Nuri

Karya . Dikliping tanggal 1 Februari 2019 dalam kategori Arsip Cerpen, Media Indonesia

ATAP sirap menghirup layu bau asap dari tungku kayu di dapur. Berkali-kali Nini Laba meniup selongsong bambunya untuk menjaga bara tetap membara. Ia menggoreng ikan asin, sambil sesekali mengaduk beras yang masih basah setengah lunak. Lalu menyeduh teh, menunggu daun-daun kering kecokelatan menguarkan isinya ke dalam air panas di teko kecil. Setelah panci nasi ditutup, dan ikan diangkat dari wajan. Nini Laba menuangkan teh ke dua buah gelas dan mencampurkannya dengan air tawar. Tak lupa gula, hanya satu sendok makan, untuk satu minuman.

Nini Laba harus berhemat. Musim hujan membuat getah karet sulit disadap karena medan yang berat. Apalagi penampung getah sering banjir dan membusukkan isinya. Membuat Nini Laba dan suaminya rela mengais rezeki dari memancing ikan. Kadang mereka membersihkan lahan demi upah beberapa ribu rupiah untuk membeli gula, garam, teh, dan bawang.

Bakul berisi nasi disajikan di atas meja makan yang reyot. Bersama Kai Djamal yang menunggu sambil mengasah pengukir. Setelah ini ia akan menyadap, tidak peduli hujan baru turun semalam.
“Makan,” ujar Nini Laba. Keduanya menikmati ikan asin mereka dengan khidmat. Secepatnya, Kai Djamal menandaskan isi teh yang mendingin. Lalu mengambil tas rotan yang dipanggul di punggung, kemudian pergi tanpa mengucapkan salam. Nini Laba ditinggalkan sendiri dalam temaram cahaya dapur yang sayu.

****

Kehidupan pasangan tua itu menyedihkan. Nini Laba hanya buruh serabutan. Sementara Kai Djamal ialah penyadap karet di lahan yang tidak luas. Padahal dulu mereka masyhur, hidup berkecukupan, dan tidak kekurangan sesuatu apa pun. Mereka tidak perlu mengikat perut dan menahan liur jika ingin penganan manis. Cukup pergi ke batang, tempat perahu-perahu penjaja sembako dan jajanan tertambat, tukar uang, dan dapatlah segala kebutuhan yang mereka inginkan.

Sekarang mereka renta, hidup serbaterbatas. Harta habis demi menyambung pendidikan anak semata wayang ke kota, yang selalu dibangga-banggakan Nini Laba sebagai calon dokter. Anak perempuan satu-satunya: Nuri, yang terbang ke luar sarang dan sesekali kembali untuk menceritakan pengalaman hebatnya di ibu kota provinsi.

Betapa hangat perasaan Nini Laba tatkala anaknya pulang. Nuri tampak anggun saat memperagakan jas putih dengan stetoskop. Nuri ialah pelita yang terus-menerus dinyalakan sebagai estafet harapan kedua orangtuanya yang baru punya anak di usia cukup tua. Semua tanah, kebun, dan emas dijual demi kuliah Nuri yang tinggal menghitung beberapa bulan. Apa pun mereka lakukan, meski rumah semakin miring, dan renovasi terakhir dilakukan ketika Nuri lulus SMP.

Sekarang pertengahan Juni semakin dekat, Nini Laba giat mencari tambahan uang untuk memanjakan anaknya ketika ada di rumah. Ia tahu, anaknya senang makan juhu singkah dengan wadi patin dan sambal kandas. Jadi, pelan-pelan, ia membeli daging patin beberapa potong di pasar Selasa. Beberapa pedagang heran melihat kedatangan Nini Laba yang lusuh dan jarang. Beberapa mempergunjingkannya, kebanyakan melontar penasaran dalam tatap.

Akan tetapi, Nini Laba tidak peduli. Ia tetap melanjutkan belanja ke dua daftar berikutnya, beras ketan dan garam batu. Setelah itu, ia pulang ke dapurnya yang rikuh dan menyangrai ketan untuk dicampurkan pada patin berlumur garam di dalam stoples.

Dalam pikiran Nini Laba, Nuri akan datang membawa berita gemilang. Ia akan kembali bercerita tentang susahnya menghafal simtom dan pertanda penyakit tertentu. Nini Laba sesungguhnya tidak paham, tetapi ia coba dengar setulus mungkin.

“Nak, tidak mandi?” tanya Nini Laba. Anaknya mulai semakin enggan turun ke batang. Entah karena jijik melihat kotoran dari jamban mengambang, atau mencium getah karet yang direndam setelah dikeraskan. Kai Djamal akhirnya membuat titian di bawah rumah yang diakses dengan pintu tingkap di lantai dapur. Sekalian, kata Nini Laba, sebagai tempat mencuci piring dan membilas baju.

Sekarang rasanya sudah lama sekali sejak titian itu dipijak. Dua papan kayunya berderit, hampir lapuk, dan lembek dikulum air pasang. Jadilah Nini Laba bersiasat dengan menampung air hujan dalam gentong lusuh pemberian tetangga yang memiliki bisnis air isi ulang dan jual-beli pulsa. Kadang menimba air dari sungai, lalu mengisi ceruk-ceruk kosong sampai ke ember yang bibirnya pecah dan rapuh.

“Boleh aku numpang menelepon?” tanya Nini Laba pada tetangga yang memberi gentong. Melihat Nini Laba sering diam dan bolak-balik membuat penjual itu iba meski heran. Sedikit enggan, ia sodorkan telepon genggam.

