Musim Gugur Hay On Wye

Karya . Dikliping tanggal 25 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Majalah, Majalah Femina

Kau terbangun dari tidur yang tak nyenyak. Ah, bukan tidur sebenarnya. Tidak  ada tidur bagi hati yang resah. Yang terjadi padamu adalah berjaga sepanjang malam dengan mata yang tertutup, kelopak mata terpejam itu membawamu menelusuri ruang-ruang ingatan tanpa cahaya yang menyimpan segala yang telah kau lalui bersamanya.
    Yang kau temukan adalah uap hangat kopi pagi. Black coffee untuknya dan latte dengan manis yang tanggung untukmu. Potongan roti tawar polos, tanpa olesan mentega apalagi selai. Tak ada nasi goreng, tak cukup waktu untuk membuatnya. Bukan karena terlalu ribet bagimu untuk memotong cabai merah dan menggerusnya bersama bawang, melainkan lebih karena akan membuatmu  harus mencuci peralatan dan membersihkan dapur. Kau menyukai dapur yang bersih. Diperlukan waktu yang tak sebentar untuk mewujudkannya, maka dia selalu mengerti bila hanya menemukan roti sebagai sarapan. Sepanjang ada kopi atau teh panas, sejauh ini kau tak pernah mendapatinya menggerutu. 
    Demikian pula pagi itu. Kalau ada yang membuat pagi itu berbeda adalah karena dia membangunkanmu terlalu dini, tentu dengan secangkir kopi. Dia tahu betul titik lemahmu, aroma kayu manis, maka ditambahkannya sebatang kayu manis sebagai pengaduk. Berpadu aroma itu dengan bubuk kopi, krimer dan gula aren, memberimu stimulasi untuk membuka mata dengan segera. Bulu matamu bergetar saat dia meniupkan uap aroma hangat dari cangkir itu ke arahmu.
    “Ayo bangun.”
    “Sepagi ini kau membangunkanku,” gerutumu merajuk.
    “Pagi yang berkabut justru paling pas untuk kopi sehangat ini.” Lagi dia meniup kopi, menjadikan asap tipisnya membelai pipimu.
    “Bahkan burung-burung belum bangun.”
    “Sudah, mereka menunggu sisa rotimu.”
    Kau dengar ceriap burung-burung yang sibuk di luar sana. Jendela telah terbuka, memberikan cahaya langit yang lembut.
    “Hmmm, seharusnya kau memberiku sepuluh menit lagi, masih mengantuk,” keluhmu malas.
    “Baiklah.” Dia mengalah, meletakkan cangkir dan bergabung dalam selimutmu.
    “Sebenarnya aku cemburu pada tidurmu yang selalu pulas, membuatku terjaga sendirian.” Lengannya memelukmu dari balik punggung. “Aku ingin lebih lama bersamamu.”
    Kini seakan masih kau dengar bisikan itu. Aku ingin lebih lama bersamamu. Hela napasnya masih melekat pada daun telingamu. Ingin kau simpan segala yang tertinggal itu.
Apalagi? 
Kau tengok bilik ingatan yang lain, mencoba menemukan sesuatu yang barangkali membawa petunjuk. Tapi petunjuk apa yang bisa ditemukan dari tumpukan baju di lemari yang tak berubah, barisan buku di rak yang sama seperti bulan lalu?
    Lambat kau bangkit dari tilam, membuka jendela selebarnya. Udara pagi memberimu oksigen segar. Kau menghirup sepanjang tarikan napas. Aliran sejuk yang menentramkan. Di kebun terlihat kupu-kupu kecil hinggap di ujung daun pandan. Sebentar saja dan terbang lagi menuju rumpun yang lain. Matamu tanpa sadar mengikutinya dan kau dapati beberapa daun telah mengering. Barulah kau ingat bahwa telah tiga hari ini kau terlupa tak menyiram kebun. Bahwa sebagian besar tanaman di antaranya tetap segar, itu adalah karena curah hujan. Kau juga tak menyapu. Daun-daun kering berserak tak berpola pada teras. Mengerjap matamu tak menyembunyikan kesedihan di dalamnya. Tiga malam sudah kau berhadapan dengan hal-hal yang tak terjelaskan, membuatmu melalaikan banyak hal yang ada di dekatmu dan justru mencari yang tak kau tahu. 
