Mesin Jahit – Baju Pemberian Paman – Kelampan Bayan

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Mesin Jahit

: Christie Vaam Laloan

dengan mata tertutup perca ia menyelam
menuju kedalaman, dunia di atas pemukaan
tampak benderang, telah dilihatnya masa depan
dari masa belakang yang tak pernah ingin diulang
ia tiup terumbu rahimnya, dan dari sana gelembung
gelembung bulan berlepasan ke tengah gelombang
bulan yang hitam dan tak bulat seakan terlepas
dari beban cahaya, beban untuk senantiasa menyala
ia biru bulu unggas yang hinggap di lekuk kayu
ia puisi yang menderitkan derita dengan garis
di keningnya, jarum dan benang yang
membuat bayangan di dalam lubang kenangan
dengan mata tertutup perca ia tampik tawas
dan getah nanas muda, ia temukan suara mesin jahit
seperti litani bagi seluruh rasa pahit, dunia di atas permukaan
berhenti benderang, terbungkus kain halus, kain ingatan
yang terus-menerus dijahit ulang

Baju Pemberian Paman

kupaku mata kayu kupakai menggantung baju
baju pemberian paman waktu kami masih di Ampenan,
rumah belum dijual dan keponakan-keponakan baru belajar berbual
mata kayu pohon keluarga
tempat berlindung dari hantu juru sita
setiap pagi selembar bulu burung jatuh di baju itu
bulu burung dari Kelayu, kiriman ibu yang tubuhnya layu
dihisap pertengkaran tanah warisan
luka mata kayu akibat pukulan palu
luka mata ibu melihat kami tak berbaju
waktu tangan paman menunjuk pintu
kukunya biru seperti cap pecatu
itu artinya kami harus pergi
berpencar dengan cikar dua roda yang ditarik kuda
kurus dan tua
tergantung sendirian baju pemberian paman
dari serat benangnya seekor burung terbang
(Bakarti, 2015)

Kelampan Bayan

mereka merasa sedang berada di punggung Sekardiu
menunggu dukuh dirampungkan, seorang perempuan
diturunkan dan cinta yang gemerlapan tergantung
di dahan-dahan hutan
mereka menulis wiracarita tentangnya dan tak seorang
di antara mereka bisa membaca, karena lidah
yang basah dan bergetah telah diasah
agar rahasia selamanya rahasia
hanya mereka yang bertahan di gunung-gunung
pernah melihat, bagaimana laut kembali hijau
garam berkilau di cadas-cadas tajam
dan dari garis cakrawala kapal-kapal tanpa bendera
mendekat, mendekat, membawa gamis dan peta panjang
menuju pulau yang pernah diruntuhkan
(Tanjung, 2015)
Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok. Buku puisinya yang terbaru berjudul Penangkar Bekisar (2015). Ia mengelola Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kiki Sulistyo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 31 Mei 2015