Nyanyian-Nyanyian di Damrak

Karya . Dikliping tanggal 10 September 2018 dalam kategori Arsip Cerpen, Koran Lokal, Lampung Post

AKU belum pernah terpengaruh pada sebuah teks, seperti yang kurasakan terhadap teks Hikayat Prang Sabi yang ditulis Teungku Chik Pante Kulu di atas kapal, antara Jedah dan Penang, dalam perjalanannya pulang ke Aceh. Sebuah teks yang di kemudian hari mampu mencabut rasa takut dari hati orang-orang Aceh yang berperang melawan Belanda, perang yang berlangsung cukup lama dan membuat negara Kincir Angin itu nyaris bangkrut.

Karena teks bertulisan Arab-Jawi itu juga, saat ini, aku berada di Dam, alun-alun Kota Amsterdam, di mana Monumen Nasional menjulang setinggi 22 meter, Istana Raja Lois Napoleon yang berarsitektur klasikisme berdiri megah di sebelah barat, bersebelahan dengan Gereja Nieuwe Kerk yang bergaya gotik.

Burung merpati seperti berebut tempat dengan pejalan kaki yang ingin menikmati matahari pagi di akhir pekan, Jan van Riebeek yang baru tiba dengan sepedanya tersenyum ke arahku. Aku mengenal mahasiswa pascasarjana itu lima hari yang lalu di dekat perpustakaan Universitas Leiden. Aku berada di sana dalam rangka mencari naskah-naskah klasik milik negeriku, belasan ribu tulisan yang terdiri dari buku, kliping koran, peta, gambar, jurnal, disertasi, review, dan manuskrip. Salah satu di antaranya berjudul Hikayat Prang Sabi.

Tak ada kebetulan dalam hidup, begitu pun pertemuanku dengan Jan, ternyata lelaki berambut cokelat itu memiliki keterikatan emosional dengan daerah asalku, bapak dari neneknya di pihak ibu, saat ini terbaring mati di pekuburan Kerkhoff Peutjut Banda Aceh bersama dua ribu lebih serdadu Belanda lainnya. Setelah tsunami melanda Aceh tahun 2004 lalu, Jan pernah menginjakkan kakinya di Kutaraja untuk melihat kondisi kuburan lelaki yang sering diceritakan neneknya itu. Perlu kerja keras dan petunjuk dari penduduk setempat untuk menemukan makam bertulis Johannes Ludovicus Jakobus Hubertus Pel di antara kekacauan yang ditimbulkan gelombang laut setinggi dua batang kelapa itu.

“Sudah lama, Ridara?” tanya Jan seraya menghentikan sepedanya di depanku.

“Lumayan, sudah dari tiga puluh menit yang lalu. Kamu terlambat? Tapi yang kutahu orang Belanda itu selalu tepat waktu,” ujarku tanpa beranjak dari tempat dudukku di bawah bayang-bayang Monumen Nasional, monumen yang didedikasikan untuk korban Perang Dunia II, terlihat dari relief empat lelaki dirantai yang menujukkan penderitaan saat perang, patung perempuan menggendong bayi dan merpati terbang berada di atasnya, sementara patung yang melambangkan cendekiawan dan kaum buruh berada di sisi kanan dan kiri relief utama.

Tersenyum canggung, Jan membenarkan letak helm di kepalanya, “Sampai kapan kamu akan duduk di sana? Kita harus bergegas, kalau kamu ingin bisa lebih lama di Museum Bronbeek.” Seekor merpati terbang mendekati Jan, “Dan kenapa memilih menungguku di tempat sepanas ini?”

“Biar kamu cepat menemukanku.” Aku meloncat ke boncengan Jan, lalu kami menyusuri Damrak menuju Stasiun Kereta Api Amsterdam Central, merpati-merpati itu beterbangan memberi kami jalan. Kami berboncengan selayaknya teman lama yang baru saja bertemu, aku menutup kemungkinan-kemungkinan, kalau leluhur kami, suatu kali dulu pernah berhadapan untuk saling membunuh. Menyisakan sebuah teka-teki lain, apa yang terjadi dua ratus tahun yang akan datang pada anak cucu mereka yang saat ini sedang berperang di Syiria, Yerusalem, dan di belahan bumi mana pun yang sedang berkecamuk perang; bersama menikmati es krim di taman, atau masih seperti saat ini, ingin saling menghabisi.

Dugaanku, kebaikan Jan padaku juga tak lebih untuk menebus rasa bersalah atas apa yang pernah dilakukan leluhurnya dulu di tempat asalku, Jenderal JLH Pel, kakek buyutnya memang tidak mati di ujung rencong atau mata parang orang Aceh, sang jenderal mati akibat serangan jantung di Perkemahan Krueng Cut. Tetapi tetap saja, dia pemimpin pasukan yang memerintahkan anak buahnya untuk membunuh lawan sebanyak-banyaknya.

Setelah menempuh perjalanan satu jam setengah dengan kereta api dari stasiun Central Amsterdam, kami tiba di Arnhem, kota yang menjadi saksi kedahsyatan Perang Dunia II, yang terletak di tepi Sungai Rhine, tujuan kami adalah Museum Bronbeek. Begitu memasuki pintu museum, aku terpana melihat sebuah meriam besar menyambutku, “Meriam itu diangkut dari Aceh,” Jan mendekati benda besar tersebut, “Lihat! Ini ada keterangannya,” Jan menunjukkan tulisan di badan meriam yang berwarna keemasan.

