Negeri Seribu Hikayat Sang Perindu

Karya . Dikliping tanggal 16 Agustus 2015 dalam kategori Arsip Puisi, Koran Lokal, Pikiran Rakyat

Negeri Seribu Hikayat Sang Perindu

Inilah negeri seribu hikayat itu,
Serantau asli yang dirindukan para perindu
Dalam tidur dan jaga mengapit sunyi
Menumpah mimpi pada seri yang hakiki
Mungkin telah kau teladani sebisa yang kau sifati
Inilah negeri seribu hikayat itu,
Negeri yang dikisahkan ibunda dalam setiap dodoi
Pengantar tidur buah hati menjemput mimpi
Pada tanah luhur yang menemukan ketamadunannya
Tumpuan hati setiap yang mencari arti
Negeri seribu hikayat ini bagai senyap dalam sepi
Sunyi dari kejujuran dan kebijaksanaan
Maka lihatlah keteladanan yang digariskan nabi,
Juga sahabat-sahabatnya yang rasyid
Ikhlas dalam panggung pengabdian agung
Hikayat yang tercatat di sejarahnya adalah sikap
Teraju negeri untuk menuju pelabuhan bahagia
Akan kau rasai bila nestapa mampu kau kuak
Dari perahu-perahu rindu seluas selat yang melayani samudera
Bermuatkan budi serta buah kearifan
Mimpi ini adalah keniscayaan
Bekal yang digali di negerimu adalah janji
Kan ditagih bila telah disebatikan amanat
Pada pundakmu yang berat memikul daulat
Kelak kau kan tersenyum dalam hikmat
Bila kau menemukan ranjau di negerimu yang berpingkau
Itu adalah temanmu dalam gurau
Karena jalan kebadian itu selalu dipenuhi duri sembilu
Setiap waktu, menanti lengah menyesah dirimu
Bila nanti kau menemukan cahaya, di negerimu yang membingkai
asa
Itu adalah suluh di setiap jejakmu yang melangkah
Karena gelap jalan keadilan itu masih terlalu jauh
Yang membentang di antara bayang-bayangmu sendiri
Adalah kedamaian seperti yang dicecapkan hati
Kelak kau dengar suaranya melaung dalam ruang
Yang disenandungkan dalam setiap musim
Hingga lenamu tak setenang embun-embun
Kala siang menjemputmu dalam terang
Maka salamilah hati dalam pikir
Seperti Yunus yang menemukan diri dalam takdir
Gelap perut ikan menyibak zahir yang akhir
Membuang gelisah yang datang di setiap zikir
Inilah negara itu,
Yang dihikayatkan dalam mimpi-mimpi para perindu.
Kemuliaanmu adalah senandung dalam sunyi
Keagunganmu adalah kekuatanku kala tenat bertahun hampir
Kebahagiaanmu adalah senyumku sebagai bekal mengarungi luka
Juga perih ini, yang masih bisa kutahan dalam diam
Engkau mesti memungut mimpi, agar bersamadi seri
Engkau mesti menyalin rindu, agar tiada lagi sendu
Engkau mesti menyemai sayang, agar tiada lagi bimbang
Begitulah mimpi-mimpi sang perindu
Februari 2015

Marzuli Ridwan. Alumni IAIN Susqa Pekanbaru
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Marzuli Ridwan
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Pikiran Rakyat” Minggu 16 Agustus 2015