Nördlingen

Karya . Dikliping tanggal 16 Mei 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Tempo

“Aku hamil,” katanya. Mata hijaunya melotot.

Tatapan mata hijau itu sanggup menyihirku, membuat nyali kejantananku ciut. Mata hijau itu mengerikan, menyimpan jutaan misteri, namun sering kali menyejukkan hatiku.

Konon, hanya dua persen dari jumlah manusia di bumi ini yang memiliki mata hijau. Mereka yang bermata hijau umumnya adalah mereka yang memiliki darah Islandia, Belanda, Jerman, dan Celtic-Skotlandia.

“Lalu, aku harus berbuat apa, Fräulein?” Jawabku sambil menghindari tatapan matanya.

“Kau laki-laki! Harusnya kau tahu apa yang harus kau lakukan.”

Ia mencekik leherku. Aku bingung. Cekikan ini bermaksud menghina, mengancam, atau bermaksud manja seperti ketika kami bercinta di ranjang. Namun, yang jelas, suaranya terdengar lantang. Orang-orang di sekeliling pelataran Istana Kokura bahkan mendengarnya. Pandang mereka berbondong-bondong menusuk ke arah kami yang sedang ngiyup di pondok teduh.

“Kata dokter di Kitakyushu, sudah dua bulan,” desisnya.

Kupandangi perutnya yang memang terlihat buncit. Semula kuanggap, perut buncit itu, adalah karena efek bobotnya yang naik. Maklum, selama di Jepang, nafsu makannya melonjak. Sedangkan aku; sushi dan aneka junk food tak sanggup merangsang hasrat mamaliaku.

Rintik gerimis sudah padam. Kami tinggalkan pondok teduh itu. Matahari, perlahan-lahan sinarnya mulai meringis. Langkah kami juga perlahan menggesek bumi.

“Lihatlah kaca-kaca gedung itu!” Ucapku sambil menunjuk kantor Wali Kota Kitakyushu. “Sungguh jernih. Langitnya juga. Sebentar lagi pasti ada pelangi.”

Ia menghentikan langkahnya. Mata hijaunya kembali menatapku, sangat tajam. Ia ingin melontarkan sebuah kalimat. Namun, akhirnya ia memilih membisu. Matanya membidik ke atas, agak lama.

“Benar! Pelangi kini benar-benar lahir di langit Kitakyushu,” ucapnya datar.

Kulihat ke atas, pelangi itu melengkung-melangkahi Istana Kokura dan kantor Wali Kota Kitakyushu yang berdampingan. Bagiku, di mana saja pelangi tetaplah pelangi. Sama saja. Tak ada yang istimewa.

“Lihatlah! Pelangi di sini beda dengan pelangi yang kita lihat di Kota Malang,” cetusnya.

“Pelangi di sini pasti sama seperti pelangi yang ada di Nördlingen?” Aku berbasa-basi.

“Ah, tahu apa kau soal Jerman,” katanya manja sambil meninju pelan dadaku.

“Setidaknya aku tahu tentang pelangi, Fräulein!” Bualku.

“Dan sekarang kau juga sudah tahu tentang kehamilanku. Ini anakmu!” Katanya sambil mengelus perutnya.

“Iya, aku tahu itu anakku. Anak kita!”

“Aku ingin anak ini tumbuh bersama ayahnya.”

***

NördlingenDi dunia ini, tak ada yang lebih membingungkan kecuali Kathrin. Usianya menginjak 20 tahun, jauh lebih muda ketimbang aku. Kathrin mengaku sangat membenci perjalanan. Ia lebih menyukai suasana rumah. Keramaian, lalu-lalang manusia dan kendaraan membuatnya jengah. Sedangkan keheningan rumah, baginya, adalah surga yang terdampar di bumi.

Baca juga:  Tenggat Waktu

Pertama kalinya kami bertemu di Candi Badut di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Saat itu, ia sibuk dengan kamera lensa panjang. Mata hijaunya mengintip lubang kecil di kamera itu. Setiap lekuk dan sudut Candi Badut ia abadikan.

Aku tak tahu persis, aktivitas memotretnya adalah sebagai kegemaran atau pekerjaan profesional. Kathrin sendiri tak pernah membuat pengakuan resmi soal ini. Ia memang membingungkan. Kini kebingungan itu benar-benar menulari hidupku.

