Negeri
Kanguru’. Setelah membacanya,
saya terhenyak ke perut kursi. Saya
menjadi sedikit emosi, terasa ada yang
berubah, suhu badan naik, dan kepala
tidak nyaman. Padahal suratnya, walau
agak panjang, intinya sangat sederhana.
Kalau bersedia, katanya, tolong ia diperkenalkan dengan keluarga eks-Tapol 1965,
terutama generasi kedua atau ketiganya.
Ia yang bernama Maria S itu,akan melengkapi data lapangan tentang dampak yang
dialami oleh mereka. 
Saya menarik napas panjang, pikiran
menerawang, hinggap, dan terbang tidak
menentu di langit kehidupan. Burung-burung beterbangan, asap knalpot mencucuk
hidung dan suara bising bersahut-sahutan
entah dari mana datangnya. Saya merasa
tertekan. Saya tidak menjawab e-mail-nya.
Saya seperti mendengar kembali suara
Mbak Inuk yang menuduh saya sebagai
makelar, mempromosikan kesakitan,
mengobok-obok luka lama menjadi pameran dunia yang tidak mendatangkan apa-apa bagi korban. Keuntungan diraup oleh
pihak lain. “Mana buktinya kita diuntungkan?” suaranya serak cempreng seolah
tikaman pisau di gendang telinga, sakitnya
menjalar ke sekujur tubuh. 
Seminggu kemudian e-mail-nya datang
lagi. Ia sama sekali tidak menyinggung
permintaan bantuan yang diuraikan pada
e-mail sebelumnya. Sekarang ia menceritakan hasil penelusurannya terhadap diri
saya di mbah Google. Ia menyampaikan
rasa syukur bisa berkenalan dengan saya,
tapi kecewa karena perkenalan baru
terjadi sesudah ia berada di luar negeri.
Ia menyalahkan dirinya karena sewaktu
di negerinya sendiri, kok banyak yang ia
tidak ketahui. Ia menyampaikan terima
kasih telah diperbolehkan mengontak
saya. Menurut saya, ini gombal. Itulah
reaksi saya yang tak terucapkan. 
Saya merasa menjadi penghuni rumah
kaca yang tidak bisa menyembunyikan
apa-apa lagi, termasuk bulu ketek. Orang
bisa mengetahui tentang diri saya, tentang masa lalu, masa kini, bahkan ide-ide
yang belum sempat saya paparkan. Saya
merasa kecolongan walau tidak kehilangan. Saya merasa kembali sendirian di
ruang interogasi yang sepi dengan lampu
remang-remang menunggu si pemeriksa
datang. Saya disuruh menunggu entah
sampai kapan dan entah menunggu siapa.
Hanya suara jam dinding yang terdengar
seperti langkah hantu yang tidak jelas
keberadaannya. Emosi saya diaduknya.
Mungkin karena saya sering kecewa dengan beberapa peneliti, itu masalahnya
juga. 
Saya merasa mual, ada desakan arus bawah di lambung. Kemudian batuk, keselek,
seolah menelan makanan yang belum
cukup dikunyah. Saya ingat lagi dengan
seorang peneliti yang sesudah mendapatkan data dari para bekas tahanan ini, tidak
pernah mengembalikannya lagi dalam
bentuk rangkuman, artikel, makalah, maupun buku yang ditulisnya. Si narasumber yang memikul beban sejarahnya sebagai
bekas tahanan yang terus diintai
penguasa kehilangan kesempatan
memeriksa apakah yang ditulis
peneliti sesuai dengan apa yang
diceritakannya. 
Saya jadi teringat dengan
gaung suara Bung Karno. Ini
semacam ‘expoitation de l’homme
par l’homme
. Kalau ini dianggap
tuduhan, mungkin tuduhan saya
berlebihan. Saya kecewa berat dengan tingkah pola peneliti seperti
ini, tetapi di pihak lain saya ingin
memberikan serpihan kenyataan
masa lalu, sebagai pembanding
informasi yang faktual dan akurat. Sebagai satu sisi mata uang
yang membuat sebuah kesatuan
makna dan nilai, juga kesetaraan.
Saya merasa mempunyai beban
sejarah penting dan luhur, kapan
dan di manapun saya berada.
Mungkin ini yang disebut GR,
menganggap diri penting. Padahal
apa pun yang keluar dari mulut
saya sampai berbusa-busa belum
menjadi pendorong roda perubahan negeri ini. 

