Museum dalam Kepala – Di Sehelai Kain Tenun

Karya . Dikliping tanggal 20 Desember 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Kompas

Museum dalam Kepala

untuk Luh Gede Saraswati

Tapi pagi itu ia tidak lagi memandang ke luar jendela
tidak ada harum rumpun pandan basah
perahu-perahu dari patahan kesturi
atau jatuhan daun kamboja
dilajukan pada ganih aliran air bandar
tidak ada
dan pagi itu ia tidak lagi memandang ke luar jendela.
Ia picingkan mata
menghimpun derai terakota
pecahan pualam pada tiang gedung
retakan dinding rumah dan relief bertanggalan
ia membayangkan beton-beton terus ditanam
jauh ke kedalaman tanah
tangga-tangga terus dipasak
melingkar dan meninggi, melingkar dan terus meninggi.
“Kota adalah sajak yang belum selesai,”sebaris kalimat
pernah ia ukir dengan paku pada tubir dipan.
Tapi bisa jadi kota adalah sajak yang tidak pernah selesai
tidak akan pernah tunai.
Dan pagi itu ia tidak lagi memandang ke luar jendela
sebab di luar barangkali perahu-perahu dari patahan kesturi
atau jatuhan kamboja tua
telah terbenam dalam selokan berair hitam.
Terus ia picingkan mata
seakan sebuah museum sedang dirancang dalam kepala
museum yang menghimpun doa pengharapan
pada air, pohon, dan bunga-bunga:
       pattram puspam phalam puspam phalam toyam
       yome bhaktya prayaccati
       tad aham bhaktyu pakrtam
       asnami prayatat manah….*
Jakarta, 2015
*) Bhagawadgita, Sloka 26, Bab IX, tentang persembahan berupa bunga, daun, buah-buahan dan air.

Di Sehelai Kain Tenun

untuk Romo Amanche Franck

Di sehelai kain tenun
ia bersua kembali ombak pagi bertaut
sajak seperti maut bermain dalam kabut
seorang penyair berjalan dengan tungkai kaki patah
membaca tentang revolusi dalam kitab tua di tangan
mengingat tembikar-tembikar dibuang
dari jendela lantai lima
kaca-kaca toko dihumban batu
kusen serta langit-langit rumah dibakar.
Ia patut-patut sebuah kata, “Hebron”
meski dalam kitab itu diberi arti diberi makna
tapi di tiap berita pagi hanya ditemukannya perseteruan
berabad-abad, tidak berujung tidak berpangkal.
Di sehelai kain tenun
ia bersua kembali ombak pagi bertaut
dibayangkannya sajak adalah lidah paderi
atau mualim penunggang unta
yang menghantarkan pelancong dari timur jauh
ke pandam-pekuburan para rasul.
Mualim dengan lingkar mata hitam
dan saku dipenuhi butir pasir dan sisa ketam.
Ia baca kembali tentang revolusi
berkali-kali, berulang-ulang
dan dibayangkannya sajak seperti sehelai kain
ditenun lamban dengan tangan santun.
Dibayangkannya sajak seperti kaki tanpa terompah
berlari kencang merasakan hentakan batu pecah
merasakan tusukan tunggul kayu tersumbul.
Jakarta, 2015
Esha Tegar Putra lahir di Solok, Sumatera Barat, 29 April 1985. Buku Puisi terbarunya: Dalam Lipatan Kain (2015).
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Esha Tegar Putra
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Kompas” 20 Minggu 2015
Beri Nilai-Bintang!