Naon

Karya . Dikliping tanggal 22 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Bila malam tiba, suara itu terus memanggil-manggilku dan Ibu. Suara tersebut berasal dari kamar kosong di samping kiri kamarku. Kamar yang belakangan menjadi hantu bagiku, begitu pun bagi Ibu. Pintunya tak pernah terbuka. Ibu sengaja menggemboknya dari luar rapat-rapat. Gorden hitam terpasang di seluruh jendelanya seolah malam dan siang tak pernah masuk ke sana.

Hanya ada tiga kamar di rumahku. Kamar di arah jam dua belas dari pintu masuk adalah kamarku. Sebelah kanannya, dapur. Di sebelah kiri itu, kamar Bapak dan Ibu.

Malam ini adalah malam ke-86 Ibu tidur bersamaku. Sejak seminggu setelah Bapak meninggal, Ibu pindah kamar. Sebagai anak laki-laki, aku ingin sekali berontak, mengusir Ibu. Tapi, mana mungkin aku tega melihat Ibu tidur di dapur atau di emper sendirian, apalagi di waktu malam.

Bila malam, rumah kami seperti tak berpenghuni. Itu terjadi setelah Bapak meninggal. Tak ada lagi jamuan makan malam. Aku dan Ibu selalu terburu-buru menjemput tidur di atas kasur.

Setiap malam, aku tak berani membuka mata sekadar melihat wajah Ibu. Ibu pun begitu. Terkadang, kami sampai lupa membaca doa sebelum tidur.

Suara yang memanggilku dan Ibu sangat akrab di telinga kami. Persis suara Bapak ketika dulu memanggilku, memerintahkan sesuatu. Tapi, Bapak sudah meningggal dan minggu depan adalah hari ke-100 beliau meninggalkanku dan Ibu.

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Suara itu lagi terdengar bila malam. Tak pernah berubah. Paling nadanya saja yang berbeda. Terkadang seperti suara tukang orator, kadang lirih sekali serupa angin menyapu dadar daun jati dini hari. Bagaimana pun nada suaranya, tetap saja mengerikan, dan selalu berhasil mengusikku dan Ibu. Kami sengaja pura-pura mendengkur. Supaya rasa takut tak semakin mengakar. Dan kami akan tetap demikian sepanjang malam. Tidur dengan kepura-puraan.

Aku dan Ibu sebenarnya bisa pindah rumah. Tapi, sebelum Bapak meninggal, beliau pernah berpesan, “Rawatlah rumah ini jika saya meninggal dan ingat jangan sampai kalian jual.”

Aku dan Ibu hanya mengangguk. Andai saja waktu itu kami mampu melihat masa depan, tentu kami berpikir ulang, bukan langsung meresponsnya dengan anggukan santun. Nasi sudah jadi bubur. Bapak seolah sengaja merencanakan semua, dan kami tak tahu maksudnya.

Minggu depan haul Bapak yang pertama. Aku dan Ibu mulai mempersiapkan segala kebutuhan, terutama hidangan yang bakal disuguhkan, untuk kondangan Kamrat Jumatan. Begitulah cara kami merayakan haul Bapak yang pertama, merayakan dengan tradisi doa-mendoa.

Haul Bapak yang pertama sengaja kami gelar siang hari, pukul 01.30 WIB. Berharap suara gaib yang memanggil-manggilku dan Ibu hanya kami berdua yang tahu. Kalau sampai tetangga tahu, hanya akan melahirkan praduga-praduga buruk mengenai nasib Bapak di kehidupan yang sekarang beliau jalani. Aku dan Ibu berharap arwah Bapak berada di tempat yang damai, meski kami tak pernah tenang menjaga rahasia suara yang mengiau-ngiau itu. Sebisa mungkin kami tetap akan merahasikan peristiwa tersebut.

***

NaonSiang itu, rumahku ramai sekali. Ibu sibuk mempersiapkan segala kebutuhan di dapur, dibantu Juhairiah, tetangga sebelah. Sementara Nyi Rasit sibuk mengemas segala macam Bul-tambul, kemudian memasukkannya dalam plastik kresek. Aku di luar sendirian menyambut kondangan yang mulaiberdatangan.

Kira-kira 40 orang menghadiri acara haul pertama Bapak ini. Mereka semua duduk sampai memenuhi beranda rumah. Seperti biasa, tuan rumah memberi salam salam pembuka yang berkaitan dengan tujuan utama mengundang Kompolan Jum’atan. Aku dengan gamblang menjelaskan, kalau maksud kami tidak lain demi menyambut haul pertama Bapak. Meminta kepada mereka semua untuk mendoakan Bapak supaya terhindar dari segala macam siksasaan. Khalayak menganguk pertanda mereka siap dengan ikhlas mendoakan Bapak. Dan terakhir, aku meminta maaf jika ada sesuatu perbuatan Bapak semasa hidup yang kurang mengenakkan hadirin, juga meminta kejelasan, terutama mengenai tanggungan, supaya jangan sungkan-sungkan mengatakan kepada ahli waris (aku), lebih-lebih tanggungan utang-piutang.

