Mudik ini, Ah, Jangan Terulang

Karya . Dikliping tanggal 25 Juni 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Lampung Post

Oke oke, baik. Kalau kau tak mau mudik ke ibuku, aku bisa sama Adel!” kata istriku. Suaranya meninggi. Tentu itu adalah ancaman.

Sebetulnya, tahun ini kami sudah sepakat tak mudik. Sebab, sudah dua tahun berturut-turut berlebaran di kampung istriku. Mudik ke orang tuaku dilakukan empat tahun lalu.

Awal kami baru membentuk rumah tangga, dengan niat saling percaya dan saling menjaga hal-hal yang mungkin dianggap paling pribadi, kami bersepakat mudik dilaksanakan berganti-ganti dan diselingi tak mudik sekali. Jika tak mudik itu kami manfaatkan silaturahmi ke kerabat yang bukan perantau. Memang sunyi karena kami tinggal di kota
berpenghuni urban.

Tetapi belakangan ini, istriku mendominasi mudik agar kami ke kampung kelahirannya. Adel, yang kini berusia 17 tahun kerap protes. “Bunda itu egois! Gak mau ngalah. Adel juga bosen lo ke rumah nenek,” ujar anakku semata wayang sambil merajuk.

“Lalu mau Adel?

“Ya, gantianlah ke rumah Oma. Aku juga kan kangen, oma juga. Lagian kotanya asyik…” jawab anakku.

Istriku punya prinsip: sekali memilih tak akan berubah. Itu juga berlaku baginya di dunia politik. Kalau kata dia golput, biarpun ada yang mau bayar agar memberi suaranya tidak akan dilakukan. Namun, misal pada pilgub kali ini, ia sudah menyatakan pilihannya pada petahana, meski tak dikasih amplop tetap pilihannya. Hati nurani tak boleh dilelang.

Lalu, yang tak kusuka, keteguhan hatinya itu terkadang ke hal-hal yang cenderung memupuknya menjadi egois. Salah saja dia tetap benar, apalagi ia yakin kalau dia benar semakin di atas awan.

“Kita sudah 3 lebaran ke rumah ibu, tahun ini kita absen. Selain menghemat ya karena kesepakatan kita…” ujarku lembut. Ternyata suaraku yang lembut bukan meluruhkan hati istriku. Ia tetap berkukuh tahun ini mudik ke kampung kelahirannya. Alasan dia, ibu sudah uzur dan berbeda dengan ibuku yang mungkin baru 70 tahun. Selain itu, ia sudah kadung berjanji dengan teman-teman semasa SMA di kotanya; ingin reuni satu gank-nya. Ia pernah bercerita, sewaktu di SMA punya kelompok belajar sekitar 10 orang: 7 perempuan dan 3 lelaki. Semuanya sudah berkeluarga dan punya anak.

“Bagaimana gitu?” kata dia suatu kesempatan.

Aku tak menjawab. Dalam hati aku berharap ia akan membatalkan janji reuni bersama teman-temannya. Namun, kenyataannya ia berkeras mengajak kami berlebaran di kampungnya. Sementara aku dan Adel sudah sepakat, Lebaran kali ini mau ke pantai. Berkecipak dengan ombak dan asinnya laut.

Berkali-kali aku memintanya untuk kembali pada kesepakatan. Artinya, berganti-ganti mudik ke kampung siapa, dan satu kali tidak ke mana-mana. Apalagi, kalau merujuk pada tempat kelahiran Adel, ya di kota S ini yang kini menjadi tempat tinggal kami.

“Adel juga harus mendapat hak, itu namanya adil…” ucapku suatu malam sebelum kami tidur agar tak kesiangan bersahur. Istriku tak menanggapi. Ia asyik dengan telepon pintarnya. Mungkin ia sedang bercakap-cakap dengan kawan-kawannya melalui WhatsApp sehingga suaraku masuk kuping kanan dan ke luar kuping kirinya. Atau ia sengaja tak mau lagi berdiskusi soal mudik yang sudah diputuskannya? Entahlah.

*

Istriku mengancam tetap bermudik ke kampungnya walaupun aku memilih tidak pergi. Ia sudah membujuk Adel saat aku ke kantor. Kini aku kehilangan dukungan. Seperti calon legislatif atau calon kepala daerah yang ditinggal konstituen. Meski aku yakin, Adel berat meninggalkan diriku sendiri di rumah.

Ia mengkhawatirkan bagaimana aku makan saat Lebaran? Siapa yang menyiapkan ketupat dan sayur daging Soalnya aku sudah terbiasa sejak remaja pada hari Lebaran harus disediakan ketupat dan lauk-pauknya. Dan kekhawatiran lainnya. aku tersenyum.

“Alangkah mudahnya kalau mau makan ketupat Adel? Abi bisa ke rumah kawan, dapat juga kan ketupatnya…” ucapku semangat demi anakku yang khawatir padaku.

Sengaja aku besarkan volume suaraku supaya didengar istriku. Namun, ia tetap bergeming. Matanya tertuju
ke layar telepon genggamnya. Kadang kulihat ia tersenyum-senyum.

“Bunda, kalau kita jadi pergi, kayak mana Abi? Kasihan sendirian di rumah…” Adel mengusik bundanya. istriku hanya menatapnya sesaat.

“Bunda, dengar gak sih aku ngomong?”

“Ya sudah kalau Abi tak mau mudik. Adel mau ikut bunda atau Abi. Titik.”

Suasana mulai gerah. Sebentar lagi berbuka puasa. Agar tak makin riuh, aku keluar mencari takjil di kedai- kedai yang tumbuh bak jamur di saat Ramadan. Aku pulang kurang dari 5 menit berbuka puasa. Suasana sudah mulai tenang.

