Ms. Watson

Karya . Dikliping tanggal 25 Agustus 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Kompas
”Huhuhuhuhuhu,” suara tangisan memanjang terdengar ketika aku mencoba menutup mata, mengosongkan pikiran, melayang menggapai tidur, menembus kesunyian. Saat tangisan panjang menggema, anak-anak berkumpul di kamar. Tidak ada yang bisa menutup mata. Istriku yang biasanya selalu keluar dengan solusi sekali ini terdiam. Dengan malas aku keluar kamar. Anak-anak mengikuti dengan langkah pelan di belakang.
”Huhuhuhuhuhu,” suara tangisan ini semakin nyaring. Aku dan istri berpandangan dan meminta anak-anak tidur di kamar bersama-sama. ”It’s not fair, it’s not fair, huhuhuhuhuhu,” tangisan dan keluhan soal ketidakadilan kembali menggema. Tanpa berkata lagi kami keluar kamar dan turun ke lantai bawah. Duduk. Mencoba mencari tahu asal suara tangisan tadi.
”Praaaang,” tiba-tiba terdengar suara gelas dilemparkan ke dinding rumah kami, semi-detached house, yang berbagi dinding dengan rumah Ms. Watson. Senyap. Suara gelas pecah dan tangisan menghilang. Kami berpandangan menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
”I know you are there,” suara dari rumah sebelah terdengar menggema keras. Aku dan istri tidak berani bergerak. Apalagi menanggapi suara lantang itu. Robert, agen rumah kami, sebelumnya sudah wanti-wanti agar kami berhati-hati dan menghindarkan kontak dengan Ms. Watson yang menghuni rumah sebelah.
”Terkadang kita enggak bisa memilih tetangga, apalagi kalau kontrak rumah sudah ditandatangani,” kata Robert saat kami baru saja menyelesaikan sewa kontrak rumah.
MS. WATSON

Dengan mata penuh tanda tanya, kami menatap Robert, agen properti favorit orang Indonesia di London. Tanpa berkata Robert menunjuk rumah sebelah dan separuh berbisik ia berkata, ”Kalian harus hati-hati terhadap Ms. Watson, yang harusnya saat ini sedang menjalani terapi mingguan.” Beliau menderita dementia, dan memerlukan walking chair untuk berjalan. Sejak mengalami kesulitan berjalan, emosinya sangat labil. Dia bisa marah dan mengamuk tidak terkendali. Jadi lebih baik menghindar. Apalagi kalau Ms. Watson sedang labil emosi.

I heard that,” tiba-tiba terdengar suara dari arah rumah Ms. Watson diikuti lemparan plastik berisi sampah. Robert pucat terdiam. Dengan menaruh telunjuk di mulut, ia meminta kami meninggalkan halaman belakang.
Lemparan gelas itu seakan Robert yang menyuruh kami diam. Hening. Tidak ada yang berani bergerak. Semua menahan napas. Aku tidak ingat berapa lama kami terdiam. Tapi yang jelas sejak itu kami selalu berusaha menghindari Ms. Watson. Kami hafal semua jadwal dan kegiatannya. Istriku bahkan membuat jadwal kegiatan Ms. Watson dan jam-jam dia keluar rumah.
Untung semua jadwal dan kegiatan Ms. Watson, sesudah jam masuk, dan sebelum jam keluar kantor. Karena itu, aku hampir tidak pernah bersentuhan dan bertemu dia. Tapi istriku yang hampir tidak pernah keluar rumah, kecuali menjemput dan mengantar anak-anak sekolah, tampak tertekan sekali. Hampir setiap hari dia menelepon mengeluhkan masalah parkir yang selalu menjadi persoalan dengan Ms. Watson.
Karena tidak memiliki fasilitas parkir, kami terpaksa memarkir mobil di jalan. Kalau bernasib baik, kami bisa parkir di depan rumah. Kalau sedang apes, kami terpaksa parkir di depan rumah Ms. Watson. Di sini persoalan sering terjadi. Ms. Watson pernah marah-marah minta kami memindahkan mobil karena halaman rumahnya hanya untuk mobil Council yang harus parkir persis di depan rumahnya guna memudahkan ia naik dan turun mobil, setiap terapi mingguan. Namun anehnya kami selalu melihat ada mobil tetangga yang parkir di depan rumahnya dan tidak bermasalah. 
Kalau tidak terpaksa sekali aku lebih baik parkir jauh dari jalan tempat kami tinggal agar mobilnya tidak kena masalah. Mulai dari cat mobil yang dibaret paku, sampai sampah ditebarkan ke seluruh bodi mobil.”
