Mimpi Kuliah

Karya . Dikliping tanggal 5 Mei 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi
“EH, pada mau nglanjutin ke mana?”
Kiki membuka percakapan di kantin.
“Aku sih pengen ngelanjutin di UGM, jurusan komunikasi. Kamu, Ki?” tanya Gesti.
“Gue sih pengen ke UI, nurutin permintaan nyokab bokap.”
Kami bertiga mengangguk. Maklum mendengar pernyataan Kiki yang memang notabene anak orang punya. Ke UI, kampus terkenal –yang pastinya mahal– di Jakarta itu? Mungkin bukan hal susah. Berbeda denganku, yang dasarnya orang ndesa. Ke Jakarta saja belum pernah. 
“Lo berdua, Tan, Lin?” Kini Kiki memandang aku dan Tania bergantian.
Tania pun mengutarakan niatnya. Kemungkinan ia akan langsung kerja, ikut mengembangkan bisnis om-nya di Semarang. Sementara aku, hanya terdiam. Aku tidak tahu arah kehidupanku selanjutnya. Memang, mungkin aku mempunyai gambaran, tapi tidak tahu gambaran itu akan terwujud atau tidak. Mengingat salah alasan klise yang sering jadi permasalahan. Aku anak orang tidak punya. 
“Mmm, pengenya sih ke UGM juga. Tapi, liat entarlah,” jawabku sambil meringis tipis. Sementara mereka bertiga tersenyum maklum. Mungkin memaklumi keadaanku yang belum jelas, dan serba kekurangan.
***
SORE ini aku pulang dengan wajah cerah. Hasil try out kemarin diumumkan hari ini, dan hasilnya lumayan bagus. Bisa jadi…. ini yang paling bagus di antara try out sebelumnya. Matematika dapat nilai 8, padahal biasanya hanya 7 atau 6.
Ingin rasanya kuperlihatkan nilai ini pada ibu atau bapak. Tapi, sepertinya sia-sia saja. Sudah bisa kutebak, ibu dan bapak pasti minim respons. Mungkin bagi mereka nilai seperti ini tidak ada harganya dibanidng kertas koran pembungkus bakmi. Aku sudah bisa membaca jalan pikiran mereka. Kalau nilai bagus, lalu kenapa? Apa efeknya? Apa itu bisa langsung membuat keluarga ini kaya? Aku bisa memaklumi pikiran pendek mereka, karena memang orangtuaku minim pendidikan. Bahkan mungkin mereka tidak akan mendukungku kuliah.

