Mereka 3, Aku 1 – Pemikir – Pulau yang Terkapar

Karya . Dikliping tanggal 22 November 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Mereka 3, Aku 1

Sebut saja kami ini,
para binatang kotor,
yang mendiami istana,
para raja-raja terdahulu
yang kini sudah tiada
Tak ada hak sebenarnya
bagi binatang rendahan seperti kalian
untuk menapak di aats lantai berkelas
dengan kaki kotor kalian
pembawa najis mugaladah

Walau kotor, mereka bukan binatang
Tak seharusnya menggonggong mereka
Ocehan membuat mereka makin liar
Tidak adillah pencegah mereka,
bukan omongan kekosongan
Aku hanya penikmat drama
Tak bisa bicara dengan mulut
Hanya lembaran kertas, pilpen,
dan diamlah yang bisa bicara
Gonggongan di mana-mana
Kebihingan sudah meracuni
Kemunafikan menjadi virus cepat
Tak satu pun dapat percaya
bahwa tak ada yang bisa dipercayai

Pemikir

Hey, kau yang di sana
Iya, benar. Kau
Jangan mematung bagai kehilangan nyawa
Tak berhenti bergulat pikir
Menjawab soal tanah air.
Hunuskan pikiran tajammu,
tepat di kepalanya
Jangan sengaja membalut mulut
hanya karena mereka,
enggan mencerna makanan pedas darimu
Berikan ibamu kepada mereka
yang sedang sakit jasmaninya
bahkan sampai tulang, darah, dan jiwanya
Berilah obat untuk mereka
Jangan pikirkan itu pahit,
atau manis untuknya
kamu harus tetap
memberi obat mereka
supaya tidak kelabakan
Masih kepada kamu
Jangan bergulat pikir saja
Kleuarlah dirimu. Tunjukkan
Kalau dirimu tidak bisu
Tunjukkan dirimu
Kalau masih bisa melihat
Tuturkan jawaban Tanah Air ini
Dan 100 untukmu

Pulau yang Terkapar

Siang mendatangi sore
tidak terlalu cerah
dengan awan yang berkumpul
Menanti hadirnya segerombolan air
Namun tak datang juga
Sampai kapan Kau terus menatap
namun tak pernah datang
tak lihatkah kami begitu gerah
karena kau tak mau turun
walau sekadar melenyapkan api
di pulau pertambangan batu
yang terus meletuskan asap kabut
sebagai racun untuk makhluk

Ray Umam Syahputra, lahir di Bandung 27 Desember 1997. Mahasiswa Unpad Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Indonesia
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Ray Umam Syahputra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 22 November 2015