Mimpi dan Takdir

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Republika

MIMPI bagi sebagian orang adalah bunga tidur yang tidak perlu dirisaukan dan diabaikan saja. Namun, tidak bagiku, justru itu jadi hal yang aneh dan tidak biasa. Bagaimana tidak? Sedari kecil aku harus dihadapi oleh kenyataan bahwa mimpi-mimpiku menjadi nyata dalam kehidupan. Mengganggu? Iya, sangat. Aku sering bertengkar dan berdebat dengan keluarga karena pendapat yang aku utarakan tidak masuk akal bagi mereka.

Pernah suatu hari aku bermimpi melewati jalan di kebun-kebun yang biasa aku lalui saat berangkat dan pulang sekolah. Lalu aku kaget karena tiba-tiba seekor ular menggigitku tanpa ampun. Keherananku tenggelam oleh rasa sakit dan takut bahwa aku akan mati sebentar lagi. Ditambah lagi Fahmi, adikku, yang biasa bersamaku entah mengapa tidak bersamaku saat itu. Ah … lalu aku terbangun dengan keringat dingin sambil ketakutan dan membuat terbangun semua orang di rumah, bapak, ibu dan adikku. Mereka bertanya mimpi apa dan aku ceritakan bagaimana kejadian yang aku alami. Hanya mimpi, begitulah kata bapak dan ibu. Namun, tidak dengan adikku, dia sedikit terpengaruh dan tidak mau melewati jalan itu untuk sekolah besok pagi.

“Ini semua gara-gara kamu, Bapak harus ngantar kalian berdua ke sekolah pake motor. Jadi telat ngantor deh Bapak. Kenapa sih harus percaya sama mimpi segala?” Kata bapak sambil bersungut-sungut.

Kan udah sering dan terbukti, Pak. Sekali ini aja percaya, Pak,” kataku memelas.

Ternyata terbukti, pada sore hari kami mendapat kabar yang menggemparkan, ada seorang anak sekolah jatuh pingsan ditemukan oleh warga di jalan yang biasa aku lalui tersebut. Setelah dianalisis penyebabnya ditemukan gigitan seperti gigitan ular. Dia dibawa ke rumah sakit dan alhamdulillah selamat.

Tuh kan, Pak. Mirip sama mimpi aku, Pak,” kataku meyakinkan Bapak.

“Bapak tetep gak percaya. Tidak mungkin hanya karena mimpi kita harus waswas. Percaya sama Allah, bukan sama mimpi, Tur”. Hiduplah apa adanya, normal saja. Toh kalau kita dapat musibah itu sudah diatur dari sananya,” kata bapak lebih yakin lagi. Bapak memang keras kepala dan kekeh pendirian, sepertinya sifatku yang kekeh dengan pendapatku sendiri sepertinya menurun dari sifat Bapak.

“Tapi Pak, kejadiaan barusan itu salah satu bukti kalau mimpiku benar Pak,” aku mengulang kata-kataku.

“Memang seberapa persen mimpimu jadi nyata. Semuanya? Tidak kan? Kita harus berpikir logis karena hidup di dunia nyata, bukan dunia mimpi.” Bapak menasihati.

Bener Fatur, dengerin kata bapakmu saja sana,” Ibu menimpali dan selalu mendukung kata-kata Bapak.

“Iya Bu…” aku hanya bisa berkata begitu tidak berani menyanggah kata-kata ibu.

Aku tetap mendongkol dalam hati, seandainya Bapak berada pada posisiku, apa Bapak akan tetap berpendirian seperti itu. Apakah akan sepertiku dihantui perasaan waswas dan gelisah akan apa yang akan terjadi. Lebih baik jika itu adalah mimpi yang baik, alih-alih, aku selalu mendapat mimpi buruk dan tidak mengenakkan.

Udah berdoa sebelum tidur belum, kalau enggak kan mimpinya datang dari setan yang ingin menggoda kita, Tur,” kata Wahid temanku.

“Sudah, tapi tetap saja bermimpi. Harus bagaimana lagi, Hid?

“Mungkin kamu kurang yakin dengan doamu. Allah kan sejalan dengan pikiran kita. Jika kita berprasangka baik pada-Nya, tentu ia juga berprasangka baik pada kita. Ini gue dengar dari ustaz ya, salah satu penyebab doa terkabul adalah keyakinan kita bahwa doa akan terkabul. Begitu sih yang gue denger,” kata Wahid dengan bijaksana. Dia satu-satunya teman yang aku percaya karena terkenal di kalangan teman-teman sebagai orang yang sabar sekali. Beruntung nya aku bisa dekat dengan dia.

