Musim Hujan – Banjir – Sehabis Hujan – Hujan Dinihari

Karya . Dikliping tanggal 11 Januari 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Musim Hujan

Ini musim hujan
Rumput-rumput pada tumbuh
Kuintip awal mula penciptaan
Betapa segalanya masih teduh
Langit tidak jadi runtuh
Karena hujan masih bisa bernyanyi
Lalu dukalara dunia kubasuh
Di telaga pagi dan hening hari
Maka menariklah wahai istri
Di ujung senja yang menuju kelam
Meski palu-palu itu tetap tuli
Biar nyalang batinmu tak makin temaram

Pada Hujan

Pada hujan yang menyelinap ke rumahku
Ada sepucuk surat dititipkan guruku:
Masih dalam ingatanmukah kisah budi?
Juga baris-baris tentang kerbau pak madi?
Lalu benang-benang hujan bermetamorfosis
Menjelma bunga-bunga paling narsis
Sedang musim yang dulu jadi sembilu
Dari dalamnya menyeruak wangi narwastu
Jarum-jarum hujan tidak pernah lelah
Mengantar bunga salju ke pintu rumah
Ada kenangan manis di kebun waktu
Saat bermain tekateki dengan Tuhanku

Banjir

Kenapa hujan memperanakkan banjir?
Karena dam hati ambrol dan nyinyir
Hingga pohon-pohon terkulai di kerak waktu
Dan bayang-bayang firdaus menjadi beku
Banjir yang semakin gila
Menarik bocah ke dalam igaunya
Tangis yang ditahan itu lalu pecah
Tak kuat menanggung zaman serakah
Betapa nikmat tertawa oh bunda
Saat matahari membeku di luar kemah
Biar topan semakin beringas oh bunda
Ruh kita tak terkepung di rumah-rumah

Sehabis Hujan

Sehabis hujan reda
Anak-anak berkejaran di halaman
Mencium bau tanah yang renta
Dan hidup yang penuh tikungan
Di ujung rambut mereka
Bunga-bunga bermekaran
Pelangi yang berdansa dengan seroja
Pindah ke atas meja jadi hidangan
Ibu saksikanlah
Anakmu yang telah lahir kembali
Sungguh hati sangat berbuncah
Digerus waktu tak pernah mati

Guyuran Hujan

Di tengah guyuran hujan
Berloncatan jua api-api cinta
Dan bidadari yang menawan
Bergegas memikul bianglala
Aduhai sungguh tercabik jiwa
Aduhai sungguh membara rindu
Dan ketika kenangan musnah di angkasa
Segala sesuatu muncul sebagai rupamu
Maka kususuri awal mula
Saat semua rupa masih sembunyi di muara
Ternyata yang aneka adalah satu
yang berpendar-pendar dari wujudmu

Hujan Dinihari

Pada hujan yang menari dinihari
Malaikat-malaikat memanggilku
Dari luar waktu
Aku menjenguk ke luar jendela
Sembilan puluh sembilan bunga tumbuh
Di sebelah barat waktu subuh
Lalu angin bertakbir seratus kali
Tujuh lapis langit jadi merendah
Dan lautan debu bersorak sambil tengadah
Oh hujan dinihari yang membara
Mari kuantar engkau ke hulu
Untuk melayarkan perahu-perahu rindu

Hujan Habis Subuh

Sehabis subuh hujan belum reda
Jarum-jarumnya menggali perigi dalam jiwa
Yang memancar bukan mataair saja
Tapi juga matahari dan bunga seroja
Matahari memenuhi janjinya
Membakar kabut paling dungu di timur sana
Tanda bahwa tunas-tunas akan tumbuh
Dan musim palawija menghampar jadi suluh
Ohoi cintaku padamu makin menyala adik
Menjelma hamparan musim paling purba
Kupu-kupu di rambutmu menari-nari adik
Siapa bilang cinta mengenal tua?
Sewon, 2014
*) Kuswaidi Syafiie, penyair juga esais. Buku antologi puisinya adalah Tarian Mabuk Allah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999) dan Pohon Sidrah (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2001). Sedang kumpulan esainya adalah Tafakur di Ujung Cinta (Pustaka Pelajar, 2003) dan Sepotong Rindu untuk Kanjeng Nabi (Pustaka Pelajar, 2005). 
Email: kuswaidisyafiie@ymail.com.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Kuswaidi Syafiie
[2] Tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” pada 11 Januari 2015