*
Petugas penyidik itu mempersilakanmu duduk dengan sopan. Namun, mengapa kau  merasa bahwa kesopanan itu lebih sebagai gerak mekanis belaka? Barangkali kau melihat dari tatap matanya yang datar itu. 
“Sabar Ibu, jangan terlalu khawatir,” katanya.
Bukannya kau patuhi sarannya, justru nyaris terpicu emosimu demi berpikir bahwa dia telah menyepelekan kehilanganmu. Kekhawatiranmu dianggap tak penting. Untunglah saat yang sama, akal sehat memberimu kesadaran bahwa ledakan emosi akan membawa pengaruh buruk, bahkan blunder. Bahwa kau memerlukan tugas dan keahliannya untuk membantumu. Maka kau tahan sesak di hati dan duduk dengan baik.
“Belum mendapatkan kabar baru?” Tangannya membuka file di depannya.
Kau menggeleng.
“Mungkin Ibu bisa memberikan data keluarga yang berkaitan?”
Lagi kau menggeleng. Sudah kau berikan jawab pertanyaan itu kemarin dan  yakin bahwa data tersebut telah tertera pada catatan yang dimilikinya.
“Apakah Ibu ingat teman-teman atau pihak-pihak yang berhubungan dengannya akhir-akhir ini?”
“Sama seperti yang kukatakan kemarin, Anda telah mencatatnya,” jawabmu sengaja menekankan kalimat dengan memakai sebutan ‘Anda’.
“Maaf Bu, ini bagian dari prosedur,” mata datarnya berkedip. “Saya harus memproses  tiap laporan sesuai peraturan standar.” 
Kau tersindir, sekaligus merasa lelah pada saat yang sama. Telah berulang kali pertanyaan-pertanyaan itu kau jawab dengan data yang sama. Proses tanya jawab ini tak hanya menjemukan, justru membuatmu gemas karena seolah para petugas itu lebih berorientasi melengkapi data di atas kertas daripada melakukan tindakan pencarian yang kau inginkan. Kau berpikir bahwa dengan gerak nyata mencari maka yang hilang itu akan ditemukan, bukan dengan pertanyaan ini itu yang diulang-ulang. 
Segera mencari. Segera bergerak. Segera, segera! Marilah turun ke jalan, menelusuri lorong demi lorong demi menemukan petunjuk atau pertanda. Seseorang yang hilang itu tidak berada di dalam tumpukan catatan, melainkan pada suatu tempat entah di mana.
“Maaf, apakah kita bisa memulai lagi?” Kembali penyidik itu menatapmu, kini dengan suara yang lebih lunak.
Baiklah. Kau mengangguk. Konsistensi. Demikian kau melunakkan hatimu sendiri menghadapi pertanyaan berulang, berusaha memahami bahwa petugas itu sedang melakukan uji konsistensi padamu demi mendapatkan kebenaran laporan kasus yang kau ajukan.
“Apakah suami ibu baik-baik saja akhir-akhir ini?” Pertanyaan berlanjut.
“Dia sehat, tak ada keluhan apa pun.”
“Apakah tidak ada perubahan-perubahan yang tidak biasa?”
Kau menggeleng. Tidak ada yang aneh, semua berjalan  seperti biasa.
“Yakin tidak ada sesuatu di luar kebiasaan?” 
“Tidak,” jawabmu, tak ragu.
“Mungkin dia lebih pendiam, atau justru gugup?”
Kepalamu bergerak kanan kiri.
“Sering pulang terlambat?”
