Nania

Karya . Dikliping tanggal 2 Juni 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
NANIA pulang dengan susunan adegan yang sama. Cerita yang dibaginya saat membuka jaket, melepas sepatu, berganti baju adalah: Melbourne makin dingin; ia menyewa tukang kebun membereskan halaman belakang sebelum ke Jakarta; krim wajah yang kukirimnya sudah habis, lain kali tolong pesan lebih banyak.
Tahun lalu ia melakukan hal serupa.
Saat ia mengekorku ke dapur, ia mengulang hal ini: membuka lemari es, mencari yoghurt, menarik kursi yang membelakangi lukisan seikat cabai merah segar, bercerita-bertanya-bercerita-bertanya: kota ini semakin tak nyaman, tapi apakah kita bisa berkeliling Jakarta berdua saja besok?  Teman-teman kerjanya banyak yang menderita fatigue syndrome, hey apakah aku terlihat lebih tua?
Tahun lalu maupun tahun ini ia setia pada susunan yang sama: membuka lemari es, mencari yoghurt, menarik kursi dapur, lalu menceritakan-menanyakan-menceritakan-menanyakan hal yang sama.
(Kirim via Twitter: Hey, dia berdisiplin pada urutan tingkah lakunya di dapur! #Nania)
“Tak bisakah kau sejenak melepas benda itu!” Nania memonyongkan bibir ke ponsel di genggamanku. Duniaku, planet kecilku itu terus bergetar dan mendesak-desakkan pesan. Nania tak punya kehidupan di Twitter. “Tak penting!” katanya dua tahun lalu.
Di dapur, ia menyeruput yoghurt dengan suara keras. Udara panas bergumul dengan dengung kulkas.
(Kirim via twitter. Celaka! #Nania mungkin menyeruput yoghurt kadaluarsa! Hehehe.)
Ilustrasi karya Munzir Fadli

YANG dimaksud dengan berkeliling Jakarta oleh Nania adalah mendatangi empat rumah di empat penjuru. Rumah pertama milik Paman Top, yang dijadikan galeri. Rumah kedua milik Paman Top juga tapi dihuni ibu. Rumah ketiga masih milik Paman Top, dihuni ayah. Rumah keempat, milik Paman Top, yang dijadikan toko roti yang beriklan “dijamin tanpa bahan pengawet.”