“Aku lebih suka berdiam diri di rumah, dari pada kluyuran seperti ini. Di Nördlingen, keluargaku memiliki rumah mungil nan nyaman,” katanya.

“Oh, jadi kau dari Jerman, Fräulein?” Balasku. Sejak saat itu, aku memanggilnya ‘Fräulein’, sebutan ‘nona’ dalam Bahasa Jerman.

“Memangnya di dunia ini ada kota bernama Nördlingen, selain di Jerman? Ngomong-ngomong pengetahuan geografimu lumayan juga,” sergahnya sambil terkekeh.

“Untuk apa gambar-gambar Candi Badut itu?”

“Gambar-gambar ini akan muncul dalam majalah dan website.”

“Kau fotografer?”

“Kadang-kadang!” Jawabnya seperti pembual.

Sebelum ke Candi Badut, berhari-hari lamanya Kathrin terdampar di lereng Gunung Penanggungan, Pasuruan-Mojokerto. Bersama arkeolog asal Perancis, Kathrin memotret petilasan yang berserakan di lereng Penanggungan.

“Aku benar-benar rindu suasana Nördlingen. Tapi, sebelum pulang, aku harus motret di Jawa Tengah, Jawa Barat, Selat Sunda, Danau Toba, Aceh, dan Jepang. Semoga Jepang tidak membosankan,” katanya sewaktu membuka obrolan di sebuah kafe, di tengah Kota Malang.

Sejak pertemuan di Candi Badut, kami membuat pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya di tempat yang sama. Kafe di tengah Kota Malang selalu kami pilih karena berdekatan dengan hotel yang ditinggali Kathrin, dan berdekatan pula dengan bank papan atas tempatku bekerja. Senja adalah waktu yang selalu kami pilih, dan Bahasa Inggris ala kadarnya adalah bahasa yang kami gunakan dalam setiap obrolan.

Tiba-tiba, ia mengundangku datang ke kamar hotelnya pada Minggu pagi yang basah. Pertemuan di pagi hari sungguh janggal, sebab kami sudah terlalu sering menjalin pertemuan di kala senja. Gerimis membuat jaketku sedikit basah ketika masuk ke kamar hotelnya.

“Bosan dengan suasana kafe. Hari ini ngobrol di kamar saja, sambil menikmati gerimis dan kopi,” cerocosnya ketika membuka pintu kamarnya yang terletak di lantai tujuh.

Baca juga:  Alvine

Sebelum aku datang, Kathrin memesan menu breakfast agar diantarkan ke kamarnya. Ia sengaja meminta menu dobel. Dua potong sandwich nanas, dua potong omlet berhias sosis, sekantung kentang goreng, dan semangkuk salad buah kami lahap bersama-sama.

Selepas menghabiskan menu breakfast ini, gerimis perlahan punah. Kejantanan matahari mulai giras. Kopi yang dihidangkan Kathrin juga sudah kandas. Ia membuat kopi kedua untukku dan untuknya.

“Aku berani bertaruh, setelah ini pasti akan muncul pelangi. Jika pelangi tak muncul, kau boleh menciumku,” katanya sambil jari telunjuknya menyentuh bibirnya yang berkilau.

“Oh begitukah cara warga Nördlingen merayakan pelangi, Fräulein? Dan pasti kucium bibirmu, sebab pelangi tak akan tumbuh di pagi ini,” balasku.

Nasib baik tidak berpihak padaku; ternyata pelangi benar-benar tumbuh di pagi hari di Kota Malang. Kami sama-sama tertegun melihat pelangi itu lewat kaca jendela kamar hotel.

“Benar kan kataku!” Teriaknya sambil mengejekku dengan cara menjulurkan lidahnya.

Ia julurkan lidahnya sambil mendekatkan ke arah wajahku, hingga lidah itu nyaris menyentuh hidungku. Lidah itu kemudian kembali ke sarangnya. Ia tempelkan bibirnya ke bibirku. Bibir kami saling tikam. Darahku mendidih ketika tangannya mencekik leherku. Cekikan ini sangat manja, membuat pagi terbakar.

Tubuhnya yang jenjang dan bongsor menyeret tubuh kurusku ke atas ranjang. Disaksikan pelangi Kota Malang, kami bercinta beberapa kali hingga matahari sudah menerobos ke pucuk kota. Siang bolong. Kulihat kaca jendela, pelangi itu sudah ngacir.

“Kau sudah mengambil batu permata paling berharga yang kumiliki,” katanya di balik selimut.

