Moff dan Ling-ling

Karya . Dikliping tanggal 30 Agustus 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
KAMU kirimkan padaku sebuah kota dari masa lalu. Dan ketika aku memasuki kota yang kamu kirimkan itu, sebenarnya aku mulai bertanya-tanya; bagaimana caranya kamu menggabungkan oranng-orang dari masa lalu dan masa depan berada sekaligus di dalam waktu yang bersamaan?
Pertanyaanku terhenti dengan cepat, saat di hadapan kaki malam: kubah Gereja Blenduk disirami sebaran cahaya bentukan bumi yang berasal dari titik pancar di bilah puncak penangkal petirnya.
Cahaya itu menghadirkan peta dari separoh bola dunia. Lengkap dengan noktah merah kota-kota dunia, nama-nama negara, batas-batas, kantor bumi, dan jalir-jalur sungai yang melengkung hening, yang seakan sedang mengalirkan sunyi ke dalam jiwa-jiwa samudera jauh.
Dan spektrum bumi itu di wajah kubah kamu buat aktif berputar sepelan waktu. Presisinya seakan ia adalah cermin dari gerak bumi yang kita huni di semesta porosnya. Tapi di mana yang separuh?
Kutelusuri jalur dan jalan dari kota yang kamu kirimkan. Kulihat puncak-puncak bangunan. Belum ada tanda. Jadi, kupikir akan lebih ringkas kalau aku bertanya pada orang-orang yang kamu hadirkan sibuk mengisi keadaan kota di malam hari ini.
“O, separuhnya di kubah Masjid Agung,” kata penjual lumpia.
Aku mengangguk. Jenius, penuh makna, batinku. Kemudian aku iseng tanya, “Bapak tahu siapa yang mendesainnya?”
Ia, lelaki tua yang kamu hadirkan bertutur halus, kemudian menyebut namamu. Dan bersama itu, dari 30 meter tempat berdiri, noni-noni Belanda dengan gaun pesta putih berjalan beriringan menuju delman. Mereka menutup tawa dengan sapu tangan seperti para puteri pembesar Pemerintah Kolonial Belanda yang dikenal mudah bau badan di negeri tropis. 
Tapi aku belum mengerti bagaimana dan untuk apa, mereka, kamu adakan.
Ketika kecil, katamu, saat hari ulang tahun, kamu ingin mendapatkan hadiah sebuah kota yang bisa kamu susun sendiri tatanannya.
Yang bisa kamu buat sesuka hati saluran airnya, sistematika jalannya, arsitektur bangunannya, bahkan seperti apa model bahasa dan karakter orang-orang di dalamnya.
Tanpa konflik?
Tanpa konflik.
Bagaimana bisa? Tiap kota dijangkiti konflik, bahkan sampai berdarah.
Aku masih kecil saat itu.
***

KAPAN kamu pulang ke Semarang lagi? Jangan terlalu cepat jalannya.

