Michelle, Ma belle

Karya . Dikliping tanggal 21 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
DI sini, tak ada yang benar-benar mengenal Michelle. Mereka mungkin sekadar mengingat senyumnya -saat ia menagih tagihan- tapi setelah itu ia akan dilupakan.
Michelle memang terlalu biasa untuk diperhatikan. Di tempat karaoke keluarga ini, yang bila malam tak bisa menolak menjadi karaoke esek-esek, ia memang tak terlalu menarik. Kawan-kawan lainnya jauh lebih berani. Mereka memakai tanktop tanpa bra, dan rok pendek 30 centi. Mereka juga akan tersenyum manja bila dicolek. Itu baru pegawai lainnya, belum termasuk LC-nya. Bila mereka sudah datang, dunia seakan terpusat pada mereka. Dan Michelle akan semakin tak dilirik.
Sebenarnya kalau diperhatikan, Michelle tidaklah jelek. Ia manis. Senyumnya juga tak kalah dengan
senyum Anna, Shinta dan Vina, para LC itu. Tapi ia berpakaian terlalu biasa. Tata rambutnya juga nyaris kuno, dan kadang -bila sedang membaca- ia memakai kacamatanya yang lebar. 
Tak ada yang tahu, kenapa Michelle memilih bekerja di sini. Apa baginya sebegitu sulit mencari kerja? Atau karena bayaran di sini memang lumayan, dari pada hanya sekadar menjadi SPG toko? Tak ada yang tahu. Michelle terlalu pendiam untuk menjelaskan. Atau ia memang sengaja memposisikan dirinya tak menjawab apa-apa lagi selain berurusan dengan hanya masalah kasir? Tentu itu kesimpulan yang terlalu berlebihan.
Michelle terus memilih ada di tepi.
Namun di hari ini, semuanya nampaknya berubah. Ini dimulai dengan kedatangan laki-laki itu. Ia tentu pelanggan tetap karaoke ini. Namanya tentu tak perlu di sebutkan. Yang pasti, ia seorang pembalap. Walau tak ada yang tahu ia pernah membalap di mana, tapi di negeri ini, siapa pun yang sudah menyebut diri pembalap, selalu punya nilai plus. Tak perlu sampai semua orang mendengar prestasinya. Ia seperti sudah memiliki kartu pass untuk memacari perempuan cantik di negeri ini, plus diliput media.
Maka itulah, saat ia memilih Michelle, semua yang ada di ruangan ini langsung berkerut kening. Para LC yang sudah mengerubutinya, memandang tak percaya. Tapi laki-laki itu seperti tak peduli.
‘’Maaf,’’ Michelle mencoba tersenyum. ‘’Tapi tugas saya di sini hanya menjadi kasir. Mungkin, Mas
bisa…’’
‘’Tidak, tidak,’’ laki-laki itu menggeleng. ‘’Aku hanya ingin dirimu.’’
Michelle terdiam. Ia tahu, menemani seorang laki-laki berkaraoke bisa jadi tak hanya menemaninya saja. Di antara kata menemani sudah terselip kata mani, jadi kau bisa memikirkan sendiri hubungannya. Toh, laki-laki memang tidaklah bodoh. Bila ia benar-benar hanya berniat berkaraoke, ia akan melakukannya di rumah. Ia bisa menyambinya dengan makan kripik, nonton bokep, atau memainkan gadgetnya. Tapi bila ia ke sini, tentu tujuannya bukanlah sekadar itu.
Kawan-kawan laki-laki itu diam-diam mulai menduga-duga. Mungkin kawannya itu lelah mendapatkan perempuan yang terlalu gampang. Mungkin ia kini sedang mencari perempuan lugu, yang jarang tidur dengan laki-laki lain. Bagaimana pun, cukup menjijikkan membayangkan sebuah vagina dipakai juga oleh banyak orang.