***

Entah sudah berapa minggu kami berpisah. Teror bingung membuatku buta waktu. Tiga atau empat hari setelah adegan pelangi di kamar hotel, Kathrin meninggalkan Kota Malang. Dari stasiun kota, Kathrin meluncur menuju Jawa Tengah. Entah mengapa Kathrin memilih jalur darat yang lebih lama? Bukankah ia mengaku membenci perjalanan!

Sekian lama kemudian, ketika ia tiba di Aceh, ia meneleponku. Ia bercerita panjang lebar tentang semua hal yang ia lihat selama menjelajahi Pulau Jawa hingga ujung utara Pulau Sumatera. Di sela-sela cerita yang dituturkannya, entah itu melalui telepon atau ketika kami ngobrol langsung di Malang, ia selalu menyelipkan kerinduan terhadap Nördlingen.

“Kau harus ke Nördlingen!” Suaranya terdengar manja di telepon genggamku.

Cerita tentang Nördlingen yang selalu diulang-ulang olehnya, membuatku hafal. Dalam memori otakku, Nördlingen adalah kota yang lahir akibat ulah meteor pada 14,5 juta tahun silam. Saat itu, meteor raksasa jatuh menghantam Jerman dan meninggalkan cekungan yang luas.

Baca juga:  Mata Monyet

“Di cekungan itulah kemudian dibangun kota bernama Nördlingen, kota yang kucintai,” entah sudah berapa kali pernyataan ini kudengar dari mulutnya.

Menurutnya, semula warga mengira cekungan itu adalah bekas letusan gunung berapi. Namun, sebuah penelitian akhirnya menyimpulkan; Nördlingen berdiri bukan di atas bekas letusan gunung berapi, tapi berdiri di atas bekas hantaman meteor.

“Tak ada kota di dunia ini yang seindah Nördlingen. Jika dilihat dari atas udara, Nördlingen tampak berbentuk lingkaran. Tuhan sengaja mengirim meteor ke bumi untuk menciptakan surga bernama Nördlingen,” katanya sebelum mengakhiri obrolan di telepon.

***

Selepas menemaninya memotret Istana Kokura dan mendapat suguhan pelangi, serta mengetahuinya hamil, kami tak lagi bicara selama perjalanan pulang. Pun ketika kami tiba di hotel di jantung Kitakyushu, tak ada sebiji kata yang kami ucapkan. Makan malam pun kami lakukan sambil membisu.

Di kamar hotel, ia sibuk dengan laptop; memilih gambar terbaik hasil dari jepretannya seharian tadi. Aku sungkan mengajaknya ngobrol—aku tak ingin mengganggu kesibukannya. Ada segunung kebingungan yang menindih kepalaku. Semua rekam jejak tentangnya tiba-tiba melintas di depanku. Mulai dari pertemuan pertama di Candi Badut hingga akhirnya aku meninggalkan pekerjaan dan menyusulnya ke Jepang, semua tergambar jelas.

Ingin kukatakan bahwa aku akan bertanggung jawab; bersedia menikahinya dalam situasi apa pun. Namun, untuk mengawali pembicaraan, aku masih merasa sungkan dan keberanianku juga belum bulat. Yang bisa kulakukan hanyalah meringkuk di balik selimut sambil memperhatikannya.

Kathrin terlihat mematikan laptopnya, memasukkan kamera, lensa, dan aksesoris lainnya ke dalam tas, serta membereskan kertas-kertas yang berserakan. Lampu kamar yang terang ia ganti dengan lampu redup. Kemudian ia menyusulku masuk ke balik selimut.

“Kuulangi lagi, aku hamil,” ucapnya sambil memiringkan tubuhnya, bibirnya nyaris menyentuh telingaku.

“Iya, aku tahu apa yang harus aku lakukan, Fräulein. Aku bersumpah, demi keindahan surga Nördlingen, anak ini akan tumbuh bersama ayahnya. Langit Kitakyushu jadi saksinya. Percayalah!” Balasku.

“Aku ngantuk,” desisnya sambil tangan kanannya merayapi perutku.

Kitakyushu-Malang, 2016.


Eko Darmoko | “Koran Tempo

Keterangan

[1] "Nördlingen" adalah salah satu kliping yang disalin dari karya
[2] Arsip Cerpen, Koran Tempo ini pernah tersiar pada edisi akhir pekan 11-12 Mei 2019