Seusai berbuka dan salat magrib, istriku kembali mengajukan pertanyaan padaku. Apakah aku akan mudi ke kampungnya atau memilih tinggal di rumah. Wajahnya mulai tak suka. Aku diam.

“Jawab yang tegas dong!” katanya.

“Saat ini aku belum ada jawaban. Belum punya keputusan. Masih pada kesepakatan kita dulu…”

“Sesekali bolehlah kita abaikan kesepakatan. Tak harus pada keputusan yang kita sepakati. Peratura saja bisa diubah-ubah, bergantung pada situasi dan kondisi….” Balas istriku.

Ah, aku harus bilang apa lagi?

*

Akupun ikut mudik ke kampung istriku. Ini setelah kupertimbangkan amat matang . Membayang kan arus mudik dan arus balik yang padat, aku tak tega melepas istriku dan Adel menuju kampung ibu dengan mengendarai mobil sendiri. Apalagi jalan lintas Sumatera ke kampung istriku selain sepi, juga melewati perkebunan karet, hutan, dan menyeramkan.

Pembegal dikenal sangat kejam. Pengendara mobil dengan modus lempar telur yang sudah diberi ra- muan lain ke kaca depan. Apabila kita aktifkan wiper maka semakin menutup pandangan. Sebaiknya dibiarkan sampai mendapati lokasi aman, misalnya SPBU, kantor polisi, atau perkampungan yang warganya masih terlihat di luar rumah.

Namun, bagaimana jika istriku ternyata grogi? Sehingga ia justru menggerakkan wiper? Tak terbayangkan apa jadinya anak dan istriku, terutama keselamatan jiwanya? Para pembegal jalanan yang sadis itu bisa saja mengoyak-ngoyak tubuh istri dan anakku. Membayangkan itu aku ngeri, dan tak mungkin tega membiarkan mereka pulang tanpa kutemani.

“Oke, Abi ikut mudik. Tetapi, setelah ini kita kembali pada kesepakatan awal. Janji?”

“Oke. Plis sekali ini deh. Lagian ibu sudah uzur, kasihan kalau tak dijenguk. Mungkin saja tahun depan kita tak lagi ke sana, karena ibu…”

“Sstt..” sergahku. “Jangan mendahului takdir Allah. Kita doakan ibu tetap sehat dan lama bersama kita…” lanjutku.

“Amin…” jawab istriku.

“Amin…” sambung Adel.

Tiga hari menjelang Lebaran, kami menuju kampung kelahiran istriku. Ibu, kabarnya, sangat senang menyambut kedatangan kami. Apalagi Adel yang kini sudah berusia 17 tahun persis pada 16 Juni. Neneknya berjanji
mau merayakan ulang tahun Adel. Kata istriku lagi, ibu sudah memesan tarup yang akan dipasang pada sehari sebelum Lebaran.

Aku maklum. Ibu melakukan itu karena Adel adalah cucu perempuan satu-satunya dan tertua dari lainnya. Sejak Adel kecil, neneknya memang sangat sayang melebihi dari cucu-cucunya yang lain. Nah, bersamaan merayakan ulang tahun Adel, istriku mengundang kawan-kawannya semasa SMA untuk temu kangen. Istriku menyebut: reuni.

Kami baru saja keluar dari kapal di Pelabuhan Bakauheni. Sekitar 7 jam lagi baru sampai rumah ibu. Kini sudah pukul 02,00 dini hari. Setiba di Kalianda, ibu kota Kabupaten Lampung Selatan, kami istirahat sejenak di rumah makan yang buka 24 jam.

Kami sahur di sana. Di rumah makan Minang ini begitu ramai. Sulit memarkirkan kendaraan, biar pun sudah dibantu juru parkir di situ. Pengunjung didominasi kendaraan pribadi. Mereka sama-sama ingin mudik. Ada yang ke Lampung, Sumatera Selatan, hingga provinsi yang ada di Pulau Sumatera ini.

Aku memerhatikan Adel. Ia amat bahagia tampaknya. Sebab, bukan saja akan bertemu neneknya, tapi ulang tahunnya dirayakan istimewa. Kata istriku, ibu sudah memesan organ tunggal. Waw!

Kami tinggalkan rumah makan itu seusai salat subuh. Perjalanan menyenangkan, suara Adel terdengar pelan. Aku hanya tersenyum dari kaca spion di dekat kepalaku. Mobil kupacu kencang demi mengejar jam 11 pagi sudah sampai rumah. Lalu aku, biasanya, menuju kamar tidur yang selalu disediakan ibu setiap kami pulang saat Lebaran.

Terbayang wajah ibu mertuaku. Teringat ibuku di rumah yang mungkin pula tengah menanti kehadiranku untuk sungkem di lututnya. Dua ibu yang menari-nari dalam benakku. Aku seakan melihat mereka yang melambai di depan mobilku. Pandanganku buram. Seperti ada pecahan telur di kaca depan. Aku hanya mendengar benturan keras, lalu aku tak tahu apa-apa.

Lima jam kemudian aku baru membuka mata. Di sebelahku duduk istriku, di dekat kepalaku ada Adel
yang terisak.

“Untung abi cepat membanting setir ke kanan dan menabrak tiang listrik,” istriku mulai bercerita. Aku berupaya mengingat-ingat. Tak bisa juga.

“Untung pula kita selamat. Hanya mobil…” Adel menyambung.

“Jangan pikirkan mobil. Itu bisa diganti. Kalau nyawa…” sergah istriku.

Aku masih diam. Dalam hati aku berucap, “Mudik ini, ah, Jangan Ter- ulang…”

*

Karanganyar, 28 Mei—5 Juni 2018

[1] Disalin dari karya Isbedy Stiawan ZS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” 24 Juni 2018