Metafora Padma

Karya . Dikliping tanggal 9 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
“SEJAUH yang aku lihat dan hitung, dua puluh enam tubuh manusia tergeletak di jalan raya. Sepuluh telentang, enam belas telungkup. Beberapa di antaranya terbaring di sebelah benda-benda-patahan kursi, parang berlumuran darah, pecahan botol kaca, mungkin botol minuman keras. Semuanya rebah di atas darah mereka sendiri. Kau bisa yakin mereka semua sudah menjemput ajal. tapi bisa juga kalau kau bilang mereka cuma tidur di atas kehidupan, karena darah itu adalah yang sebelumnya membuat mereka hidup.”
“Kau hanya berimajinasi, kan?” kataku. Kemudian aku menggeleng ke seorang teman yang menawarkan botol Chivas Regal. Nanti saja, kataku kepadanya.
Ia menggeleng. “Aku tidak salah mengingat.”
“Tapi kau lagi mabuk.”
“Orang mabuk—-” ia memotong, lalu cegukan satu kali sebelum melanjutkan kalimatnya “—bicara lebih jujur daripada orang yang sedang tersudut.”
Kemudian ia terkulai dan kepalanya tergolek di bahu kiriku. Aku melihat wajahnya, sepertinya ia tertidur. Orang-orang masih mengoper botol minuman ke sana dan ke mari. Sekali lagi aku menawarkan telapak tangan kanan untuk menolak botol yang disodorkan kepadaku oleh seorang kenalan. Untuk kali kesekian aku hanya menjawab dengan “Nanti saja” atau “Gampanglah.”
Aku berada di pesta kecil ini atas undangan seorang teman. Ia penulis buku populer berjenis komedi yang menyasar pembaca remaja. Angka penjualan bukunya bagus, dan ia mengadakan syukuran dengan mengundang teman-temannya, termasuk aku,  ke acara minum-minum ini. Aku tidak biasa minum. Aku datang hanya karena dia temanku.

Kecuali sang pengundang, aku tidak mengenal siapa pun di tempat ini. Termasuk perempuan ini, yang baru saja aku kenal. Ia mungkin berusia pertengahan dua puluh. Aku hanya beberapa tahun di atasnya.

