Mesin Penjual Otomatis

Karya . Dikliping tanggal 6 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

TENGGOROKANKU begitu sensitif, mudah radang dan batuk bila menelan minuman atau penganan mengandung sakarin. Termasuk penganan yang biasa dibawa Jilung sekembalinya dari jogging pagi hari. Jilung selalu beralasan tidak enak melewati penjual kue yang bengong menanti kedatangan pembeli yang juga tak pasti. Keramahan Jilung juga sakarin.

Genggaman tangan Jilung mengendur. Udara dingin mengisi sela-sela jemari kami. Aku tak habis pikir, pagi ini batuk dan radang berubah menjadi batu yang merangsek dada. Ruangan serba putih tak berhasil membuat mendung menyingkir dari ruangan ini. Jilung mengelus-elus punggungku. Aku tak menangis. Aku lebih ingin menyaksikan apa yang akan dilakukan Jilung setelah diperdengarkan vonis.

“Semua akan baik-baik saja,” Jilung mengusap ujung mata.

Aku terhenyak. Telingaku seolah disiram kemerduan yang lama tak keluar dari mulut Jilung.

“Benar, belum terlalu parah. Kita akan melakukan pengobatan kimia. Mencegah penyebaran sel kanker,” suara dari balik baju putih itu akhirnya keluar.

“Alat-alat medis sudah canggih,” Jilung kembali menguatkan.

Segala macam kalimat lenyap. Aku bingung harus membalas bagaimana. Bahagia karena sel kanker yang membercaki paru-paruku masih ada kemungkinan bisa dilenyapkan. Ataukah sedih, ternyata hobiku merokok dan minum alkohol membawa ampas buruk di saat usiaku belum terlampau jauh berjalan dari angka empat puluh.

Aku izin keluar ruangan Dokter Kartolo. Aku butuh sesuatu yang mampu mengangkat semua kegundahan. Plang berisi nama Dokter Kartolo spesialis onkologi mendadak lebih jelas terlihat. Ketika aku dan Jilung beberapa jam lalu masuk, tak sekali pun kucermati. Yang mencuri perhatianku tadi ialah bangku-bangku warna putih yang sepi dan sendirian. Juga lorong panjang yang hanya menggaungkan suara-suara dari sisi lain rumah sakit. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja, bilamana setiap hari harus bertemu keganjilan seperti ini.

Aku melangkah mendekati ujung koridor yang bertemu dengan kaca jendela. Mungkin aku bisa melihat lapangan parkir atau sekadar jalan raya yang pasti penuh kendaraan bermobil. Saat mataku melongok, kusaksikan taman kecil di sisi rumah sakit. Beberapa orang duduk menatap bunga, suster menemani. Juga beberapa kursi roda yang terparkir tepat di depan perdu bunga krisan.

Mereka sedang masa penyembuhan. Tapi apa juga harus dirundung kemurungan?

Tak ada kursi. Sehingga aku hanya mengamati mereka dari kejauhan dan mencoba mencermati seorang wanita yang dari atas tampak kurus sekali. Dia tak berkutik. Seorang lelaki di sisinya. Juga diam. Hanya angin yang menggerak-gerakkan selang infus yang tergantung di sisi wanita itu. Aku kalau pun sakit parah, tak mau memamerkan penderitaan. Di taman?

Jilung pernah menemaniku duduk di taman sore-sore, menyaksikan gelandangan diusir. Kalimat Jilung waktu itu masih terus kuingat, meski sekarang mulai tak lagi Jilung katakan. “Kalau umur kita sampai tua, aku ingin yang lebih dulu mati. Tidak tahu harus bagaimana andai kamu lebih dulu meninggalkanku. Aku tidak ingin merasakan kehilangan dan kesepian tanpamu.”

Suara tangisan, membuatku terhenyak. Selain sarang rasa sakit, bangunan lantai delapan belas ini adalah pusara tangisan. Tangisan menyaksikan kematian. Tangisan mendengarkan vonis. Atau tangisan karena tak mungkin lagi ada mayat yang bisa menangis.

Aku berbalik menuju koridor lain, mencari minuman dingin di vending machine.

Aku tak membawa tas. Aku meraba saku, dan kutemukan selembar dua puluh ribu di saku belakang celana. Kuperhatikan daftar harga. Bila aku beli kopi atau jus dingin, aku bisa dapat dua. Tetapi yang menyita perhatianku adalah bir dingin di rak paling bawah. Memang tertulis 0% alkohol, tapi baru sekali ini aku menemukan ada rumah sakit yang meloloskan suplier memasukkan bir dingin dalam daftar jualannya. Uangku tidak cukup untuk membelinya.