Nasib orang-orang di masing-masing rumah di empat penjuru Jakarta ini, meminjam istilah Nania: “Assoy-asyik!” Paman Top lajang seksi. Ini juga istilah Nania. Ia kepercayaan seorang penguasa lama yang tetap aman bermain politik ketika era berganti. Sayangnya, Paman Top tiba-tiba terkena serangan jantung 21 April dini hari, tahun lalu. Tapi kata Nania, seminggu sebelum kabar duka itu hinggap di telinga kami, Paman Top mengirim lelucon-lelucon tentang kematian.
“Seharunya aku membacanya sebagai isyarat,” keluh Nania
Di hari penguburan, iringan mobil jenazah Paman Top terhalang  karnaval hari Kartini dan kemacetan perbaikan jalan. Mungkin karena Paman Top orang cukup penting, pemakamannya tetap ditonton banyak orang, diliput media, juga mengusik beberapa penghuni apartemen di seberang kuburan yang melongok dari beranda dan jendela.
Kematian Pama Top membuat Nania dan aku meluangkan waktu berdua dan menyusun kembali ingatan tentang silsilah keluarga dan sejumlah asumsi. Kata Nania, Ayah dan Ibu adalah sepupu-sekali yang dinikahkan secara paksa dan dengan sukarela membiarkan pasangan masing-masing memelihara kekasih yang mereka sebut “cinta tak terganti.”
Maka Nania menyimpulkan, “Wajahku mirip kekasih ayah, dan wajahmu mirip kekasih Ibu.”
Sejak tahun lalu, aku semakin sering bercermin dan bayanganku yang memantul berbisik. “Wajah yang mirip kekasih ayah, wajah yang mirip kekasih ibu. Kadang aku berharap sepasang mata yang kutatap di cermin bisa menjelma pintu lorong pelacak masa lalu untuk menemui kekasih ibu.”
Kematian Paman Top juga yang membuat kami memutuskan tinggal di rumah yang lain. Hey, ternyata Pama Top punya rumah kelima yang tak kami tahu sebelumnya. Surat wasiat bilang, rumah itu diberikan kepada Nania.
“Aku tak akan tinggal di Jakarta, rumah itu untukmu saja. No future in Jakarta!” Enteng sekali Nania berkata pada waktu itu, seperti menyerahkan selembar baju yang tak disukainya.
Kini, setahun setelah kematian Paman Top, kami membaca ulang surat wasiat itu sambil minum es kelapa muda di tengah cuaca panas dan tengik. “Mengapa Paman Top lebih menyayangimu, Nania? Mengapa di surat wasiatnya tak ada namaku?”
Karena Paman Top sebenarnya juga suka pada kekasih ayah, yang mirip wajahku.”
(Kirim via Twitter: wajah siapa sebenarnya yang diwarisi #Nania?)
Aku membayangkan, kalau Nania menjadi redaktur majalah cerita detektif, pasti kisah-kisah pilihannya selalu assoy-asyik. Bayangkan, ia mengisi kepalaku dengan kata-kata ajaib yang tumbuh menjadi semacam keyakinan tak tergoyahkan tentang kisah cinta yang melingkar-lingkar di empat rumah di empat penjuru Jakarta.
Aku yang memiliki wajah yang mirip kekasih ibu, dan ia yang mewarisi wajah kekasih ayah. Kekasih ayah juga adalah perempuan yang dicintai Paman Top. Ini misteri yang harus dipecahkan!
Pernah kutelepon Nania meminta penjelasan lebih jauh, tapi katanya, “Astaga. Aku pikir kamu kecelakaan atau kehabisan duit. Meneleponku pagi buta begini!”
Mungkin saat itu seluruh wajahnya masih berbalur krim malam dan telepon yang dilekatkan ke telinganya secara tergesa merusak baluran ramuan pengencang kulit itu? Tapi Nania tak pernah menjawabnya. Meski kutelepon lagi di waktu yang lebih bersahabat, pagi hari atau saat istirahat makan siang. Nania tergelak, “Sudahlah. Aku hanya iseng membangun asumsi-asumsi itu!”
Baiklah, katakanlah Nania iseng membangun asumsi. Tapi tahukah ia bila di kepalaku, asumsinya itu berkembang dan tertanam sekuat potongan firman Tuhan yang dikutip orang-orang suci dan diyakini miliaran umat? Setiap kali aku bercermin, setiap kali pula bayanganku muncul membisikkan: “Mirip wajah kekasih ayah, mirip wajah kekasih ibu.”
Di keluarga besar kami, rahasia mengendap-endap di kamar, pintu dan jendela. Ada potongan-potongan kisah yang disembunyikan di bawah permadani di ruang tamu dan ruang makan. Ada muslihat yang terselip di ruang keluarga dan potret besar di dinding. Ibu yang pendiam. Ayah yang jauh lebih pendiam. Paman Top yang rutin berkunjung membawa uang belanja dan basa-basi yang serba tergesa. Aku dan Nania, dua anak yang mendirikan rumah pohon di halaman belakang, membangun kisah sendiri. Tentu, ada keluarga besar lainnya (paman, bibi, sepupu-sekali, sepupu dua-kali, dan seterusnya) yang diberi label oleh Nania. “Sekali-sekali jadi sepupu tak apalah!” Fungsi mereka ini seperti penyanyi latar pertunjukan musik. Mereka pandai membuat kur setelah Paman Top bagi-bagi uang belanja.
Ada juga satu dua orang sepupu yang menolak uang Paman Top. Katanya, “Uang haram. Tak jelas asal-usulnya!”

