Nomimi di Bulan Mei

Karya . Dikliping tanggal 5 Januari 2015 dalam kategori Arsip Cerpen, Jawa Pos

DI bulan Mei, ia mendengar suara-suara dari rumah Nomimi.
Di bulan Mei, ia duduk di bawah pohon kapuk randu yang sedang berbunga di taman kecil di depan rumahnya. Ia tengah menjahit bagian bawah lengan gaun berwarna merah yang benangnya terlepas. Ia berpikir, dari dulu ia memang senang memperbaiki baju, rok, celana atau mempermak apa saja dengan jahit tangan. Yang ia perlukan hanya gunting, jarum, dan benang berbagai jenis warna. Ia memiliki semua itu—disimpan dalam kotak plastik bening. Ia juga berpikir, tentang bunga-bunga kapuk randu yang sesekali berjatuhan, kadang mengenai kepalanya, kadang jatuh di atas kursi taman. Dan ia menyukai bunga-bunga itu. Warnanya campuran putih dan kuning gading. Ia terus menjahit. Ia terus memikirkan apa-apa saja yang terlintas dalam kepalanya. Pikiran-pikiran yang kadang bergerak jauh, kadang-kadang berputar-putar saja. 
Baru saja ia mendengar Nomimi mengeluarkan sedan Toyota Crown 1970-an dari garasi. Sepagi ini? pikir ia sambil menusukkan jarum pada garis jahitan dan dengan cepat mata jarum itu muncul kembali dan ia menariknya sampai benang terasa kencang. Suami Nomimi cacat setahun lalu—sebenarnya bukan suami, melainkan majikan yang minta dilayani. Salah satu panggul lelaki itu terlepas karena jatuh di kamar mandi.
“Itu hukuman,” gumamnya sambil kembali menarik benang –kembali mengencangkan– dan gigi-giginya gemelutuk. Ia ingat suatu hari mendengar Nomimi berteriak dari rumahnya. Di hari lain ia melihat Nomimi keluar rumah dengan mata bengkak dan hijau. Nomimi sering dipukul, bahkan di hari suaminya jatuh di kamar mandi. “Benar-benar hukuman,” katanya sekali lagi.
Ke mana Nomimi sepagi ini? Ia mulai terusik. Deru mesin sedan Nomimi masih tertinggal. Sama seperti dulu ia mendengar tangis Nomimi yang lama sekali hilang dari otaknya.
Ia mendesah. Hal paling sering dilakukannya memang mendesah berat jika memikirkan Nomimi. Lengan bagian bawah gaun merah hampir selesai dijahitnya; tinggal dirapikan sedikit lagi. Tetapi tiba-tiba ia ingin mengubah gaun itu. Ia ingin membuang bagian yang belakangan ini membuatnya lebih sering menyimpan gaun itu dalam lemari dan memilih pakaian lain saat mengadakan pesta kecil di rumahnya. Ia mulai tidak menyukai tumpukan jumbai di bagian dada dan ingin menggantinya dengan aksesoris lain yang lebih sederhana. Mungkin sebuah pita warna serupa. Ia memiliki pita itu. Tinggal membentuknya agar lebih manis.
Gaun merah dengan pita merah menyala (yang ujung-ujungnya digunting runcing) di dada. Betapa nanti ia akan tampak berbahaya.
Berbahaya? Ia kaget sendiri. Memangnya ia sedang melawan apa?
Ia teringat lagi pada Nomimi. Pada alis tebal Nomimi yang ujungnya sama runcing dengan ujung-ujung pita, itu.
Sesaat segala yang ada di kepalanya seolah saling bertabrakan. Cepat dibukanya jahitan pada tumpukan jumbai. Merenggutnya dari bagian dada gaun berwarna merah. Lalu ia lari ke dalam rumah, mengambil pita dalam kotak kain perca, dan cepat kembali ke kursi taman. Ia menempelkan pita di bagian dada gaun merah. Menjahitnya. Ia mendengar suara sedan Nomimi. Ia sudah kembali, pikirnya. Entah kenapa ia sering berharap, setiap kali Nomimi pergi, perempuan itu tak kembali. Perempuan itu hilang. Itu sungguh lebih baik, pikirnya.
