Mulut Siman

Karya . Dikliping tanggal 29 Desember 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
HAMPIR setiap hari, seusai shalat Magrib, Kiai Suleman berbicara di atas mimbar. Entah kenapa, ia suka sekali mengingatkan para jamaah masjid untuk menjaga mulut. Kata Kiai Suleman lembut, di akhirat nanti, banyak manusia yang masuk dan tercebur ke dalam api neraka gara-gara tidak mampu menjaga mulut. Mereka suka membuat fitnah dan hobi berbohong, gemar bergunjing, dan senang berbicara kasar.

Diam adalah emas, begitu Kiai Suleman kerap kali berkata dengan wajah seperti bercahaya. Karena emas mahal dan berharga, maka tentu saja, diam itu juga mahal dan berharga. Tak sembarang orang punya emas dan tak sembarang orang bisa diam. Hanya orang-orang tertentu yang mempunyai emas dan hanya orang-orang tertentu pula yang bisa diam. Emas diperoleh dengan kerja keras, diam didapatkan dengan otak waras.

Semua mendengar nasihat Kiai Suleman. Semua mengikuti nasihat KiaiSuleman. Tetapi, tidak dengan Siman. Bagi Siman, berbicara itu harus dan wajib hukumnya. Kita berdosa kalau malas bicara. Apa guna mulut bila Tuhan tak menciptakannya buat bicara? Kalau malas berbicara, sama saja kita telah menyia-nyiakan benda ciptaan Tuhan itu. Maka, Tuhan selalu memberikan keuntungan kepada orang-orang yang senang bicara sebab orang itu telah menghargai mulut sebagai benda ciptaan-Nya.

‘’Ingat ya, salah satu keuntungan orang yang senang bicara adalah ia selalu lebih populer dibanding orang yang cuma bisa diam,’’ kata Siman sembari terkekeh. Siman memang telah membuktikannya. Tidak ada orang yang lebih dikenal selain dirinya. Siman dikenal oleh hampir segala lapisan, dari anak kecil, orang dewasa, sampai kakek-nenek. Nama Siman menempel pada ingatan dan melekat kuat pada jendela, pintu, dan langit rumah. Beberapa orang yang tidak suka sudah berusaha membuang dan mengubur nama Siman dalam-dalam dengan beribu alasan, namun nama itu selalu muncul kembali.
Siman sadar itu dan biasanya ia hanya tersenyum. Sungguh, Siman kadung cinta dengan mulut yang sudah melambungkannya. Saking cintanya dengan mulutnya itu, Siman suka membiarkannya berbicara sekehendak hati. Di warung, di jalanan, di lapangan, dan bahkan di tempat ibadah, mulut Siman bersuara seolah lepas kendali, bebas, dan apa adanya. Mulut Siman bahkan berkeliaran tanpa seorang pun berani mencegah, memprotes, apalagi sampai membekapnya. Entah kenapa.
Pernah suatu hari Sukartono pulang kampung. Sukartono adalah seorang direktur di sebuah BUMN. Melihat Sukartono pulang dan mengadakan acara di masjid, berduyun-duyun orang datang. Mereka bangga karena kampung mereka berhasil melahirkan seorang tokoh terpandang. Namun, apa yang dilakukan Siman? Siman malah menghindar dan ngeloyor pergi setelah shalat di masjid. Saat orang-orang bertanya, kenapa ia tak hadir di acara yang diadakan Sukartono, Siman menjawab lantang dan lancang.
“Tikus itu pulang karena dia perlu doa. Dia pikir, doa orang-orang seperti kalian yang jujur, polos, dan apa adanya, akan mampu menyelamatkan dirinya dari jerat aparat.”
“Tikus? Siapa itu tikus?” Orang-orang bingung.
“Ya, Panut itulah tikusnya,” kata Siman menyebut nama kecil Sukartono seraya pergi meninggalkan orang-orang yang saling berpandangan.
Terbukti, lima bulan kemudian, kampung gempar. Lewat televisi, orang-orang melihat Sukartono ditangkap oleh aparat. Ia diduga korupsi. Orang-orang kaget, mereka tidak menyangka Sukartono berbuat seperti itu. Beberapa orang tiba-tiba ingat Siman, juga ingat tikus. Namun, Siman keburu tidak peduli dengan orang-orang, lebih-lebih dengan Sukartono. Mulut Siman sudah membidik orang lain dengan kata-kata tajam menyengat: bodoh, tolol, goblok, atau bahkan babi, anjing, atau monyet.
Siman tak mengenal istilah menjaga mulut. Mulut harus diberi kebebasan penuh, begitu katanya. Sekali kamu membatasi mulut untuk bicara, maka suatu kali pasti hatimu akan protes keras. Hatimu tidak senang karena kamu berusaha mengekang mulut, sedangkan kamu membiarkan hatimu bebas berkelana untuk bertemu dan mendekap erat iri dan dengki, sombong dan angkuh. Ingat, hatimu selalu ingin ditemani mulutmu, tegas Siman.
***

