Monumen – Pertemuan Kecil – Solilokui Cermin – Guru Safir

Karya . Dikliping tanggal 31 Mei 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Monumen 

Di kota ini, cinta diabadikan di tembok 
rumah tua tak berpenghuni, seperti janji 
yang kelak dilupakan atau mungkin ditepati 
pada dinding dekat jendela yang hilang teralisnya 
pernah kutulis namamu. Tapi seseorang, 
atau mungkin waktu telah menghapusnya 
menggantinya dengan nama lain yang tak kukenali 
nama yang tak pernah kurapalkan sebagaimana 
namamu 
Kudatangi lagi tembok rumah tua itu 
monumen yang mungkin telah kau lupakan 
ingin kutulis lagi namamu, nama yang kelak 
      berulangkali kurapalkan tapi aku merasa sudah terlalu tua 
untuk sebuah sentimentalia 
Di kota yang telah kau tinggalkan, 
kenangan diabadikan 
pada tembok rumah tua yang hampir rubuh 
atau mungkin tak lama lagi akan diruntuhkan.
2015 

Pertemuan Kecil 

Demi layar yang koyak, mata tombak berkarat 
ikan-ikan menggelepar di atas geladak 
dan lambung perahu tergores batu karang 
akan selalu kuingat pertemuan kecil ini 
di pintu sungai, di batas dua kampung pesisir 
ketika perahumu masuk membelah permukaan air 
Apa kabar, teman masa kecil?
sudah berapa lama kita tak saling melempar 
biji-biji gundu, berburu layang-layang 
dan ikan-ikan kecil yang terjebak di batu karang 
alangkah renta perpisahan ini, perpisahan laki-laki 
yang memikul nasib masing-masing 
meraba takdir dan saling membelakangi 
Pagi ini aku menyapamu 
dari tepi muara yang dulu jadi pijakan 
       langkah pertama perantauanku 
kau dengan keringat pelayaranmu, 
belajar mengenaliku 
wajah yang mungkin telah menjadi asing 
Demi layar yang koyak, mata tombak berkarat 
dan sorot matamu yang semakin renta 
akan selalu kuingat pertemuan kecil ini 
ketika kau menyebutku dengan nama panggilan 
yang telah lama kulupakan.
2015 

Solilokui Cermin 

Aku hanyalah cermin retak di dinding kamarmu 
menatapmu mematut diri setiap bangkit dari mimpi 
wajah pagimu adalah lekukan-lekukan khayali 
dari kemurnian dunia azali 
Aku selalu merasakan sentuhan–melalui bayangan 
kau dan aku bersekutu meski tiada padu 
kita berpisah namun tiada antara 
Kau seakan memintaku membaca garis wajah 
dan menjadi peramal dari setiap peruntunganmu 
menjadi pendengar pertama dari semua rahasia 
yang kau ceritakan dengan mata berkaca-kaca 
Kelak jika kau tak lagi memercayaiku 
aku akan membelah tubuhku 
jadi retak beribu pilu.
2014 

Guru Safir 

Kita akan mengunjungi banyak peristiwa 
mencatat nama tempat–kemudian melupakannya 
sebab setiap perjalanan akan terekam 
dalam kitab kejadian.
Kupersiapkan diriku menghadapi petualangan gaib 
ke goa-goa tempat berlindungnya para rahib 
mengunjungi kota-kota bersejarah, yang pernah 
merekam peristiwa berdarah.
Aku akan mengikutimu tanpa banyak bertanya 
sebab dulu, katamu, kau pernah mengusir 
pengikutmu yang terlalu banyak bertanya: 
“Mengapa harus menenggelamkan sampan nelayan, 
membunuh lelaki kecil tak berdosa, 
dan membangun sisa reruntuhan rumah tua di kota mati?“ 
Maka aku memilih diam sebab tak ingin terusir 
meski kejadian-kejadian ganjil tak mampu lagi 
kutafsir: 
mengapa kau menyetubuhi setiap perempuan 
yang memujamu sebagai penyair, 
menggoda gadis remaja 
kemudian memerkosa, menyebut nama Tuhan 
setiap usai persetubuhan?
Aku tak akan bertanya, sebab aku telah berikrar 
akan setia memendam rahasia tanpa saling ingkar.
2014

Badrul Munir Chair, penyair dan penulis prosa.Novelnya Kalompang (2014), meraih Juara 1 lomba novel Tulis Nusantara oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif 2013.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Badrul Munir Chair

[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” 31 Mei 2015