Kira-kira satu jam lalu, ia mengambil tempat duduk di sebelahku. Sangat tiba-tiba. bahkan membuatku sedikit kaget karena ia mengempaskan pantatnya ke sofa dan menyenggolku, membuat posisi dudukku terpaksa bergeser, dan aku tidak bisa tidak menoleh ke arahnya.
“Eh, maaf,” katanya.
Melihat perempuan ini, aku teringat pada sejenis bunga yang tumbuh di kampung halamanku. Namun, untuk alasan yang tidak aku ketahui, aku melupakan nama bunga itu. Aku ingat bentuk dan warnanya, bahkan tempat bunga itu tumbuh, tapi aku tidak bisa mengingat namanya. Semakin aku berusaha mengingat nama bunga itu, semakin ingatanku menolak memberiku nama. Kadang-kadang kau tidak bisa mengandalkan ingatanmu justru saat kau butuh. Seperti hal-hal lain juga dalam hidup ini yang menghilang saat kau baru sadar memilikinya.
“Kau teman dari yang bikin pesta ini ya?” kata perempuan ini.
Aku mengangguk. “Kau juga?”
“Bukan. Aku diajak temanku. Temanku itulah temannya.” Ia tertawa kecil.
Perempuan ini mengenakan gaun ketat di atas lutut tanpa lengan berwarna putih. Di lehernya menggantung seutas kalung berwarna perak. Rambutnya yang bernuansa marsala bergelombang hingga batas perut. Pancaran matanya menyiratkan sesuatu yang berasal dari tempat yang jauh. Aku tidak tahu apa.
Saat berupaya mengendusnya (aku memiliki kebiasaan mengendusi orang), aku mencium aroma kayu. Perempuan ini mengingatkanku pada pohon-pohon tinggi di hutan di dekat tempat ayah-ibuku tinggal. Aku sering pergi masuk ke hutan sore-sore bersama ayahku. Terakhir aku masuk ke hutan bersama ayahku saat aku berumur sebelas tahun, beberapa hari sebelum ia wafat.
AKU mengambil ponsel dari dalam saku jeans, memencet Safari di layar sentuh, kemudian meramban. Aku mengetikkan di kolom pencarian “putih, bunga”, lalu memencet Search.  Setelah beberapa saat, keluar puuhan gambar bunga. Semuanya berwarna putih. Mawar, melati Amy Note, tapak dara….
“Mawar,” kata perempuan ini, dari sebelahku.
Aku mendongak, menoleh ke arahnya. Ia sepertinya sempat meirik ke ponselku.
“Cari bunga buat pacar, kan?” katanya. “Mawar saja. Agak mainstream, sih, tapi semua perempuan suka mawar. Itu pilihan yang aman. Kecuali kalau pacarmu agak matre, lebih baik kau kasih dia buku tabungan. Ia tertawa.
“Oh, tidak,” kataku. “Aku tidak sedang cari bunga.”
“Sudah jarang laki-laki yang memberikan bunga untuk pacarnya. Kau penyayang sekali.”
“Aku tidak….” Ah, sudahlah.
Akhirnya, aku hanya menggumam dan perempuan ini sudah tertawa-tawa saja dengan orang lain. Aku kembali ke ponselku, memandangi sederet gambar bunga berwarna putih. Aku memencet dengan jempol pada setiap gambar untuk mengetahui namanya. Mawar, melati, Amy Note, tampak dara, anyelir, tulip… Ah, bukan. Bukan itu semua. Apa nama bunga itu?
Aku menoleh ke sebelah. Perempuan ini sudah tidak di tempatnya. Pantas, aku tidak mencium wangi kayunya lagi. Aku melempar pandangan ke sekeliling, mencarinya di antara kerumunan orang. Ah, itu dia, berdiri di hadapan seorang laki-laki, memegang minuman. Mungkin Vodka. Tubuhnya ramping, tegap, dan memperlihatkan kekokohan sekaligus kelembutan.
Dari tempat aku duduk, aku menatapnya. Lekat-lekat. Ingatanku pun bekerja.
Lalu aku ingat nama bunga itu. Lotus.
Ibuku menyebutnya teratai, tapi aku lebih suka mengingatnya dengan nama lotus. Bunga itu ada banyak sekali di tempat tinggalku. Aku tinggal di desa yang berjarak dua jam perjalanan darat dari Kota Enggang Gading.
Di desaku (yang kini sudah jadi kota kecamatan) terdapat markas angkatan darat. Saat berusia tiga dan empat tahun aku bersekolah di taman kanak-kanak yayasan angkatan darat itu.

Kompleks angkatan darat itu sangat luas. Selain taman kanak-kanak tempat aku bersekolah, ada juga lapangan basket, dan kolam lotus. Sewaktu TK, aku sering melihat para tentara bermain basket setiap minggu sore. Di waktu-waktu tertentu mereka hanya bermain menggunakan setengah lapangan. Saat itulah aku bersama teman-temanku akan bermain sepakbola di bagian lapangan yang lain.

Setelah bosan bermain sepakbola di lapangan basket tentara, biasanya kami akan berjalan mengitari bagian-bagian kompleks. Suatu hari, kami berhenti di dekat sebuah kolam. Di atas permukaan kolam itu bunga-bunga putih. Pulang ke rumah, aku bertanya kepada ibuku apa nama bunga itu. “Teratai,” kata ibu “tapi kau juga bisa menyebutnya dengan nama lotus.”

“Namanya bagus sekali, Bu,” kataku.” Baru kali ini aku lihat bunga berkembang di permukaan air.”