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Aku baru saja selesai memberi sambutan. Suara itu tiba-tiba memanggil-manggilku dan Ibu. Semua orang bersitatap satu sama lain. Suasana hening seketika. Aku mulai salah tingkah. Aku langsung mengernyitkan kening kepada Ustad Arif agar ia melanjutkan acara. Alhamdulillah, Ustad Arif tanggap dan memulai yasinan. “Ila Hadratin…”

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Suara itu kembali terdengar. Bibir Ustaz Arif yang tadinya khusyuk komat-kamit, terhenti. Semua orang mulai saling berbisik. Suara itu kemudian semakin keras, terus-menerus memanggilku dan Ibu. Aku tak tahu apakah harus menyahut atau tidak. Aku benar-benar bingung.

Ibu tiba-tiba keluar mendekatiku. Jelas muka beliau terlihat putih masam. Melihat wajah Ibu begitu, orang-orang semakin bingung tak karuan, saling menatap penuh risau.

“Suara siapa yang memanggil-manggil?” Aku tak tahu Ustaz Arif bertanya kepada siapa. Aku dan Ibu sama-sama bingung. Sama-sama diam. Sementara itu, suara yang memangil-manggilku dari kamar bergembok itu semakin nyaring menyambar kuping. Semua orang ikut-ikutan mengekpresikan ketakutan. DKompolan Jum’atan dengan sekejap kocar-kacir. Mereka semua pasti masih mengenali suara yang memanggil-manggil namaku dan Ibu. Firasatku.

“Demi Ibu dan kau, Bapakmu rela melakukan apa saja. Beliau sangat bertanggung jawab pada kewajibannya. Bahkan, beliau rela kehilangan nyawa demi kita. Barangkali beliau memanggil-manggil kita itu bentuk dari tanggung jawabnya yang sekarang. Kita harus berani menemui panggilan itu, anakku. Jangan takut, kita barengan masuk!”

“Ibu yang di depan, aku belakangan,” jawabku penuh perasaan takut.

***

Ibu dan Bapak tak pernah bertengkar. Bapak sangat baik padaku juga terhadap Ibu. Setiap akhir pekan, aku selalu mendapat hadiah buku-buku kesukaanku. Setiap ulang tahun, tinggal menyebut permintaan, Bapak langsung mengabulkan.

Semasa Bapak hidup, beliau adalah Kepala Desa di Kampung Guluk-guluk tempat kami tinggal. Bapak menjabat selama dua dekade. Tapi, Bapak meninggal sewaktu masa jabatannya tinggal 2 tahun 2 bulan 12 hari.

Aku ingat betul. Waktu itu malam hening. Aku, Ibu, dan Bapak, sedang tidur pulas ketika tiba-tiba kampungku dipenuhi kerusuhan di mana-mana.

Dari luar kamar, terdengar suara orang berteriak-teriak memanggil Bapak. Tapi, rumahku waktu itu dijaga ketat oleh 12 bajing yang dikontrak Bapak. Bajing-bajing tersebut bertubuh kekar, bermuka beringas dan selalu siap mengusir apa pun atau siapa pun yang datang. Semua orang di kampungku takut betul pada 12 bajing yang lebih suka kekerasan dari pada bicara setiap menyelesaikan masalah itu.

Meski di luar huru-hara bertebaran, kami nyenyak tidur di dalam kamar, seolah tak ada masalah.

Semua itu berakhir ketika rumah kami dikepung oleh segerombolan orang berseragam lengkap. Di pinggang mereka, senapan-senapan menyilang. Dan alangkah sialnya kami karena 12 bajing yang dikontrak Bapak lari tunggang- anggang setelah tembakan peringatan dilepas.

Aku dan Ibu hanya diam melihat tubuh Bapak yang jangkung serupa tarebung ditendang-tendang karena mencoba melawan. Tangan belia kemudian diborgol, dan mereka masukkan Bapak secara paksa ke dalam mobil jip lantas membawanya entah ke mana. Aku dan Ibu hanya bisa menangis menjerit-jerit ketika sosok Bapak semakin terlihat menjauh dan kemudian menghilang dalam pandangan samar-samar.

Aku tak tahu pasti siapa orang yang telah begitu keji menjadikan aku anak yatim. Kabarnya, Bapak sengaja dibunuh atasannya sendiri.

Bapak disidang karena terjerat kasus penggelapan pajak, penggelapan raskin, penggelapan pembangunan. Seorang hakim memvonis Bapak mendapat hukuman tembak mati. Eksekusi harus di depan banyak orang lantaran telah sengaja melahap uang hak banyak orang demi kepentingan keluarga. Maka, kematiannya pun layak dipertontonkan. Ditayangkan di seluruh saluran televisi secara langsung. Besoknya, Bapak jadi headline di semua surat kabar.

Jogjakarta, 2018

Catatan:
Naon adalah tradisi orang-orang Madura untuk menyambut seratus hari kematian seseorang.

Sengat Ibrahim, lahir di Sumenep, Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Yogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.


[1]Disalin dari karya Sengat Ibrahim
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 21 Oktober 2018

 

Sengat Ibrahim