Mereka yang Tertidur Menjadi Batu Kami yang Terjaga Menjadi Air

Karya . Dikliping tanggal 5 Desember 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia
SESUNGGUHNYA kita memang tak
betul-betul mengerti apa yang
terjadi dalam hidup ini. Seperti
yang terjadi malam itu: seorang
perempuan, pengantin baru, tiba-tiba
menjerit ketakutan, lantaran suaminya,
setelah menunaikan hajat bercinta, ia
dapati telah menjadi batu. 
Mulanya, pengantin itu tak percaya
dengan penglihatannya. Baru saja ia
berhubungan badan dengan suaminya.
Selepas itu, mereka bahkan sempat
omong-omong, perihal masa depan,
perihal jumlah anak yang mereka
inginkan, perihal rumah tangga yang akan
mereka bangun bersama. 
Tapi, sekejap kemudian ia menjerit.
Mendengar jeritan pengantin baru yang
keras itu, tetangganya pun berdatangan.
Para tetangga yang kemudian tahu bahwa
pengantin lelaki telah menjadi batu
tampak merinding. Beberapa tetangga
perempuan bahkan ikut menangis.
Para perempuan itu menangis bersama
sehingga tangis mereka terdengar seperti
kor belaka. Ketika para perempuan itu
berhasil membopong si pengantin ke kursi
dan mencoba menenangkannya, terdengar
teriakan tetangga jauh yang kira-kira
berjarak sekitar sepuluh rumah dari situ.
Tentu kita tahu dari suaranya, bahwa yang
berteriak juga seorang perempuan. 
Di rumah yang berjarak sekitar
sepuluh rumah dari rumah pengantin
baru, ternyata seorang ibu menjerit-jerit
lantaran orok yang ditimang untuk
ditidurkan dalam gendongannya juga
menjadi batu. Ketika seorang tetangga
yang datang pertama kali ke rumah itu
menanyakan apa gerangan yang terjadi,
sang ibu hanya menjawab dengan tangis
lebih kencang. Dan ketika si suami datang
dengan tergopoh-gopoh, sebelum ia tahu
persis apa yang terjadi, terdengar bunyi
jeritan serak seorang lelaki tua yang
tinggal persis dua rumah dari rumah itu. 
Anak si lelaki tua, pemuda berumur
likuran segera mendatangi bapaknya yang
meronta di kursi goyang. Ia bertanya,
apa gerangan yang menimpa sang bapak.
Dan, ketika lelaki tua itu menjawab
kalau kakinya telah jadi batu, pemuda
itu mengira bapaknya mulai gendeng:
“Sudahlah, Pak. Sampean tidur saja.” 
Menahan nyeri dan beban berat di
kakinya, si bapak pun membentak:
Semprul as…” Lelaki tua itu tak sempat
menyelesaikan makiannya sebab ia
terjerungup ke lantai saat berupaya
menarik kaki kirinya yang telah membatu. 
Melihat bapaknya jatuh dengan suara
seperti runtuhan gunung, pemuda
itu pun berteriak memanggil ibunya.
Tentu saja, tak ada ibu yang menyahut
panggilannya sebab sang ibu telah
bergabung ke kerumunan tetangga
sebelah yang oroknya membatu. Namun,
karena jeritan pemuda itu amat kerasnya,
orang-orang pun berdatangan. Tentu saja,
yang datang paling dahulu adalah ibu
pemuda itu. Melihat anaknya menangis
sambil menunjuk kaki bapaknya, ibu itu
menangis pula. 

Orang-orang yang kemudian
berkerumun di rumah lelaki tua itu
heran, mengapa terjadi yang demikian.
