Narasi Gerimis (Kisahan dalam Lima Fragmen)

Karya . Dikliping tanggal 12 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

Perjalanan Jenat

AKU selalu berpikir, bus patas akan sampai ke Bungurasih ketika petang dihiasi gerimis, hingga hujan yang deras itu telah reda ketika bus memasuki Surabaya, dan jalanan kota cuma dihiasi lopak dan hamparan basah. Semua nanar, dari panas siang di keseharian, hilang sesaat, meski fakta dekat laut, ada di daerah pesisir, membuat udara kembali meruapkan gerah—mungkin karena tergesa meloncat dari kabin ber-AC. Aku berlari untuk kencing—seperti biasa. Lalu bergegas mencari taksi serta mintanya agar bergegas ke Lidah Kulon, ke pendapa depan FBS.

Aku ada janji dengan Ifta—sampai kini masih terikat janji. Yang lewat HP, tadi, minta dijemput di sana, yang bersumpah akan terus menunggu di sana. Sampai malam tiba, bahkan tembus sampai remang pagi, untuk (kemudian) bersama-sama merayakan sukses mengatasi sidang: si sarjana yang menunggu momen wisuda—hingga bisa leluasa dirayakan. “Harus datang…” katanya—sampai kini aku selalu mengingat: apa terusannya, karenanya, pada saat itu, aku bergegas ambil taksi dari Bungurasih. Setidaknya, aku telah memaksakan kehendak: akan datang merayakan, meski—sesuai perjanjian awal—Ifta yang seharusnya memberikan ucapan selamat, di Jogjakarta.

Aku tergesa. Terjebak macet. Mutlak belum mandi, tapi AC bus serta AC taksi akan meredam keringat. Aku tahu: keringat merembes saat bergegas di terminal, tidak peduli Surabaya selepas hujan. Dalam perjalanan taksi aku akan bersandar—membisu. Diam mencermati bias sinar matahari menerobos tirai gerimis, menciptakan lengkung semu warna-warni yang semakin memudar ditentang langit. Sekali akan mengambil botol air mineral dari backpack yang teronggok, dan pelan meneguknya. Mungkin si sopir akan melirik, bertanya, “Dari mana?” Aku diam, karena itu bisa jadi serentetan tanya yang mengganggu saat memikirkan senja gerimis dan Ifta menunggu sendiri.

Apa kantin di seberang itu masih buka? Ifta menunggu di sana sambil mencicipi bakso dengan sambal yang disendok gila-gilaan? Aku kelu. Tak bisa membayangkan. Tidak ingin membayangkannya, agar sekadar pasti, karena aku berharap akan segera bertemu. Tapi, aku meminta supaya taksi itu ngebut. “Ada janji, Mas?” kata sopir itu. Tersenyum. Mengiyakan. Dan berharap: ia punya kesimpulan, aku terlambat untuk sebuah janji, karena itu memsibantu dengan secepatnya mengemudi taksi. Tapi, apa bisa secepat imajinasi dan rindu?

Kenangan Ifta

Malam itu Jenat menelepon, mengabarkan lagi merayakan kelulusan di kantin belakang kampus, makan gudeg dengan teman tapi lebih banyak bercerita dan tertawa denganku. “Aku akan keluar kampus, mencari pekerjaan, dan tak akan kembali lagi—bahkan tak akan bertemu dengan teman-teman yang juga lulus dan pulang kampung,” katanya. Aku tersenyum. Semester ganjil ini akan habis dan aku akan menyelesaikan semua di semester depan. Lolos sidang, jadi sarjana, wisuda, pulang kampung. Masuk kehidupan nyata, membawa kenangan tentang banyak teman kampus serta pondokan. Seperti biasa, seperti seharusnya—sesegera melupakan dengan peranan lain.

Ada haru menyumbat kerongkongan sekaligus mengerti: apa yang disirayakan Jenat. Bukan keberhasilan menempuh kuliah dalam empat tahun, tapi keharuan mulai menarik garis, awal untuk meninggalkan semua serta masuk ke kehidupan baru. Suka duka dan teman jadi transenden di luar diri, seiring dunia kuliah ditinggalkan dengan total mencari celah di dunia kerja. Akankah semua lancar? Aku tersentak. Kaget saat Jenat berteriak, bilang: besok akan berangkat dengan bus patas pagi agar siang sampai di Surabaya, lantas berdua saja merayakan kelulusan dengan makan siang, jalan-jalan, nonton, dan seterusnya.

“Kamu harus siap merayakan, Ta,” katanya. Dan aku berjanji akan menunggu di pendapa kampus, depan gedung rektorat. Jenat tertawa. Aku bilang, “Besok, mulai jam 11.00—hari itu aku ada janji dengan dosen pembimbing, tapi kapan itu tepatnya—, aku menunggu di pendapa, terus menunggu sampai malam, serta terus menunggu di sepanjang malam, sampai fajar terbit dan hari merembang mau pagi.” Di seberang itu Jenat terbahak—itu tawa terakhirnya. Seharusnya aku ke Jogja, memsiberikan ucapan selamat, dan berdua merayakan—sesuai perjanjian, ketika ia memilih kuliah di Jogja—sedang aku di Surabaya. Tapi, aku telah janji dengan dosen pembimbingku, karena itu Jenat memutuskan akan datang untuk merayakan.