“Barangkali lo benar Hid, selama ini gue selalu takut akan mimpi gue. Bapak selalu bilang jangan takut justru setan makin senang dan Allah makin jauh. Apa ketakutan gue sama mimpi lebih dominan dibanding takut gue sama Allah ya? Gue jadi ngeri,” kataku sambil menutup muka dengan tangan.

Namun, seberapa keras aku mencoba saran dan nasihat orang tua dan teman, tetap saja belum menampakkan hasil yang signifikan. Sehingga aku lalui saja hidupku apa adanya. Waktu terus berjalan tak terasa umurku sudah memasuki masa-masa kuliah. Untuk mencari suasana baru dan wawasan yang lebih luas aku lebih memilih untuk kuliah di Jawa di sebuah universitas impianku. Lagi pula aku laki-laki, hidup jauh dari kampung bagiku adalah tantangan yang mampu menambah pengalaman hidup dan akan sangat berguna bagi masa depanku kelak.

Sampai hari itu tiba, ini tentang mimpiku lagi. Aku sedang berada di rumah di kampung dan tiba-tiba saja aku mengalami sesak napas yang penyebabnya tidak aku ketahui karena aku tidak memiliki riwayat asma atau penyakit paru-paru lainnya. Lalu spontan aku keluar rumah mencari udara segar, tapi tidak berefek sama sekali. Justru aku melihat sesuatu yang sangat mengejutkan dan membuat bulu kudukku berdiri, semua orang terkapar di tanah basah, ada yang masih bisa meminta tolong, ada yang sedang sekarat, lebih tragis ada yang sudah tidak bergerak sama sekali. Anehnya, aku hanya bisa melihat tanpa bisa bergerak sama sekali seolah-olah aku diserang penyakit lumpuh. Ya Allah, tiba-tiba aku teringat orang tua dan adikku. Bagaimana ini? Bagaimana keadaan mereka? Kenapa aku tidak melihat mereka? Aku hanya bisa berteriak, Bapak … Ibu … Fahmi … ah lalu aku terbangun dengan bermandikan keringat dingin. Seketika aku syok dan aku langsung mengambil handphone untuk menelepon rumah karena aku sedang berada di Jakarta.

“Assalamualaikum Bapak. Bapak, Ibu, dan Fahmi, semua ada di rumah kan? Tidak terjadi apa-apa kan? Bagaimana keadaan di sana?” bertubi-tubi pertanyaan aku lontarkan ke Bapak.

“Ya Allah Tur, malam-malam begini kenapa nelepon, ada apa lagi? Sekarang jam satu malam loh, Tur.” Timpal bapak dari seberang sana.

“Fatur mimpi lagi Pak. Kali ini lebih mengerikan dibanding sebelumnya. Fatur bukannya mau percaya, tapi Fatur merasa bahwa ini benar-benar akan terjadi,” kataku hampir menangis.

“Ya udah ya udah, coba kamu ceritakan deh,” kata Bapak tanpa menyanggah, mungkin mendengar suaraku yang mulai berubah. Lalu aku ceritakan sekelumit mimpi yang baru aku alami. Bapak mencoba menenangkanku mungkin karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk memulai perdebatan. Aku tutup telepon dengan gugup lalu mencoba merenung dan alhasil aku tidak bisa melanjutkan tidurku.

Tanpa berpikir dua kali, aku langsung pulang ke kampung halamanku. Dalam perjalanan aku sibuk berpikir apa yang harus aku lakukan karena aku merasa ini akan terjadi untuk kesekian kalinya. Orang tua dan adikku kaget akan kepulanganku yang tanpa kabar itu. Sontak aku meminta maaf karena tidak menelepon sebelumnya.

Lalu, aku ceritakan kegundahan dan beban pikiranku dengan alasan yang sama dengan sebelum-sebelumnya. Aku bercerita dengan membabi buta dan lebih meyakinkan keluargaku lebih tepatnya sedikit memaksa mereka mengikuti keinginanku. Tentu saja mereka tidak mengikuti saranku untuk pindah sementara ke Jakarta. Aku merasa di kampung tidak aman lagi, itu yang ada dalam pikiranku. Aku seperti orang bodoh, tapi mau bagaimana lagi aku tidak mau terjadi apa-apa dengan keluargaku. Namun, itu serasa suatu yang mustahil karena ini berkaitan dengan sesuatu yang sangat besar dan kompleks. Adikku masih sekolah, Bapak mesti bekerja di kantor, dan Ibu sebagai istri yang patuh ya mengikuti apa yang dikatakan Bapak. Kepalaku semakin pusing karena sebagian keluarga besar di luar keluarga intiku berada di kampung.

