Natasha

Karya . Dikliping tanggal 20 Januari 2014 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo
AKU dan Abilio sudah memutuskan tidak akan mengintip perempuan itu lagi. Tapi Natasha selalu datang ke tempat ini dengan pakaian yang bisa membuat lelaki lupa pada istri mereka. Dia suka memakai baju tipis yang menonjolkan bentuk buah dadanya. Gerakan pinggulnya mirip kadal sedang memanjat perdu bambu. Dan itu telah membuat perhatian kami begitu tersita.
“Kita tunggu sebentar lagi. Ia pasti datang!”
“Tapi ini sudah malam, Abilio. Aku belum mengerjakan PR!”
“Sebentar lagi. Sepuluh menit lagi!” Abilio berbisik.
“Kau ini memang menyebalkan. Aku sudah tak tahan mendengar omelan Bu Joana.”
“Memang menyebalkan dia! Apa setiap guru matematika begitu?” Abilio menghela napas.
“Kenapa tidak Natasha saja?”
“Maksudmu?”
“Mengajari kita.”
Abilio memejamkan mata dan tersenyum. Dari jarak tampak orang-orang lalu lalang. Beberapa botol minuman keras berserakan di jalan. Kami telah melalui jalan pintas melewati dua kampung.
“Abilio, apa ini yang dinamakan cinta?”
“Kau kedengaran seperti orang dewasa saja, Justino.” Abilio tersenyum tipis.
Di langit bintang kerlap-kerlip seperti warna emas. Pada bulan yang bulat tampak guratan mirip pohon di tanah tandus.
“Mungkin iya.” Matanya berbinar.
“Hei, bukankah Natasha itu memang menarik? Kalau tidak, untuk apa kita kemari?” Abilio tersenyum menatapku. Aku menggigit sebatang ranting kering.
“Kukira kita memang sedang jatuh cinta, Justino. Jatuh cinta pada Natasha.”
“Tapi apa mungkin kita jadi suaminya?”
Natasha

“Mungkin saja.” Abilio mengelap ingusnya. Beberapa nyamuk hinggap di tengkukku. Aku memukulnya dan meninggalkan darah pada telapak tanganku yang kurus.

Sebuah mobil sedan mengkilap lewat. Kami menunduk dan bersembunyi tidak jauh dari tempat parkir. Dari sana terdengar musik berdentam-dentam. Nyamuk semakin keranjingan menghajar. Embun sudah bermunculan di rerumputan.
“Abilio, sudah jam 12 malam. Kita pulang saja. Mataku mulai berat. Aku ingin tidur.”
“Kau selalu begitu. Itu sikap anak perempuan, Justino. Kau harus kuat. Kata almarhum ayahku, anak laki-laki tak boleh lemah begitu. Anak laki-laki harus siap melakukan apa pun termasuk tidur dalam kakus.”
“Tidur di kakus? Siapa yang mau tidur di dalam kakus?”
“Itu perumpamaan, Bodoh!” Abilio menepis sehelai daun bambu gading yang menyentuh pipinya.
“Tapi aku sangat mengantuk, Abilio. Sebaiknya kita pulang saja. Di situ orang dewasa semua. Mereka akan mengusir kita, Abilio.” Aku menghela napas.
Abilio menarik lenganku dan melihat jam tanganku.
“Sebentar lagi. Kau ikut aku saja. Kita coba menyelinap ke belakang kafe itu dulu. Natasha pasti ke sini!”
Abilio memicingkan matanya seperti membayangkan sesuatu dan menyungging senyum tipis. Oh Tuhan, kawan ini makin lama makin menjengkelkan.
SAAT Abilio pertama kali datang ke rumahku, ia sudah seperti dirinya sendiri. Maksudku tidak ada teman-temanku lain yang berpenampilan sepertinya. Entah bagaimana ia melakukannya, ia menindik bagian bawah bibirnya. Lalu pada lubang halus itu ia pasang besi bulat kecil yang mirip anting perempuan. Rambutnya keriting dan tebal. Baju dan jins yang dipakainya selalu kumal. Dan satu hal lagi, aku tidak tahu kapan ingus di hidungnya akan berhenti naik-turun.
“Kau sudah makan?”
Abilio menggeleng. Aku mengajaknya makan siang. Di dapur aku mendapati ibu di kursi belakang. Cahaya matahari menembus dari sela-sela ventilasi.
Aku melihat mata ibu merah. Sesuatu mengalir di hidungnya yang mancung. Ia mengelap dengan sapu tangan. Rambutnya mulai beruban. Ibu tersenyum tapi senyumnya sungguh aneh. Ibu seperti ingin memberi tahuku sesuatu. Itu pertama kali Abilio ke rumah. Aku yakin ibu begitu sebab ketidaksenangannya pada Abilio. Pada hari kedatangan Abilio, wajah ayah juga tidak ramah. Ayah hanya mendelik sekali di balik kaca mata kemudian berlalu. Orang-orang memang ramai membicarakan keluarga Abilio.