Michelle sebenarnya tahu tentang itu semua. Hampir setahun bekerja di sini, ia tahu apa yang kadang-kadang terjadi di bilik-bilik karaoke itu. Semakin malam, tamu-tamu kadang tak cukup sabar untuk pindah ke tempat lain. Toh bercinta hanya butuh 7 menit, ini merupakan hasil survey yang pernah dibacanya. Jadi untuk apa membuang waktu lebih dari itu untuk sekadar mencari tempat lain?
Yang membuat Michelle semakin tak menginginkannya adalah ia sudah pernah melihat sendiri kejadian-kejadian mengerikan yang pernah terjadi di sini. Bagaimana seorang LC pernah harus lari terbirit-birit saat kawanan laki-laki yang mabuk mulai berniat memerkosanya beramai-ramai.
Tapi, Suseno, manager karaoke ini, menarik tangan Michelle sebelum ia mengucapkan keberatannya. Layani saja secara profesional, bisiknya.
‘’Tapi… aku…’’ Michelle hanya bisa mengucapkan kata-kata yang menggantung itu. Apa yang dimaksud profesional? Ia tentu profesional sebagai kasir, bukan yang lainnya.
‘’Ingat, dia pelanggan lama,’’ ujar Suseno lagi. ‘’Ia selalu datang bersama kawan-kawannya menghabiskan banyak minuman. Ia tak boleh kecewa.’’
Tapi Michelle tetap menggeleng. ‘’Dulu saat saya melamar kerja di sini, sudah saya tegaskan, pekerjaan saya hanya kasir saja. Tidak lebih.’’
Jadi Michelle melangkah lagi ke posisinya, menghadapi kembali laki-laki itu. ‘’Maaf saya tak bisa menemani Mas,’’ ujarnya dengan tetap tersenyum
***
Di sini, tak pernah ada yang benar-benar mengenal Michelle. Jalanan ini selalu sepi. Pohon-pohon bergerak lambat, nampak sudah terlalu tua dan hanya menunggu waktu mati. Para penghuni lain ñyang seperti dirinya- hanya diam di bilik-bikik kamar mereka. Kelelahan, setelah seharian bekerja. Tak heran bila setiap malam, jalanan terasa begitu lengang. Hanya seorang pemabuk saja yang terlihat tersungkur di selokan. Michelle tentu tak menyangka, kalau hari ini akan terjadi sesuatu padanya. Ia nyaris melupakan kejadian tadi di karaoke. Ia berjalan bergegas sambil mendengarkan Beatles dari earphonenya…
       Michelle, ma belle
       These are words that go together well
       My MichelleÖ
       Michelle, ma belle
       Sont les mots qui vont tres bien ensemble
       Tres bien ensemble
Michelle benar-benar sudah melupakan kejadian tadi. Padahal kalau ia lebih sensitif, ia seharusnya bisa melihat kilatan marah di mata laki-laki itu. Bagaimana pun juga, penolakan bukanlah perkara yang bisa diterima bagi makluk-makluk tertentu. Termasuk laki-laki itu. Selama ini, ia nyaris selalu berada di atas. Ia selalu berpikir bisa mengajak siapa pun, bahkan perempuan yang jelas-jelas lebih cantik dari Michelle. Maka penolakan itu tentu saja bagai sebuah tamparan wajahnya. Tamparan yang sangat telak.
Jadi dengan kemarahan itulah, ia menunggu Michelle pulang. Tentu orang seperti ini, tak akan melakukan segala sesuatunya sendiri. Ia memerintah kawan-kawannya untuk menangkap Michelle dan membawanya ke tempat sepi: sebuah rumah kosong yang ada di pinggir sungai. Lalu di sana, ia memerkosanya dengan kemarahan. Ia bahkan memerintahkan kawan-kawannya melanjutkan apa yang sudah dilakukannya.
Lalu mereka selesai, mereka semua membuang tubuh Michelle ke arah sungai.
***
Di sini, tak ada yang benar-benar mengenal Michelle. Ikan, katak dan serangga-serangga malam, hanya diam melihat tubuhnya yang terbawa aliran sungai. Seorang gelandangan yang berniat berak di situ, begitu terkejut saat melihat tubuh itu mendekat padanya. Keinginannya berak seketika lenyap, dengan takut-takut ia segera menarik tubuh Michelle.