Ia lagi-lagi berpikir, kenapa Nomimi sebodoh itu? Tempat Nomimi tidak pantas berada di rumah itu. Bagaimana bisa ia bertahun-tahun bertahan hidup bersama lelaki kesepian bermata pucat yang memperlakukannya dengan kasar. Lelaki tidak tahu diri yang mengomel kapan saja, bahkan saat mereka berada di meja makan, di depan macam-macam hidangan yang harusnya dinikmati dengan sukaria. Apa lelaki itu tidak pernah punya seorang ibu yang memberitahunya hal paling buruk adalah mengomel saat makan bersama dan itu tidak pantas dilakukan? Tak seorang pun tahu apa Nomimi masih sering dipukul setelah kecelakaan di kamar mandi itu. Ia memang tidak pernah lagi melihat mata Nomimi hijau dan bengkak. Tapi lelaki itu sering sekali berteriak –terutama akhir-akhir ini. Mungkin karena Nomimi mulai berani bicara. Berani membantah. Kadang-kadang terdengar juga bunyi barang yang sengaja dilempar. 
Ia mendesah. Lebih berat dari sebelumnya. Pita sudah selesai dijahit di bagian dada gaun merah. Tampak menantang dengan ujung-ujungnya yang runcing.
Disimpannya alat-alat jahit dalam kotak plastik. Kotak itu segera ia tutup. Ia letakkan di atas pahanya. Kalau tidak ada kotak itu betapa sepi hidupnya, betapa tak ada yang bisa ia lakukan selain sekadar duduk di taman di rumahnya saat pagi hari. Ia tentu saja bisa mencoba berteman dengan tetangga-tetangga dekat. Itu tidak ia lakukan. Ia pasti akan repot sekali oleh kunjungan-kunjungan tidak penting. Orang-orang akan bertamu ke rumahnya sore hari atau pagi hari –saat libur seperti hari ini.
“Tentu saja aku ini orang yang sulit,” gumamnya menyesal dan kalimat-kalimat temannya di masa lalu bermunculan dalam ingatannya.
Kau mirip semak yang sulit dimasuki. Kadang-kadang kau terlihat gelap dan mengerikan.
Ia periksa sekali lagi gaun merah yang akan ia kenakan nanti sore. Sempurna. Semuanya sudah sempurna. Ia akan memakai gaun merah itu tepat pukul 4. 
Apa yang dilakukan Nomimi pukul 4 nanti? Mungkin sebelum pukul 4 berada di dapur. Jari-jarinya yang kurus –dengan buku-buku yang menonjol—menyiapkan minuman dan kue-kue kecil. Mungkin juga setelah itu Nomimi duduk di depan televisi, mengganti-ganti channel, dan akhirnya bosan sendiri, melemparnya, dan suaminya berteriak dari kamar karena tidak tahan pada kesepiannya. Dan…
Ia menyandarkan punggung di kursi taman yang baru saja dicat putih. Memandang ke atas; bunga-bunga kapuk randu—sesekali masih berjatuhan. Semua yang ia rasakan bagai mantra sihir yang menyusup ke dadanya. Membuat ia –untuk beberapa saat—merasa bukan di dunianya, bukan di sebuah taman kecil depan rumah, bahkan bukan dirinya.
Kapuk randu itu sebenarnya tumbuh begitu saja. Awalnya ia tidak suka dan berencana menebangnya sebelum besar. Tapi suatu hari seekor anak burung hinggap di sana. Anak burung yang bernyanyi sepanjang pagi. Ia tidak bisa mengambil rumah anak burung itu. Siapa tahu ia hidup sebatang kara. Dan burung itu terlalu kecil untuk mengenal kehilangan. 
Pohon kapuk randu makin tinggi ketika suatu hari anak burung tak lagi kembali ke dahannya. Ia pun segera berpikir tentang waktu yang tepat menebang pohon kapuk randu itu. Ia sudah memanggil tukang tebang kayu. Saat pisau pemotong kayu hampir menyambar batangnya, ia berujar, “Hentikan.”
Beberapa hari kemudian ia memutuskan untuk membuat kursi taman di bawah pohon kapuk randu itu. Dan sejak ia sering duduk di kursi itu, ia lebih banyak tahu tentang sesuatu yang terjadi pada Nomimi; keterasingan, kesakitan, tangisan, bahkan kemarahan yang terpendam dalam hati Nomimi. Pada akhirnya, ia berpikir, dalam hidupnya –selain kotak plastik berisi jarum, benang, dan gunting—betapa penting sebatang pohon kapuk randu itu.