Abilio makan dengan lahap. Aku menatap mata ibu. Sebentar lagi, waktu Abilio sudah pulang, ayah dan ibu mungkin akan memperdebatkan sesuatu tentangnya. Aku mulai merasa tidak nyaman. Mungkin ayah dan ibuku sama seperti orang-orang dewasa di sekolah. Mulai dari penjaga sekolah sampai bibi-bibi penjual kue di kantin, mereka memandang Abilio dengan ujung hidung berkerut. Seolah-olah Abilio telah mencuri kue mereka. Tapi lebih sering mereka memang tak mau memandangnya. Aku tidak mengerti mengapa orang dewasa banyak yang aneh. Mereka tampak seperti menyembunyikan sesuatu.
Beberapa hari kemudian aku mendengar beberapa temanku yang lain dilarang orang tuanya berteman dengan Abilio. Tapi bagi Abilio itu bukan masalah. Ia mungkin tak menyadari atau kukira ia memang tidak mau tahu. Ia punya dunia sendiri, lebih tepatnya kami. Kami punya dunia yang berbeda. Abilio temanku paling setia. Ia selalu membelaku waktu diganggu Otavio, ketua geng sekolah kami, meski tubuh Abilio lebih kecil.
Dan Abilio-lah yang telah memberi tahuku perihal Natasha. Aku masih ingat, hari itu ia datang begitu cepat ke sekolah. Beberapa saat sebelum bel berbunyi ia telah berbisik padaku, “Kau harus ke rumahku untuk melihatnya. Kau akan tergila-gila, Justino!” Abilio tersenyum. “Ia cewek Uzbek!”
“Bagaimana kau tahu?”
“Dia tetanggaku, Bodoh!”
Hari itu aku gantian ke rumah Abilio. Halaman rumahnya ditumbuhi rumput dan tak terurus. Di dalam pot tumbuh bunga yang sebagiannya telah layu. Saat angin berembus menguar bau tahi kucing. Tahi burung berserakan sampai di pintu masuk. Di samping rumah ada tiang kayu. Di atasnya dipasang tempat tinggal merpati. Tapi aku tak melihat seekor merpati pun. Rumahnya seperti rumah tak berpenghuni.
“Ibumu di mana?”
“Entah,” jawab Abilio.
Di balik tembok yang membatasi rumah Abilio dengan rumah Natasha, ada sebuah lubang sebesar apel. Abilio telah membuatnya diam-diam. Ia melubanginya dengan paku 10 inci.
Dari lubang itu aku melihat Natasha duduk sendirian. Dia memakai celana pendek. Pahanya putih dan mulus. Dia sedang memotong kuku kakinya di kursi beranda. Jantungku berdesir.
Kami bergantian melihatnya hingga beberapa kali.
Keesokan harinya kami melakukan hal yang sama. Kadang kala melihat Natasha sedang menjemur pakaian di tali jemuran dengan pakaian minim. Kadang kala kami melihat ia tersenyum-senyum sendiri ketika telepon genggamnya dilekatkannya di telinganya. Kami tak mengerti bahasanya.
“ABILIO, ayah akan mencariku! Sudah jam 1.”
Abilio menghela napas. Raut wajahnya berkerut. Dia tampak kesal.
“Ayolah, kau pikir ayahmu peduli? Aku pikir kau sudah ikuti saranku dengan baik. Bagaimana kau melakukannya?”
“Bantal guling. Aku menaruh bantal guling, menutupnya dengan selimut lalu keluar melalui jendela.”
“Bagus!”
“Tapi aku takut, Abilio.”
“Kenapa?”
“Pintu jendela kamarku selalu terayun kalau ada angin.”
“Tidak, tenang saja!”
Abilio memang paling bisa meyakinkan orang. Setidaknya aku sedikit tenang. Tapi mengertikah Abilio kalau aku sedang melakukan dua kesalahan? Pertama, keluar tanpa izin; dan kedua, telah melanggar perintah ayah agar tak berteman dengannya.
Suatu hari karena melihat aku semakin dekat dengan Abilio, ayah memanggilku ke ruang tamu. Ia membetulkan letak kacamata, melipat koran, dan mulai menceramahiku. Kata ayahku, ibu Abilio seorang pelacur. Ibunya menjadi seperti itu semenjak ayah Abilio meninggal dibacok orang. Dua abang Abilio kemudian tumbuh menjadi preman di kota. Ayah bilang mereka memeras, dan kadang-kadang merampok atau membunuh orang.
“Kau harus hati-hati, Justino! Bukan tidak mustahil sebentar lagi Bajingan kecil itu akan mengikuti jejak abangnya.”