Sebelum aku memencet pilihan, Jilung mendadak muncul di sampingku.

“Dokter Kartolo memanggilmu,” Jilung menarik lenganku tanpa mempersilakanku untuk memencet minuman kaleng lebih dahulu. Seharusnya dia tahu betul, orang yang sudah berdiri di depan vending machine dan menggenggam uang pasti ingin membeli barang satu.

“Kamu tidak boleh stres. Emosimu harus stabil, kata dokter. Kafein bikin degup jantungmu semakin cepat, bukan?” Jilung memblokade usahaku.

Aku ingin sekali memotong tindakan Jilung bahwa aku sedang ingin minum bir dingin tanpa alkohol. Dan persetan pula dengan degup jantung yang melaju semakin cepat, bila semua akhirnya akan berhenti berdegup.

Tak ada kegiatan berarti selain mendengarkan saran Dokter Kartolo. Level stres harus dijaga. Sel kanker akan mudah menyebar berbarengan kondisi psikis. Juga dijadwalkan rutin periksa tiap kamis pagi. Selembar resep yang harus ditebus. Dan tak lupa selengkung senyuman dan ucapan doa agar tetap sehat, yang seolah menjadi penutup wajib kunjungan dokter.

***

“Aku haus.”

“Aku ke bagian farmasi dulu. Duduk di sana ya,” kata Jilung menunjuk bangku yang tak jauh dari vending machine. Masih dalam radius pandangan Jilung saat mengantre menebus resep. Seolah Jilung tak mau menyaksikanku sekarat seorang diri.

Jilung pasti akan marah bila aku meminta tambahan uang untuk beli bir dingin 0%Dengan uang yang kupunya, aku memilih jus jeruk dalam kemasan. Kurasa minuman itu akan aman tanpa menimbulkan silang emosi dengan Jilung.

Aku lebih ingin Jilung yang kemarin, atau dua hari yang lalu. Tak terlalu peduli kepadaku. Tak ingin tahu banyak atas kondisiku. Dan itu membuatku lebih menjadi aku. Diperhatikan tak ubahnya dikekang oleh batasan.

***

Mesin Penjual Otomatis“Kamu tidak boleh terlalu lelah. Kamu tidak boleh merokok, no alchohol, no fast food. Kamu harus puasa dari kebiasaanmu yang asal-asalan. Ini demi kesehatanmu,” Jilung mengoceh di balik kemudi mobil SUV, bonus setelah menang tender proyek pemerintah. Semua biaya kesehatan kami, masih dalam pembiayaan tempat Jilung bekerja.

Aku tak berkutik. Sisa-sisa jus jeruk yang tersangkut di sela-sela gigi kusesapi. Masih ada manis. Selebihnya rasa gurih saliva.

“Sudah kuminta Lucy untuk membantumu di rumah. Aku tak ingin kamu lelah karena mengurus rumah sendirian. Kita fokus pada pemulihan kesehatanmu,” Jilung sesekali menoleh ke diriku. Sedangkan aku, lebih ingin melihat jalan dan deretan pertokoan yang bergantian lebih cepat.

Lucy sudah berulang kali diperkenalkan sebagai sepupu jauh Jilung. Benar atau tidak bukan kewajibanku untuk melakukan kroscek. Setiap kali Lucy mampir ke rumah, Jilung akan berlagak lebih romantis. Meladeniku minum, nada kalimatnya mendayu-dayu, juga tangan Jilung tak bisa lepas dariku. Aku tak tahu maksudnya. Hanya saja semua yang dilakukannya itu serba mendadak dan membuatku tersedak.

“Lucy kapan datang ke rumah?”

“Sore nanti dia sudah bisa membantumu. Dia kusarankan menginap. Akan tidak enak kalau dia bolak-balik ke rumahnya. Cukup jauh,” Jilung memutuskan. Sejak aku memutuskan pensiun muda di saat karirku selangkah lagi mencapai posisi manager, aku seperti hewan peliharaan Jilung. Semua keputusan ada di tangannya. Aku seperti bawahan yang harus siap menjalankan semua keputusan.

“Kita mampir ke toko bunga. Aku akan membelikan beberapa pot tanaman. Stress healing,” Jilung kembali memutuskan.

Bunga sebagai pengusir stres? Aku memang mencintai bunga. Tapi aku lebih memilih bir dingin untuk stress healing. Tak benar bahwa bila aku memandangi bunga mekar saban pagi, maka perasaan akan damai. Tak bergejolak. Dan menjadi jaminan sel kanker dalam paru-paruku tak berpinak. Aku lebih tahu apa yang disukai tubuhku.