“Dengan pemberitahuan. Selebihnya selalu tepat waktu.”
Penyidik itu mengiyakan. Kau tidak tahu apakah akan dilakukan pengecekan pada data absensi, yang tentu tak kau punya. 
“Apakah dia memiliki teman-teman yang tidak Ibu kenal?”
“Mungkin, kami bekerja pada bidang dan komunitas yang berbeda. Saya di biro konsultan pembiayaan, sedangkan dia mengelola toko buku.”
“Mungkinkah ada di antaranya yang menjalin relasi tak biasa dengannya?”
“Maksudnya?” Kau balik bertanya. 
“Semacam hubungan yang khusus, bukan pertemanan biasa.”
“Maksudnya perempuan?”
“Tidak selalu, bisa juga laki-laki.”
Kau tersentak. Tidak ada cermin, tapi kau tahu wajahmu berubah. Entah merah menahan amarah atau pucat pias oleh serangan keterkejutan. Jeda sebentar. Penyidik itu tampak berpikir. Agaknya mencoba mengolah pertanyaan itu dalam bentuk lain.
“Maaf, apakah kehidupan kalian baik-baik saja?” hati-hati pertanyaan itu terucap.
Lalu kemudian kau mengerti. Peka hatimu mendeteksi arah pertanyaan itu. Perlahan arus emosi yang bergolak di dalam dirimu mereda. 
“Kami sedang bahagia menjalani masa awal pernikahan,” jawabmu tenang. “Benar bahwa saya tidak mengenal semua teman atau relasinya, sama seperti dia juga tidak mengetahui dengan detail apa yang saya lakukan sepanjang hari. Namun tidak ada kecenderungan pelanggaran komitmen di antara kami. Hidup kami baik-baik saja.” 
Dengan gerak kalem petugas menyidik mencatat jawabanmu. Ingin kau abaikan datar tatap matanya yang seolah tanpa rasa itu.
“Berapa lama kalian menjalin hubungan?” 
Kau berikan sebuah perkiraan waktu.
“Bagaimana kalian pertama bertemu?”
*
    Kau ingat pertemuan pertama itu.
    Toko buku kecil itu seolah menjelma di tikungan jalan dalam semalam. Masih teringat bagaimana kau terkejut pada sebuah sore yang gerimis. Nyaris  tiap hari kau lewati jalan dengan jajaran toko-toko kecil itu. Toko-toko tua  yang menjual berbagai produk sederhana. Di antaranya adalah gerai tembakau yang menjual rokok linting, yang memungkinkan para pelanggan meracik sendiri campuran tembakau yang diinginkan. 
    Gerai lainnya adalah kedai kopi dengan perabot kayu lawas, yang cake tape-nya menjadi kesukaanmu. Juga biskuit kacang kenarinya. Gerai-gerai lainnya tak kalah menarik perhatian. Gerai permen aneka bentuk dan warna yang membuat para pembeli cilik berkerumun di depan etalase. Toko berbagai barang bekas yang ditata seperti butik. Demikianlah kau mengenal jalan itu dengan baik.
    Maka kau sangat terkejut sore itu, mendapati sebuah toko kecil seolah mendadak terwujud dalam semalam. Temanmu yang mengingatkan bahwa sebelumnya bangunan itu ditutup anyaman bambu dan lembaran seng. Penutup itu telah dibuka dan tampaklah sebuah bangunan rumah tua yang kecil berisi buku-buku. “Rumah Buku”, itu yang tertulis pada sepotong kayu tua bergaya natural di atas pintu masuk. 
Fasad bangunan depan didominasi ornamen kayu, warna tanah pada dinding, tumbuhan rambat pada pergola depan pintu. Visualnya tak hanya cantik, tapi akrab. Lebih sebagai rumah yang terbuka pada setiap tamu. Beberapa buku dipajang bersanding dengan hiasan sederhana. Mug berisi pensil-pensil kayu. Ember mini terbuat dari kayu beralih fungsi sebagai vas bunga anyelir. Juntaian buku-buku yang menggantung diikat tali besar terbuat dari jerami. 