Baik, aku berjanji dalam hati untuk bertahan selama seminggu di kampung halaman, selama itu aku akan terus meyakinkan keluargaku. Aku tidak boleh menyerah dan mengeluarkan segenap tenagaku agar ini berhasil walau tampak mustahil. Perdebatan hebat tak bisa dihindari. Sebagai anak, aku mengalah dan memutuskan kembali ke Jakarta. Berat rasanya kaki ini meninggalkan rumah bak beratnya perpisahan seorang yang sedang sekarat menunggu malaikat maut menjemputnya. Semoga ini hanya mimpi bunga tidur tak lebih dari itu, hiburku dalam hati.

Di Jakarta aku telah disibukkan kembali dengan aktivitas perkuliahan dan sedikit lupa dengan dua hari yang lalu saat aku di kampung. Ketenanganku terusik saat mendengar kabar dari kampung halamanku bahwa telah terjadi gempa berkekuatan besar sekitar 7 skala Richter. Jantungku langsung berdegup kencang dan dengan segera menelepon ke rumahku di Palu, Sulawesi Tengah. Aneh telepon tidak terhubung, ah mungkin sinyal pikirku. Lalu, aku telepon kembali, tapi tetap saja tidak terhubung. Kemudian aku telepon semuanya, Ibu dan adikku, tapi tetap sama. Begitu pun dengan keluara yang lain.

Hati ini semakin cemas dan kalut dengan berita di TV yang menginformasikan semakin banyak korban jiwa dan banyak rumah yang hancur dan roboh. Ingin pulang pun tidak bisa karena penerbangan ke Palu masih terkendala. Bahkan, sampai seminggu pun penerbangan masih diprioritaskan untuk pengirman bantuan.

Mimpi dan Takdir

Di tengah kekalutanku, tiba-tiba ponselku berbunyi dan ada pesan yang masuk. Begini redaksinya, “Kak Fatur, apa kabar kakak di Jakarta? Mungkin kakak sudah mendengar berita bahwa terjadi gempa dan tsunami di kampung k ita Kak, di Palu tercinta. Aku sedikit bingung untuk menciritakannya, tapi alhamdulillah aku sangat bersyukur pada Allah bahwa aku, Ibu, dan Bapak selamat dari bencana itu Kak. Pada awalnya kami semua terpisah, tapi Allah menakdirkan kita bertemu di rumah sakit yang sama. Keadaan kami di sini sedikit tidak biasa, tapi kami dirawat dengan baik oleh dokter di sini. Keluarga-keluarga yang lain baru sebagian yang bertemu dengan kami dan ada sebagian yang sudah mendahului kita kak. Kita doakan saja mereka agar amal ibadahnya diterima Allah. Fahmi hanya bisa Whatsapp karena keterbatasan pulsa dan ini juga meminjam handphone dari orang di rumah sakit. Salam dari Bapak dan Ibu, mereka berpesan agar kakak tidak perlu juga merisaukan mimpi-mimpi kakak selama ini. Jika terjadi bencana dan musibah itu sudah ketetapan yang di atas dan pun jika ada yang meninggal dari keluarga kita itupun juga sudah suratan dan memang ajal yang bisa datang kapan, di manapun dan kondisi apa pun. Mohon doa agar keadaan Fahmi, Bapak, dan Ibu cepat pulih. Kakak tidak perlu khawatir dan jika sudah memungkinkan sebaiknya kakak cepat pulang. Fahmi.

Aku langsung terduduk dan bahagia dengan kabar tersebut. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam kepalaku tentang kepercayaan dan keyakinan pada Allah tentang takdir dan nasib masing-masing ma nusia yang harus aku percayai sepenuhnya, tentang kepercayaan dan ketakutanku akan mimpi yang harus dihilangkan tanpa sisa dalam otakku. Inilah titik balik dalam hidupku. ❑

Penulis adalah lulusan Universitas Andalas Padang.


[1]Disalin dari karya Raihanan Sabathani, SP
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Republika” edisi Minggu 7 Oktober 2018