Mobil berhenti tepat di sebuah toko bunga dan tanaman hias. Kaktus besar yang berbunga mencuri perhatianku. Namun, Jilung pasti tidak akan mengizinkan mobil SUV barunya terbaret duri kaktus.

“Kamu tidak ikut turun?”

“Aku di sini saja. Kamu sudah tahu bunga apa yang kusuka,” jawabku singkat.

“Mau kubelikan minuman dingin?” Jilung menoleh-noleh sekitar, mencari toko kelontong terdekat.

Aku lebih ingin tenang. Semuanya serba mendadak hari ini. Kanker. Lucy. Dan toko bunga.

Kanker dan kematian, yang meski Dokter Kartolo yakin akan bisa mengusirnya dengan pengobatan canggih, diam-diam menggusarkan. Yang membuatku semakin takut ialah mengetahui bahwa prasangkaku selama ini kalau ada sesuatu antara Jilung dan Lucy terbukti. Aku ingin menjadi buta dan tuli untuk persengkokolan mereka. Lucy bisa jadi akan menggantikanku bila kanker dalam paru-paruku berubah menjadi malaikat penjemput maut.

“Itu ada vending machine,” Jilung menunjuk toko kelontong seberang toko bunga. Agak mengherankan ada mesin canggih di jalanan sepi begini.

Setelah Jilung masuk, aku keluar dari mobil. Berjalan bertelanjang kaki menyeberang jalan. Kali ini sudah kubawa dompetku sendiri. Andai ada bir dingin segera kupencet sebelum Jilung memergoki.

Pagi memang belum beranjak terlalu siang. Namun aspal jalan telah menyimpan percik-percik panas. Embun dan dingin beku telah paripurna menguap bersama angin. Aku berjalan berjingkat, dengan menumpu telapak kaki bagian depan. Sesekali setengah berlari. Di belakang kusaksikan Jilung mengamatiku. Aku terkikik. Seolah telah berhasil mengelabuinya.

Setelah sampai di vending machine, tubuh seketika kusandarkan. Napas terengah-engah. Ada keceriaan bersama degup jantungku. Terlebih di rak bagian bawah bir dingin tersedia.

Aku tergesa memasukkan uang ke dalam mesin. Ketika sekaleng bir dingin jatuh, segera kurogoh. Tanpa berpikir panjang segera kubuka. Namun, lantaran tanpa perhitungaan seperempat bir muncrat ke dadaku. Bukannya mengumpat, aku justru tertawa keras. Seketika mengingat pengalaman pertama ketika aku masih SMA dan mencuri sekaleng bir Ayah di kulkas. Ledakannya seperti kembang api, meledak-rusak tapi membuat dada dibuncahi bahagia.

“Hati-hati,” suara pemuda, yang kutaksir berusia tak lebih dari tiga puluh tahun, mengagetkanku. Aku melongo.

Tanpa diduga pemuda meraih tisu dari saku celana dan mengelap baju bagian dadaku. Dadaku semakin terguncang. Tanpa meminta izin, tangannya telah menjelajah area dada yang lengket akibat muncratan bir. Dia tersenyum. Aku tersenyum. Lantas kudengar suara Jilung.

Ah, terima kasih. Aku teledor,” kataku gugup.

“Ini, pakai saja,” dia menyerahkan beberapa lembar tisu lagi kepadaku.

Mata pemuda itu tak beranjak dari dada dan wajahku. Aku semakin salah tingkah.

“Ada yang melambai-lambaikan tangan. Mungkin memanggil, Anda,” katanya.

Aku menoleh. Jilung dari kejauhan pasti meneriakkan larangan.

“Ah, aku tidak kenal.”

Pemuda itu kembali tersenyum. Tangannya menyentuh punggung tanganku saat hendak membantu mengelap untuk ke sekian kali.


Teguh Affandi, menulis cerpen, esai, dan timbangan buku di berbagai media massa. Pernah menjuarai sayembara cerpen Femina, Green Pen Award Perhutani, dan Pena Emas PPSDMS Nurul Fikri. Sekarang berdomisili di Jakarta sebagai editor sekaligus pegiat @KlubBaca | “Jawa Pos

Mesin Penjual Otomatis
4.7 (94.29%) | 7 Pembaca

Keterangan

[1] "Mesin Penjual Otomatis" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Jawa Pos ini pernah tersiar pada edisi Minggu (akhir-pekan) 5 Mei 2019