Tanpa disadarinya, ia sudah menyelamatkan Michelle di detik-detik terakhirnya. Kini, ia melihat tubuh Michelle yang telanjang dan penuh lebam-lebam di sekujur tubuhnya. Namun saat ia melihat selangkangan Michelle, nafsunya tiba-tiba muncul. Ia laki-laki yang tak pernah bercinta sepanjang hidupnya. Jadi penisnya begitu mudah menegang. Dan ia tak kuasa lagi untuk tak melakukannya. Cepat-cepat ia melakukannya, cepat-cepat pula ia kemudian melarikan diri.
Beberapa saat kemudian, Michelle tersadar. Tubuhnya terasa hancur. Ia tentu masih ingat apa yang terjadi padanya. Kemarahannya muncul. Apalagi saat ia teringat pada wajah laki-laki itu, yang memaki dan menamparnya berkali-kali. Sempat terpikir untuk melakukan balas dendam. Tapi tentu dirinya bukanlah tokoh-tokoh seperti di film-film horror. Yang bisa dilakukannya sekarang, hanyalah menyeret kakinya menuju rumah.
Michelle membersihkan tubuhnya berkali-kali. Sejenak saat ia melihat wajahnya di cermin, ia bertanya sendiri, ‘’Mirror mirror on the wall,’’ ia seperti mengikuti nada-nada sebuah film yang pernah ditontonnya, ‘’apa yang harus kulakukan sekarang? Apa aku harus melaporkan kejadian ini pada polisi?’’
Tapi ia sudah mendengar untuk melaporkan sesuatu pada polisi, ia harus mengeluarkan uang. Padahal sekarang ia tak punya cukup uang. Gajinya masih akan dibayar dua-tiga hari lagi.
Michelle menangis perih. Apalagi, bila ia benar-benar melapor, semua orang akan tahu aib yang menimpa dirinya ini. Ia tahu bagaimana media mengekspos kejadian-kejadian seperti ini. Orang tuanya di desa, yang masih harus dikirimi uang setiap bulan, pastilah akan sangat malu. Terlebih baginya, ini seperti membunuh dirinya sendiri. Ia pasti tak akan punya muka untuk kembali datang ke tempatnya bekerja. Ia tak akan punya keberanian bicara lagi dengan para pelanggan karaoke lainnya. 
Tangis Michelle makin menyayat. Hatinya benar-benar bimbang. Namun pada akhirnya, menjelang dini hari, Michelle menarik napas panjang. Ia memutuskan untuk melupakan saja kejadian ini. Biarlah hatinya saja yang berdarah, toh ia bisa menutupinya dengan senyum.
***
Di sini, tak ada yang benar-benar mengenal Michelle. Sepanjang hari ini, sampai di pagi hari menjelang waktu kerja, tak ada satu pun kawannya yang menghubunginya. Kali ini, Michelle mungkin hanya menduga-duga. Toh, ia tak bisa benar-benar tahu, karena ponselnya memang hilang sejak malam tadi.
Dengan tubuh yang masih terasa perih, Michelle datang ke kantornya. Ia sengaja datang paling awal. Tapi ternyata Suseno -managernya- sudah ada di dalam kantor. Ia seketika menatap Michelle dengan tatapan tak mengerti.
‘’Kau masih datang?’’ tanyanya.
‘’Apa kau tak membaca pesanku?’’
‘’Ponselku hilang…’’ ujar Michelle mencoba menutupi wajahnya.
‘’Memangnya ada apa?’’
Suseno menghela napas, ‘’Aku minta kau tak perlu datang lagi ke sini. Kau dipecat sejak semalam.’’ (92)
Yudhi Herwibowo aktif di buletin sastra Pawon, Solo. Buku terbarunya Halaman Terakhir, sebuah novel tentang Jenderal Polisi Hoegeng diterbitkan oleh penerbit Noura. Ia mukim di
Mojosongo, Solo (92)
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudhi Herwibowo
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 20 desember 2015