Nini Laba memencet nomor yang selalu disimpannya baik-baik di balik lipatan tapih. Kemudian menunggu, menunggu, dan menunggu. Tidak ada jawaban. Nuri sibuk. Itu yang selalu dipikirkan Nini Laba. Jadi, ia hanya mengirimkan pesan agar anaknya mengabarkan diri jika hendak pulang.

****

Foto-foto Nuri menguning di ruang tamu. Walau dibersihkan setiap hari, debu tetap erat menempel seperti kenangan di benak Nini Laba. Ia rindu anaknya, tetapi tak bisa berbuat apa-apa selain menanti.

Tidak ada gambar baru, terakhir rekam hanya saat Nuri berhasil masuk tes fakultas kedokteran. Setelah itu kosong. Dinding tampak tidak seimbang di satu sisi. Nini Laba ingin menyimpan ruang itu untuk kelulusan anaknya nanti.

“Nanti kalau anak kita sudah jadi dokter, kita akan jadi orangtua dokter,” cerita Nini Laba. Berbeda dari istrinya, Kai Djamal tidak antusias dan sibuk menganyam tikar rotan di bawah temaram lampu lima watt.

“Kita akan pindah ke kota.”

“Hmm.”

“Kita akan tinggal di rumah beton dengan isi garasi mobil.”

“Iya.”

“Anak kita akan jadi kebanggaan kampung. Orang-orang pasti iri.”

Kai Djamal meminum tehnya yang hambar, lalu lanjut menganyam.

“Kalau kita sakit, tidak usah bayar.” Nini Laba terus mengkhayal.

Khayalan itu semakin dekat mendekati waktu kelulusan Nuri. Nini Laba tidak bisa menahan senyum. Ia sengaja mendatangi gerombolan ibu-ibu yang sedang mencari kutu dan membicarakan anaknya. Mengatakan ia akan jadi yang pertama dan satu-satunya orangtua dokter.

Anehnya, mereka tidak ambil pusing, terus sibuk menindih mati kutu-kutu dengan kedua kuku mereka.

“Anakku sebentar lagi lulus. Ia akan jadi dokter betulan,” nyanyi Nini Laba. Ia menghitung tanggal dengan teliti seolah menunggu masa subur. Sementara itu, wadi-nya semakin masak di dalam toples. Kepala ikan mencuat dari permukaan amis air asin yang pekat. Kedua bola matanya bulat membesar. Ungu, hampir kehitaman. Terkupas di beberapa bagian. Daging-dagingnya lembek dan lepas mencari tambatan sendiri di dasar genangan.

Laba bangga karena wadi buatannya adalah yang terenak di antara semua masakan. Asin, gurih, dan lumer di mulut. Nuri suka makan nasi hangat dengan wadi, meski mengeluh, orangtuanya harus jaga asupan garam agar tidak hipertensi.

Kapan terakhir Nuri mengingatkan mereka? Nini Laba menerawang. Atap sirapnya lama tidak diganti hingga bolong di sana-sini. Ada gantungan baju bekas kerja yang tercemar getah di dinding, juga jas putih, dan celana hitam panjang bekas Nuri di semester awal dulu. Anaknya meninggalkan itu semua di rumah karena ingin membeli yang baru. Di liburan terakhirnya, saat Nuri hendak pulang menyeberang sungai dengan kapal.

Setelah itu batang mereka tenggelam. Jukung terakhir musnah ditelan pasang. Tidak ada lagi kendaraan di air. Lagi pula Kai Djamal tidak membutuhkannya. Sudah tidak ada ladang di seberang sana untuk diurus. Semua sudah ia jual untuk perkebunan sawit.

****

Tanggal 15 Juni. Nini Laba memasak wadi banyak-banyak, semua makanan disusunnya sedemikian rupa agar menarik dan mengundang nafsu makan. Kai Djamal hanya bisa menatap pedih itu semua.

“Anakku calon dokter.”

“Iya.”

“Kenapa dia belum datang?”

“Nanti sebentar lagi,” Kai Djamal menyabarkan. Berbeda dengan Nini Laba, sang suami mengenakan setelan baju muslim lengkap dengan peci dan buku surah Yasin di tangan. “Kita jemput Nuri, ya.”
Nini Laba terdiam. Tiba-tiba saja ia ingat kenapa anaknya terasa sangat lama pulang. Kenapa ada ruang kosong di dinding. Kenapa perahunya tidak lagi tertambat di rumah. “Nuri akan pulang.” Ia terus meyakini itu.

“Kita akan mendatanginya.”

“Anak kita dokter.”

“Ayo pergi.”

Jas putih lusuh. Stetoskop rusak di dekat pengukir karet. “Nuri anakku, dia dokter.”

“Kita akan makan di sana bersama Nuri.”

Nini Laba menangis, lagi. Untuk kesekian kalinya di tanggal 15, ia mendapati kenyataan berputar-putar dalam kepalanya. “Anakku tahu gejala dan tanda penyakit. Dia dokter,” raungnya. Kai Djamal cuma bisa memeluk perempuan renta itu dibarengi tatapan Nuri, dari bingkai foto yang dimakan kusam. (M-2)

Thiya Rahmah, pegiat literasi di komunitas Dimensi Kata.


 

[1] Disalin dari karya Thiya Rahmah
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Media Indonesia” Minggu 27 Januari 2019

 

Beri Nilai-Bintang!