Nabi Baru

Karya . Dikliping tanggal 28 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal
SETELAH memeroleh pencerahan sewaktu menyepi di sebuah goa di Gunung Lawu, Basuki merasakan ada energi sebesar matahari di jiwanya. Tenaganya berlipat ganda, ia haus akan kebaikan dan bersiap melakukan kebajikan.
Ia tak tahu ia terkena waham kebesaran, sebuah cabang derita skizofrenia yang tanpa ampun akan menyerangnya lama. Basuki turun dari lereng gunung, tersenyum pada setiap penduduk yang berpapasan, dan membantu mereka dengan suka rela, sekadar menggotong rumput, atau membawa kayu bakar.
Di jalan, setelah menyetop angkutan desa ia pun tersenyum pada semua penumpang. Hal yang selama ini baru dilakukan, siapapun tahu Basuki sebelumnya adalah pemalu. Setiap berpapasan dengan orang lain, ia akan cepat-cepat menunduk. Seolah ada daya tarik hebat di bumi yang menyedot dahinya. 
Kini, sinar muka cerah, dan rekahan di bibirnya selalu menghiasi wajahnya sepanjang waktu. Seolah tiada lagi secuilpun derita yang bisa mencelakainya. Cahaya kebahagiaan telah melimpah di hatinya, dan jiwa yang bebas melapangkan pikiran dan perasaannya.
Mulutnya berkata terang, dan tiba-tiba, ”Wahai manusia, anak-anakku yang tersesat, ingatlah akan Tuhanmu, mari bersamaku dalam pelukan hangatku, kita bersembahyang, akan aku ajarkan pada kalian kitab suci yang baru, yang akan menengahi setiap pertengkaran, dan akan membawa perdamaian.”
Tanpa sadar ia mengucapkan itu, seolah Jibril yang menjelma pada diri penumpang di depannya, seorang gadis berambut merah berbaju hem putih yang pancaran matanya merasuki jiwanya menyemburkan kata-kata itu. Mereka memang telah bersinggungan sejak tadi, tepatnya kaki Basuki menyenggol betis si gadis yang mengilap bagai porselin.
Ucapan setengah sadar itu adalah ayat pertama dari Tuhannya Basuki sebagai pembuka kitab suci terbaru di dunia. Penumpang di sebelah Basuki yang mendengar terlihat pias wajahnya, gemetar tubuhnya. Ia merasa seolah bertemu dengan pribadi yang punya setrum listrik tinggi. Sejenak ia menoleh, dan saat itulah Tuhannya Basuki menganugerahi jiwanya dengan kemurnian hati. Ia menjadi pengikut pertama Nabi Basuki.
Ia langsung bersimpuh di hadapan Basuki, mencium kedua tangannya dengan takzim, dan menunduk kuatkuat. Berkata dengan gemetar, ”Ajaklah aku wahai Bapak, aku yang malang dan tersesat di belantara kejahatan, ampunilah aku dalam nama Tuhanmu…”
”Anakku, kau pengikut pertamaku, kau akan menjadi waliku untuk menyebarkan ajaran mulia ini.”
Kedua tangan Basuki membelai rambut pemuda bertato yang setengah mabuk itu. Ketulusan jiwanya terlihat dari pancaran matanya yang tenang, dan elusan tangannya yang lembut.
Orang-orang di mobil angkutan itu mulai menggeremeng. Satu dua orang mulai tertawa kecil, gadis di depan seperti tersentak sadar, dan mulai bersemu merah, melengoskan wajah saat Basuki menatapnya lamatlamat. Berkata dalam hati, ”Sial lelaki ini sejak tadi melototin dadaku.”
Sang sopir yang melihat dari kaca kecil di atas dasbor, tersenyum geli.
***
”Selama 3 bulan setelah Basuki mendapat pencerahan, dia yakin telah menemukan rahasia alam semesta. Dia merasa sebagai reinkarnasi dari Budha dan sekaligus Kristus. Pada tahap yang paling akut, dimana skizofrenia begitu aktif yang berlangsung tiga minggu, tidurnya kurang dan ia mulai mengobrol dengan ‘arwah’ nabi besar seperti Nuh dan Musa.
Pengikutnya, pemuda bertato, mulai menulis ayat-ayat yang Basuki ucapkan dan kebetulan semua berjumlah 99 halaman layaknya Asmaul Husna nama-nama Allah dalam Islam yang ringkas dan tak berteletele. Hasil diskusinya dengan pemuda itu, isi kitab dapat memersatukan bangsa-bangsa seluruh dunia dalam proyek membangun masyarakat baru. Masyarakat tanpa kekerasan dan penuh cinta kasih.
Mereka berdua mulai memfotokopi naskah itu dan menyebarkannya pada orang-orang secara gratis.
”Agar kita semua tercerahkan.” Begitu ucap mereka setiap ada yang bertanya.
Orang-orang mulai menganggap naskah itu sebagai sampah, namun ternyata ada satu dua orang yang mulai memercayai. Makin hari pengikut Basuki bertambah, menjadi sepuluh orang, yang setia dan taat.
”Gagasan terbesarnya adalah hidup sumeleh, pasrah, dan peka terhadap tanda-tanda alam, mirip ajaran Zen di Jepang. Bedanya ada terminologi suwung yang melingkupi semua pokok ajaran. Hidup kosong, mengosongkan seluruh hasrat apapun terhadap dunia, dan memenuhinya dengan kebajikan tanpa pandang bulu terhadap semua makhluk: manusia, binatang, dan pohon.”
Mereka bersepuluh terus menyebarkan kitab suci itu. Dan Basuki pergi menyendiri ke lereng Gunung
Merapi. Waktu itu tengah hujan lebat. Ia tidak lagi dalam keadaan psikotis, tetapi mulai menderita depresi berat dan sakit secara fisik: pendarahan di dalam.
Basuki benar-benar ingin bunuh diri. Telah menyiapkan sebuah silet untuk mengiris nadinya. Namun tiba-tiba Tuhannya berkata: ”Anakku, kau belum menyelesaikan tugas sucimu, jangan berlemah diri atas hasrat setan yang menyesatkan jiwamu. Bangunlah, dan peluklah aku…”
Dalam penglihatan Basuki, ada sosok cahaya terang di depannya. Ia spontan terbangun dan memeluk sosok itu. Lalu tubuhnya tenggelam dalam lautan cahaya yang tanpa batas dan nir ruang. Ia jatuh mengguguk, menangis tersedu-sedu, jiwanya bergetar hebat.
Saat demikian tiba-tiba datang segerombolan orang memukulinya. Mereka berteriak, ”Nabi palsu! Nabi palsu!! Nabi palsu!!!” ❑ – o
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Han Gagas
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 27 Desember 2015