Seorang lelaki paruh baya, yang rupanya
tahu kejadian di rumah pengantin baru
dan si orok yang menjadi batu, dengan
napas ngos-ngosan menyimpulkan bahwa
tragedi ini pasti kutukan. Beberapa lelaki
lain agaknya setuju pendapat itu sebab
hanya kutukan yang bisa menjelaskan
perkara demikian. Namun, melihat
urutan kejadian dan tuturan keluarga
korban, seorang lelaki bersongkok berkata
bahwa tidurlah penyebab orang menjadi
batu. Kita tahu, bahwa ucapan yang
demikian itu sukar dinalar. Tapi, karena
lelaki bersongkok sanggup meyakinkan
mayoritas orang bingung itu, mereka pun
mulai percaya. Meski begitu, sebelum
mereka percaya penuh sama omongan
lelaki bersongkok, mereka kembali
dikejutkan oleh jeritan panjang. 
Jeritan panjang itu, ternyata dari mulut
lelaki hitam yang rumahnya berjarak
tujuh rumah dari rumah si lelaki tua.
Lelaki hitam itu menjerit hebat sebab
mendapati istrinya juga telah menjadi
batu. Meski begitu, setelah lelaki hitam
legam itu berhasil ditenangkan, barulah
kami tahu kejadian sebetulnya. 
Pada awalnya adalah rujak cingur.
Tepatnya, istri lelaki hitam yang hamil
muda itu, ngidam rujak cingur. Dan inilah
alasan mengapa mereka mendekam saja di
kamar. Itu dilakukan bukan lantaran lelaki
hitam ini termasuk asosial, melainkan
karena takut kalau istrinya terjangkit
sawan. Maka ia pun mengamankan
istrinya dari segala jeritan. Dan ketika
jeritan tetangganya reda, tiba-tiba istrinya
meminta rujak cingur. Lelaki itu pun pergi
menuruti sang istri. Namun setelah ia
kembali dengan rujak di tangan, istrinya
telah menjadi batu. 
Melihat ini, lelaki bersongkok makin
yakin, penyebab orang menjadi batu
adalah tidur. Setelah istri lelaki hitam itu
menjadi batu, seluruh warga pun gempar.
Warga lalu berkumpul di empat titik
rumah. Sebagian bergerombol di rumah
pengantin baru. Sebagian berkerumun di
rumah orok yang telah jadi batu. Sebagian
lagi berkumpul di rumah lelaki tua yang
membatu kakinya. Dan sebagian lagi
berkumpul di rumah lelaki hitam itu. 
Lantaran dari ketiga korban telah
menjadi batu sekujur badan–kecuali lelaki
tua–marilah kita saksikan kerumunan
di sana. Di rumah lelaki tua itu tampak
telah berkumpul para tetua kampung.
Dan, kepada mereka, lelaki tua mengulang
ceritanya, bahwa ia tidak tidur, hanya
mengantuk sekejap, namun itulah yang
membuat kakinya menjadi batu. 
Kini, warga semakin yakin, penyebab
orang menjadi batu adalah tidur. 
Mereka pun bertekad untuk senantiasa
terjaga. Lalu, demi kebaikan bersama,
larangan resmi dikeluarkan. Namun, hari
pertama, setelah larangan untuk tidur
dikeluarkan, tiga ibu menjerit serempak
tatkala menjelang dini hari mendapati
anak balitanya telah menjadi batu. 
*** 
Berapa hari kita kuat untuk tidak tidur?
Satu? Dua? Tiga? Seminggu? Sebulan?
Setahun? Mustahil. Dengan begitu,
menjadi batu bagi warga kampung itu
hanya soal waktu. Dan betul. Hari ketiga,
menjelang malam keempat, tidak hanya
balita yang tertidur lalu menjadi batu, tapi
juga dari golongan manula. 
Melihat ini,
para pemuda nekat nguntal obat antitidur.
Sementara itu, para remaja punya cara
sendiri. Mereka, para remaja dan remaji
itu, melampiaskan kebiasaan mereka yang
tersembunyi, yaitu mencari tempat sepi
dan menyelenggarakan hubungan badan.