Mendengar perkataanku, ibu tersenyum. Ia meletakkan jarum, benang, dan celana pendekku yang lubang sobekan di pantatnya sedang ia tisik. Kami duduk-duduk di beranda rumah, menunggu ayah pulang dari tugas. Ayah sedang melakukan pengamanan. Semenjak harga bensin naik, katanya, orang-orang desa sering ribut.

“Lotus tidak cuma istimewa karena dia tumbuh di aats air,” kata ibu, “tapi juga karena dia lahir dari lumpur.”

“Lahir dari lumpur, Bu?”

“Iya. Bibit bunga lotus tertanam di dasar kolam atau danau. Waktu dia tumbuh, batangnya akan mencuat sampai ke permukaan air, lalu kelopaknya keluar.”

Lamunanku berhenti. Aku membayangkan wajah ibu. Setelah bertahun-tahun tidak pulang ke rumah, barulah aku merasa sangat rindu dengannya. Berapa usianya sekarang? Lima puluh? Lima puluh lima?

Tidak berapa lama, si perempuan muncul lagi di sebelahku.

“Lotus,” kataku. Tiba-tiba saja aku ingin mengajak perempuan ini bicara.

Ia menoleh, “Maaf, gimana?”

“Lotus,” aku mengulang. “Apa yang kau tahu tentang lotus?”

“Kau mau memberi lotus ke pacarmu?”

Aku mengangkat bahu.

“Gadis itu sangat beruntung,” katanya, lalu meneguk vodka dengan soda dari gelas yang ia pegang-pegang sejak tadi. “Kau pasti sangat memujanya.”

Saat aku melihatnya, tubuhnya tampak seperti transparan. Aku menggeleng. Kepalaku terasa pening. Sekarang tempatku duduk jadi terasa sedikit bergoyang. Aku menjejakkan kaki lebih kuat ke lantai, seakan-akan berusaha agar tidak terjatuh dari posisiku.

Sialan. Harusnya aku tidak minum terlalu banyak.

“Bunga lotus adalah lambang kesucian,” ia meneruskan, “Ia lahir dari lumpur yang tentu saja kau tahu kotornya macam apa, dan tetap saja ia mencuat ke permukaan air dalam keadaan bersih. Seolah-olah ia tidak pernah berasal dari kekotoran yang menumbuhkannya.”

“Terdengar sangat dalam,” kataku.

Menit berikutnya kami telah berbicara panjang lebar tentang macam-macam hal. Bukan lagi perkara lotus atau bunga apapun. Aku banyak mengeluh masalah pekerjaan, sementara ia berbicara tentang khayalannya menjadi superhero — Catwoman atau Storm. Keduanya keren, katanya. Setelahnya ia bilang ia sangat menggemari Halle Berry.

“Apa mimpi terburukmu?” ia bertanya.

“Melihat kepala teman-temanku berubah jadi tengkorak,” jawabku, “dan hantu, aku sering bermimpi melihat hantu. Kau?”

Saat itulah kau bercerita tentang mayat-mayat bergelimpangan di jalan raya. Aku mengira ia sudah mabuk. Tapi kami sedang menceritakan mimpi-mimpi. Apa pun bisa terdengar aneh dan tetap masuk akal jika itu mimpi. Tapi ia berkata bahwa pemandangan yang ia ingat dan ceritakan kepadaku bukanlah mimpi, tapi aku tidak menganggapnya serius.

“Setelah kuliah,” katanya, “aku baru tahu bahwa itu terjadi menjelang turunnya presiden kita. Kata orang, peristiwa yang serupa dengan apa yang aku lihat itu hanya terjadi di tempatku, tapi juga di tempat-tempat lain di negeri ini.”

Ia terkulai dan kepalanya jatuh ke pundakku. Aku ingin ke kamar kecil dan kencing, tapi merasa tidak enak kalau sampai membuatnya terbangun. Menahan kencingku, aku mengalihkan pikiran dengan memanggil masa kecilku dan wajah ibu.

“Mestinya manusia di dunia ini tumbuh meniru lotus,” tiba-tiba perempuan yang tertidur di pundakku ini bersuara.

Ia mengigau?

