Nadi Puisi – Bintik Pipimu – Jantung Sunyi

Karya . Dikliping tanggal 20 September 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Tempo

Nadi Puisi

Ia berdenyut di lengan pagi ini
mengangkangi tahun-tahun yang telah pergi
dan mengokang sepi
tepat ke arah jantung diri.
Dua bagi kata-kata yang tak ingin musnah
seperti nama, tempat dan peristiwa
yang berulag kali kukuh menguasai.
Memanjang seperti dahan
tempat buah-buah kekangenan matang,
bergelayutan.
Tempat pucuk dan daun bayang wajah
merekah mengincarku dalam kesendirian.
Jangan pernah putus atau tersumbat sekalipun
takdir merenggut dan tak menginginkan
mengalirkan aku padamu.
Atau seluruh puisiku binasa
dan jemari juga pena hidupku percuma.
(2015)

Bintik Pipimu

Seperti tanda titik pada puisi
seketika bisa jadi jeda yang mengakhiri
langkah sepi pada lariknya.
Aku pun demikian tertegun
ingin menjilatinya, menyentuhnya
dengan lidah kata milikku semata,
meski fana tapi tak asal menciptanya.
Jangan biarkan jari-jemariku
melukai keanggunannya.
Bintang ranum yang berkilau
dalam gelap dan pengap pikiranku.
Jauhkan aku dari tatap yang cuma
mengulitinya, belum cukup
meresap ke pori.
Sekadar mencari akar
dari mana muasalnya
mengapa Tuhan menjatuhkannya
tepat di sebidang hamparan
ladang subur
tempat kelak ciuman kupanen
dari dosa-dosa di masa silam.
(2015)

Jantung Sunyi

Ia berdetak bukan sebagai bunyi
hanya kerlip warna dari remang ke terang.
Kuncup bergantian, saling mengecup
membinasakan bayang siang-malam.
Bagaimana mencari garis nadinya
sebab darah yang mengalir ke pusatnya,
seperti putus-putus gerimis
yang tak terlihat oleh telanjang mata.
Sesungguhnya ia lebih senang
melekat pada ingatan seseorang,
yang terlanjur ditinggalkan
pada sebuah cinta
yang tak pernah dimulai
apalagi untuk diakhiri.
Jadi tak perlu engkau berusaha
meraba di mana letaknya, apalagi
mendekatkan telinga ke dadanya.
Bila hanya bisa kau tangkap
ada gema putus asa berpantulan
di tiap ruas, selama mungkin adanya.
(2015)
Mugya Syahreza Santosa lahir di Cianjur, 3 Mei 1987. Buku puisinya Hikayat Pemanen Kentang (2011). Ia tinggal di Bandung.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Mugya Syahreza Santosa
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran tempo” Minggu 20 September 2015