“Deal!”

Kami setuju. Sepanjang malam—bahkan sampai kini—: aku gelisah. Seharusnya aku lulus dulu sehingga Jenat datang ingin memberi ucapan selamat pada, karenanya aku jadi pemenang –dan menikmati kenangan lulus kuliah dalam empat tahun. Tapi, kehendak-Nya bicara lain. Bukan tak mampu, tapi sakit, dan terlambat menyelesaikan satu mata kuliah. Kini Jenat jadi juara, menemui untuk mengajak aku—si pecundang—merayakan kemenangan. Tapi, apa itu—sampai kini aku memikirkannya, dan merasa bersalah pernah mempersoalkan—: penting? Bukankah berkali-kali Jenat bilang bila kami tak bersaing? Hanya ada kesepakatan buat segera punya pegangan hidup, lantas berusaha punya pijakan supaya bisa membina keluarga?

“Ada cinta di antara kita. Ada yang harus diperjuangkan supaya cinta itu punya pijakan—konkret,” katanya. Saat itu aku melengos –tetap merajuk agar dicumbuinya dengan pemanjaan. Dulu. Saat Jenat berkeras mengambil kampus yang berbeda. Dan tadi Jenat bilang, akan telat karena bus terjebak macet. “Ada kecelakaan di Saradan—hari itu ada truk pengangkut pupuk terguling di tengah jalan—, jadi terhambat, malah antreannya sekitar empat kilometeran, sampai ke Caruban,” katanya lewat HP. Dan di selepas tengah hari itu, aku memesan es jeruk dengan dua lumpia. Santai—mesti udara gerah memeras keringat dari jangat– sambil mengawasi pendapa yang senyap itu—dan tampaknya sedang disiapkan buat latihan teater.

Lalu langit runtuh, gegayut mendung itu jadi hujan, lebat menghunjam seperti si gentong pecah alasnya. Deras. Hanya sesaat. Meski gerimis kekal, jadi kengungunan tirai kusam yang hadir sepanjang sore. Sulurnya liat dan lembut berjulai-julai di antara deras berpuluh gelendong air jatuh dari kanopi pepohonan—terutama bila angin lewat. Aku mencoba menelepon, tapi tidak ada kontak. Apa sinyalnya demikan buruk karena hujan? Apa low battery? Aku menelan ludah. Memperhatikan sisa-sisa pelangi yang tak utuh membentuk busur di langit dan berharap mata kami bertemu pada titik yang sama—hal yang bertahun-tahun dilakukan ketika rindu. Kontak batin yang melegakan. Yang membuatku tabah di Surabaya meski Jenat di Jogjakarta.

Apa yang bisa memisahkan kami?

Ifta Pulang dari Jogjakarta

Aku ambil S-2 di kampus, segera setelah diterima jadi asisten dosen. Aku ingin jadi dosen agar tidak meninggalkan kampus Lidah Kulon. Sangat bersyukur sebab tak diperlukan alasan bila berlama-lama di kampus—berpura-pura mengerjakan tugas atau memeriksa tugas mahasiswa di pendapa sore hari. Saat senggang, tanpa memedulikan siapa pun, aku ke kantin, memesan makanan atau hanya minuman agar bisa berlama-lama mengawasi pendapa—membayangkan: Jenat bergegas, tertawa, dan berteriak, “Maaf, Ta—terjebak macet.” Tapi, tak mungkin Jenat sampai, bergegas datang, karena hari itu busnya mengalami kecelakaan di Saradan—dan hari itu ia meninggal.

Sejak itu, dari bulan ke bulan: aku selalu menunggu—meski yang datang hanya bayang. Berharap, sekali waktu muncul—hanya terlihat olehku—dan bilang: tak bisa segera datang karena jalanan macet dan antreannya mengular sampai empat kilometer, tapi berusaha datang meski akan sangat terlambat. Tersenyum –tersipu-sipu. “Ta, kau bersumpah akan menunggu semalaman, sampai pagi menjelma, sampai malam datang lagi, kan?” katanya. Aku berkaca-kaca. Sejak saat itu—kapan—: aku menatap pendapa sepanjang bulan, sepanjang minggu, setiap hari—kalau tidak disibukkan kerja—, serta: tak kuasa menahan tangis. Selalu berlinang duka meski tak pernah terisak.