“Mau kuliah, duit dari mana? Untuk makan saja susah!” Begitu kalimat ibu beberapa minggu lalu saat kuutarakan niatku.
Jalan pikir mereka memang beda denganku. Aku sudah banyak dipengaruhi lingkungan dan pergaulan teman-teman SMA yang kebanyakan berpikir maju dalam hal pendidikan. Sehingga aku pun punya niat besar untuk tetap kuliah.
“Lin. Linda…” panggil ibu ketika aku hendak masuk kamar. 
“Eh, kamu kenal Mas Deri ta? Yang anaknya teman Ibu itu.”
“Iya. Kenapa, Bu?”
“Dia tadi ke sini. Tadi sempat menanyakanmu.”
“Nanyain Linda?”
Ibu mengangguk sambil tersenyum cerah. “Ibu lihat sepertinya dia suka dirimu. Dia tadi melihat foto kamu yang di depan itu.”
Seketika wajahku berubah. Menjadi tak minat dengan inti dari obrolan ini.
“Oh ya, Lin. Tadi Ibu sempat memberi nomor HP-mu pada Mas Deri. Kalau dia SMS atau telepon, ditanggapi ya.”
Sekejap mulutku terbuka tak percaya.
“Bu, Ibu nggak niat jodohin Linda sama Mas itu ta?”
“Ya… kalau kamu mau sih, Ibu senang sekali. Mas Deri kan sudah mapan, dan kamu juga sebentar lagi lulus. Tidak ada salahnya sama Mas Deri.”
Aku mendengus heran. Kali ini benar-benar tidak habis pikir. Ibuku benar-benar sedangkal itu memikirkan masa depaku? Apa ibu tidak ingin melihatku lulus, lalu kuliah, atau setidaknya bekerja mencari uang, bukan justru menjodohkanku seperti ini? Astaga….
“Bu, Linda ingin kuliah. Linda masih ingin sekolah tinggi. Apa salahnya Ibu memberi kesempatan Linda sekolah lagi? Toh nanti kalau Linda berhasil, Ibu juga yang bangga, kan? Bukan malah menjodohkan Linda?”
“Kamu mau kuliah ki duit dari mana ta, Lin? Mbok ya mikir. Ibu saja kere seperti ini kok mau kuliah.”
Mendengarnya membuatnya mataku seketika mulai digenangi air. Hatiku sakit. Apa segini susahnya hanya untuk melanjutkan sekolah? Kenapa teman-temanku begitu mudah? Kenapa aku tidak seperti mereka yang orangtuanya begitu gampang memberikan fasilitas?
“Kalau kamu mau kuliah, cari uang sendiri. Ibu tidak sanggup.”
Sekejap terlinats tekat besar. Tiba-tiba saja semangatku serasa tersulut. Baik, aku akan gunakan uang sendiri. Aku tidak akan memakai uang Ibu. Aku akan buktikan pada ibu, bahwa semua itu bisa diperjuangkan kalau kita mau berusaha.
***
SEHARI setelah itu aku langsung berburu informasi. Mencari beasiswa di sana-sini, dari web, brosur, tanya ke BK, maupun tanya ke teman-teman. Ada beberapa peluang beasiswa kuliah, tapi aku tidak masuk kriteria. Yang dicari yang mempunyai peringkat di kelas ataupun pararel. Sedangkan aku? Prestasiku hanya biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari nilaiku dari kelas satu SMA. Aku hampir saja putus asa, sebelum akhirnya Gesti memberikan kabar baik padaku. 
Ada satu universitas yang cukup murah biaya masuknya. Hanya Rp 2 juta. Aku memang tidak bisa mengandalkan beasiswa kuliah penuh atau beasiswa masuk, akan tetapi jika ada universitas yang biaya masuknya murah, setidaknya aku bisa meminjam uang pada tetangga atau teman. Lagipula, Gesti bilang biasanya ada beasiswa saat kita sudah menjadi mahasiswa. Jadi, yang perlu dipikirkan sat ini bagaimana mencari uang Rp 2 juta, untuk masuk. Itu saja. Selebihnya dipikir nanti. 
Aku pun mulai memutar otak. Meminjam tetangga, rasanya bukan pilihan bagus. Tetanggaku sama-sama orang tidak punya. Mau pinjam teman, rasanya tidak enak. Mereka pun pasti dapat uang hanya dari orangtua, bukan uang sendiri. Lantas siapa? Siapa orang yang baik hati dan bisa dipercaya meminjamiku uang? Sekilas terlintas ide di kepalaku.
Aku mengangguk-angguk, lebih pada diriku sendiri. Seketika aku pun segera melangkahkan kaki ke sebuah ruangan. Ruang yang sering kudatangi akhir-akhir ini. Kuketuk pintu ruang itu. Begitu dipersilakan, aku segera masuk. Kulihat wajah Pak Sapto yang tenang memandangku penuh perhatian.
“Ada apa, Lin?” tanya Pak Saptop, guru BK yang sering menjadi tempatku berkonsultasi akhir-akhir ini.
Aku menunduk. Tidak berani menatap Pak Sapto. Bukankah ini hal yang memalukan? Tapi… bukankah aku juga melakukannya untuk kebaikan? Demi melanjutkan pendidikan yang lebih baik. Lagipula, aku bukan ingin meminta. Aku hanya ingin meminjam, yang suatu saat pasti akan aku kembalikan. Setelah ini aku akan cari kerja sambilan dan uang itu akan kukembalikan secepatnya, utuh tanpa berkurang sedikitpun. 
Beranikan dirimu, Linda… semua ini demi kebaikan. Tidak ada perjuangan yang mudah, gumamku pada diri sendiri. 
“Maaf, Pak, kalau saya lancang,”ucapku pada Pak Saptop. 
“Tapi, saya sedang butuh uang….”
Bantul, 3 April 2015

Eki Arum Khasanah Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eki Arum Khasanah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 3 Mei 2015