Neton

Karya . Dikliping tanggal 12 Oktober 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Minggu Pagi
ORANG yang dilahirkan pada neton Wage, pertanda orangnya sugetan, sifatnya yang kaku, suka marah-marah. Ah, neton wage itu pertanda perilaku buruk, berbeda dengan neton Legi karena kebaikan yang mendominasi perilaku orang yang dilahirkan pada neton ini.”
Aku tersentak ketika emak yang sedikit mengerti perihal neton mengatakan padaku. Dan Selasa Wage hari kelahiranku dna juga kakak laki-lakiku. Mungkin pernyataan yang disampaikan emak sedikit benar. Mudah marah dan agak kaku dalam bersikap mendominasi perilakuku, begitu juga dia yang terlahir dengan neton yang sama. Tak ayal kalau kami berdua kerap bertengkar meski di usia ysng buksn snsk kecil lagi.
Istilah neton ini sepertinya memang masih mendominasi di masyarakat Jawa. Bahkan ada juga yang masih membikin jenang abang pada neton sang anak.  
“Jika ada orang yang meninggal Selasa Kliwon, maka kain mori orang yang telah dikubur di tanah akan diincar beberapa maling sebagai ajimat. Makanya terkadang ada beberapa keluarganya yang menunggu di makamnya setiap malam agar tidak dicuri orang sampai hari ke tujuh.”
“Jika ada orang yang meninggal Sabtu Wage, maka pada hari itu juga akan ada lagi oranng yang akan menyusul. Meninggal. Maklum saja, age-age kan cepat-cepat, jadi mungkin istilahnya ada yang cepet-cepet nyusul mati.”
“Kata orang zaman dulu, jangan beritahu neton-mu kepada sembarang orang, atau kau memang menginginkan disantet atau perihal perdukunan lain.” Perkataan emak terakhir membuatku sedikit ngeri. Apa hubungannya neton dengan ilmu perdukunan? Ataukah ini berkaitan hal mistis dan gaib tradisi Jawa yang masih kental?
Meski masih ada beberapa lagi mitos Jawa zaman dulu yang membuatku penasaran, emak menghentikan penjelasannya saat deru motor yang sangat kukenali itu tampak terdengar dari seberang jalan dan mulai memasuki jalan masuk ke rumah.
Ya, aku semakin tak menyukai wajah oval itu dengan pipi cekung, semenjak pernikahan sederhana dilangsungkan beberapa bulan lalu. Seringainya aneh dan terasa ganjil. Garis-garis wajahnya entah kenapa semakin terlihat mengerucut, menampilkan beban serta keceriaan yang silih berganti dan saat menatapku tampak cahaya kebencian terpancar jelas, seolah aku seperti mangsanya.
“Selasa Wage, jam tiga pagi. Ya, kalian berdua dilahirkan dengan neton dan waktu yang sama. Jadi tak heran kalau kalian bertemu dalam satu tempat, pertengkaran baik sepele atau agak besar akan terjadi.”
Aku sungguh tak mengerti apa yang dikatakan emak sore itu, padahal aku hanya menanyakan kenapa kami berdua selalu bertengkar, kenapa dia selalu terlihat snagat membenciku padahal kami berdua dilahirkan pada rahim yang sama? Kenapa, dan kenapa? Pertanyaan itu berputar-putar dalam kepalaku setiap saat, dan entah kenapa aku semakin hari malah semakin membencinya.
Mungkin kami berdua ibarat kutub yang sama lalu saling bertemu, tentu akan saling tolak-menolak, tentu akan saling menjauh. Ibaratnya lagi, jika aku kutub positif, dia kutub positif. Bila aku menjadi kobaran api, tentu dia juga menjadi apinya atau minimal menjadi bahan bakar seoerti bensin atau minyak tanah untuk menyulut api, bukan menjadi air yang dpaat meredam kobaran api itu. Dan emak selalu menjadi air yang menduhkan api kedua anaknya.
“Aku hanya benar-benar tak mengerti, Mak. Apa salahku?” Kataku lirih sambil mennopang dagu dengan kedua lenganku di atas lutut. 

Emak yang sedang menjemur pakaian hanya memandangku sekilas, tak menggubris ucapanku yang datang tiba-tiba, mengeluhkan pertengkaran yang seringkali terjadi sambil menghela napas panjang, dan  emak kembali menjemur pakaian di sebuah tali simpul yang terbentang di halaman rumah.
Udara pagi menebar gigil semakin beranjak pergi, berganti dengan terik yang mulai mengintip dari segerumbul awan putih yang bergerak lambat. Cahaya terang berlompatan dari kerumumn daun-daun rimbun yang bertengger di pepohonan.
Menjadi anak bungsu berarti juga harus siap mengalah, siap untuk menerima apa-apa saja yang menjadi sisa semua saudara dan siap menerima sisa kasih sayang emak untukku. Ah, mungkin keterlaluan jika aku menganggap kasih sayang emak tinggal sisa atau bekas dari ketiga saudaraku,namun nyatanya aku selalu disuruh untuk mengalah ketika pertengkaran dengannya kembali tersulut.
***
“KUPERINGATKAN sekali lagi, jika kau melahirkan anak jangan ada dari mereka memiliki neton yang sama, atau kau memang menginginkan pertengkaran menjadi keseharian mereka sampai mati.”
Aku tergagap bangun dari tidur, napas kembang-kempis dan keringat bercucuran di kening. Aku menghirup napas pelan, lalu menghembuskannya lega. Entah kenapa mimpiku malam ini begitu buruk, padahal sebelum tidur tak lupa doa-doa kupanjatkan. Dan bisikan suara yang mengerikan tadi menyelinap dalam sayup-sayup telingaku.
“Na, Ina! Cepat bangun, Mbak Juli ketusuk pisau!” Emak mengetuk pintu kamarku dengan keras, menggebrak-gebraknya agar aku segera terbangun.
Mbak Juli? Bukankah Mbak Juli itu kakak sepupuku yang sudah lama tak pulang karena bekerja di luar negeri. Dan minggu-minggu ini memang sedang berada di rumah, namun kabar terakhir yang kudengar dari emak, Mbak Juli bertengkar dengan Mas Joni, adiknya. Pertengkaran disebabkan masalah warisan yang belum beres.
Sebelum Mbak Juli ke luar negeri, memang pernah terjadi hal semacam itu. Bahkan Mas Joni pernah mengacungkan golok ke arah Mbak Juli. Aku melihat dengan mata kepala sendiri.
“Mak, apa mereka terlahir dengan hitungan neton yang sama?” tanyaku lirih ketika emak yang sedang tergopoh-gopoh berganti baju untuk ikut melihat Mbak Juli, kuhadang sebentar.
“Ya, mereka dilahirkan Rabu Wage jam dua belas malam. (k)


Anisa Alfi Nur Fadilah: lahir di Blitar, 28 Maret 1995, Mahasiswa Program Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Blitar, aktif di Komunitas Hangurdi.
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anisa Alfi Nur Fadilah
[2] Pernnah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” 11 Oktober 2015