Aku pernah mencatat kata sepupu itu untuk dijadikan sebuah cerita berjudul “Asal-usul Uang Paman Uang Top.” Tapi hingga Paman Top benar-benar mati, aku tak tahu bagaimana harus menuliskan cerita itu.

KINI Nania datang. Kunjungan rutin, sebenarnya. Tapi aku menjadi demikian sensitifnya melihat urutan tingkah lakunya. Cara dia bertanya-bercerita-bertanya-bercerita-bertanya, membuatku membangun pertanyaan baru. Mengapa Nania begitu memelihara tingkah lakunya? Tahun lalu ia membangun pola gerak dan percakapan yang entah mengapa lekat terekam di kepalaku. Dan tahun ini ia mengulang pola yang sama. Untuk apa?

Apakah ia punya obsesi dengan urutan gerakan itu? Mengapa ia seperti lulusan terbaik sekolah kepribadian John Robert Poers?

Tapi untuk apa ia mengatur gerak tubuh, ayunan tangan, cara memutar kepala dan menegakkan leher di dapur yang hanya disaksikan diriku dan bumbu-bumbu? Atau di ruang tamu yang hanya ada aku dan seperangkat kursi ukir Jepara serta seekor ikan arwana gendut kesepian di akuarium?

Aku membawa pertanyaan ini sambil menemaninya berkeliling ke empat penjuru Jakarta mengunjungi lima rumah almarhum Paman Top yang dijadikan galeri, yang dihuni ibu, yang dihuni ayah, yang dijadikan toko roti, dan yang tertera dalam surat wasiat yang masih kosong karena tak begitu diminati Nania. Macet di mana-mana. Nania tak mengeluh. Ia membaca buku The Naturally Clean Home sepanjang perjalanan. Aku gentayangan di Twitter dengan ponsel mungil belahan jiwaku, mengomentari semua hal, penting maupun tak penting, dan merasa sok penting sendiri.
“Nania, aku masih penasaran soal teorimu tentang wajahku yang mirip kekasih ibu dan wajahmu yang mirip kekasih ayah.”
Aku mengulang pertanyaan itu. Aku tiba-tiba ingin menjadi detektif yang melacak sumur misteri asal-muasal kehidupan kami. Nania tertawa. Suara tawanya tertib, seperti prajurit berbaris rapi.
“Lupakanlah. Kau tanyakanlah hal lain di luar rumah, di luar kehidupan kita.”
Selebihnya diam. Nania membaca. Aku berbicara dengan sembarang orang di Twitter melempar-lempar misteri ini: “Wajah Nania mirip kekasih ayah, wajahku mirip kekasih ibu…”
HUBUNGAN keluarga kami menjadi  kian rumit setelah kematian Paman Top. Ayah bilang tak butuh ibu. Ibu lebih berterus terang: tak mau menghabiskan masa tuanya bersama ayah. Aku dan Nania tak begitu mempermasalahkan siapa yang paling tidak membutuhkan siapa. Kami lahir dan tumbuh penuh rasa maklum melihat kedua orang yang kami panggil Ayah dan Ibu ini berhubungan sebagai sepupu satu kali yang dinikahkan atas kesepakatan keluarga dan menjadi parasit Paman Top. Keduanya parasit yang patuh. Adapun kami berdua, karena terlahir dari orangtua yang menjadi parasit, juga tumbuh menjadi parasit yang sama baiknya.
Kekayaan Paman Top yang berkembang dan terkelola dengan baik, bisa menghidupi keluarga besar kami, bahkan setelah kematiannya. Dan setelah sumber kehidupan kami itu mati, Ibu seperti memindahkan kehidupannya ke Planet Mars dan tak ingin diganggu. Sementara Ayah ibarat pindah ke sebuah planet yang belum memiliki nama, tapi memiliki mesin rahasia yang menghubungkannya dengan bumi, bila ia merasa perlu menyapa kami berdua. Sesekali Ayah emnelepon, mencari diriku dan Nania untuk sekadar bertanya, “Hey, bagaimana sekolah kalian? Baik, kan?” Pertanyaan sangat basi yang dilontarkan saat kami berdua sudah menyelesaikan pendidikan master di bidang bisnis dan manajemen (atas saran Paman Top, tentu saja).

