Mukena Berwarna Langit

Karya . Dikliping tanggal 5 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
TAHUN lalu ibu berangkat haji, dan sampai tahun ini ia belum kembali. Humaira merindukan ibu. Ia merindukan senyumnya, merindukan suara dan cerita-ceritanya menjelang tidur. Humaira benar-benar takut kalau wajah ibu menghilang dari ingatannya. Oleh sebab itu, semenjak ibu berangkat haji 
tahun lalu dan tak kunjung kembali, humaira memajang foto ibu lebih banyak lagi. Di dinding-dinding, di atas buffet, di daun lemari, di pintu kamar, di ceruk jendela, di dalam tas sekolah, dan bahkan di atas meja makan.
Ayah tak pernah berkomentar atas hal itu. Misalnya menanyakan, mengapa foto ibu ada di mana-mana? Dan sebelum ayah atau kakek atau nenek bertanya seperti itu, Humaira telah menjelaskan bahwa foto ibu harus ada di mana-mana sebelum ibu kembali dari tanah suci. Sederhana, Humaira hanya ingin melihat dan mengingat wajah ibu. Senyum itu. Tatapan mata itu. Dan lekuk wajah yang lembut itu.
Humaira tahu, diam-diam ayah suka menatap foto yang dipajang Humaira di mana-mana itu. Ayah selalu menatapnya dengan mata nyaris menutup. Seperti mata yang terkena kelilip. Suatu malam, menjelang tidur, ketika Humaira bertanya untuk ke sekian kalinya kapan ibu akan kembali dari tanah suci, ayah terdiam menatap mata Humaira. Mata ayah begitu dalam. Hingga mata air tiba-tiba menyembul dari sana.
”Ayah, apakah pergi haji memang butuh waktu yang lama?” Tanya Humaira, sambil melirik foto ibunya. Seakan ia ingin ibunya ikut mendengar pertanyaan yang selalu diulang-ulang itu.
”Iya, Nak. Tentu saja pergi haji butuh waktu yang lama,” balas ayah. Ayah paham, Humaira tak akan pernah puas dengan jawaban seperti itu. ”Mengapa?” itulah pertanyaan Humaira berikutnya.
”Karena ada banyak hal-hal baik yang harus dilakukan ibumu.” Dan itulah jawaban ayah, jawaban yang juga pernah ia sampaikan sebelumnya.
”Apakah ibu tidak akan lupa pada oleh-oleh yang kupesan?”
”Oh, pasti ibumu takkan lupa. Mukena berwarna langit, kan?” Humaira mengangguk, tanpa senyum,
”Lalu kapan ibu akan kembali?” Ayah benar-benar jenuh dengan pertanyaan itu. Jenuh karena ia tak
tahu harus menjawab apa. Jenuh karena ia harus memberi jawaban bohong terus menerus. Sebenarnya, ayah sangat ingin menjelaskan pada Humaira, bahwa ibunya tak akan pernah kembali dari tanah suci. Ibunya telah dimakamkan di tanah haram itu setahun lalu. Sebuah musibah yang tidak diinginkan siapa pun terjadi. Musibah yang tak ingin dikenang oleh siapa pun. Musibah yang menelan ratusan nyawa jemaah haji, termasuk ibu Humaira. Jenazah ibu memang tidak dibawa pulang. Itu adalah wasiat mendiang sang ibu, beberapa jam sebelum ia meninggal: ia ingin dimakamkan di tanah itu.
Sungguh, tak pernah terpikirkan sebelumnya di benak ayah, bagaimana ia harus menjelaskan semua itu pada Humaira. Mungkin bocah enam tahun itu sudah memahami apa itu mati. Hanya saja, ayah tak pernah sampai hati untuk menyampaikannya. Ia takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada psikis bocah itu. Humaira begitu dekat dengan ibunya. Dan kepergian ibu yang tiba-tiba itu, bagi ayah seperti mimpi buruk yang tak pernah selesai. Terkadang, ayah masih merasa bahwa ibu Humaira
benar-benar akan kembali dari tanah suci.
Maka, selama hampir setahun terakhir, terus menerus ayah membohongi Humaira dengan mengatakan, suatu saat ibu pasti akan kembali. Suatu saat yang mustahil. Setiap malam, ayah menemani Humaira tidur. Dan setiap malam pula, Humaira berdoa menjelang tidur lalu menggumamkan sebuah doa khusus, ”Semoga ibu cepat kembali. Aku kangen sekali.”
Ayah selalu membisu ketika Humaira menggumamkan doa itu. Doa yang diulang-ulang saban hari, saban malam menjelang tidur, dari bulan ke bulan. Terkadang ayah merasa aneh sekaligus sedih. Kalau pun doa Humaira didengar Tuhan, Tuhan tak mungkin mengabulkan doa itu. Meski Tuhan berkuasa atas apa pun, rasanya tetap mustahil ibu Humaira bangkit dari makam dan pulang untuk menemui Humaira.
”Apakah Tuhan akan mendengar doaku?” Tanya Humaira suatu malam, barangkali saat itu ia merasa
bosan karena doa yang ia panjatkan selama puluhan bahkan ratusan kali masih belum membuahkan hasil.
”Tentu saja, Tuhan Maha Mendengar, pasti ia mendengar doamu,” jawab ayah, sambil menambahkan dalam hati, ”Dia memang mendengarmu, Nak, tapi Dia tak akan mengabulkannya. Tak akan.”
Setelah Humaira terlelap, ayah memeluk bocah itu dan mencium keningnya lama sekali. Terkadang sampai ayah tertidur. Sesekali sumber air dari mata ayah yang dalam itu masih saja menyembul.
Tepat jelang setahun kepergian ibu Humaira, ayah memutuskan untuk menjelaskan semuanya kepada Humaira. Dengan jujur, tanpa ada yang disembunyikan. Tanpa ada yang ditutup-tutupi. Namun, malam itu, ketika ayah hendak menjelaskan segala sesuatunya pada Humaira, Humaira malah tertidur lebih awal hingga penjelasan yang sulit itu harus tertunda. Namun, esok paginya, pagi-pagi sekali Humaira menemui ayah dan mengatakan, bahwa semalam ibu pulang dan menemui Humaira. Kata Humaira, ibu bilang, bahwa Humaira tak perlu lagi menunggu ibu. Karena ibu yang akan menunggunya. Menunggu Humaira. Di sebuah tempat yang sangat tinggi dan indah. Suatu saat pasti Humaira akan bertemu kembali dengan ibu.
Ayah tersenyum tak percaya. Barangkali anak ini semalam bermimpi, pikir ayah. Namun ayah terpaku dan tenggorokannya bagai tercekat ketika ia menyadari bahwa Humaira tengah mengenakan sebuah mukena berwarna langit. Ayah tak ingat Humaira punya mukena seperti itu.
Ketika ayah bertanya, ”mukena siapa yang kau kenakan itu, Sayang? Indah sekali.” Dengan wajah jernih dan riang, Humaira menjawab, ”oleh-oleh dari ibu. Semalam ibu datang dan mengantarkannya
padaku.”
Seperti yang sudah-sudah. Ayah hanya bisa membisu. Dan seperti yang sudah-sudah, sepasang mata air kembali menggenang dari mata ayah yang dalam itu. ❑ – k
Malang, 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mashdar Zainal
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” Minggu 4 Oktober 2015