BEGITULAH, tidak seorang pun yang bisa menghentikan mulut Siman. Mulut Siman berkelana menjelajahi sudut-sudut rumah dan seakan-akan berdiam tenang di situ. Baragam sakit yang pernah ia derita, seperti sariawan, gigi berlubang, atau radang, bahkan tidak juga kuasa menghentikannya. Mulut Siman berbicara bebas sebebas-bebasnya.

Malah, apabila sehari saja mulut Siman coba untuk tidak bicara, Siman bisa sakit karenanya. Ia pernah mengalami dan Siman tidak mau mengulanginya lagi. Begini ceritanya.
Suatu kali di desanya diadakan pemilihan kepala desa. Ada dua orang yang maju mencalonkan diri. Siman paham siapa dua orang itu. Tapi, di sinilah masalahnya. Siman bingung memilih sebab dua orang itu sama baiknya kepada dirinya. Orang pertama menyelamatkan Siman dari jerat hukum setelah dirinya ditangkap polisi akibat memimpin demonstrasi penolakan pendirian pabrik semen. Orang kedua memberi Siman uang buat biaya operasi emaknya yang terkapar diserang gula saat dirinya tak punya duit sama sekali.
Siman benar-benar bimbang. Akhirnya, Siman netral dengan cara tidak memilih keduanya. Di sinilah Siman kemudian menyesali sikapnya. Karena, justru orang pertamalah yang terpilih, padahal Siman paham benar bahwa orang yang pertama adalah babi. Ia suka sekali berkubang di tempat yang kotor, ia makan apa saja, dan ia senang memperkaya diri. Saat waktu bicara bahwa orang itu ternyata memang tak layak dipilih, Siman meradang.
“Kenapa kalian pilih babi jadi kepala desa?” tanya Siman keras.
Orang-orang terkejut. Mereka memang tidak suka dengan sang kepala desa, tetapi mereka lebih tidak suka kepada sikap Siman. Bukankah pada saat pemilihan Siman hanya diam? Bukankah apabila ditanya siapa jagoannya, Siman hanya bilang tidak berpihak? Lalu, mengapa setelah salah satunya terpilih dan dianggap tidak becus memimpin, ia marah-marah?
“Kenapa sejak awal kamu tidak bilang kalau dia babi?” Orang-orang panas.
Kali ini, Siman diam. Ia sungguh menyesal. Seminggu lebih kepala Siman pusing, badan meriang, dan tangan serta kakinya kaku, tidak mampu ia gerakkan. Bolak-balik Siman pergi ke dokter hingga bermacam obat terpaksa ia telan. Semua nihil. Terakhir, ia rela dirawat di sebuah rumah sakit. Namun, Siman tidak sembuh juga hingga ia nekad pulang. Siman malah merasakan kesembuhan pada tubuhnya setelah setiap hari mulutnya berucap dan berteriak keras: babi, babi, babi!
Semenjak itu, Siman berpikir bahwa ia akan senantiasa sehat bila membebaskan mulutnya dari pengaruh apa saja. Orang terhormat, barang berharga, atau jabatan tinggi, tidak boleh menghalangi Siman bicara. Sekali Siman berusaha mengekang mulutnya, maka ia pasti akan dirajam sakit. Siman yakin itu sebab tidak sekali dua kali ia mengalami. Sungguh, Siman tak kuat menahan sakitnya. Meski demikian, ini bukan berarti Siman selalu membanggakan mulutnya. Suatu kali Siman pernah mengadu kepada Kiai Suleman. Siman merasa mulutnya telah membuat penderitaan bagi banyak orang. Gara-gara ia bilang kerbau, Jarot yang memang bodoh tetapi ngotot ingin jadi ketua kelompok tani, akhirnya gagal. Parmin tidak dapat maju ke pemilihan keluarga teladan sebab Siman menjuluki rumah tangga Parmin mirip rumah laba-laba. Rapuh, lemah, dan mudah terkoyak. Siman ingin mulutnya normalnormal saja, seperti mulut orang lain. Namun, Kiai Suleman malah terkekeh mendengar penuturan Siman.
“Ya sudah, terima saja, itu sudah jadi takdirmu,” kata Kiai Suleman santai.
“Tapi, bukankah Kiai bilang kalau kita harus menjaga mulut kita?” protes Siman.
