Narayya dari Moor

Karya . Dikliping tanggal 18 Maret 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

ANGIN gurun berkesiur pada telinga Naseer. Matanya lekas terbelalak, memastikan sekitar tempatnya bersembunyi aman dari kejaran musuh. Langit masih gelap. Napasnya perlahan ia atur. Nyeri di paha dan punggungnya terasa lagi. Lelap dan kantuknya hilang seketika. Darah yang mengucur di kakinya mulai melambat. Kain putih yang diikatkan oleh Narayya bekerja sebagaimana mestinya. Meski malam, ia bisa memastikan kain itu telah berubah warna menjadi merah legam.

Naseer perlahan bangkit. Ia ingin memastikan apakah Narayya sudah terjaga. Agak pincang, kakinya membawa ia ke sebuah goa kecil, tempat Narayya merebah lelah. Sebelum ia betul-batul masuk, pandangan ibanya sekali lagi ia tujukan pada kuda hitam yang membawa mereka berdua sampai ke sana. Luka akibat lemparan panah dan tombak tak sedikit menggores di tubuhnya. Namun, ia yakin, kuda kesayangannya itu kuat. Ramuan tumbuhan yang dibuat Narayya sepertinya cukup ampuh sebab jelas sekali kuda itu tenang, tidak lagi meringkik dan merintih.

Di dalam goa lumayan terang. Nyala obor masih bertahan walau hanya tersisa satu. Tiga yang lain telah padam. Perasaannya mulai sedikit khawatir. Sorot matanya kembali awas melihat ke sekeliling. Gegas ia memacu langkahnya. Tepat ketika ia menoleh ke arah kiri, Narayya tidak ada di tempatnya. Ia yakin betul perempuan dari kerajaan Moor itu ada di sana dan ia yang memintanya untuk masuk ke dalam goa dan rehat di ruang sempit itu. Naseer merasa kecolongan! Padahal ia pikir tidak lelap-lelap amat sewaktu berjaga di luar. Kalaupun ada seseorang yang masuk, kuda hitamku pasti akan meringkik, lebih-lebih pada orang asing yang tak dikenalnya, pikir Naseer. Akan tetapi, mengingat kudanya ia malah tercekat untuk beberapa saat. Kuda? Kudaku!

Dugaannya benar. Kuda hitam, tinggi, dan penuh luka itu, telah mati. Naseer mengutuki dirinya sendiri. Ia melepas tudung dan jubahnya lalu ia hempaskan ke hamparan pasir. Tidak ada suara selain angin yang berkesiur masuk ke rongga-rongga bebatuan goa. Angin gurun menerbangkan pasir-pasir halus ke udara, mengabarkan pada langit aroma anyir kematian.
Naseer pikir kuda itu hanya sedang tertidur lelap. Sejak mula memang kuda itu merebahkan tubuhnya dengan kepala menyentuh tanah. Namun, entah bagaimana caranya, mulut kuda miliknya menyisakan bau racun, dan leher sebelah kanannya robek oleh sayatan pedang. Pasir di bawah kepalanya cekung dan ada kubangan darah. Aku benar-benar lengah!
Kesatria payah! Pecundang gurun!

Sejauh mata memandang hanya ada hamparan gurun nan luas. Undakan-undakan pasir yang jumlahnya ribuan seolah hendak menyentuh langit gelap di atasnya. Tiada yang bisa ia lakukan sekarang. Meski bintang-bintang mengabarkan ke mana arah permukiman, serasa percuma. Tak soal kalau hanya 10-50 km yang mesti ia tempuh, tetapi ada puluhan mil yang harus ia lalui dengan luka di sekujur tubuhnya. Tanpa kuda? Tanpa unta? Lebih baik mati tertimbun pasir dan lenyap ditelan bumi, pikirnya.

