Nek Jum

Karya . Dikliping tanggal 28 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

SETIAP datang bulan Ramadan, ayahku rutin menceritakan kisah seorang nenek yang dahulunya sangat dibenci dan suatu peristiwa membuatnya kekal abadi dalam kenangan setiap warga di kampung kami, terutama ayah. Ini bukan kisah yang bahagia. Tetapi barangkali terus dan terus dikenang oleh warga di sini adalah kebahagiaan tersendiri bagi nenek itu.

Namanya Nek Jum. Wajahnya penuh dengan kerutan. Aura mendung mendominasi wajahnya. Dia tinggal sebatang kara di gubug reyot di perbatasan kampung. Tak ada seorang pun yang tahu bagaimana Nek Jum bisa hidup tanpa bekerja. Mereka acuh tak acuh. Kecuali pada saat malam hari. Nek Jum akan salat Magrib sampai salat Isya di surau. Tak ada yang sudi berdekatan dengan Nek Jum.

Tampaknya bagi orang-orang, Nek Jum pantas mendapatkan hinaan. Hidup Nek Jum yang sekarang bertolak belakang ketika dia masih muda. Dahulu uang akan mengalir terus. Nek Jum tidak kesusahan untuk hidup. Makanan enak, pakaian mahal, dan tempat tinggal yang nyaman dia punya. Berkat pekerjaannya menjajakan diri.

Nek Jum menggiurkan. Dia menjadi primadona di tempat bekerjanya. Hingga masa mudanya selesai, hidup Nek Jum berubah drastis. Tidak ada lagi yang mau dengan Nek Jum. Label primadona terlepas begitu keriput-keriput tumbuh di wajahnya. Dia dibuang dari tempat kerjanya.

Begitu Nek Jum keluar dari tempat kerjanya, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak punya keahlian apa pun karena masa mudanya dihabiskan di tempat kerjanya itu. Sejak keluar dari tempat kerjanya, Nek Jum tinggal di gubug reyot di perbatasan kampung sana. Satu-satunya tempat yang terasing. Tetapi apa boleh buat. Warga hanya mengizinkan Nek Jum tinggal di sana. Mereka tak sudi tinggal bersama Nek Jum di tengah kampung.

Hanya ada satu tempat di mana warga tak bisa mencegah Nek Jum menyambanginya. Surau. Satu-satunya surau yang ada di kampung. Tetapi tak ada yang bisa mencegah mulut manis yang menghina Nek Jum.

“Wanita hina seperti dirinya tidak pantas hidup.”

“Ini karma dari Allah.”

“Lihatlah tubuhnya. Penuh dengan dosa.”

Nek Jum seolah menutup telinga rapat-rapat. Dia tetap menyambangi surau itu dari sore hari sampai malam hari. Salat dan berzikir. Hinaan yang dialamatkan kepadanya adalah sebuah kewajaran. Setidaknya mereka tidak menolak kehadirannya di surau.

Hingga suatu peristiwa nahas terjadi pada surau suatu malam. Ketika itu keadaan memanas antara dua kelompok. Pembunuhan dan mayat bersimbah darah di pinggir jalan terus terjadi. Malam itu sewaktu warga salat Isya berjamaah di surau, sekelompok orang berbaju hitam membakar surau. Semua warga selamat, kecuali Nek Jum yang memilih bertahan di dalam surau. Meninggal hangus terbakar bersama surau. Bukan bau terbakar yang menguar, tetapi wangi bunga melati mengerubungi surau yang menjadi arang.

“Kami percaya wangi bunga melati itu berasal dari tubuh Nek Jum. Terlambat kami menyadari, Nek Jum telah bertaubat dan wangi bunga melati mungkin menandakan pertaubatannya diterima Allah,” terang ayah.

Entah dari mana asalnya, malam ini di masjid bekas surau terbakar itu kucium wangi bunga melati. Aku percaya, masjid ini telah diberkati oleh Nek Jum. Bahwa manusia tak sepatutnya menjadi Tuhan, yang pantas menempatkannya di surga atau neraka. q -e

Kebumen, 15 Mei 2019

*) Umi Salamah , dalam berbagai antolo – gi cerpen dan puisi dan di berbagai media cetak. Buku terbarunya Because Y ou Are My Star (novel remaja kontemporer , Alra Media 2017). Alamat rumah di Dukuh Ganggeng Desa T anjungrejo R T 06 R W 03 Kecamatan Buluspesantren Kabupaten Kebumen.


[1] Disalin dari karya Umi Salamah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan Rakyat” Minggu 26 Mei 2019