Musim dingin, kira-kira, aku balik lagi dari Netherland. 
Big Netherland!
Jangan ketawa. Pas itu kamu akan mengajak jalan ke sini lagi, kan? Ke Little Netherland.
Tentu, tentu, kamu suka? Awas langkahmu.
Aku suka. Apalagi kalau digandeng seperti ini? Jangan melihat ke sini, malu. Eh, apa boleh aku meminta sesuatu?
Asal jangan minta nikah besok pagi.
Aku serius. Aku ingin kamu kirimkan sebuah kota untukku, bisa?
Dan hari inikamu kirimkan pada sebuah kota dari masa lalu. Kota di mana aku berdiri tiga puluh meter dari noni-noni Belanda yang kini beranjak pergi dengan delman. Sementara gadis-gadis bermode mutakhir memotret mereka dengan diam-diam dari kejauhan.
Aku tidak mengerti, bagaimana dua waktu yang berbeda bisa terjadi di tempat yang bersamaan; di kota yang kamu kirimkan.
Aku suka bahwa kamu mengirimkan sebuah kota yang dipenuhi permainan cahaya dan lebih-lebih: teka-teki. Kulihat di sudut-sudut kota, ad apenyewaan sepeda.
Tak luput, kamu hadirkan sepeda dari model awalnya masuk ke Pulau Jawa, terutama, bagian utara, hingga masa kini. Melaju perlahan, aku melintasi jalan-jalan kota yang kamu susun dengan jalur-jalur cahaya yang tidak menyesatkan pendatang pemula.
Di jembatan Berok, aku berpapasan dengan polisi kolonial yang sedang berkeliling.
Menakjubkan bahwa jembatan ini tak luput kau beri sentuhan cahaya. Polisi itu seakan meneguhkan kembali fungsinya. Bukan sekadar diam berjaga. Juga, menuju benteng-benteng penjagaan.
Kamu tahu, aku mulai terbiasa dengan kehadiran dua peristiwa bersamaan.
Di mana orang-orang dari zaman modern juga sibuk berkeliling dan berpose. Beberapa orang Tionghoa melintas dengan percakapan dan bahasa mereka. Dua aktivitas dari zaman yang berbeda, berada di tempat waktu yang sama.
Bagaimana kamu mendesain semua ini?
Di dalam kota yang kamu kirimkan dari masa lalu, aku mendapati restoran-restoran dengan gaya kolonial. Bukan hanya bangunannya, tetapi juga menu yang disajikan. Aku merasa asing dengan panganan orang-orang seberang, astaga, noni-noni itu, mereka memesan menu dengan bahasa Belanda, dan dilayani pribumi kita.
Aku duduk tak jauh dari meja orang-orang Belanda. Mereka membicarakan tentang hal yang asing: residen, gubermen, eksopor gula, rempah, pemberontakan, dan entah apa lagi. Setidaknya, istilah itu yang kutahu.
Yang membuatku kaget, pada peristiwa bersamaan, juga hadir manusia-manusia dari zamanku.
Apa kamu membuat sebuah kota di mana yang lalu tetap terjadi bersama dengan yang kini? Bagaimana caranya?
Penasaran, aku bertanya pada penjaga restoran, apa kamu melihat mereka?
Ya.
Lalu, apa yang mereka katakan?
Kami punya penerjemah dan teman mengobrol jika mau.
Boleh.
***
HALO, baru pertama ke kota lama ya?
Ini juga Kota Lama namanya.
Dengan desain baru. Dua hal dihidupkan bersamaan, dari masa lalu, dan masa kini.
Apa yang mereka bicarakan?
Itu, mereka membicarakan kisah Moff dan Ling-ling. Kamu sudah pesan?
Sudah. Ini namanya apa? O ya, ya. Eh, Moff dan Ling-ling?
Ya, itu, mereka menggosip soal ayahnya Moff, si van Boz, dia punya menolak Ling-ling berpacaran dengan Moff. Jelas saja, pihak Belanda dengan Tionghoa sedang bermusuhan. Tapi bukan itu yang menarik.
Aku pernah baca sejarah itu. Tapi tidak ada Moff dan Ling-ling. 
Itu dengar, mereka ketawa, kan? Tahu kenapa ketawa?
Katanya, van Boz itu sebenarnya butuh bantuan ayahnya Ling-ling. Sudah lebih dari speuluh tahun dia menderita sakit penciuman. Hidungnya tidka bisa membedakan bau. Tidak merasakan bau apapun. Padahal, van Boz itu pejabat. Jadi, gosipnya, bau badannya sendiri tidak terasa. Dia punya asisten yang bertugas untuk memastikan bahwa bau badannya wangi. Juga untuk menjaga kentutnya.
Ha-ha-ha, bagaimana bisa? Terus kalau makan?
Istrinya yang bahagia, kata mereka, karena semua masakan sama saja. Tidak ada aromanya.
Karena tidak berobat?
Sudah, tapi tidak sembuh. Tinggal ayahnya Ling-ling, tabib yang manjur. Tapi, ayahnya itu pembela Sunan Kuning yang sedang seteru dengan Belanda. Serba salah, kan?
***
DI kota yang kamu kirimkan, aku merasa belum cukup. Aku menginap di tempat yang sepertinya kamu buat agar dekat dengan tradisi pada masa lampau. Aku penasaran, bagaimana kota ini kamu desain pada waktu siang.
Yang pertama kulihat ketika sarapan soto kerang adalah seorang pribumi yang sepertinya semalam kukenal mendampingi orang-orang Belanda. Dia duduk tak jauh dari tempatku. Ketika ke tempat ini, aku melihat dua aktivitas yang bebarengan. Aktivitas orang-orang masa kolonial, dan aktivitas manusia terkini.
Aku coba memberanikan diri. Menyentuh percakapan di antara dua waktu yang berbeda.
Maaf, bukannya bapak yang semalam di restoran?
Ya.
(Menakjubkan bahwa kami da[at berinteraksi)
Bapak kerja di mana kalau boleh tahu?
Ya, di sini, seperti ini.
Maksud bapak?
Maksudnya bagaimana?
Bapak hidup di masa Belanda ‘kan? Ada dua waktu di kota ini, ‘kan?
O, tidak. Kami hanya bermain peran. Ada yang ekbagian di malam hari, ada yang di siang hari. Unuk menghidupkan suasana Kota Lama. Biar lebih terasa berbagai macam era, terutama era kolonial. Biar pengunjung juga tertarik.
Jadi?
***
JADI pada kota yang kamu kirimkan, ada orang-orang yang sedang bermain peran seakan berasal dari masa silam?
Dan tidak ada satu orang pun yang berperan sebagai dirimu? 
Yang seolah-olah pulang dari Big Netherland pada musim dingin, lalu menjemputku, menggandeng tanganku di jalan-jalan Kota Lama? ❑ – k
Eko Triono: lahir di Cilacap 1989. Alumnus Akademi Penulisan Novel DKJ (2014). Pengajar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Eko Triono
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 28 Agustus 2016