Bisa enggak pindah rumah. Aku sudah tidak tahan membersihkan plastik sampah yang dilempar ke halaman belakang, ke bodi mobil, dan mendengar tangisan Ms. Watson hampir setiap malam,” sergah istriku suatu malam.
Aku tidak langsung menjawab, hanya mengambil kontrak sewa rumah dan menunjuk poin yang menyatakan, penyewa hanya boleh pindah saat kontrak belum selesai, jika ditarik pulang ke Indonesia atau jika terjadi krisis ekonomi yang menyebabkan penyewa tidak bisa memenuhi sewa kontrak.
Istriku tampak putus asa. Sejak itu kami tidak pernah lagi parkir di depan rumah Ms. Watson. Musim dingin yang mulai menusuk tulang seolah menyelesaikan semua masalah. Tidak ada lagi tangisan panjang yang mengganggu hampir sepanjang malam. Masalah mobil juga perlahan menghilang. Musim dingin seolah memaksa setiap orang fokus pada urusan masing-masing.
Hanya aku, yang setiap hari harus menggunakan transportasi umum, menderita karena musim dingin. Aku tidak hanya tersiksa oleh angin dingin yang menembus, menusuk tulang, juga oleh perjalanan panjang melewati lapangan di belakang area tempat tinggal kami.
Tidak ada kehidupan di lapangan, yang biasanya selalu ramai saat musim panas. Padahal baru pukul 6 sore. Aku belum pernah mengalami gangguan atau hal-hal aneh lain saat melewati lapangan. Sampai suatu saat ketika sudah agak larut, dan aku memutuskan untuk melewati lapangan yang dari jauh sudah kelihatan gelap menakutkan.
Lapangan yang seharusnya bisa kulewati dalam 5-7 menit malam itu serasa berjam-jam dan aku baru sampai di tengahnya, mendekati pepohonan, tempat anak-anak muda mabuk-mabukan dan merupakan daerah yang paling menakutkan. Dari kejauhan aku melihat bayangan seorang wanita yang berjalan mendekati pepohonan. Dan aku berusaha memperlambat langkah, mencoba memperhatikan wanita yang perlahan menghilang dalam gerombolan pepohonan.
Sekitar 10 meter dari pepohonan, aku melihat wanita tadi keluar berjalan tertatih-tatih tanpa menggunakanwalking chair. Terkesiap aku melihat Ms. Watson yang keluar dari pepohonan. Spontan aku menyapa, ”Are you okay,” dan seperti sudah diduga dia tidak bereaksi dan berkata sepatah pun.
Sampai di rumah aku hanya duduk tanpa berkata apa-apa, dan melihat ke jalan kalau-kalau ada yang lewat. Menit, jam berlalu. Tidak ada tanda-tanda yang lewat. Apalagi Ms. Watson. Istriku yang heran karena aku tidak beranjak di kamar dan terus melihat ke bawah, bergumam, ”Kalau musim dingin enggak banyak orang yang lalu lalang di jalan.”
Dengan singkat aku menyatakan tadi melihat Ms. Watson di lapangan jalan tidak menggunakan walking chair. ”Pakai kursi roda,” istriku cepat menimpali. ”Enggak pakai kursi, roda juga tidak walking chair. Jalan biasa seperti orang normal,” jawabku.
Istriku tidak berkata apa-apa. Aku hanya mengangkat bahu dan terus memperhatikan kalau-kalau ada orang yang lewat. Mungkin karena sudah mulai larut tetap tidak ada yang lewat.
Sejak saat itu, entah kenapa aku semakin sering bertemu dengan Ms. Watson di jalan, di bus, dan dia seperti orang normal lainnya, tidak menggunakan walking chair. Tapi istriku hanya mengangkat bahu mendengar ceritaku tentang Ms. Watson.
Ms. Watson kembali menghadiri hari-hari kami seiring pergantian musim. Dia juga semakin dekat dengan keluarga kami. Ia terlihat sering berbicara dengan pembantuku dan tertawa-tawa di halaman belakang. Sering juga ia memberikan mainan kepada anak-anakku yang suka bermain pasir-pasiran.
Pergantian musim membawa perubahan sangat besar. Semua terlihat sangat menyenangkan. Sampai pada suatu sore, istriku dengan panik menelepon, memberitahukan anak kami yang perempuan menghilang. Ia yang sedang menghadiri kegiatan ibu-ibu di kantor kami bergegas pulang dan memintaku juga segera pulang.