Nania yang sudah tiga tahun pindah ke Melbourne, mengurus bisnis properti Paman Top di sana, mencintai kota itu setengah mati hingga tak bisa lagi melihat hal-hal asyik untuk kembali ke Jakarta.

Sebelum kematian Paman Top, ia melakukan kunjungan rutin ke empat penjuru Jakarta, ditambah agenda mengecam segala macam orang dan peristiwa di tanah air, memesan krim perawatan wajah dari sebuah klinik kecantikan di Menteng, lalu pulang ke Melbourne. Satu-satunya hal yang tak ditawarkan Melbourne adalah seorang dokter kulit yang meracik krim wajah yang bisa membuat wajah Nania semulus Porselen. “Hanya dokter Indonesia yang tahu kebutuhan kulitku,” kilah Nania.
Kini, setelah lima hari di Jakarta, Nania berkemas. Ia puas setelah bertemu dengan sang dokter yang membekalinya krim malam dan krim anti-kerut untuk persediaan tiga bulan ke depan. Ia juga puas telah memberi kuliah umum kepada tiga orang pembantu dan dua orang sopir tentang bahaya segala macam cairan pembersih yang ada di rumah, sambil membolak-balik kitab The Naturally Clean Home. “Ada seratus empat belas jenis bahan kimia berbahaya yang terkandung di semua produk yang kita gunakan sehari-hari, mulai dari sabun mandi, sabun cuci, cairan pembersih lantai, dan semuanya.” Nania berceramah sekaligus bergidik sendiri membayangkan serbuan zat kimia itu.

Sayangnya, Nania tak berminat membahas soal Ayah, Ibu dan rumah kelima yang ditinggalkan Paman Top untuknya. Juga, tak ada pembahasan soal wajahnya yang mirip kekasih Ayah, dan wajahku yang mirip kekasih Ibu. Misteri yang begitu ingin kupecahkan!

Di malam terakhir sebelum melepasnya ke bandara, aku menemaninya di dapur. Ia menyeruput yoghurt.

“Nania, aneh juga rasanya ya, kita tetap dibiayai oleh seseorang yang telah mati. Paman Top itu…”

Aku sengaja menggantung kalimatku.

Nania hanya mengangkat bahu. “Paman Top sudah mengatur semuanya. Ia sudah mempersiapkan semua untuk kita…”

“Tapi Nania…”

“Sudahlah. Berhenti memikirkan hal yang seharusnya tak membuatmu pusing. Parasit seperti kita tak boleh banyak pikiran, bukan?”

Nania tergelak. Mungkin merasa humornya tentang parasit itu lucu dan orisinal. Tapi aku tak ikut tertawa. Aku mengamati wajahnya. Membayang-bayangkan siapa gerangan kekasih Ayah, yang mirip wajah Nania, yang juga katanya adalah perempuan yang dicintai Paman Top setengah mati…

Sampai Nania betul-betul pergi, aku tetap mematung di dapur. Di kepalaku ada pertanyaan yang bertalu-talu: “Wajah Nania mirip kekasih Ayah, dan wajahku mirip kekasih Ibu…”

Lily Yulianti Farid telah menerbitkan beberapa buku kumpulan cerita pendek, antara lain Ayahmu Bulan, Engkau Matahari (2012). Ia mendirikan dan memimpin Maakssar International Writers festival, peristiwa tahunan sejak 2011.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Lily Yulianti Farid
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Koran Tempo” pada 31 Mei 2015