“Itu kalau bisa. Kalau nggak bisa dan kamu malah sakit bagaimana?”
“Saya bisa masuk neraka nanti, Kiai.”
“Memang kamu Tuhan, bisa menentukan masuk dan tidaknya orang ke neraka?”
Siman menjadi bingung. Ia merasa Kiai Suleman tidak memberi jalan keluar atas masalah yang dihadapi. Namun, ketika hendak pulang, Siman terkejut sebab Kiai Suleman justru berterima kasih kepada dirinya. Kata Kiai yang sudah sepuh itu, mulut Siman membuat orang-orang di sini jadi lebih hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Mereka takut mendapatkan cap sebagai tolol, bodoh, babi, monyet, atau anjing. Kata Kiai Suleman lagi, mulut Siman adalah api ketika mulutmulut lain tidak berani bicara tentang kebenaran sebab takut, khawatir, atau ewuh-pakewuh.
Siman lega. Hatinya tenang. Karena itu, Siman tak peduli saat keberangkatannya berhaji dijadikan barang taruhan bagi banyak orang. Kata orang-orang, ada tiga kemungkinan yang terjadi saat dirinya sudah berada di Makkah. Pertama, Siman akan diserapahi orang sebab dirinya senang menyerapahi orang. Jadi, ini semacam pembalasan. Kedua, Siman akan menyerapahi orang karena serapah Siman sudah bawaan lahir. Jadi, di tanah suci pun tak akan hilang. Ketiga, Siman tak akan bisa bicara. Ini semacam hukuman dari Tuhan.
***
ENTAH apa yang terjadi saat berada di Makkah, orang-orang tak tahu karena Siman tidak pernah bercerita. Tetapi, masing-masing orang ternyata punya keyakinan sendiri setelah melihat Siman pulang. Ada yang yakin Siman diserapahi orang, ada yang percaya Siman menyerapahi orang, dan tidak sedikit orang yang yakin bahwa Siman tidak bisa bicara. Semua ini bisa benar karena sepulang haji, Siman telah berubah. Ya, Siman berubah total!
Mulut Siman kini tumpul, tidak tajam lagi. Mulut Siman lebih banyak diam dan mulut Siman lebih senang tidak mengeluarkan suara. Siman tiba-tiba seakan-akan pemain sepak bola profesional yang telah kehilangan gairah dan semangat untuk menendang dan menggiring bola, melewati lawan dan mencetak gol. Mulut Siman hanya mampu menebarkan desis, bisik, dan senyum.
Alhasil, mulut Siman tidak beda dengan mulut-mulut lain. Di pos ronda, di rapat-rapat, atau di jalanan, orang tak dapat menemukan mulut Siman yang dulu. Orang tidak mendengar lagi umpatan, cacian, makian, atau serapah yang biasanya mudah ditemukan. Kata-kata, seperti anjing, monyet, babi, atau bahkan celeng sudah tidak keluar lagi dari mulut Siman. Mulut Siman yang dulu hilang, entah ke mana.
Orang-orang yang penasaran bertanya kepada Siman mengenai hilangnya mulut itu, namun Siman hanya menjawab pendek.
“Malaikat meminta mulutku saat berada di negeri padang pasir.”
“Malaikat? Buat apa?”
“Kata malaikat, mulutku lebih cocok ada di sana dibanding di sini. Di sini, mulut seperti yang aku punya sudah banyak, bahkan berlebih.”
Orang-orang tersenyum kecut. Mereka sadar, mereka telah kehilangan mulut yang mampu membuat hidup mereka bergairah bak gelombang laut yang membumi, menggunung, dan bahkan melangit. Sungguh, kampung jadi sepi, mati. Kini, tiba-tiba, orang-orang rindu mulut Siman. Mereka ingin mulut Siman kembali. Tetapi, bagaimana cara mengembalikan mulut Siman yang sudah diminta malaikat? (62)
Taman Pagelaran, 12/2014
— Sigit Widiantoro, alumnus Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi UI, pekerja media, banyak menulis puisi dan cerpen, dan kini di Bogor
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Sigit Widiantoro
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” pada 28 Desember 2014