“Meski hidup di dunia yang keras dan penuh kekerasan, harusnya manusia tetap tumbuh dalam kesucian. Murni. Menjadi dewasa dalam cinta kasih. Putih seperti kelopak lotus. Tidak membawa lumpur dalam hatinya. Tidaka memandang dunia yang penuh kekerasan dengan kekerasan pula,” ia terus saja meracau. “Itu doa ibuku untuk namaku. Harusnya aku tumbuh seperti namaku. Tapi aku rasa Tuhan terlalu sibuk untuk mengabulkan semua doa.”

AKU berada di antara usaha menyimak kata-katanya dan bertahan agar kepalaku tidak semakin pening. Perempuan ini sudah meracau banyak, tapi aku bahkan belum tahu namanya. Aku memejam, mengembalikan kesadaran yang mulai beranjak melayang ke udara. Di dalam kepalaku gambar-gambar dan suara-suara dari amsa lalu berkelebatan. Bayang-bayang hutan. Pohon-pohon. Suara ayah. Burung-burung. Gemerisik daun. Tembakan.

Tembakan?

Aku menggeleng, beberapa kali. Aku membuka mata, melihat sekeliling. Pundakku terasa ringan. Ke mana perempuan itu? Aku membalikkan badan. Aku melihat ia melangkah, menjauh. Ia mau pulang? Tubuhnya yang ramping berbalut gaun putih dan rambutnya yang panjang bergelombang bernuansa marsala itu perlahan menjauh.

“Tunggu,” kataku. Suaraku terdengar samar di telingaku. “Siapa namamu?”

Ia berhenti melangkah dan membalikkan badan. Ia memandangku. Ia tersenyum. Ia ada lima. Aku memejam dan menggeleng seperti anjing mengibaskan kepala sehabis mandi. Pening. Aku membuka mataku lagi. Ia masih ada di sana. Tidak lima. Hanya satu.

“Padma,” katanya. “Namaku Padma. Nama lain dari lotus.”

Ia memberi senyum terakhir, lalu kembali memunggungiku dan berjalan.

Kelopak mataku terasa berat. Aku ingin tidur. Pesta tampaknya masih akan berlanjut hingga pagi, tapi aku rasa aku tidak kuat lagi berada di sini. Sebaiknya aku segera pulang.

Aku beranjak dari sofa dan menghampiri temanku si empunya pesta. Setelah menyalaminya dan mengucapkan terima kasih dengan suara agak keras, aku berbalik. Namun, segera aku teringat sesuatu. Aku tidak memiliki nomor ponsel perempuan tadi.

“Kau punya teman bernama Padma?” kataku kepada temanku.

Ia mengangkat alis. Lalu menggeleng. Ia berkata bahwa ia menghafal seluruh tamu yang diundang. Tidak banyak, karena ini pesta tertutup dan sangat pribadi. Untuk alasan yang sama, setiap tamu yang datang harus membubuhkan nama dan nomor ponsel di buku tamu. Aku bertanya apakah aku boleh melihat buku tamunya. “Siapa pun yang masuk ke sini pasti tercatat di buku ini, kan?” tanyaku setelah ia menyodorkan buku tamu pesta. Ia mengangguk.

Tapi aku tidak menemukan nama Padma atau apa pun yang mirip-mirip. Aku segera mengembalikan buku tamu tersebut.

Rasa pening di kepalaku kian parah. Aku berjalan, dan langkahku terasa oleng. Aku mengempaskan tubuh ke sofa, lalu tertidur. Dalam tidurku, aku melihat ayah keluar dari hutan. Kemudian tercium bau kulit kayu dan terdengar cericip burung-burung. Aku bermimpi melihat tubuh ibu tergeletak di tengah jalan. Dan bunga-bunga lotus putih tumbuh di markas tentara.

Bernard Batubara lahir di Pontianak, 9 Juli 1989. Kini tinggal di Yogyakarta. Buku kumpulan cerita terbarunya, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri (2014).

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Bernard Batubara
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 7 Juni 2015