Tapi, suatu hari pohon kapuk randu itu mulai berbuah dan buah itu tua dan pecah dan di udara kapuk akan beterbangan. Sampai habis masa panen kapuk putih buram dari buah yang pecah itu akan terus beterbangan ke mana-mana, terbawa angin ke ketinggian, lalu jatuh begitu saja di tanah atau tersangkut di atas pohon lain. Kejadian seperti itu tak setiap waktu bisa didapatkan. Bentuk-bentuk keindahan yang tak banyak orang bisa memahaminya. Salah satunya Nomimi. Ia tak suka pada pohon kapuk randu itu. Perempuan itu memang tidak bicara dengannya secara langsung. Namun ia tahu dari mata Nomimi. Terlebih ketika musim buah pecah. Nomimi sengaja bersuara keras, menyebut-nyebut kapuk yang masuk ke dalam rumahnya dan betapa repot ia membersihkannya. Ia pikir, sikap Nomimi itu berlebihan: Mempermasalahkan sebatang pohon kapuk randu dengan buah-buahnya yang sedang pecah padahal ada yang lebih penting untuk ia persoalkan dalam hidupnya. 
Ia berdiri dari kursi taman. Tangannya memegang kotak plastik dan gaun merah dengan pita merah menyala di bagian dada. Hatinya meriap. Hidup. Berdegup. 
Kalau ia memakai gaun itu apa yang akan dikatakan Nomimi? Apakah perempuan itu juga akan terganggu? Ia terperanjat. Tidak, bisiknya. Tidak. Ia tidak mungkin sedang berperang diam-diam dengan Nomimi. Ia justru peduli pada perempuan itu. Ia selalu memikirkan perempuan itu. Mengkhawatirkannya di saat-saat tertentu. Tidak, tegasnya gelisah. Tidak mungkin jika ia tengah merencanakan sesuatu yang berbahaya bagi Nomimi. Ia tidak punya alasan untuk marah pada perempuan itu. Nomimi memang menunjukkan gelagat tidak suka pada pohon kapuk randunya, tapi itu terlalu sepele untuk membuatnya benci dan marah pada Nomimi.
Cepat-cepat ia meninggalkan kursi taman. Kepalanya mendadak sangat riuh oleh suara-suara yang saling berdebat. Akhir-akhir ini sesuatu di dalam kepalanya memang terlalu sering ribut. Cara meredamnya hanya dengan mengalihkan perhatian –mencari objek tertentu, dan terus-menerus memikirkan objek itu.
Maka, begitu sudah berada di dalam rumah, ia terpaku pada gorden di ruang tamu yang belum dibuka. Diletakkannya gaun dengan pita baru di bagian dada dan kotak berisi perlengkapan jahitnya ke atas meja. Gorden ia singkap dan mengikatnya di sudut. Cahaya masuk menembus kaca. Cahaya semacam itu sering sekali menyelamatkannya dari kegelapan pikiran. Ia sedikit lega. Dari kaca jendela itu ia memandang rumah Nomimi yang tampak sepi. Tampak sangat tua dan suram karena lumut. Tembok rumah itu juga kelihatan hitam, ditumbuhi pakis kecil atau suplir. Pintunya akan segera rusak. Jendela-jendela bolong. Apa Nomimi benar-benar tidak lagi mengurus rumah itu sejak suaminya jatuh di kamar mandi? Nomimi yang akhir-akhir ini sering keluar, entah melakukan apa. Nomimi yang kadang bertengkar dengan diri sendiri tentang pohon kapuk randu itu.
Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia kembali mendesah. Ia sungguh tak suka kunjungan-kunjungan di pagi hari. Pada ketukan ke-5 ia membuka pintu, dan seseorang menyapanya –dan mencoba bersikap ramah, “Koran hari ini,” ujar lelaki pendek di depan pintu sambil memaksakan koran ke tangannya dan cepat-cepat pergi.
Ia bingung. Sudah lama ia berhenti membaca koran dan sudah lama sekali pula tidak langganan. Tapi, judul berita di halaman depan sudah terlanjur terbaca olehnya: Penembakan Pukul 4 Sore. Seperti judul novel crime thriller, pikirnya agak geli sekaligus waswas. Ia baca baris-baris berita itu: Telah terjadi penembakan atas AW (49) pada sabtu (24/5). Diduga, pelaku penembakan yang berinisial N adalah istri korban sendiri –perempuan yang mengenakan gaun merah dengan pita merah menyala di dada, pada pukul 4 sore, dalam sebuah pesta kecil di rumahnya.
Ia masih saja ingin berpikir kalau ia sedang membaca cerita kriminal atau sejenisnya ketika mendadak tubuhnya menjadi dingin dan ingat tentang rencananya mengenakan gaun merah dengan pita merah menyala di dada pada pukul 4 sore nanti. ***
GP, 2014
YETTI A.KA, buku kumpulan cerita pendek terbarunya Satu Hari yang Ingin Kuingat (2014). Tinggal di Padang, Sumatera Barat. 
Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yetti A.KA
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Jawa Pos” pada 4 Januari 2015