Aku hanya dapat mengangguk dan tak banyak bicara. Ketika ke sekolah keesokan harinya, aku bertanya pada Abilio apakah pelacur itu.
Dia tertawa dan berkata setengah berbisik, “Pelacur itu seseorang seperti Natasha.”
“Oya?” Aku tertegun. Berarti semua pelacur pasti cantik seperti ibu Abilio dan Natasha. Senyumku mengembang.
Setiap pulang sekolah aku mulai sering ke rumah Abilio untuk mengintip melalui lubang kecil buatan Abilio itu. Semakin hari, aku dan Abilio semakin penasaran. Ia mencari tahu ke mana Natasha pergi kalau malam. Pergi dengan siapa dan apa yang ia lakukan.
“Aku sudah tahu tempatnya, Justino,” kata Abilio suatu hari, “tapi untuk ke sana kita harus punya uang.”
“Aku tak punya uang.”
“Aku sudah mengambil uang ibuku sedikit.” Abilio menoleh ke arahku dan tersenyum nakal.
“Ambil uang ibumu juga. Uang dua orang ibu sudah cukup. Ibumu dan ibuku. Kalau kita ambil uang orang lain baru namanya mencuri.”
Aku mendengar ragu-ragu.
“Tapi jangan samapi ketahuan ibumu.”
Demi Natasha, bukan demi Abilio, aku patuh pada usul itu. Itu pertama kali dan kuharap itu yang terakhir aku mengambil uang ibu secara diam-diam.
MALAM semakin larut. Dingin mencucuk hingga ke tulang. “Itu abangmu!” aku berbisik pada Abilio. Aku melihat seorang lelaki bertubuh tinggi dan tegap turun dari sepeda motor besar. Rambutnya pirangnya panjang hingga ke bahu. Celana jinsnya berlubang. Di bawah cahaya lampu, rantai yang bergantung di pinggangnya memantulkan sinar berwarna perak. Kami menunduk. Napas kami tersengal.
“Apa abangmu akan menikah dengan Natasha?”
“Bodoh. Tidak mungkin! Itu tidak boleh terjadi, Justino. Natasha milik kita.” Abilio menghela nafas. “Bangsat itu suka memukulku, Justino. Ia tidak boleh kawin dengan Natasha. Tidak boleh!”
“Tapi abangmu jagoan, Abilio. Kalau di film-film, perempuan suka pada jagoan.”
“Tidak. Tidak, Justino. Kau tidak tahu, abangku itu seorang pembunuh. Tidak mungkin Natasha jatuh cinta pada seorang pembunuh. Natasha tidak akan…”
Jantungku gemetar mendengar kata pembunuh. Aku teringat pada nasihat ayah.
“Abilio.”
“Iya.”
“Kita pulang saja yuk!”
“Kita sudah di tempat ini Justino. Tak bisa kau bayangkan berjalan tiga kilo meter pulang tanpa hasil apa-apa? Kau harus bersabar, Justino! Kita akan bertemu Natasha. Aku janji!”
Aku menghela napas. Terdengar beberapa orang berkelakar. Ini sama sekali bukan ide baik. Seharusnya aku tidak pergi dan sedang berada di kamar mengerjakan PR. Abilio memang sungguh keras kepala.
Kami mendengar sepeda motor abang Abilio berderum meninggalkan tempat itu. “Ia pergi! Ia pergi!”Abilio kegirangan. Angin berembus. Lampu-lampu di tempat itu semakin remang.
“Benarkah?”
Empat lelaki tampak sedang berjudi di sebuah meja hitam petak di halaman depan. Beberapa perempuan berjalan terhuyung-huyung bersama teman lelakinya. Kami tidak menemukan Natasha. Badanku lemas. Lututku mulai gemetar.
Tapi aku sudah lelah mengajak Abilio untuk pulang.
“Itu Natasha!” bisik Abilio tiba-tiba. Mataku berbinar, jantungku berdetak kencang. Keinginan untuk pulang tiba-tiba sirna. Kami kembali mengendap-endap. Ketika sudah agak dekat, kami menunduk. Senyum kami seketika memudar. Dalam remang-remang kami melihat Natasha di sebuah sudut. Ia sedang dipeluk seorang lelaki. Kami memperhatikan itu dengan hati yang hancur.
Tangan itu berbulu dan menggerayangi tubuh Natasha di dekat pintu belakang. Semakin lama semakin liar. Dan ketika lelaki itu berbalik, aku melihat seraut wajah yang membuatku nyaris pingsan.
“Bukankah itu ayahmu, Justino?”(*)
Putra Hidayatullah. Lahir pada 11 April 1988. Berkumpul di Komunitas Tikar Pandan, Banda Aceh.
Rujukan:
[1] Disalin dari tulisan Putra Hidayatullah
[2] Pernah dimuat di “Koran Tempo”