Moscow: Selembar Daun Senja – Dordrecht: Musim Dingin – Belgrade: Dalam Ruang Orkestra

Karya . Dikliping tanggal 27 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Moscow: Selembar Daun Senja

Selembar daun senja terkirim waktu
Tak pernah sampai pada kediamanmu
Yang tak sudah-sudah
Tak usai kubaca dari geliat kota: mungkin air mata itu
Yang menjadi isyarat, luruh di antara mata yang berkejap
Masihkah kau ada dalam beranda: secangkir vodka atau kopi
Yang terasa di bibir membayang hari
Aku ingin kau mencatat kalimat-kalimat memancar
Dari hati yang pernah gelisah: perjalanan yang panjang
Masih ada dalam napas kita
Kau: masih saja melihat ke langit
Cahaya matahari tak mau bergulir ke tepi: garis-garis hari
2015

Dordrecht: Musim Dingin

Sepotong salju jatuh di lipatan jendela
Sepotong keju tergeletak di tepi piring meja
Seikat anggur, apel dan waktu terdiam dalam dingin
Gemetar tubuh dibayang kesenyapan ingin
Kau masih saja mengunyah roti
Yang tersekat dalam napas kerongkongan
Percakapan yang tak pernah usai
Masih tersisa di antara gelas musim
Mungkin ada yang mengetuk pintu
Seseorang yang pernah kau kenal dahulu
Tak berjarak, hari sangat berkabut
Kau masih menggigil
Mencari kerjap matahari
Yang tak menciptakan bayangan langkah
Sudah sampaikah kita?
2015.

Belgrade: Dalam Ruang Orkestra

Ruang sunyi. Tak ada suara. Hanya gerak mata
Ketika dimainkan musik daun-daun. Mengalir ke muara
Aku tak mengenalmu. Tak mengenal petikan gitar
Siapa yang termangu di pojok, dengan jas musim dingin gemetar
“Sudahkah musik mulai?” Terdengar gemuruh suara yang
Lenyap di antara komposisi yang tak kupahami, terus mengembang
Tiba-tiba kita berdiri. Kebeningan hari yang menepi
Masih saja aku tak paham, mengapa kau bertepuk tangan
Ketika aku sedang membuka jas, mengunci malam di kursi
Seperti berada dalam dunia: kosong, panjang dan gelap
Ruang sunyi. Suara hanyut. Seperti sebuah nina bobo
Ketika Strauss dimainkan. Dalam lagu biru. Danau embun
Dalam kekosongan hati: kau sapa malam, jam yang temaram
Kau masih bertanya. Tak percaya: aku sembunyi
Dalam ombak musik
Menghilang bersama partitur yang tak terbaca lagi
2014-2015
Irawan Sandhya Wiraatmaja tinggal di Jakarta. Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Irawan Sandhya Wiraatmaja
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” Sabtu 26 Desember 2015