Nunus

Karya . Dikliping tanggal 9 Oktober 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Cerita Remaja, Koran Lokal, Minggu Pagi

MUNGKIN hal yang paling membingungkan adalah saat jam kuliah kosong. Di satu sisi, senang juga kalau kalau tidak ada kuliah, otak bisa beristirahat sebentar. Apalagi kalau pas mata kuliah yang cukup berat. Namun di sisi lain, bingung juga, sudah berangkat buru-buru, ternyata kosong. Mau pulang jadi aneh karena masih sangat pagi. Maka dari itu, untuk melepaskan kebingungan itu aku memutuskan main saja ke Gedung C, tempat kuliah anak-anak eksakta. Tempat kuliah para genius.

Jangan pernah bertanya mengapa aku, anak bahasa, anak Gedung F, dengan pedenya main ke Gedung C. Di Gedung C, ada kakakku yang kuliah di fakultas biologi, sehingga Gedung C bagiku sudah seperti rumah keduaku. Hampir semua anak biologi mengenalku, begitu juga beberapa dosen dan laboran.

“Dik, kamu fakultas apa, ya?” Tiba-tiba Pak Marno, salah satu laboran biologi menyapaku, sambil mengambil tempat duduk di sebelahku di bangku panjang yang ada di depan laboratorium B.

Aku memang sudah sering bertemu para laboran, termasuk Pak Marno, dan tak jarang kami sering mengobrol. Dan mereka memang sering bertanya-tanya. Maklum, penampilan anak bahasa memang tampak mencolok di antara anak-anak eksakta. Anak bahasa biasa berpenampilan rapi dan wangi beda dengan anak eksakta yang tampil seadanya, ada yang hanya memakai sandal jepit maupun sepatu sandal lapang. Kaos oblong juga merupakan salah satu ciri khas anak-anak eksakta. Tak heran kehadiranku sering menarik perhatian, sehingga sering ditanya ini dan itu.

“Ehm… fakultas bahasa, Pak,” jawabku sambil membalas senyumnya.

“Ohhh… tapi suka main ke Gedung C, ya?” tanya Pak Marno sambil tertawa. Mau tak mau akupun tertawa.

“Iya, Pak. Tuh, sambil nunggu Kakak. Biar pulang ada yang boncengin. Daripada pulang jalan khaki.”

“Oh… kalau anak bahasa, pasti kenal Nunus, dong?” tanya Pak Marno lagi.

“Nunus?” Otakku langsung bereaksi mengubek-ubek file memori mencari nama Nunus. Yup! Ketemu.

“Ya, kenal sih enggak, Pak. Tapi tahu aja… emangnya kenapa, Pak?”

“Orangnya kayak gimana tuh. Si Nunus,” kejar Pak Marno. Apa-apaan ini? Si Nunus kan makhluk paling menyebalkan yang pernah kutemui.

“Hmm… orangnya menyebalkan, Pak. Sangat menyebalkan,” jawabku dengan pede. Memori tentang Nunus muncul lagi membuatku makin sebal.

“Menyebalkan bagaimana?”

“Ya itu… waktu sosial gathering dulu dia sewenang-wenang sama saya. Saya yang selalu jadi korban kesewenang-wenangannya,” cerocosku.

Dengan lancar cerita menyebalkan tentang Nunus mengalir. Mulai dari bagaimana Nunus memelototiku dan memarahiku tanpa aku tahu apa kesalahanku. Tentang bagaimana Nunus sudah menjerumuskanku sampai aku harus kena hukuman bahkan mengubah arah panah sehingga aku tersesat. Huh! Nyebelin.

“Pokoknya, makhluk yang paling kubenci di muka bumi ini, ya Nunus itu,” kataku geram mengakhiri ceritaku.

Pak Marno manggut-manggut sambil sesekali tersenyum simpul.

“Ngomong-ngomong, kok Bapak bisa tahu Nunus?” tanyaku curiga.

Aku kok merasa ada sesuatu yang tidak beres. Pak Marno bisa tahu Nunus? Apa dia begitu terkenalnya sampai-sampai orang-orang dari fakultas lain begitu mengenalnya? Pede amat, tuh makhluk, batinku.

“Hmmm… Nunus tuh anakku.”

<I>Dhuaaaarrrr<P>!!!

Suara Pak Marno memang kalem, apalagi dijawabnya sambil tersenyum, tapi justru jawabannya itu meruntuhkan imejku sebagai gadis manis.

Perlahan-lahan aku beringsut mundur, berpamitan segera keluar, melarikan diri dari Gedung C yang tiba-tiba bagai sebuah sarang penyamun yang siap menerkam. Aku yakin, siapapun yang melihatku saat ini pasti membayangkan melihat kepiting rebus dalam saos tomat sebotol, dan bubuk cabe dua kilo. Super merah padam.

Mulai keesokan harinya, aku hanya bisa berusaha menghindar setiap kali berpapasan dengan Nunus yang mulai senyum-senyum penuh arti.

Fery Lorena Yanni

Bimbel Gladika Jalan Cemara IV RT 05 RW 06 Sidorejo Lor Salatiga 50714


[1] Disalin dari karya Fery Lorena Yanni
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Minggu Pagi” edisi Minggu 7 Oktober 2018