Ini memang solusi edan. Tapi, para remaja
itu punya prinsip kompak: tak mengapa
tidur dan menjadi batu, asal sampai ke
puncak kenikmatan. Melihat kasus yang demikian, para
orangtua tak gampang melarang atas
nama moral. Satu dua orangtua memang
sempat menegur: “Kita semua,” kata orang
tua itu, “mungkin tak sanggup menghindar
dari tidur lalu menjadi batu. Tapi menjadi
batu setelah tidur dengan cara begituan,
sungguh tidak…” Anehnya, sebelum genap
ia mengucapkan itu, tiba-tiba ia terserang
kantuk lalu ambruk dan menjadi batu. 
Itu adalah peristiwa di hari ketujuh. 
Memasuki hari kedelapan–kami ragu
apa warga kampung itu masih mengingat
hari–banyak dari mereka yang diserang
kantuk mendadak. Seperti orang tua yang
kami sebut di muka, sebagian warga yang
dilanda kantuk, betapa sekejapnya, juga
membatu sebagian organnya. Ada yang
membatu sebelah tangannya. Ada yang
membatu kakinya. Ada yang membatu
hidungnya. Ada yang membatu jemarinya.
Bahkan ada satu dua lelaki yang, maaf,
membatu zakarnya saja. 
Di tengah ketakutan itu, memasuki
hari kesembilan, para warga yang tersisa
tampak tak kuat lagi. Tubuh mereka
terasa ringan dan melayang. Beberapa
dari mereka muntah-muntah sebab terlalu
banyak mengonsumsi kopi. Beberapa
lagi kejang-kejang, mungkin mengalami
kerusakan jantung akibat kelebihan
obat. Kejadian itu tentu membenarkan
pendapat sebagian mereka, bahwa tidur
atau mati atau membatu apalah bedanya. 
Hari itu, entah ini hari yang keberapa,
hanya segelintir orang saja yang tersisa.
Rata-rata mereka adalah usia paruh
baya. Para pemuda, yang tampaknya
tak kuat sebab mengandalkan obat
antitidur, memutuskan mengikuti jejak
para remaja. Dalam meniti jejak remaja
ini, para pemuda rupanya lebih brutal.
Beberapa mereka bahkan kepergok
bercinta dengan janda-janda atau bini
orang. Tapi perihal yang demikian baiknya
tidak kita perpanjang. Yang lebih penting
adalah menceritakan mereka yang tersisa,
manusia paruh baya yang kini terombangambing
dalam kondisi melayangmengambang. 
Dalam kondisi melayang-mengambang
itu, seorang lelaki paruh baya yang
kelopak matanya menjadi hitam-kebiruan,
dengan setengah putus asa bergumam:
Mereka yang tertidur menjadi batu,
kami yang terjaga menjadi air. Betapa
betul belaka gumam lelaki itu, bahwa
mereka yang tertidur telah menjadi batu,
sedang yang menjaga, dengan tubuh kian
ringan berjalan sempoyongan seperti
air mengikuti arus sungai menuju laut:
kematian. 
Memasuki malam berikutnya, yang
tersisa dari mereka hanya tujuh orang
saja. Dari ketujuh orang itu, dua orang
mulai mengigau. Mungkin lelah, mungkin
takut dan putus asa. Empat lainnya
menggumamkan kalimat kelam, seperti
lelaki berkelopak mata hitam-kebiruan: Mereka yang tertidur menjadi batu, kami
yang terjaga menjadi air…. 
Mereka lalu mengucapkan kalimat itu
serentak laiknya sebuah kor terakhir
sambil terkantuk-kantuk dan agaknya tak
takut lagi saat mendapati sebagian organ
mereka pelan-pelan mulai menjelma
menjadi batu. 
2016 

A Muttaqin lahir di Gresik 11 Maret
1983. Ia menulis puisi dan cerpen. Buku
puisi terkininya Dari Tukang Kayu sampai
Tarekat Lembu (2016). Ia tinggal dan
bekerja pada sebuah penerbit di Surabaya.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya A Muttaqin
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 4 Desember 2016