Kau nyaris menjerit oleh karena takjub. Bahkan nyaris kalap saat masuk ke dalamnya dan menemukan beragam buku. Buku bekas ataupun baru, terbitan lama dan edisi paling gres. Aneka genre kau temukan, meski dalam stok yang terbatas.
    Lalu seseorang menyapamu. Jangkung tubuhnya menjulang, dagunya bersemu biru menampakkan jejak tersamar cukuran yang rapi. 
    “Hai…!” Diulurkannya sepiring biskuit padamu. Kau masih bengong di tengah ruangan. Masih belum selesai dengan takjubmu. Tidak hanya pada buku, juga pada rahang yang bagus itu.
    “Welcome cookies,” katanya, “selamat datang di Rumah Buku.”
    Kau nyaris menolak atas nama sungkan dan canggung. Namun, aroma kayu manis yang sedap menguar itu seketika mencegah penolakanmu. Cinnamon, entah aroma atau rasa, selalu berhasil merayumu. Membuatmu segera mengabaikan diet, apalagi rasa sungkan.
    “Hmm, kayu manisnya sangat terasa, enak,” cetusmu segera pada gigitan pertama.
    “Resep nenek, akan kuberikan sekantong sebagai bonus pada pembelian buku yang pertama,” katanya, berpromosi.
    “Sungguh? Ok, akan kucari buku pertamaku di gerai ini. Tapi, jangan tawarkan buku-buku best seller itu. Laris bukan jaminan bagus untukku.”
    “Setuju, tapi bukankah  tiap bisnis harus dijalankan dengan luwes? Buku laris adalah pendukung untuk buku bagus yang daya jualnya lambat. Saling melengkapi demi keberlangsungan yang harmonis. Apakah setuju?”
    “Setuju.” Kau angkat ibu jarimu.
    “Baiklah, segera temukan bukumu. Ada teh mint hangat di dekat jendela.”
    Tawaran yang sangat baik. Siapa kutu buku yang sanggup melepaskan hal-hal semacam itu. Sungguh pasti bukan dirimu.
*
    “Itu awal pertemuan kalian?” penyidik itu menatapmu lebih lama. “Dan memutuskan menikah enam bulan sesudahnya?”
    Kau mengangguk. Kau tak ingin tersinggung atas pertanyaan itu. Kau bisa saja membalik pertanyaan itu dengan:
    Kenapa, ada masalah? Apakah durasi waktu perkenalan membawa pengaruh signifikan pada kerukunan dan harmonisasi kehidupan pernikahan? Apakah faktor panjang dan pendeknya waktu bisa menjadi jaminan kesejatian cinta dalam pernikahan?
    Tidak. Kau memilih tak tersinggung. Dia bukan yang pertama atau satu-satunya yang mempertanyakan itu. Masih kau ingat keraguan teman-temanmu. Terutama ayah dan ibumu.
    “Kau serius?” Seolah masih kau dengar suara Ibu yang cemas dan bahkan panik. Raut wajah Ibu bahkan pucat seketika.
    “Ya, Ibu.” Kepalamu mengangguk tenang. Di ujung meja, kau tahu ayahmu sedang menahan napas.
    “Kami ingin kau menikah. Mengharapkanmu menemukan seseorang yang akan menjaga dan mencintaimu dengan tulus seperti yang kami lakukan,” Ayah menambahkan. Tampak berusaha tenang, namun suaranya yang bergetar menandakan kecemasan yang pekat. 
    “Telah kutemukan seseorang itu, Ayah,” jawabmu pasti.
    “Tapi tidak dalam waktu pengenalan sesingkat ini. Beri waktu pada diri kalian untuk saling mengenal dengan lebih baik.”
