Natal yang Mukim di Kamar Lindra

Karya . Dikliping tanggal 29 Desember 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Suara Merdeka
NATAL segera tiba. Besok Natal akan mengunjungi rumahku. Juga pasti Natal akan mukim di kamarku. Namun kurasa masih sama dengan Natal yang tiap tahun mukim di kamarku, tetap tak beda. Aku masih tak mampu berbuat apa-apa. Hanya terbaring saja di ranjang sambil meniti kesunyian ini. Walaupun katanya Natal itu sangat indah, damai, dan hanya dentang lonceng yang damai saja yang mampu kudengar. Walaupun aku tak mampu membalas dentang damai bebunyian itu.
Kata ibuku, yang setiap Natal selalu bilang kepadaku, katanya Natal adalah hari yang damai. Ramai dengan lampu yang melantunkan doa-doa dari setiap rumah-rumah. Dentang damainya mengalun ke mana-mana. Kedatangannya ditunggu-tunggu oleh umat Kristiani sedunia. Namun hingga tujuh belas tahun usiaku ini, aku belum pernah menyaksikannya dengan sempurna. Aku tak tahu, kapan Tuhan mendengar doa-doaku pada setiap Natal agar aku diperkenankan menikmati kesempurnaan hari damai itu.
Kadang hatiku begitu berat dan berkecamuk dengan begitu dahsyat jika hari hendak menjelang Natal. Lebih-lebih pada masa Natal ini, Sinterklas telah mengecewakanku. Malam itu, pada tanggal 6 Desember, Sinterklas datang di kamarku. Kata ibuku, “Lindra, malam ini kau mesti bahagia. Karena Sinterklas malam ini mengunjungimu. Benar, Lindra. Ini dia datang, akan datang pada malam menjelang pestanya setiap tahun. Sinterklas datang dengan membawa berbagai macam hadiah untuk anak-anak yang manis. Dan kau adalah salah satu anak manis itu, Lindra. Kali ini Sinterklas datang membawakanmu hadiah baju bagus. Sentuhlah, Lindra. Baju yang sangat halus ini, sehalus tubuh dan hatimu.”
Aku ingat betul waktu itu, Sinterklas menyapaku, yang kata ibuku, Sinterklas berbaju merah. Kata ibuku, merah adalah warna, walaupun aku sendiri tak tahu warna merah itu seperti apa, “Hai anak manis, aku datang lagi kepadamu. Kali ini aku membawakanmu hadiah baju yang sangat bagus. Berbahagialah ya, Lindra? Malam ini, seorang malaikat penolong yang membawa daftar nama anak-anak yang baik telah memperlihatkan catatannya bahwa kau anak yang baik, kau sangat sayang kepada ibumu. Maka aku memberimu hadiah. Jangan bersedih ya, Lindra. Kau anak manis. Maka aku berhak memberimu hadiah baju bagus ini. Berbahagialah.”
Sejujurnya waktu itu aku sangat marah kepada Sinterklas. Kenapa harus memberiku hadiah baju? Bukankah aku sudah banyak memiliki baju bagus? Aku sebenarnya ingin mataku bisa melihat, mulutku bisa bicara, dan aku tak lagi lumpuh. Aku ingin kau bilang kepada Tuhan tentang permohonanku ini, Sinterklas! Bukan malah membawakanku hadiah baju!
Waktu itu aku sangat marah dan sangat bersedih. Aku yakin, ibu pasti juga bersedih, karena melihat cucuran airmataku. Tapi bagaimana lagi, aku tak mampu menolak ataupun menyanggah segala sesuatu yang disebut hadiah dari Sinterklas itu. Kapan Sinterklas mampu mendengar bahasa hatiku?
Sungguh aku sangat kecewa dengan Sinterklas. Tapi ini mending, ia memberiku hadiah baju, barang yang bisa bermanfaat bagiku. Coba kalau tahun kemarin, aku ingat betul. Tahun kemarin Sinterklas dan sukacita yang ia datangkan ke dalam perayaan Natal di kamarku telah memberiku hadiah sepatu. Apa Sinterklas tak tahu kalau aku lumpuh dan tidak bisa berjalan? Tapi tak tahu juga bila Sinterklas punya maksud lain kepadaku, ketika memberiku sepatu. Pikirku malah tahun ini ia akan memberiku hadiah agar aku bisa berjalan. Eh, ternyata tidak.
Pikirku Sinterklas terkadang memang sungguh keterlaluan. Namun terkadang aku sadar, tak apa seperti itu. Aku cukup bersyukur ketika tiap tahun Sinterklas selalu mau datang kepadaku untuk memberi hadiah. Dan aku berbahagia, karena seorang malaikat penolong yang membawa daftar nama anak-anak yang baik telah memperlihatkan catatannya bahwa aku anak yang baik, kata Sinterklas aku sangat sayang kepada ibuku. Ya, benar begitu. Karena ibuku juga sangat menyayangiku.