Saya mematikan komputer.
Saya kehabisan daya tahan. Saya
lelah dan gelisah, sedikit marah,
bukan saja karena permintaan
Maria, tetapi karena semalam
saya bermimpi berada di penjara
lagi, dituduh menyebarkan dan
menghidupkan kembali paham
komunisme dengan menceritakan
masa lalu lewat seorang peneliti dari Ponorogo yang sedang
menyelesaikan doktoralnya nun
jauh di sana, Maria Sutiyah. Saya
akan disiksa dengan ekor pari
yang digenggamnya. Padahal,
saya hanya menceritakan pengalaman hidup saya yang tersimpan di
dalam otak saya sendiri. Endapan laten di
gudang kehidupan saya ternyata dianggap
sangat berbahaya, bagai menyimpan titik
api walau tanpa keluar asap. Telapak kaki
dan tangan saya basah berkeringat, napas
seperti penderita asma yang memerlukan
obat hirup pelega. Selain menjadi tawanan
masa lalu, saya juga menjadi pasien klinik
24 jam. 

Walaupun dalam kegalauan, akhirnya saya mengiyakan permintaan Maria Sutiyah dari Ponorogo itu karena
beberapa pertimbangan menyangkut
proses menumbuhkan peradaban bangsa.
Peradaban bangsa saya perlu diperbaiki,
setidaknya itu pendapat saya. Bangsa saya
ini, sangat pandai mengocehmengutuk
teror berbagai macam kekerasan dalam konflik vertikal dan horisontal yang
terjadi di berbagai belahan dunia, tetapi
tidak menyadari bahwa bangsa ini juga
pernah menjadi pelaku teror yang tidak
ada jaminan untuk tidak mengulanginya.
Bangsa dan negara saya membungkam
dirinya sendiri ketika diajak menyelesaikan persoalan masa lalu. Bangsa saya yang
katanya berbudaya luhur, tetapi masih
memberi toleransi terhadap pengabaian
hak-hak rakyatnya. Negara bersembunyi
dan menyembunyikan diri, tidak hadir ketika terjadi penghancuran peradaban. 
Selain itu, alasan saya menerima tawarannya, yang terutama sekali karena
ia menyetujui defi nisi saya tentang siapa
korban tragedi 1965/66. “Maria apakah
Anda setuju kalau yang disebut korban
tragedi 65/66 adalah semua orang, yang
merasa teragitasi emosi dan pikirannya
di saat membicarakan tragedi tersebut?”
Lebih dari seminggu saya menunggu
jawabannya. Saya gelisah, persis seperti
saya menunggu jawaban dari pacar.
Mungkin ia bingung. Mungkin ia sedang
berkonsultasi dengan profesor pembimbingnya, sebab definisi yang saya ajukan
akan berpengaruh terhadap kesimpulan-kesimpulan yang dibuatnya. Kalau ia tidak
setuju dengan definisi saya, saya tidak
akan membantunya. Mungkin saya akan
dituduh sangat egois. Boleh jadi iya. Tetapi
itu prinsip saya. 
Persahabatan saya menjadi semakin
kental dengan Maria. Semakin sering ia mengirim e-mail terasa saya semakin
menge nal dirinya dan semakin berani saya
menyampaikan unek-unek, bahwa para
peneliti sedikit sekali ikut mendorong pemerintah Indonesia dan sekutunya untuk
melangkah lebih bijak dalam menyelesaikan tragedi tersebut. Jawabannya sangat
stereotip, klasik dan sudah bisa ditebak.
“Maklumlah Pak, peneliti bukan politisi.” Kalau saja ia sedang di depan saya,
saya akan melotot sampai bola mata saya
menabrak hidungnya, sambil berteriak,
“Oon. Oon.” Apakah ia tidak paham bahwa
intelektual itu bisa diibaratkan pisau
ukir sedangkan politisi lebih menyerupai
gergaji?
Suatu senja saya menerima e-mail singkatnya, “Bapak perlu apa dari sini? Kalau
mungkin, saya bawa ketika bertemu Bapak
bulan depan.” Saya langsung membalasnya, ”Bawakan energi Aborigin dan Camar
pantai St. Kilda. Hi hi hi hi.” 
Pertemuan saya dengan Maria berlangsung di salah satu rumah makan di bilangan Menteng. Ia duduk menghadap saya.
Bibirnya merah hati dipulas lipstik agak
tebal. Garis mata dan alisnya juga dipertebal. Rambut dibiarkannya lepas berjuntai sampai di bahu. Warnanya hitam
mengkilat, tetapi ada terselip warna perak
di antaranya. Ia memakai anting-anting,
dari kulit kerang, menggelayut di daun
telinganya. Murah senyum memamerkan
giginya yang tumbuh tidak rapi. Bajunya
terbuat dari kain lurik dengan potongan
sederhana, bahkan kelihatan hanya sebagai sarung bantal, tanpa lengan, polos. Di
bagian dadanya terbelah diikat dengan
semacam tali sepatu. Itulah Maria Sutiyah.