Bukan itu yang menarik perhatianku, pandanganku melewati bahu Jan yang begitu bersemangat menjelaskan asal-usul meriam besar itu. Di antara meriam-meriam yang tersusun di Museum Bronbeek, aku melihat seorang lelaki berwajah Melayu tersenyum, senyum yang me- narikku untuk mendekat; aku seperti mengenal lelaki itu, tetapi tidak mengenalnya.

“Apa penjaga museum ada orang Melayu?” tanyaku pada Jan.

“Tidak ada.” Dia sedikit terkejut menjawab pertanyaanku. Bisa saja itu salah seorang pengunjung seperti halnya diriku, tapi pakaiannya, lelaki itu memakai kopiah meukutop dan jas hitam lengkap dengan kain songket sebatas lutut: itu baju adat dari daerah asalku. Rasanya, tidak mungkin pengunjung museum memakai pakaian seperti itu.

Melangkah ke arah tempat penyimpanan senjata, laki-laki itu menoleh ke belakang, mengisyaratkan padaku untuk mengikuti- nya, berjalan ke sisi lain museum. Setengah kebingungan, Jan juga mengikuti langkahku. Laki-laki itu berdiri di tempat penyimpanan senjata tradisional, lagi aku dibuat terpana, bentuk-bentuk senjata itu begitu kukenal: parang, rencong, siwah, tombak, dan pedang. Telunjuk lelaki itu mengarah ke sebuah ren- cong, aku menatap Jan meminta penjelasan, tetapi lelaki itu bergeming. Telunjukku ikut mengarah ke benda tersebut.

“Senjata Umar,” ujar Jan. “Kenapa kamu menanyakan benda tersebut?”

“Dia ….” Aku menunjuk ke tempat laki-laki itu berada.

“Dia siapa?” tanya Jan penasaran.

Aku menatap lekat ke wajah lelaki di depanku. Wajah yang mengingatkanku pada selembar foto hitam putih di buku Perang Aceh karya Paul van’t Veer. Tidak mungkin, ini tidak mungkin, seharusnya dia sudah lama mati ….

Laki-laki itu tersenyum padaku, kemudian sosoknya menjadi bayangan, lesap ke dinding-dinding kaca museum. “Ini tidak mungkin.”

“Kamu kenapa?”

“Aku melihat Teuku Umar.”

Tatapan Jan menghujam jantungku, “Sebaik- nya kita segera pulang, sepertinya kamu kurang sehat.” Kami belum sempat menjelajahi seluruh museum, Jan telah memaksaku untuk pulang. Di dalam kereta api kembali ke Amsterdam, aku tidak banyak berbicara, Jan sesekali mencuri pandang ke arahku, dalam tatapannya tersirat kecemasan, tak kutahu pasti apa yang sesung- guhnya berada dalam hati pemuda itu.

Begitu keluar dari Stasiun Central Amsterdam, aku takjub melihat anak-anak dan perempuan telah berbaris sepanjang Damrak, mereka seperti menyambut kedatangan kami dengan memakai gaun-gaun yang mengembang dan anak-anak memakai jas. Aku tersenyum ke pada orang-orang yang tidak kukenal itu.

Teuku Umar die moet hang, aan een touw Teuku Umar en zijn vrouw,” mereka mulai bernyanyi, “Teuku Umar mesti digantung, gantung di tali, gantung di tali Teuku Umar dan istrinya.” Mereka mulai menunjuk-nunjuk ke arahku.

“Kembalikan kemaluan suami-suami kami yang kalian potong!” Mereka mengubah nyanyian menjadi teriakan dan mulai mengejar kami, “Kalian memotong mayat-mayat ayah kami!” teriakan anak-anak tertuju padaku.

Berbeda dengan kejadian di Museum tadi, kali ini Jan bisa melihat orang-orang itu. Dia menarik tanganku, kemudian kami berlari, berlari ke arah kanal besar yang membelah Kota Amsterdam. Orang-orang itu masih berteriak dan mengejar kami. Jan melompat ke sebuah perahu kecil yang berada di pinggir kanal, kemudian menyuruhku mengikutinya, lalu dia menghidupkan mesin perahu, perahu itu melaju, memecahkan permukaan air, meninggalkan para perempuan dan anak-anak yang masih berteriak di belakang kami.

“Apa yang terjadi?” tanyaku setelah perahu kami jauh meninggalkan orang-orang yang begitu bernafsu mengejar kami. Jan mengangkat bahu, satu yang pasti, hanya ada kami berdua di dalam perahu itu, sementara angin menderu menyenandungkan Hikayat Prang Sabi. Tentang orang-orang yang mati dalam perang, kemudian di sambut para perempuan cantik di taman surga Tuhan.

Selesai

*Syair yang terdapat dalam Perang Aceh, Kisah Kegagalan Snouck Hurgronje karya Paul van ‘T Veer.

 

[1] Disalin dari karya Ida Fitri
[2] Pernah tersiar di surat kabar “Lampung Post” 9 September 2018 dan juga “Media Indonesia” 22 Juli 2018