    “Mengapa harus tergesa? Kau baik-baik saja, bukan?” Ibu menatapmu dengan sangat khawatir.
    Kau tersenyum. “Aku baik-baik saja. Percaya padaku,” katamu meyakinkan. “Tak akan kulakukan sesuatu yang tak patut.”
    Kau tahu ke mana arah kekhawatiran ibumu. Sangat mengerti.
    “Syukurlah, kami percaya padamu. Kami hanya mengkhawatirkanmu.”
    “Terima kasih. Kalian juga akan percaya padanya. Bukan berarti dia sempurna, melainkan dialah yang menumbuhkan percaya dan keyakinanku untuk bersama membangun babak baru kehidupan.”
    “Janji perkawinan selayaknya dilakukan satu kali dan berlangsung seumur hidup. Maka, harus dipergunakan segala pertimbangan terbaik dalam memilih pasangan demi meminimalkan segala risiko kehidupan.” Ibu berkata sungguh-sungguh, menatapmu lekat.
    “Ya, Ibu.”
    “Jangan menentukan keputusan sepenting ini dalam kondisi tergesa.”
    “Kami telah menimbangnya dengan sangat baik, Bu,” jawabmu tetap tenang. “Tidak ada asuransi pernikahan, bukan? Cara yang paling alami adalah dengan menjalaninya. Di dunia ini tak ada satu hal pun yang bebas risiko, maka segala akibat yang mungkin terjadi adalah dinamika kehidupan. Kami akan menjalaninya.”
    Demikianlah kau bergeming dan kukuh pada niatmu. Kau simak dengan baik  tiap nasihat, menerima dengan ikhlas kekhawatiran mereka yang kau tahu justru karena besarnya rasa sayang mereka padamu. Namun, semua itu tak beralih menjadi penghalang, justru makin mengukuhkan pilihan di dalam dirimu.
*
    Petugas penyidik kembali meneliti catatannya. Memberikan berbagai tanda entah apa dengan pulpennya pada beberapa bagian.
    “Hmm, apakah kondisi finansial kalian baik-baik saja?” lagi dia bertanya.
    Kau mengangguk. “Baik, relatif cukup sejauh menurut ukuran kami.”
    “Maksudnya tidak ada kesulitan keuangan, pinjaman pada pihak lain misalnya?”
    Kau menggeleng. Tidak. Sejauh yang kau tahu sejak awal mengenalnya hingga kini, kalian telah bersepakat untuk tidak memiliki sesuatu yang tak sanggup kalian beli. Rumah tinggal itu adalah salah satu contohnya. Kalian memilih mengontrak rumah kecil pada sebuah kampung sederhana, karena tak cukup besar uang kalian untuk membeli rumah baru.
    “Bagaimana kalian mengelola keuangan?”
    “Maksudnya?” Kau tak mengerti.
    “Begini, biasanya pihak istri adalah pengelola keuangan rumah tangga. Apakah Anda yang mengatur penggunaan dana sehari-hari.”
    “Ya, itu yang kulakukan.” Kau mengangguk.
    “Dari mana sumber keuangannya?”
    “Dari penghasilan kami berdua.”
    “Apakah kalian saling terbuka tentang penghasilan masing-masing?”
Kau mengangguk ragu-ragu. Tak kau tahu ke arah mana pertanyaan itu.
    “Maaf, apakah penghasilan kalian seimbang atau …?”  kalimat petugas penyidik itu berhenti, memberikan sebuah pertanyaan yang mengambang.
    “Tunggu, saya tidak mengerti maksud pertanyaan ini. Apa kaitannya dengan hilangnya suamiku?” potongmu tajam, menghentikan pertanyaan yang pada sangkamu tak mengarah itu.
    Petugas penyidik itu menghela napas.
    “Begini Ibu, kami harus membuka diri terhadap semua alternatif, menganalisisnya satu per satu demi menemukan petunjuk dan alasan yang paling mungkin terjadi mengapa suami Ibu hilang atau justru menghilang.”