Aku minta istriku tidak panik dan menelepon semua teman sekolah anakku yang kebetulan rumahnya berdekatan. ”Udah ditelepon semua. Pulang saja sekarang,” sergahnya. Tanpa menjawab aku segera bersiap-siap pulang.
Di rumah, aku melihat mobil polisi parkir di depan. Aku mulai panik. Ini pasti sangat serius.
Waktu aku masuk, polisi sedang menanyai pembantuku dan istriku secara terpisah. Mereka juga bertanya, aku di mana waktu anakku hilang, pekerjaanku apa, dan sebagainya. Setelah menjawab semuanya aku balik bertanya, apakah polisi sudah mencoba menelusuri poin di mana anakku terakhir berada. Mereka menyatakan akan melakukannya setelah semua informasi yang ingin mereka ketahui dari kami dikumpulkan. ”Dalam soal kehilangan anak, informasi pertama harus dari orang terdekat,” jelas seorang polisi.
Malam semakin gelap, dan rasanya tidak habis-habisnya mereka mengorek informasi dari pembantuku dan istriku. Anak kami yang laki-laki juga ditanya. Dan akhirnya mereka pamitan. ”Besok akan kita lanjutkan pencarian, sekarang sudah terlalu malam,” kata kepala penyidik.
Malam itu kami tidak ada yang bisa tidur. Istriku tidak hentinya menangis. Guru sekolah anakku yang menelepon menyampaikan simpati berjanji akan meminta semua orangtua teman sekelas anakku membantu mencari anak kami. Brosur dan foto anak kami sudah disebarkan. Sampai hari ketiga anak kami juga belum ketemu. Polisi sudah tidak datang lagi ke rumah kami. Kami semua sudah letih karena sudah berhari-hari tidak tidur.
Hari ke-4, istriku tiba-tiba berteriak, ”Nisa,” menyebut nama anak kami. Kami semua terbangun. ”Aku mendengar anak kita berteriak, ’Mamaaa…’,” katanya menjelaskan. ”Kamu bermimpi Nisa berteriak memanggil ’Mama’,” ujarku. ”Tidak, aku jelas sekali mendengar Nisa berteriak, ’Mama’.” Suaranya sangat dekat, katanya lagi meyakinkan. ”Aku masih bisa membedakan mimpi dan bukan,” tukasnya ketika aku yang menyatakan kemungkinan dia bermimpi mendengar anak kami berteriak ”Mama.”
Aku kemudian mengirimkan SMS kepada Robert menceritakan mimpi istriku. Dengan singkat ia membalas akan mencoba melihat apa yang bisa dilakukannya perihal teriakan ”mama” yang didengar istriku.
Esoknya, aku ke kantor karena sudah lima hari tidak masuk. Aku minta istriku menelepon Robert kalau-kalau dia menemukan sesuatu. Istriku tidak menjawab dan juga tidak bereaksi apa-apa ketika aku meninggalkan rumah. Sorenya, istriku berteriak di telepon, ”Anak kita sudah ketemu. Dia di kamar Ms. Watson!” Aku terdiam dan langsung bergegas pulang. Di rumah, Nisa terlihat asyik bermain kereta-keretaan, dikerubuti teman-teman sekolah dan guru-gurunya.
Robert dan istriku menjelaskan Nisa ditemukan di kamar Ms. Watson sedang bermain-main mobil-mobilan dan kereta-keretaan. Ketika menerima SMS-ku semalam, Robert langsung menghubungi perawat dari Councilmemberitahukan istriku mendengar teriakan anakku. Setelah meyakinkan berkali-kali, petugas Councilakhirnya setuju menambah petugas dan melihat kemungkinan menemukan putri kami waktu membawa Ms. Watson untuk terapi.
Ketika menggendong Ms. Watson dari lantai atas untuk terapi, petugas Council menemukan putri kami sedang asyik bermain mobil-mobilan dan kereta-keretaan. Ms. Watson menyatakan Nisa tidak mau pulang dan asyik bermain-main di kamarnya. Petugas kemudian memanggil Robert dan istriku yang kemudian membawa Nisa pulang. Tidak ada kehebohan dengan ditemukannya anak kami, juga tidak ada polisi yang datang. PetugasCouncil menegaskan tidak ada yang aneh saat anak kami ditemukan. Kasus hilangnya Nisa selesai begitu saja. Juga tidak ada yang menyadari sejak peristiwa itu Ms. Watson tidak lagi tinggal di sebelah kami. Councilmemutuskan untuk memindahkan Ms. Watson guna terapi lanjutan. Kehidupan berjalan normal sesuai pergantian musim.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Des Alwi
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kompas” pada 24 Agustus 2014