Aku ambil S-2. Karena itu total mengabdi—sambil menunggu kedatangan Jenat—, sambil mencari kesempatan ambil S-3, dan akhirnya dikabulkan kuliah di Jogja. Kota tempat Jenat berkuliah, tinggal, dan empat tahun berjuang agar lulus S-1, kota tempat Jenat berancang-ancang menata nampan kehidupan tempat segala cinta itu ditugalkan, mengecambah, bertunas, dan tergelar menjadi sulur silsilah—yang entah membelit ke mana dan membuhul siapa. Jogja. Jenat. Mimpinya buat kebersamaan di masa depan. Itu yang coba aku sesap selama kuliah. Dan, sekarang, setelah lolos sidang meskipun belum wisuda—seperti dilakukan Jenat—, aku bersigegas naik patas dari Jogja, sambil mengharap hujan turun ketika bus memasuki Sidoarjo.

Berharap sesampainya di Bungurasih tinggal gerimis penghujung hari. Matahari sudah tergelincir di ujung lengkung langit barat, tapi sinarnya masih kuat menembus tirai gerimis: membentuk secuil busur pelangi tidak sempurna. Aku—membayangkan sosok Jenat—akan terpejam di taksi sambil sesekali menatap pelangi yang tercuil itu, sambil kuat berharap mata kami bisa bertemu tatap dalam busur pelangi dan merasuk kedalaman batin. Apa mungkin bila Jenat ada di sebalik cakrawala sedang aku di sisi lain? Terisak—tanpa peduli reaksi si sopir. Aku, kini, bisa membayangkan kecemasan Jenat, saat harus bergegas ke pendapa fakultas—kini bahkan Jenat tak bisa ke mana-mana. Dan terbayang, sekarang, taksi itu membelok ke fakultas, ke halaman parkir.

Ifta Pergi ke Pendapa

Aku meraih backpack—cuma itu, lainnya di Jogja, di kamar kos—, dan di senja rembang yang senyap itu aku melangkah menuju pendapa yang sunyi. Ada sisa basah dari gerimis yang reda. Lampu belum dinyalakan sebab malam masih terlalu jauh dan kegelapan masih terkantuk-kantuk di sela-sela daun. Terbayang: aku ini Jenat, yang ragu-ragu menemui Ifta, yang telah bertahun menunggu. Tercangkul serta berharap—dalam cemas—di pendapa. Karena itu, di dalam ragu, dengan rasa takut dan malu, aku memaksakan diri datang, untuk sekadar minta maaf dan merayakan kelulusan yang amat diharapkan. Langkah awal dari impian bersama –angan yang dibina dalam keterpisahan aku di Surabaya dan ia di Jogjakarta—sembilan tahun lalu.

Dan kini aku seperti melihat Jenat setengah bersisandar di tiang gerbang selatan, tersenyum, melebarkan kedua tangan mengundang hamburan yang akan disikuncinya dengan pelukan. Aku gemetar. Tertegun dan memejam. Ketika pelan membuka mata lagi: segala kembali sunyi di dalam remang, meski aku tahu—aku telah menemui Jenat yang di sembilan tahun ini berusaha untuk menemuiku di pendapa ini. Pasti. Dan kini, dengan kedatangan tergesa pada petang ini—dalam perasaan bangga lulus S-3 itu—: aku tidak lagi merasa sedang menunggu Jenat dan ditunggui Jenat. Semua sudah tuntas. Ia dan aku lebur. Bersatu. Menyatu—meski terpisah berbeda dimensi. Dan aku tahu: esok aku harus berziarah—merayakan secara fisik.

Metamorfosis Jenat

Langit mendung memekat. Dipenuhi gayutan awan mendung. Surabaya kekal tenggelam dalam saputan cat kelam, meski sering coba dilawan dengan lampu-lampu, kesibukan, dan hiburan. Sia-sia. Tidak ada angin. Yang bersihembus ke daratan, atau yang menderas menuju lautan. Berbulan. Bertahun. Lama. Dan, senja itu—seperti pada sembilan tahun lalu—: hujan turun. Roboh. Segera selesai –meski gerimis memanjang. Aku tersentak, ketika aku melihat Ifta bergegas—tampak kurus, lebih dewasa dengan beberapa uban pada rambut yang hanya diikat buntut kuda—, serta seperti bisa melihat aku karena ia berlari mendekatiku. Otomatis, penuh kerinduan—di sembilan tahun aku menunggu, berharap ia bisa melihat aku menunggu di pendapa—: berpelukan.

Setelah itu, kini, aku tidak terjangkar lagi ke pendapa, di depan gedung rektorat. Sehembus angin malah seperti mengajak serta mengapungkan—menerbangkan. Mengangkat lebih tinggi dari ketinggian yang kuasa diukur serta diingat, di mana aku, kini, pelan memasuki ruang tidak ingat apa-apa. Yang lebih pekat dan kental dari tir membungkus ingatan, seiring waktu yang tak berdetik lagi itu aku diletakkan pada rak. Tak ada lagi yang bisa ditulis—hanya kenangan dan mengenangkan. Semua lebur. ***

BENI SETIA

Sastrawan kelahiran Bandung. Selain cerita pendek, juga produktif menulis esai sastra dan puisi.


[1] Disalin dari karya Beni Setia
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” edisi Minggu 10 Maret 2019