Nginang – Kembali ke Kelahiran – Kau Tinggalkan – Rakyat

Karya . Dikliping tanggal 29 Januari 2017 dalam kategori Arsip Puisi, Kedaulatan Rakyat, Koran Lokal

Nginang

Gambir, injet, suroh dan mbakau itu tak lagi menemani pagi
maupun sore nenek
Giginya ompong terlihat risau mendengar angin merintih di
dedaunan rontok
Digusur peradaban boulduzer. Aspal, beton dan gedung-gedung
industri menjumawa
Menjulang angkuh merobeki berlembar-lembar jariknya di senja
yang mencemaskan
Mulut nenek begitu kering, kulitnya pun keriput dipenuhi beban
Melihat anak-anak dan cucunya sangat lahap dan rakus mengunyah
batu-batu zaman
Ia hanya bisa diam di pelataran rumah welet sambil merasakan
perih bergelayutan
Di dadanya kehilangan kicau burung, suara gerobak maupun
aroma tanah
Ngilu, itulah yang dirasakan nenek di kepalanya
Pohon-pohon hilang digergaji peradaban, udara tinggal asap
dan debu berhamburan
Ia Lidahnya kelu dan kaku, tak mampu nginang, hariñhari mengulum
Airmatanya sendiri.
Kudus, 21 Januari 2017.

Kembali ke Kelahiran

: Agoes Dhewa

Sepertinya kau kembali ke kelahiran
Merenda binar-binar cahaya di bukit usia
Agar kabut tak semakin liar dan menyeret jiwamu
Di belukar kata-kata
Jejakmu telah begitu jauh
Debu-debu perjalanan pekat di dada
Senja mengelupasnya dengan debur rindu kasih
Mengirim gerimis membasuh wajah
Menatap matahari bergairah, menuntun kalbu
Ke keabadian
Sepertinya kau kembali kelahiran
Belajar pada air mengalir ke Muara
Nafasmu desir angin mengusir mendung
Puisimu nampak teduh memandang langit
Sepertinya kau ingin memasuki rahim ibu.
Kudus, 24 Januari 2017.

Kau Tinggalkan

: Timur Sinar Suprabana

Kau tinggalkan kata-kata
Dari tubuh lenturmu
Menyusuri sungai waktu
Membaca riak air, membiarkan
Airmata berdebur gelisah
Kau tinggalkan suara bathin
Dari lidah percakapanmu yang puisi
Pergi menyebrang angin ke puncak mimpi
Menatah batu menyala di kalbu
Kau tinggalkan rembulan
Di tengah malam
Sunyi kehilangan pendakian harapan
Embun membeku di belukar ketakpastian.
Kudus, 24 Januari 2017.

Rakyat

Ia tidak bisa menangis
Sebab matanya kehilangan sungai
Dan airmatanya membeku jadi batu
Menggumpal di kalbu
Ia tidak bisa bicara
Sebab mulutnya dibungkam kebohongan
Dan matanya dipenuhi perih pengkhianatan
Jiwanya berkunang-kunang
Ia tidak bisa tidur
Sebab mimpinya di selimuti kabut keserakahan
Dan jalannya tertatih menahan lapar
Memandang laut, sawah ladang, dan hutan-hutan
Tinggal bayang-bayang
Ia hanya bisa mengeluh
Dan berpeluh, menetes sia-sia
Dikepung angkuh.
Kudus, 24 Januari 2017.
Jumari HS, lahir 24 November 1965. Karya puisi dimuat diberbagai media massa. Buku puisi tunggal yang telah terbit ‘Tembang Tembakau dan Tentang Jejak Yang Hilang ‘ sekarang duduk sebagai ketua Teater Djarum. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Jumari HS
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Kedaulatan rakyat” Minggu 29 Januari 2017