Kemudian ia menyesali hal yang sampai membuatnya terlibat pada pengejaran ini. Bahkan Narayya baru ia kenal tiga hari lalu. Sewaktu mereka menaiki karavan yang sama menuju sebuah rumah bordil. Ia tak berniat meniduri perempuan mana pun setidaknya waktu itu. Ia datang ke sana hanya untuk berjudi. Hasratnya berjudi memang yang paling kuat hingga membawa ia mengembara dari satu perkampungan hingga ke sebuah kerajaan lain.

Naseer turun dari karavan. Matanya sudah tertuju pada kuda hitam yang diikat di dekat pintu masuk. Ia tersenyum. Wajahnya tampak begitu tertarik. Jari-jarinya yang memakai banyak cincin berhiaskan batu-batu itu mengelus rambut kuda. Ia tampak begitu akrab. Sorot matanya yang tajam itu, tiada berkedip sewaktu melihat pelana kuda di depannya. Ia hanya mengangguk kecil seperti mendapati satu jawaban yang memuaskan entah apa.

Seorang putri, yang beberapa jam setelahnya akan ia kenal dengan nama Narayya, juga turun. Mereka melangkah masing-masing. Perempuan itu lebih dulu memasuki rumah bordil. Selang beberapa orang asing lain masuk, barulah Naseer menyusul di belakangnya. Tidak ada yang istimewa. Orang-orang biasa saja memandangnya. Meski saat itu ia membawa logam, emas, dan uang yang cukup lumayan. Sesaat lagi mereka akan paham dari mana pria hitam berambut kriting itu mendapatkan hartanya.

“Perkenankan aku bergabung di meja kalian.” Naseer menaruh barang bawaannya di atas meja. Bandar dan penjudi lainnya menyilakan. Dadu berbentuk pentahedron, yang terbuat dari tulang atau gading hewan itu dikocok dalam gelas kayu. Tapi sebelum dadu dilempat Naseer menahannya. “Kupertaruhkan semua harta milikku ini untuk kuda hitam di luar sana.”

Ia mendorong harta bendanya hingga ke tengah meja. Melihat keberaniannya, para penjudi bisa mengira kalau semua harta bendanya itu hasil berjudi.

Seseorang, yang tak lain pemilik kuda itu, keberatan. Namun, beberapa orang yang duduk melingkari meja itu memberi tanda. Naseer menangkapnya kalau akan ada satu muslihat yang bakal mereka mainkan.

“Aku setuju. Karibku ini hanya butuh diyakinkan. Maklum, itu kuda yang baru ia peroleh dari seorang pengembara,” ucap pria tambun yang beserban hitam di kepalanya, si bandar.
“Katakan, berapa angka keberuntunganmu?”

Mulanya Naseer tampak ragu, sebab ia sudah masuk dalam perangkap. Namun, demi mendapatkan kuda hitam miliknya lagi, ia harus memenangkan pertaruhannya. “Angka 3, entah mengapa aku tak pernah seyakin ini saat berjudi,” ia menggertak.

Lalu si bandar bertanya pada penjudi yang lain, setuju untuk ikut atau tidak. Karena gengsi, mereka yang tak memiliki kuda hitam, pantang mundur. Segala emas, perak, perunggu, uang, logam, dan benda berharga lainnya mereka pertaruhkan di meja judi itu. Sementara itu, si pemilik kuda hitam mau tidak mau harus turut dalam permainan. Si pria tambun menatapnya penuh ancaman Naseer menangkap gelagat itu.

Dan Narayya, matanya membahasakan sesuatu kepada Naseer. Ia memberi kode dan petunjuk apa yang mesti ia lakukan kalau menang. Ia berdiri tidak jauh dari balik punggung si bandar. Naseer tidak tahu bagaimana ia tahu kalau perempuan itu memang sedang menyampaikan sesuatu yang ia tangkap dalam kepalanya. Ia yakin betul pesan itu yang ingin si perempuan berikan.

Lalu dadu segi delapan itu di lempar ke meja judi. Tidak ada angka lain yang keluar selain titik tiga berada di atas. Semua penjudi tidak yakin. Mereka semua berdiri dan memastikan kalau angka lain yang muncul. Tak soal karibnya yang menang asal bukan si pengembara asing itu.