    Mukamu pias seketika.
    “Menghilang? Apa maksudnya?!” serumu, entah setajam apa.
    “Maaf, Ibu.” Petugas itu tampak terkejut melihat reaksimu. Dia gugup mendadak dan tampak berusaha membenahi diri. Lalu dilunakkannya suara. 
Kau bergeming. Arus emosi di dalam dirimu kembali bergolak, mengarus deras seumpama sungai menerima curah hujan yang deras. Sejak semula kau mendengar kata maaf yang berulang kali diucapkannya, tapi entah bagaimana kau merasakannya lebih sebagai hal yang teknis belaka.
    “Harus saya katakan bahwa dokumen yang ada tentang suami Ibu sangat minim, sehingga tidak memberi kami banyak petunjuk. Maka kami harus menggali informasi lebih jauh lagi.”
    “Tapi, apa kaitannya dengan data finansial? Apakah kalian berpikir bahwa dia menghilang karena faktor finansial? Apakah Anda sedang menduga bahwa kami akan menjadikan kasus hilang ini sebagai strategi untuk menghindarkan diri dari sesuatu yang berkaitan dengan uang? Astaga, kami bahkan tak memiliki pinjaman apa pun. Sekadar kartu kredit pun tak dimilikinya. Suami saya membayar dengan uang tunai   untuk tiap hal yang diperlukannya.”
    “Apakah Ibu juga yakin bahwa suami Ibu tidak memiliki problem dana, jauh sebelum kalian menikah? Apakah Ibu tahu dari mana asal modal toko bukunya?”
    Lagi kau terkejut. Diam mendadak.
    Tidak. Kau tak tahu. Kau bukan seorang yang peduli urusan dompet orang lain, sekalipun itu suamimu sendiri. Kau bahkan tidak merasa harus tahu, apalagi menyelidikinya.
    “Maaf, apakah dia mencukupi semua kebutuhan rumah tangga dengan baik, atau justru Ibu yang menanggung semuanya?”
    Pertanyaan yang sangat personal dan sangat menyelidik. Beruntung masih terjaga kesadaranmu bahwa ini adalah proses investigasi.
    “Barangkali ini memang suatu hal yang sangat pribadi, tapi maaf, saya harus bertanya.”  Demikian petugas itu membaca ekspresi matamu dengan tepat.
    “Ya, dia mencukupi hidup kami dengan sangat baik. Sangat baik,” jawabmu gagah.
    “Harap jangan tersinggung Ibu. Beberapa tahun terakhir ini banyak terjadi rencana pernikahan fiktif. Maraknya jaringan media sosial membuka kesempatan menjadikan asmara sebagai instrumen penipuan untuk menguras dana pasangannya. Para korban biasanya kaum perempuan.”
    Kau tahu tentang fenomena para penipu perayu di jejaring  sosial itu. Beberapa kali kau mendapatkan surat rayuan semacam itu. Tapi kau yakini dengan sungguh bahwa suamimu bukan salah satu di antaranya.
    “Suami saya bukan penipu,” suaramu bergetar, menahan pedih atas praduga buruk terhadap seseorang yang kau kasihi.
    “Apakah karena prasangka itu maka kalian hanya melakukan penyelidikan di atas meja seperti ini dan tidak segera turun ke jalan dalam proses pencarian yang sebenarnya?!” serumu kering, menyiratkan kemarahan yang tak lagi terbendung. Habis sudah kesabaran di dalam dirimu, bertambah kini dengan sakit hati oleh prasangka yang dituduhkan.
    “Suami saya dan siapa pun yang dilaporkan hilang, tidak akan pernah kalian temukan dalam kertas-kertas itu!” katamu dengan desis yang sangat tajam. Tanpa pamit kau tinggalkan penyidik yang tercengang-cengang itu.(f)
Rujukan
[1] Disalin dari karya Sanie B. Kuncoro, 
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Femina”