Tetapi ketika itu dan hingga kini aku tetap saja merasa sangat kurang bersyukur atas segala yang diberikan Tuhan kepadaku. Aku merasa sepertinya yang ada di kepala dan sekujur tubuhku tak lebih dari hiasan saja. Mataku kosong, airmataku yang hujan selalu basah meminang kesepian ini. Mata yang seharusnya mampu menemukan yang hendak kucari dan kunikmati keindahan serta kedamaian hidup di dunia, namun hingga kini aku belum mampu memperoleh itu. Aku juga masih lumpuh dan tidak bisa berjalan. Muluku juga bisu. Tuhan tidak adil! Apa dosaku Tuhan?
Aku ingin menikmati hidup ini dengan sempurna, Tuhan! Karena kata ibuku, dunia ini indah. Ada cahaya dan keistimewaan lainnya. Seperti juga tentang Natal yang berwarna-warni dengan lampu-lampunya yang bermekaran nan indah. Namun itu semua sebatas kata ibuku, juga kadang guru privatku yang berkata begitu. Ya benar, ibu dan guru privatku sering berkata seperti itu. Namun aku hanya mampu mendengar saja, hanya telingaku saja yang tidak buta. Aku hanya mampu mendengarkannya saja, aku tak dapat melihat atau menjawabnya. Hanya dalam hati saja aku bicara, dan pasti ibuku atau guru privatku tak tahu apa kata hatiku. Dan padahal setiap ada orang berkata-kata kepadaku, aku selalu ingin menjawabnya. Siapapun tak pernah akan tahu jawaban kata hatiku. Kepada berita di radio dan televisi pun selalu aku berusaha menjawabnya. Ya, radio dan televisi yang setiap hari selalu diputarkan oleh ibuku, yang katanya agar aku tahu wawasan. Dan aku pun mendengarkan kata ibu, juga apa saja yang keluar dari televisi atau radio. Ya begitulah, informasi-informasi tentang hidup manusia di dunia yang kerap selalu kudengar. Karena kata ibu dan guru privatku, itu sangat penting sebagai wawasan. Aku turuti kata mereka. Karena aku sangat menyayangi mereka berdua, juga agar aku tahu tentang perkembangan dunia serta manusia yang juga sama sepertiku. Mungkin yang membedakan hanya nasib saja.
Sebenarnya aku sangat bosan dengan hidupku ini. Dulu ketika masih kecil, beberapa kali aku hendak bunuh diri. Beberapa kali aku berguling dan terjatuh di lantai, lalu ada benda-benda padat yang membentur di kepalaku. Sempat ada gelas di lantai yang membentur dengan keras di kepalaku. Sontak ketika itu darah mengucur dengan deras dari kepalaku. Ibuku menangis meraung-raung dan memelukku dengan erat. Itu berkali-kali kulakukan, hampir setiap sebulan sekali aku berusaha bunuh diri. Namun ketika aku berusaha bunuh diri, ibu selalu saja menangis, juga ibu selalu memelukku dengan erat. Maka setelah itu berulang-ulang kulakukan, aku menjadi sadar, kalau ternyata ibu sangat menyayangiku. Setelah itu aku menjadi sadar, tak lagi berusaha bunuh diri atau sekadar menyakiti diri sendiri. Karena kata ibuku itu adalah perbuatan dosa, Tuhan tak suka dengan orang yang bunuh diri. Selain itu juga ibu sangat menderita jika aku bunuh diri. Karena kata ibuku, aku adalah satu-satunya yang dimiliki setelah bapakku meninggal ketika aku dilahirkan. Ibu pun tak mau menikah lagi, karena ibuku tak mau jika orang yang dinikahinya akan menyakitiku. Maka ibu yakin untuk memutuskan tidak menikah lagi, karena ibu sangat menyayangiku lebih dari apa pun.
Berdasarkan pengalaman yang dikatakan ibuku, jika ibu menikah lagi, maka biasanya orang itu akan jahat kepada anaknya. Karena orang itu adalah bapak tiri. Seseorang yang bukan bapak kandung. Karena bapak kandungku telah meninggal semenjak aku dilahirkan. Kata ibuku, bapakku adalah orang yang sangat baik. Bapakku adalah seseorang yang selalu bekerja keras. Buktinya ibuku kali ini tidak kerja. Ibuku hanya di rumah, menemaniku setiap saat dan ketika aku membutuhkan. Ibuku selalu merawat dan melindungiku dari apa pun, bahkan dari nyamuk sekalipun, ketika aku sedang tidur ataupun terjaga.
Aku dan ibuku merasa sangat bangga memiliki bapakku, karena ia telah mewariskan semua harta dan segala sesuatu yang dimilikinya untuk aku dan ibuku. Hingga kali ini aku dan ibuku tak perlu harus bersusah payah untuk mencari uang sebagai pemenuhan hidup, untuk makan, pakaian dan lain sebagainya. Lebih-lebih bagi ibuku yang sudah cukup lelah termakan usia, ibu tak perlu repot-repot mencari uang untuk menghidupiku yang tak berdaya berbuat apa-apa ini. Aku semakin bangga memiliki ibu. Aku yakin ibu begitu menyayangiku. Namun kadang aku masih heran kepada Tuhan, lagi-lagi kepada Tuhan. Kenapa belum juga mau mengabulkan doa-doaku agar aku mampu melihat dan berbicara? Aku juga ingin bisa berjalan, tidak lumpuh terus seperti ini. Aku bosan jika harus selalu di kamar ini, Tuhan! Aku tak kuat jika seumur hidup aku harus selalu di kamar ini! Bayangkan saja, aku setiap waktu harus selalu di kamar, dari mulai mandi, makan, berak, belajar dengan guru privat serta apa pun itu selalu saja kulakukan di kamar. Yang buta tidak hanya mata dan bibirku saja, namun tubuhku juga buta.