Apa mau dikata, nasib mujur memang sedang menimpa Naseer. Narayya tanpa aba-aba maju ke dekat meja dan membantu mewadahi hasil taruhan ke dalam tas milik Naseer. Dari air mukanya, semua penjudi tampak geram. Jangan ditanya bagaimana wajah si bandar; merah kehitam-hitaman dengan urat-urat menjalari kedua sisi dahinya.

“Sebaiknya kita pergi sekarang,” bisik perempuan berkalung manik-manik yang berkilauan itu. “Perkenalkan, namaku Narayya.”

“Tuan, angkat aku jadi budakmu. Aku tak punya apa-apa lagi, kumohon,” salah seorang penjudi mengiba. Namun, belum Naseer menjawab, Narayya mendorong si calon budak itu.

“Ingat, di tanah asing, jangan memercayai siapa pun.” Sekali lagi Narayya meyakinkan Naseer.

Dengan menggondol tiga karungan besar hasil judi, perempuan itu berlari keluar menuju kuda hitam. Naseer bingung mengapa perempuan itu tiba-tiba membantunya.

“Terima kasih atas kebaikanmu. Ambillah ini dan biarkan aku pergi sendiri,” dua bongkah emas batangan ia serahkan pada perempuan itu.

“Apa maksudmu? Aku tidak ingin hartamu. Aku hanya butuh tumpangan sampai ke permukiman bangsa Moor. Aku seorang putri. Ayahku memiliki harta benda semacam ini seratus kali lipat dari yang kau punya,” ucapnya sembari menaiki pelana kuda.

Naseer tidak mau ambil pusing. Kuda hitam miliknya yang sempat dicuri orang telah kembali ke tangannya. Ia hanya perlu mengantarkan perempuan itu ke tempat asalnya. Lalu ia bisa kembali melanjutkan perjalanan. Lagipula, pandangan orang-orang di tempat judi itu sudah tidak mengenakkan. Bahkan beberapa berpindah dari tempat duduknya untuk mengambil…. senjata masing-masing. Ia harus segera pergi dari sana!

“Lekaslah! Mereka murka atas kemenanganmu!” Narayya menarik lengan Naseer. “Pegangan yang erat. Pastikan kau tidak merusak hari keberuntunganmu.”

“Kau boleh mengerti wilayah ini, tapi urusan menunggang kuda, serahkan pada ahlinya.” Naseer ambil sikap. Ia memacu kuda hitam kesayangannya itu. Entah bagaimana bisa ia menuruti apa kata si perempuan asing yang baru dikenalnya bahkan mengenalkan diri tanpa ia pinta. Orang-orang berlari dan berteriak. Mereka tak terima dengan kekalahannya.

Bergegaslah mereka menaiki kuda dan unta milik masing-masing. Panah, pedang, dan tombak tak luput mereka bawa. Naseer jadi buronan seperti kijang dalam kepungan harimau.
Beruntung Narayya tahu ke mana mesti Naseer membawa kudanya. Meski pendatang, perempuan itu begitu hafal lekuk jalan dan watak orang-orang di sana, pikir Naseer. Namun ia tak mau banyak bertanya. Ia mesti fokus dan keluar dari masalah ini.

Sialnya, para penjudi itu membawa banyak kawanan. Situasinya betul-betul seperti dalam perang dua negara yang tak usai-usai. Bahkan hingga ke gurun Naseer dan Narayya dikejar-kejar. Sehebat apa pun mereka menghindar, beberapa anak panah dan tombak melukai tubuh mereka masing-masing, termasuk si kuda hitam.

“Dan sekarang aku di sini, di tengah gurun pasir, seorang diri. Di tanah asing, seharusnya aku tidak memercayai siapa pun. Termasuk perempuan keparat dari bangsa Moor itu!”


[1] Disalin dari karya Ade Ubaidil
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 17 Maret 2019