Di sebelahnya duduk seorang lelaki,
tampak lebih muda dari Maria. Ia memakai baju batik, mungkin termakan
promosi bahwa batik identik dengan semangat nasionalisme, padahal baju batik
yang dipakainya mungkin saja bikinan
Tiongkok. Lelaki itu ketika bersalaman
menyebutkan namanya, Amad. Entah itu
kependekatan dari Muhamad, atau Samad,
atau memang cuma Amad. Saya acuh,
saya lebih kepingin tahu apa kapasitasnya
dalam pertemuan ini. Dari Maria, sebelum
makanan yang dipesan datang, akhirnya
saya tahu mereka berpacaran sudah lebih
dari lima tahun, tidak direstui oleh orangtua Ahmad karena mereka berbeda agama
dan sedang mengusahakan supaya bisa
menikah di Australia dengan tetap pada
agamanya masing-masing.

Walaupun saya bukan tukang nujum,
firasat saya mengatakan bahwa Maria lebih cerdas daripada Ahmad. Dengan
kecerdasannya ia minta nomor telepon
narasumber yang sudah saya persiapkan.Ia minta izin untuk langsung menelepon
Sumiyati, memperkenalkan dirinya dan
mengatur jadwal pertemuan. Maria
menjauh dari kami, percakapannya tak
tertangkap telinga saya. Tetapi sebelum
teleponnya dimatikan, ia menyerahkannya kepada saya dan saya mendengar
dengan jelas suara Sumiyati, “Om makasih
ya. Saya ingin ngobrol berdua saja dengan
Maria. Om istirahat ya. Jaga kesehatan.
Dahhhhhh.”
Saya senang jadi makelar, mempertemukan Maria dengan Sumiyati, terlebih
lagi karena Maria Sutiyah dari Ponorogo
itu, menurut pengakuannya, setelah kami
melahap makanan di restoran itu, adalah
cucu seorang pembunuh saat tragedi 65
berlangsung.

Rawamangun, 2016
Putu Oka Sukanta,
sastrawan berusia 77 tahun. Beberapa
karyanya (puisi, cerpen, dan novel) sudah
diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jerman,
dan Prancis. Ia tinggal di Jakarta sebagai
penggiat HAM dan praktisi akupunktur.

Rujukan:
[1] Disalin dari karyaPutu Oka Sukanta
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” edisi Minggu, 25 September 2016
Beri Nilai-Bintang!