Hanya ibu yang selalu sabar merawatku. Aku mendengar dengan baik kasih sayang yang selalu ibu hujankan kepadaku. Semoga kelak aku mampu membalasnya, dan tentunya Tuhan juga harus mau memberikan pahala yang melimpah kepada ibuku, juga kepada bapakku yang sudah terlebih dahulu menemui Tuhan. Karena kata guru privatku, Tuhan itu baik hati. Tapi aku juga tak tahu itu bohongan atau memang benar. Katanya Tuhan adalah segala-galanya, Tuhan adalah pemilik kebahagiaan dan kenikmatan. Maka ya aku pun selalu memohon kepada Tuhan melalui doa, agar ibuku diberi pahala yang banyak. Karena ibu telah menyayangiku dengan tulus dan sepenuh hati. Juga kepada bapakku yang telah terlebih dahulu menemui Tuhan, dan kepada guru privatku yang selalu mendidik dan mengajariku tentang berkehidupan di dunia. Karena memang hanya mereka saja yang dekat dalam hidupku. Yang selalu setiap hari menemaniku, merawat dan melindungiku dari apa pun.
Malam ini aku kembali teringat. Natal segera tiba. Besok Natal akan mengunjungi rumahku. Juga pasti Natal akan mukim di kamarku. Namun kurasa masih sama dengan Natal yang tiap tahun mukim di kamarku, tetap tak beda. Aku masih tak mampu berbuat apa-apa. Hanya terbaring saja di ranjang sambil meniti kesunyian ini. Walaupun katanya Natal itu sangat indah, damai, dan hanya dentang lonceng yang damai saja yang mampu kudengar. Walaupun aku tak mampu membalas dentang damai bebunyian itu.
“Lindra, apakah kau belum tidur?” sapa ibuku kepadaku, yang memang belum tidur, “Besok Natal, Lindra. Berbahagialah. Ini Natal yang ke tujuh belas bagimu. Kau kini telah dewasa. Karena umur tujuh belas tahun adalah kematangan bagimu. Apa lagi kau adalah perempuan. Berkah Tuhan buatmu, Lindra.” Sembari iu mengelus-elus rambutku. Namun sangat menyakitkan, aku tak mampu menjawab apa yang dikatakan oleh ibuku, hanya airmata saja yang mampu kubalas, lebih-lebih agar ibu tahu kalau aku belum tidur. Dan hanya itu saja yang mampu kulakukan untuk merespon lawan bicaraku.
“Kau cantik, Lindra. Kau semakin menjadi wanita. Natal kali ini, ibu ingin bilang sesuatu, namun sebenarnya tak perlu kubilang kepadamu. Karena kau adalah tanggung jawabku. Namun ini juga harus kau dengar, entah kau mampu mendengar suaraku atau tidak. Lindra, kau tak perlu bersedih. Ini yang ingin kubilang kepadamu, Lindra. Tentang harta serta kekayaan dari bapakmu kini telah habis. Maka mau tidak mau setelah Natal besok, ibu hendak pergi mencari uang. Entah bekerja apa saja. Mencari uang agar mampu menghidupimu. Hidup kita berdua, Lindra. Maaf, kalau mulai besok mungkin ibu tak mampu menemanimu setiap waktu. Dan mulai besok juga, ibu tak mampu membayar guru privat untuk belajar bersamamu. Juga mungkin besok ibu akan pergi ke gereja untuk menengadah kepada para pengunjung. Agar di antaranya mau berbagi harta. Maaf, Lindra. Ibu akan tidak selalu ada di dekatmu. Tapi percayalah, ibu sangat menyayangimu.”
Airmataku mengalir, mengucur dengan deras. Balasku kepada ibu. Sebagai rasa sayang yang tiada terhenti. Aku yakin ibu juga sangat menangis melihat airmataku. Maaf, aku membuatmu sedih. Maaf, aku belum bersyukur atas karuniamu, Tuhan. Bagiku, hidupku merupakan suatu kesaksian yang cukup bagus bagi diriku sendiri juga bagi ibuku. Dan airmata ini adalah sukacita yang Tuhan datangkan ke dalam perayaan Natal kepadaku juga bagi ibuku. Aku harus yakin, kiranya Tuhan benar-benar mengilhamiku dengan doa-doaku dan semangat kasih sayang ibuku yang tak bertepi, serta teladan hidup agar kita dapat merayakan Natal dengan penuh iman.
Palebone, Desember 2015
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Setia Naka Andrian
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Suara Merdeka” Minggu 27 Desember 2015
Beri Nilai-Bintang!