Mungkin Bulan – Di Pasar Simpong

Karya . Dikliping tanggal 18 September 2016 dalam kategori Arsip Puisi, Media Indonesia

Mungkin Bulan

Mungkin bulan, mungkin bukan, yang terbit bak
sebuntal bualan
di Bukit Mambual, yang tak tertampik dan tampak licin
bagai ubin
rumah bersalin, tempat istriku bakal berbaring barang
sepuluh pekan
ke depan; menatap langit-langit sembari meraba sekat
antara rasa sakit
dan rasa paling sakit.
Sehabis hujan, tiada yang muncul dari balik panggul
Bukit Mambual
hanya sebungkus sambal, sebakul gorengan, sewajan
jelantah, jendela
setengah terbuka serupa rengkah luka yang
dilupakan, serta sekeping
pinggan lesi yang barangkali bulan. Barangkali bukan.
Memang ada awan secebis tempat kukeluhkan pedis
rempah perawis
dan perih sariawan, namun, demi pucuk-pucuk bebukit
Mambual
—yang bertingkat juga yang bertimbal—seolah sesuatu
yang lain
hendak menyeret jiwaku yang tak kebal ke tengah
gerombol ikan jambal,
hingga yang lepas tak bakal dicari, yang pongah
tumpas digerogoti.
Ibu penjaja gorengan menumpahkan tepung dan
menaikkan api;
api pembakar sabar saat para penjual pisang pulang
ke Toili.
“Telah lewat libur pilkada, tetapi mereka belum
kembali,”
keluh ibu yang lihai menepuk dulang dan mengingat
janji-janji.
Maka ketika datang orang-orang menanyakan
penganan terbaik
di sore sehabis hujan, yang menjawab hanyalah hujah
ketiadaan.
Lantas kubayangkan istriku menunggu di teras,
menatap entah bulan
entah bukan seraya mengelus perutnya yang berisi
janin lincah kelaparan.
2015

Di Pasar Simpong

Di Pasar Simpong, pasar yang menghadap laut,
kaum dagang berharap untung dari doa sepotong selat
aroma bumbu dapur bercampur amis karang
logam membentur logam, logat mengikat logat.
Di belakang tumpukan umbi-umbian dan sayur
mayur,
seorang saluan tugur. Memandang pulau kecil di
kejauhan
barang sebentar ia tersadar; langit sedang tidur,
dan laut hanya sedikit bergetar.
Di suatu sudut, seorang bali menakar cabai dan beras;
seorang bugis menjual baju baru dan baju bekas.
Di lorong-lorong redup, gurau dan rayu saling gilas
seolah bisnis sedang bagus, dan hidup tak pernah
kurang menuntut. Tak pernah kurang buas.
Di Pasar Simpong, kehendakmu yang tumpah
disambut pucat nangka muda dan hangat kacang
tanah
pagi tak pernah lebih retak dari sotong kering yang
digantung di pinggir lapak.
Tak pernah lebih tenang dari mata seorang jawa
yang menawarkan bunyi dan udara
sebagai mainan kanak-kanak
Pasar Simpong, pasar yang rapat. Jika kau cari
ujungnya
sukar kau dapat, jika kau geming harga-harga
mencelat tiap
saat.
Seorang Gorontalo bersandar di tiang los ikan yang
kusam,
mengisap tembakau sembari bercericau tentang
tingkah angin semalam.
Sementara di belakangku, istriku yang hamil berjalan
bersejingkat.
Pada basah marmer murah, ia menggusah anyir
darah.
Hati-hatilah, sayang. hati-hatilah melangkah
sebab kerap kubayangkan dalam rahimmu juga ada
pasar
—ada tawar menawar—dimana mimpi-mimpi
dan hal-hal yang belum terjadi
adalah sejenis alat tukar.  
2015
Jamil Massa, tinggal di Gorontalo dan menulis puisi, cerita pendek, dan esai. Kumpulan puisinya berjudul Sayembara Tebu (2016).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jamil Massa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 18 September 2016