Neni, Oh Neni

Karya . Dikliping tanggal 16 Mei 2016 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
HANDOKO merangkul pinggang Neni erat-erat, seperti tidak hendak dilepaskannya. Keduanya menuju restoran terbuka di lantai 13 hotel itu. Biasanya pada malam-malam tertentu mereka memang kencan, makan malamn di restoran tersebut. Han dan Neni suka makan malam sambil menikmati pemandangan laut pada malam hari. Neni selalu ingat desa yang entah sudah berapa tahun ditinggalkan. Kalau malam hari ada ribuan kunang-kunang, seperti lampu-lampunelayan di tengah samudera. Malam itu Neni tidak mau naik lift. Katanya melalui tangga lebih mesra. Bisa naik berangkulan, tidak peduli kapan sampainya. Di tengah tangga bisa berpelukan atau berciuman. Dulu, ketika masih tinggal di desanya, Neni biasa memanjat tebing atau naik gunung mencari bungan edelweis.
Malam itu Neni agak manja. Han mengerti perasaan Neni. Perempuan itu barangkali sudah terlalu rindu kepadanya. Barangkali Han dan Neni menganutr ‘selingkuh itu indah.’ Dan malam itu tampaknya Neni ingin melupakan segala keruwetan di rumah. Dua anak yang rewel dan menangis terus, pembantu bodohnya bukan main, dan suami sontoloyo, suka menyakitinya. Perempuan muda itu sesekali menjatuhkan kepala di dada Han. Rupanya ia merasa aman kalau sudah melakukan itu. Han mengelus rambut Neni. Rambut itu harum baunya.
“Katanya Presiden Aljazair tertembak ya, han?”
Han menarik napas panjang. Ada-ada saja Neni. Tapi direngkuhnya tubuh mungil itu dan didekapnya makin erat. Han ingat istrinya yang dingin bagai porselin di malam hari.
“Tidak enak ya jadi Presiden?”
“Siapa bilang begitu?”
“Lha itu Boudiaf dibunuh. Dan sudah berapa puluh kepala negara atau kepala pemerintahan yang mati terbunuh.”
“Kok aneh-aneh saja pikiranmu malam ini.”
“Banyak orang baik dibunuh. Kadang-kadang aku ingin ada orang yang membunuh suamiku.”
“Neni, jangan bicara seperti itu.”
“Biar saja dia mati. Orang macam dia itu tidak baik hidup lama-lama.”
“Kamu jangan bicara yang buruk-buruk tentang suamimu. Bagaimanapun Suhat itu sudah menjadi bagian dirimu.”
Neni diam saja. Aneh, pikirannya. Kadang-kadang han membela Suhat. Han melirik Neni.
“Ada apa?”
“Ini kira-kira tangga ke berapa ya?”
“Nggak eruh Cak, aku nggak ngetung.”

Han tiba-tiba ingat masa kecilnya di desa. Ia suka berlari-lari di tanggul kali Berantas mengejar capung, belalang dan kupu-kupu. Atau beramai-ramaiterjun ke kali bersama Waidi, Ngaemi, Nursalim, Ropii, Daham, dan lain-lain. Mereka berteriak keras-keras.
Senang sekali jika teriakan itu bergaung panjang. Mereka lari ketakutan kalau kambing-kambing yang mereka gembalakan memasuki ladang kacang milik Gus Sakeh. Mereka akan buyar berlarian karena dikejar Gus Sakeh yang membawa pecut.
“Lho kok sampeyan melamun, Cak?”
Han tergagap.
“Eling bojo ndik omah, tah?”

“Aku ingat ketika masih kecil dulu. Aku tidak pernah bermimpi bisa menjadi sekarang. Hidup di kota besar, berisi perempuan batang pisang dan bertemu kamu.
“Ya harusnya sampeyan berterima kasih ekpada Tuhan.”
“Edan kamu Nen! Apa yang kita lakukan ini dosa!”
Mereka sampai dan Neni menyeret lengan Han ke meja di pojok seperti biasanya. Han memandang bentangan laut lepas. Yang terlihat hanya kelap-kelip lampu nelayan. han ingat kunang-kunang yang bertebaran di padang alang-alang di dekat desanya jika malam hari. Sebaliknya Neni ingat suaminya, simbul dari segala kebusukan. Suhat malas, kejam, parasit, pemabuk yang mau memang sendiri. Harusnya ia memang bercerai dengan suaminya. Tapi Suhat mengancam akan membunuhnya kalau ia minta cerai. Tiba-tiba dada Neni merasa nyeri sekali.
“Kamu melamun ya?”
“Tidak. Aku ingat Suhat. Kapan sih dia mati?”
han tertawa.
“Aku serius han.”
“Begitu bencinya kamu dengan Suhat.”
“Dia itu setan, bajingan, gentho!”
“Tapi dia suami kamu kan?”
“Ya, memang.”
Tiba-tiba perempuan itu berubah jadi murung. 
“Cobalah cari kebaikannya di sela-sela keburukannya.
“Kebaikan apa?”
“Aku kira sejahat-jahat manusia masih punya sebersit kebaikan.”
Neni menggeleng.
“Dia bukan manusia, dia setan.”
“Kamu yakin, Nen?”
Perempuan itu mengangguk.
“Lima tahun kami hidup bersama. Suhat itu sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mana ada setan yang baik?”
Han mengerti perasaan Neni. Suhat memang keterlaluan. Lelaki itu kalau siang kerjanya bermalas-malas tapi kalau amlam ngelayap cari minuman atau perempuan. Sementara istrinya membanting tulang. Tapi hidup ini memang sangat misterius. Ia tidak tahu kenapa Neni bisa sampai kawin dengan serigala semacam Suhat. Padahal kurang apa Neni. Ia sarjana bahasa Inggris. Pengetahuannya cukup luas, tetapi toh tidak berdaya menghadapi Suhat yang memerasnya habis-habisan.
“Kalau ia tahu kamu ada di sini bersama aku, kamu bisa dibunuh dia.”
Neni menggeleng.
“Ia tidak marah?”
“Baginya yang penting aku pulang membawa uang atau sebotol minuman keras.”
“Aneh juga suami kamu itu.”
“Sudah aku katakan dia itu setan.”
“Kenapa tidak bercerai saja?”
“Enggak tahu.”
“Suhat tidak pernah cemburu?”
“Ia tidak pernah mencintaiku. Suhat hanya ingin memeras aku. Ia ingin hidup tanpa kerja. Dia bisa menghangatkan tubuhnya dengan perempuan lain yang diambilnya di mana saja.”
Alangkah absurdnya hidup ini. han termangu, Ia dan Neni dua makhluk Tuhan yang mencoba mencari dan menemukan kebahagiaan. Mereka tidak mampu membangun kebahagiaan di rumah mereka sendiri. Keduanya melarikan diri dari keruwetan-keruwetan rumah tangga. Ningsih, istri Han, wanita ayu tapi dingin dan acuh tak acuh. Memang membosankan. Kadang-kadang Han memerlukan respons, diskusi, ejeng-mengejek. Tapi Ningsih tidak memberikan itu semua. Batang pisang!
Dulu ketika remaja ia pernah mencintai Dewi anak Pak Lurah Gufron. Ia  kerap mengantarkannya pulang pada malam-malam Jumat, setelah para ermaja di desanya melakukan dibaan atau barjanji di langgar Kiai Masykur. Dewi yang bersuara merdu itu membuat para pemuda desa tergila-gila. Apalagi kalau sudah melantunkan Ya Nabi salam alaika, ya Rasul salam alaika, yaa Habib salam alaika, salaawatullah alaika. Tapi Dewi kemudian dikawinkan dengan Sartono anak Wak Sukum juragan tembakau, seorang konglomerat desa.
Han tersentak.
Neni menggamit lengannya.
“Kok kita ini tidak berjumpa dulu-dulu, ya?”
“Atau kenapa kita tidak dilahirkan  di Trowulan pada zaman majapahit, ya?”
“Jangan terlalu snetimentil, Nen.”
Keduanya tertawa. Kemudian mereka berpandangan. Han mengedipkan matanya. Neni membalas kedipan itu.
“Mata kamu nakal, Han.”
“Mata kamu juga nakal.”
Mereka tertawa lagi. Han meraih tangan Neni kemudian digenggamnya.
“Tidka makan, Nen?”
“Males, Cak.”
“Yak apa rek, adoh-adoh rene koen gak gelem mangan.”

“Kadang-kadang aku kepingin bununh diri saja. Terjun dari restoran ini, makan pil tidur satu ons, gantung diri atau melindas kereta api.”
“Jangan punya keinginan yang bukan-bukan.”
“Mati lebih enak.”
“Siapa bilang?”
“Kalau mati tidak mikir Suhat.”
“Ngendat mlebu neraka koen.”

“Hii, aku takut.”
“Maka berpikirlah yang baik-baik saja.”
Neni menarik tangan Han.
“Benar tidak makan?”
“Males. Tidak lapar. Ketemu sampeyan ae wis wareg, Cak.”

Han tertawa. Dicubitnya pinggang Neni. Setelah membayar di kasir mereka meninggalkan restoran. Kali ini mereka lewat lift. Neni tiba-tiba ingin pulang segera. Seperti ada suara-suara yang memanggil-manggil. Han mengerti perasaan Neni. Sudah jam sebelas malam. Suhat akan marah-marah dan memukuli Neni jika ia pulang tidak menemui istrinya di rumah. Tapi Suhat tidak marah kalau Neni membawa uang banyak.
Han menurunkan Neni di depan rumah. Beberapa lembar puluhan ribu dimasukkan ke genggaman perempuan itu. Neni menolak keras, tapi tatapan mata Han yang lembut meluluhkannya.
“Terimalah Nen, jangan sampai kamu disakiti Suhat.”
“Han?”
“Hmmm?”
“Aku mencintai kamu.”
Han termangu. Neni meninggalkannya setelah mencium kedua pipi lelaki itu. Han menginjak gas mobilnya ketika Neni sudah masuk ke dalam rumah. Setelah mengunci pintu dari dalam, Neni berjalan menuju ruang tengah. Sepi, Neni masuk ke dalam kamarnya. Betapa terkejutnya perempuan itu. Dua anaknya diikat di ranjang. Suhat menggeletak berlumuran darah, pergelangan tangannya nyaris putus. Neni menjerit histeris dan kemudian jatuh pingsan. ❑  -(k)
Achmad Munif: mantan jurnalis, cerpenis, novelis, tinggal di Condongcatur, Depok, Sleman
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Achmad Munif
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi 15 Mei 2016